Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Bab Tiga Puluh Tiga


__ADS_3

Seusai tiup lilin Arsya buru buru turun panggung. Ayah dan ibu Indri merasa terhormat karena kedatangan presdir Arsya secara pribadi. Itu akan mempengaruhi perusahaan mereka kedepannya.


"Bagaimana?" Tanya Arsya. Danni segera menundukkan kepala serta memberi laporan kepada Presdir.


Danni segera mendekat dan membisikkan sesuatu di samping telinga presdir. Mendengar Perkataan Danni, Mata Arsya memerah. Ia segera melebarkan langkahnya keluar aula Ball Room hotel. Danni buru buru mengikutinya dari belakang. Ia mengarahkan Lift ke lantai 35.


Saat pintu lift terbuka, Danni mencari nomer kamar 205. Ia sudah meminta pelayan hotel untuk memberikan kuncinya.


Di dalam kamar 205, Kepala Anna bukan hanya semakin pusing, Ia merasa tubuhnya semakin panas. Ia sudah mendinginkan Ac sedingin mungkin. Tetapi tubuhnya terus semakin panas. Ia sudah tak terkendali. Ia satu persatu membuang pakaiannya secara asal ke lantai.


Di sudut ruangan, sosok pria jangkung menatapnya dengan api gelora. Dari tatapan matanya ia sudah tak sabar ingin mendekat. Gerakan demi gerakan seolah sangat erotis bagi pria itu.


Pria itu melangkah pelan pelan, Anna yang melihat pergerakan itu seolah dia adalah Arsya.


"Ugh." Anna merasa tak tahan.


Kini tinggal lapisan pakaian yang membungkus bagian intinya saja. Lampu kamar hanya diterangi lampu temaram. Sehingga penglihatannya sangat buram ditambah dengan kepala nya yang semakin sakit.


"Kamu siapa?" Tanya Anna menahan gerakan tubuhnya. Ia merasa merinding.


Pria itu memiringkan senyuman. Tubuhnya yang jangkung membelakangi cahaya, sehingga tidak dapat jelas melihat rupa pria itu. Pria itu melangkah maju Dan naik ke atas ranjang.


"Tenang saja, aku akan memuaskanmu." Ujar pria itu seraya berbisik pelan.


Tangan pria itu mulai membelai pipi Anna. Tubuh Anna semakin panas dan tidak tahan, setiap helaian tangan pria itu membuat tubuh Anna merasa lebih tenang bahkan menikmati gerakannya.


"Ah..." Tanpa sadar Anna mendesah pelan.


Pria itu tersenyum semakin dalam. Di luar Arsya sudah tidak tahan, Ia berlarian mencari kamar 205. Danni buru buru membuka kamar dengan kartu pas di tangannya.


Arsya membuka jas miliknya dan melemparnya asal. Danni dibelakangnya ikut melangkah pelan. Kamar itu terdiri ruang tamu jadi harus masuk lebih dalam untuk menemukan sebuah kamar.


Ceklek! pintu kamar terbuka.


"Ah...." Terdengar suara erotis Anna keluar dari mulutnya.


Melihat adegan ini, Mata Arsya semakin memerah. Danni meraba dinding dan menyalakan saklar ruangan.


"Huh!" Pria itu terkejut membelalakkan mata.


"Siapa kamu, kenapa kamu bisa masuk....!" Pria itu belum selesai berbicara, Danni dengan segera melangkah maju dan menarik lengannya hingga terjungkir dari atas ranjang.

__ADS_1


"Aw." Pekik pria itu kesakitan. Tangannya sudah di bekuk kebelakang sehingga pria itu tidak sanggup melawan.


"Selidiki pria itu! Patahkan tangannya!" Ujar Arsya saat tubuh Danni membekuk pria itu melewati dirinya.


"Baik!" Sahut Danni membawa pria itu keluar kamar.


"Uh. jangan! Ampun!" Ujar pria itu meminta tolong. tapi tak digubris.


Setelah Danni pergi. Arsya dapat melihat jelas tubuh Anna yang bugil. Ia terus meronta dan gerakannya seolah sedang menari sangat erotis. Arsya adalah pria normal yang kapan saja nafsunya bisa melambung tinggi.


Ia berjalan pelan mendekati Anna yang bergerak liar di atas ranjang.


"Ugh, panas!" Desah Anna.


Arsya tidak tahan, ia segera menarik tangan Anna menariknya hingga memasuki kamar mandi. Ia menghidupkan air shower dan memaksa Anna untuk tetap berada di bawah guyuran air yang mengalir.


"Ugh...." Desis Anna.


Tangan Arsya yang lebar menekan pucuk kepala Anna. Anna ingin melawan Tetapi kesadarannya semakin lama semakin menghilang. Akhirnya Anna tumbang.


Arsya mematikan air shower, kemudian membungkus tubuh nya dengan wardrob hotel. Ia menggendongnya dan membaringkannya di atas ranjang.


Arsya mengambil hair dryer yang berada di dalam kamar mandi. kemudian menyalakannya. Dengan lembut ia mengeringkan rambut Anna yang basah.


