Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Part 44


__ADS_3

Anna menoleh kepada Arsya yang tengah berdiri di sampingnya menuntut sebuah jawaban.


"Ayo!" Tetapi Arsya malah menggandengnya memasuki ke sebuah ladang anggur yang luas.


Langkah Linda menghentikan langkah mereka berdua. Dengan senang ia menyambut kedatangan mereka.


"Arsya! Kenapa kau tiba tiba datang kemari. Kau tau alamatku dari mana?" Tanya Linda penuh penasaran.


"Bukankah kau tau identitasku? Kenapa kau masih bertanya padaku."


"Ups." Linda menutupi bibirnya dan tersenyum kemudian ia melihat Anna yang berdiri di samping Arsya.


"Hai Anna. Sudah lama kita tak bertemu. Apa kabar mu?" Tanya Linda.


"Nona Bramantyo, anda sekarang tinggal disini?" Bukannya ia menjawab pertanyaan Linda. Tetapi ia berTanya dengan kening berkerut. Ia sungguh penasaran kenapa dia malah hidup di pinggiran kota dan hidup secara sederhana.


"Ya, aku tinggal disini selama hampir enam tahun?" Ujarnya.


"Apa?" Anna terkejut mendengarnya. Lalu menoleh ke samping.


"Ya, Dia setelah menikah tinggal disini bersama suaminya." Ujar Arsya menjelaskan.


"Jadi kau benar telah menikah?"


"Ya," Sahut Linda mengangguk. "Lebih baik kita masuk saja. Kalian datang kemari jauh jauh tidak pantas di luar seperti ini. Aku akan memperkenalkanmu pada suamiku." Linda bersemangat dan membawa tamunya masuk ke dalam ladang anggur. Di tengah tengah ladang anggur itu ada sebuah rumah yang nampak asri meski tak besar dan mewah.


Tapi sepertinya Linda cukup menikmati dan tampak bahagia. Seraya berjalan. Beberapa kali Linda menceritakan keadaan ladangnya. Dia dan suaminya itu yang merawatnya sendiri. Anna terkagum dengan usaha Linda ini. Tak di sangka, jika dulu Linda yang selalu ingin berkuasa dan naif bisa berubah dengan kesederhaan.


Sifatnya yang arogan juga bisa berubah menjadi ramah dan rendah hati. Tak berapa lama mereka berjalan melewati ladang anggur. Kini telah tiba di depan sebuah rumah. Linda membuka pintu dengan lebar.


"Ayo masuklah." Ujar Linda.


Arsya langsung menarik tangan Anna membawanya masuk. Linda tak lupa mempersilahkan duduk kepada kedua tamunya. Kemudian ia masuk ke dalam.


"Arsya! Kenapa kau membawaku kemari?" Tanya Anna dengan suara pelan.


"Tidak ada. Aku hanya ingin berkunjung ke tempat mereka saja. Kau tau kan, jika aku dan Linda adalah teman. Tidak ada salahnya kan jika berkunjung ke rumah teman." Sahut Arsya dengan santai.


Anna hanya mampu menerima jawaban Arsya yang mungkin bisa diterima secara logis. Namun di dalam benak Anna masih memiliki kecemasannya sendiri.


Tak berapa lama, seorang pria keluar dari balik pintu. Nampaknya dia baru saja selesai mandi. Karena tercium aroma sabun yang menguar pada ruangan itu.


"Arsya!" Ucap Ken terkejut kala ia melihat Arsya yang duduk di sofa ruang tamu.


"Hai ken. Apa kabarmu?" Arsya segera berdiri seraya tersenyum lebar.


Ken segera mendekati dan langsung berjabatan tangan. Setelah itu mereka kembali duduk. "Keadaanku sangat baik. Arsya! Aku tak menyangka jika kau akan menemukan tempat tinggalku." Ujar Ken kemudian ia melirik wanita yang duduk di samping Arsya. "Apakah ini nyonya muda Adiyaksa?" tanya Ken.

__ADS_1


"Benar. Sesuai apa yang dulu pernah aku katakan padamu. Dan untuk menemukan tempat tinggalmu itu sangat mudah." Sahut Arsya dengan bangga.


Ken menggelengkan kepalanya dan tertawa. "Hahaha, aku lupa bahwa kau adalah tuan muda Adiyaksa si penakhluk dunia bisnis." kemudian kembali melirik Anna. "Dulu aku sempat tak percaya bahwa kau akan menikah dengan gadis di bawah umur. Nampaknya aku harus percaya."


Arsya hanya tergelak. Sementara Anna yang berada di samping Arsya tidak mengerti obrolan mereka. Tapi dia sempat kesal dan marah karena di anggap gadis yang masih dibawah umur.


"Kau jangan mengejekku. Bagaimanapun dia adalah istriku." Jawab Arsya lalu menyalipkan satu tangannya ke pinggang istrinya dan menariknya hingga rapat. Arsya dengan beraninya langsung mencium pipinya yang mulus.


"Haha, aku mengerti sekarang."


Tak berapa lama Linda keluar dengan beberapa minuman dan juga camilan. Lalu menyajikan di atas meja. Linda pun ikut bergabung di sana.


"Apa yang sedang kalian obrolkan sampai terdengar keras keluar tawa kalian." Ujar Linda.


