
Sampai disini Anna menenggak sampanye yang baru begitu juga Arsya menikmati anggurnya.
"Dalam dunia bisnis, kau tak akan bisa membedakan mana kawan dan mana lawan."
"Um." Anna mendongak.
Arsya menunjuk melalui pandangan. "Seperti orang di sana."
Anna mengikuti arah pandang Arsya yang tertuju pada pria yang mengenakan jas berwarna biru navy. Dia pria tinggi dan juga terlihat tampan.
"Kau mengenalnya?" Tanya Anna.
"Tidak. Tapi lihat saja." Ujar Arsya sambil menatap pria itu.
Terlihat dua pria sedang menghampiri pria yang dimaksud Arsya. Mereka berbincang sangat akrab. Bahkan saking akrabnya, pria berjas biru navi itu tak menyadari di antara salah satu dari teman prianya itu memberi sebuah minuman yang telah ia beri serbuk putih. Dan entah serbuk apa yang mereka masukkan ke dalam sana.
"Kejam sekali temannya itu." Komentar Anna saat melihat gerak gerik mereka.
"Hmph." Dehem Arsya lalu menenggak anggur ditangannya.
"Dunia bisnis dan dunia pertemanan itu beda. Jadi kau harus terus berhati hati. Kau juga harus banyak belajar mengenai bisnis. Besok aku akan memerintahkan Danni untuk membelikan buku bisnis untukmu." Ujar Arsya melirik ke arah Anna yang masih menatap kedua pria yang di tunjukkan Arsya tadi.
"Jangan selalu membaca komik atau novel." ucap Arsya berbisik pelan.
Anna melototkan matanya. Terdengar jelas jika Arsya sangat mengejeknya. Arsya tersenyum tipis dan menyesap anggur yang masih sedikit hingga habis.
"Noni, tuan Arsya. Ternyata masih disini? Apa yang kalian bicarakan sampai serius seperti itu?" Itu adalah Eli yang menghampiri keduanya.
"Nona Eli, apakah anda sudah selesai dengan ayah anda?" Arsya tak menjawab gurauan Eli tetapi malah melontarkan kalimat lain.
"Hmph, Ayahku adalah orang yang sibuk. Selain itu banyak mitra bisnis yang ingin bekerja sama. Sebagai seorang putri yang akan meneruskan perusahaannya. Terpaksa aku harus andil dan menemui tamu tamu penting." Sahut Eli.
"Benar. Noni. Lihatlah cara nona Eli berbisnis. Kau bisa belajar darinya." Ujar Arsya santai. Namun bukan jawaban yang di dapat oleh Arsya melainkan sikutan tajam yang menusuk ke perutnya. Anna sudah merasa kesal sedari tadi karena Arsya selalu mengejeknya dengan kata kata pedas. Atau dia selalu menyindirnya.
Arsya meringis menahan rasa sakit di perutnya tapi itu hanya sebentar, wajahnya kembali datar seperti semula. Sementara Anna hanya tersenyum kepada Eli.
"Karena nona Eli sudah berada disini, kalian sebagai pasangan baru. Nikmatilah waktu kalian." Ujar Anna menghindar.
Eli mengangguk sembari tersenyum. Namun sebelum Anna melangkah kaki pergi dari keduanya, Arsya mencekal lengannya dan memberi peringatan.
"Jangan jauh jauh, di luar negeri dan di negeri sendiri sangat berbeda."
"Aku mengerti. Dan aku bisa menjaga diriku sendiri." setelah itu Anna mengangguk dan menepis tangan Arsya dengan pelan. Anna berjalan menjauhi kedua pasangan itu untuk menikmati waktu mereka berdua agar lebih nyaman. Dan selain itu, ia tak ingin menjadi obat nyamuk di antara keduanya.
__ADS_1
Anna pergi berjalan jalan di sekitar tempat yang menyediakan makanan. Makanan di sini tentu mengikuti makanan barat. Anna sudah lapar sebenarnya sedari tadi. Namun ia tahan. Dan setelah mendapatkan kesempatan ia akhirnya bisa melepaskan diri dan menikmati santapan yang disediakan.
Anna mendapati daging ayam kroket di sana dan menyantapnya. Dia mengangguk menikmati makanan itu dengan cermat. Hingga datang seseorang perempuan juga mengambil makanan yang sama. Dia juga tersenyum sambil menikmati ayam kroket tersebut.
Setelah kunyahannya habis, ia melangkah ke sebelahnya tanpa di duga Perempuan yang berada di sebelahnya itu ikut melangkah dan menginjak gaun panjang Anna sehingga gaunnya sobek ke atas memperlihatkan pahanya yang mulus.
Anna tercengang ketika robekan itu terlihat sampai paha. Ia menundukkan kepala melihat robekan gaunnya hingga terbuka. Dengan kesal ia menggertakkan giginya.
Wanita di sebelahnya tersenyum puas, namun sesaat kemudian ia merubah wajahnya dengan raut cemas.
"Eh, Nona. Maaf maaf. Aku tak sengaja." Ujar wanita itu meminta maaf. Lalu mengangkat kakinya ke samping.