Drrrrtttt


Ponsel Arsya berdering. Setelah mengenakan wardrob, Arsya segera mengambilnya dan mengangkat telepon.


"Presdir, sudah di tanyakan. Dia orang suruhan nona Indri. Anak buah tuan Wiliam." Ujar Danni memberi laporan.


"Hemm, sekarang juga. Hancurkan perusahaannya."


"Baik!"


Sambungan telepon ditutup. Arsya menoleh ke samping. Gadis itu tengah tertidur lelap. Arsya segera mendekat dan menyelimuti tubuh mungilnya. Wajahnya yang semula menjadi semakin rumit dan muram.


Ia merasa sangat lelah, Arsya membaringkan tubuhnya di samping Anna.


***


Cahaya pagi menembus melalui celah gorden, Anna yang masih terbaring segera menutup matanya dengan tangannya yang ia letakkan di atas wajahnya. Tetapi tidurnya sudah tak nyenyak sama sekali.

__ADS_1


Ia menggeser tubuhnya agak ke samping dan menemukan guling yang sangat hangat, Ia berguling kesana dan memeluknya erat. Sangat nyaman.


Arsya merasa tubuhnya agak berat, perlahan Ia membuka mata. Dan disisi yang bersamaan Anna juga membuka matanya. Mereka saling menatap satu sama lain.


Di pikiran Anna teringat kejadian semalam, Ia berada di kamar hotel atas rekomendasi pelayan itu. Tetapi kenapa Arsya bisa masuk ke sana dan tidur bersamanya.


"Ka...Kamu?" Anna segera bangkit dari tidurnya kemudian melihat ke bawah. Pakaiannya sudah berganti dengan wardrop putih yang melekat pada tubuhnya.


"Kamu perkosa aku?" Pekiknya marah, jari telunjuknya mengarah kepada Arsya dan menuduhnya.


Arsya mendesis dan mendudukkan tubuhnya bersandar pada sandaran papan ranjang. Kepalanya masih terasa sakit karena ia baru tidur beberapa jam.


"Kamu istriku. bukankah itu hal wajib." Arsya berkata dengan tenang sambil bersedekap di dada.


"Huh." Anna sekali lagi terbengong menundukkan kepala dan melipat kedua tangannya di dada. Perlahan air matanya mulai berjatuhan.


"Ya tapi kan kamu bisa bilang dulu. Huhuhu.....aku sudah tidak perawan lagi." Ujarnya di dalam tangisan.


Arsya menyunggingkan senyuman yang dalam. Gadis ini terlalu polos dan lucu.


"Kamu tidak mengingat kejadian semalam sama sekali?" Tanya Arsya.


"Huh." Anna menolehkan kepala memandang Arsya dengan bingung. Wajahnya masih setengah basah dengan air mata.


Ia kembali mengingat kejadian semalam. Ia diberikan minuman jus jeruk oleh Elsa, kemudian ia merasa sakit kepala. Ia duduk di sudut ruangan dan kepalanya makin terasa sakit. Saat ingin keluar dia di paksa seorang pelayan untuk beristirahat di kamar hotel ini. Lalu setelah itu dia tidak ingat lagi.


"Semalam ada pelayan yang mengantarkan aku ke kamar ini. Dan aku tidur disini. kepalaku pusing dan semakin lama semakin panas. Lalu aku...." Anna mendongak menatap Arsya yang masih menatapnya.


"Kamu-kamu yang semalam ada disini?" Ujar Anna sedikit menaikkan suaranya.


"Hem, jika bukan aku yang menolongmu. Kamu sudah diperkosa orang lain."


"Apa maksudmu?"


"Seseorang telah merancang hal ini. Di luar ada wartawan yang berburu. Jika bukan aku dan pengawal yang menyadarinya kamu sudah pasti masuk koran pagi ini. Dan bukan itu saja. Sudah pasti kamu masuk tivi. Dengan tema, seorang anak pengusaha sukses bermalam di kamar hotel dengan pria tak dikenal." Ucap Arsya memberi penjelasan.


"Huh." Anna tercengang mendengar ucapan Arsya. Tanpa sadar ia mengeratkan genggaman tangannya mengepal erat.


"Itu pasti ulah Indri. Sialan." Batin Anna geram.


"Sudah tau konsekuensinya. Kenapa aku mau ikut datang? Acara seperti ini sungguh tidak menguntungkan perusahaanku." Arsya mencibir.

__ADS_1


Anna terbengong sesaat dan menatap punggung lebar itu masuk ke dalam kamar mandi dan terdengar suara air shower yang menyala.


Anna berpikir sejenak tentang kejadian semalam, Ia memaksa Arsya untuk menjauh darinya karena takut hubungannya terekspos. Tetapi malah mendapatkan perlakuan tidak baik dari Indri. Indri ini selalu dendam dengannya entah karena apa. Jika dipikir, dia adalah anak pengusaha yang terkenal dan lebih kaya darinya. Tapi kenapa ia terlalu dendam lebih dalam kepadanya.


__ADS_2