Mendengar suara di sebelahnya, Anna mendongakkan wajahnya. Wanita itu terlihat sangat cantik dan elegan.
"Maafkan aku nona. Aku benar benar tak sengaja." Seketika wanita itu berlinang air mata.
Anna meletakkan piring dalam genggamannya ke atas meja. Lalu meraih ujung roknya dan menutupi bagian pahanya yang terekspos. Saat itu ia juga merasakan tatapan dari orang orang disekitarnya yang sedang menertawainya.
Anna merasa sangat malu bersamaan dengan rasa kesal karena wanita itu yang membuat gaunnya robek tetapi dia malah menangis layaknya dia yang teraniaya.
Melihat wanita yang berlinang air mata, para tamu yang lain malah mencibir. Anna tak tahan dengan cibiran cibiran yang dilontarkan kepadanya. Dia yang ditindas malah berubah seolah dia yang menindas. Pada akhirnya ia mengatupkan giginya. Dengan terpaksa ia memperlihatkan wajahnya tanpa emosi.
"Tidak apa apa nona. Kamu jangan menangis. Gaunku tidak memiliki harga yang seberapa." Ujar Anna.
"Iya,"
Kemudian wanita itu tersenyum. Lalu dengan senang berkata. "Demi menebus kesalahanku, aku membawa beberapa pakaian ganti di sebuah kamar khusus tamu. Aku akan membawamu ke sana dan pakailah pakaianku."
"Terima kasih."
Wanita itu langsung membawa Anna keluar dari aula dan masuk ke dalam lift. "Nona kamarnya berada di lantai 30. Nomer 2089."
Anna menanggapinya dengan mengangguk.
Sampai di lantai 30. Wanita itu mengantarnya ke kamar 2089. Lalu membuka pintu. "Silahkan nona." ujar wanita itu.
Anna mengikuti langkah wanita didepannya masuk ke dalam kamar. wanita itu juga mengambil rak pakaian ganti. Dan mendorongnya keluar. "Ini ada beberapa pakaian ganti. Anda bisa mengambilnya."
"Terima kasih."
"Iya, kalau begitu saya akan keluar. Anda bersantailah." lalu wanita itupun keluar dari sana.
Anna hanya memperhatikan sekilas pakaian pakaian itu. Gaun itu memang terlihat mahal di lihat dari segi merk dan bentuk gaun itu ia sudah bisa menebak. Tapi, dia juga tak harus mengenakan gaun sobek. Ia masih harus kembali ke aula sebelum Arsya mencarinya.
__ADS_1
Di aula hotel.
Arsya melirik kesana kemari, tetapi tak mendapati Anna di manapun. Eli mengetahuinya jadi lekas mengalihkannya.
"Tuan Arsya, kau mencari Noni?" pertanyaan itu tepat sasaran.
"Hmph. Dia rekanku pergi ke pesta ini. Jika aku tidak mencarinya takutnya dia tersesat." ujar Arsya dengan raut khawatir.
"Anda tenang saja. Disini semua adalah kolega ayahku. Dan setiap satu sisi ada penjagaan. Jika dia mendapat masalah pasti akan ada yang melapor." Ujar Eli menenangkan.
"Hmph." Dehem Arsya.
"Mari kita bersulang lagi. Sejak kita berada disini kita belum bersulang."
"Baiklah."
Pelayan datang membawa minuman dan mendekat ke arah Arsya dan Eli berdiri. Di atas nampan itu ada dua minuman. Arsya langsung mengambil anggur kesukaannya sementara Eli mengambil Wine.
Keduanya saling bersulang dan menyesap minuman beralkohol itu. Eli lalu berbincang dengan obrolan lain.
Tepat saat ini, sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Eli. Ia membacanya sekilas dan tersenyum penuh kemenangan.
Arsya setelah meminum anggurnya, tiba tiba ia merasakan sakit kepala. Ia hanya berpikir mungkin ia terlalu banyak minum. Ia hanya minum anggur sebanyak lima gelas.
"Tuan Arsya, aku pergi ke toilet sebentar."
"Silahkan."
Eli mengangguk setelah mendapat persetujuan dari Arsya. Eli melangkah menuju ke luar aula. Tetapi bukan pergi ke toilet melainkan teman wanitanya.
"Ellena."
"Eli."
Keduanya bertemu di koridor. Ellena menyerahkan kunci duplikatnya kepada Eli.
"Ini kunci kamar nona Noni. Dan ini kunci kamarmu. Kau gunakan kesempatan ini dengan baik." Ujar Ellena.
"Hmph. Kerjamu sungguh bagus Ellena. Aku memang tidak salah menjadikanmu temanku."
"Hehe, soal beginian aku memang selalu mengerti. Dia adalah pria dambaan setiap wanita. Selain prestasinya dia adalah pria mapan dan kaya. Kau harus segera mendapatkannya sebelum ayahmu menyetujui perjodohanmu dengan pria brengsek itu."
"Haha." Eli menyahutnya dengan tertawa. Setelah itu mereka berpisah.
__ADS_1
Eli hanya menunggu sampai obatnya bereaksi. Jadi dia akan menggunakan kesempatan itu untuk menjadikannya Arsya miliknya yang seutuhnya.