"Tidak ada sayang. Kami hanya mengobrolkan sesuatu yang lucu." jawab ken. Lalu mencium kening Linda dengan sayang.


Anna dapat menyaksikan hal ini, di dalam hatinya masih saja terkejut.


"Kau jangan membuatku malu." Linda berkata dengan senyum malu malu.


"Kenapa harus malu. Mereka juga pasangan suami istri." Sahut Ken dengan senyuman yang menggoda.


"Sudahlah." Ujarnya untuk menghentikan suaminya yang terus menggodanya. Lalu ia melirik Anna yang masih menatapnya.


"Anna. Lebih baik kita keluar dan menghabiskan waktu untuk melihat kebunku ini. Di belakang ada sebuah danau. Ayo kita kesana untuk melihat matahari terbenam." Ajak Linda.


"Baiklah Nona Bramantyo. Ayo kita pergi. Aku juga penasaran dengan kebunmu ini."


"Haha, kalau seperti ini akan sangat bagus untuk hubungan kalian. Pergilah sayang!" Sela Ken tertawa ringan. Sebelum pergi, Ken kembali mencium pipi Linda. Sementara Anna segera melepas dari tangan Arsya yang menggapai pinggangnya. Padahal Arsya juga ingin melakukan hal yang romantis. Mencium pipinya dengan lembut penuh kasih sayang. Tapi Anna malah segera menghindar.


Anna dan Linda sama sama keluar dari pintu. Mengintari rumah hingga ke belakang. Perlu berjalan hingga 500 meter baru menemukan sebuah danau yang indah.


Terlihat pohon pohon besar mengintari danau. Suasananya sangat rindang. Linda menariknya hingga duduk di atas rerumputan yang tebal. Sambil menikmati angin sepoi yang berhembus dari arah danau.


"Bagaimana?" Tanya Linda. Tatapannya lurus ke depan sambil menikmati keindahan cipataan Tuhan.


"Bagus sekali." Anna menjawabnya dengan pujian.


Linda tersenyum kemudian lanjut berkata. "Setiap kali aku merasa sedih, aku selalu datang kemari untuk menghibur diriku sendiri."


Anna menoleh, terlihat ada raut kesedihan yang nampak. Tetapi ia tak bisa menebak, apa itu. Dia kemudian kembali menatap lurus ke depan.


"Aku sudah mendengar, jika Kau sedang mengandung. Selamat ya." Linda menoleh. Terlihat berkas cahaya yang nampak ikut dalam kebahagiaan.


"Terima kasih." sahut Anna.


Linda kembali menatap ke depan. Kemudian ia menundukkan kepalanya. Menatap perutnya yang rata. "Dulu aku juga sempat hamil. Dan sekarang aku belum pernah mengandung lagi." Ungkapnya lalu mendongakkan kepala sambil tersenyum.

__ADS_1


Terbersit rasa iba di hati Anna. "Suatu saat, kau pasti akan hamil lagi Nona Bramantyo." Sahut Anna.


Linda hanya tersenyum, namun di dalam matanya ada binar kesedihan. Ia menggeleng pelan. Dan kembali tersenyum pahit. "Tidak lagi. Sejak kehamilanku yang pertama aku mengalami kecelakaan dan para dokter mengatakan jika rahimku pecah. Sehingga tidak bisa lagi mengandung." Ungkap Linda.


Anna tertegun. Lalu menoleh. Terlihat ada tetesan air mata yang keluar dari mata Linda. "Mungkin ini karmaku." lanjutnya.


Anna segera mendekati Linda dan mengusap punggungnya dengan pelan. "Sejak hari itu, aku memutuskan untuk mencarimu dan meminta maaf dengan tulus. Tetapi Ken tidak mengijinkanku pergi." Linda meneteskan air matanya dengan deras. Punggungnya terlihat bergetar.


Linda kemudian mengambil tangan Anna yang menganggur, menggenggamnya erat. "Anna maukah kau memaafkan aku secara tulus. Aku selama ini merasa bersalah padamu." Ucapnya dengan berlinang air mata.


"Ya."


"Terima kasih." Linda merasa senang.


"Tuhan saja selalu memaafkan umatnya. Apalagi aku juga seorang manusia. Nona Bramantyo, jika kau mau. Kau anggap saja anaku juga sebagai anakmu juga."


Linda segera mengusap air matanya yang mengalir di pipinya. Ia menoleh ke arah Anna dengan tak percaya.


"Benarkah?"


"Tentu saja. Kau dan Arsya adalah teman. Kenapa aku harus membencimu. Bukankah kita juga seorang teman." Ucap Anna dengan senyuman yang menenangkan. Membuat hati Linda meleleh karena terharu.


"Kau sangat rendah hati Anna. Pantas saja Arsya tak bisa melepaskanmu begitu saja. Hatimu seperti malaikat, padahal aku sudah menyakitimu." Kata Linda.


Anna membalik tangannya seinngga genggaman Linda berubah dengan Anna yang menggenggam tangan Linda. "Terima kasih Anna."


Akhirnya mereka bisa saling berteman. Arsya dan Ken dapat melihatnya dan tersenyum lega.


"Aku senang, mereka sudah bisa saling memaafkan satu sama lain." Gumam Arsya.


"Biasanya, orang yang sudah menyakiti hati seseorang akan sangat susah memaafkan. Tetapi berbeda dengan istrimu. Hatinya bagai malaikat. Mungkin keputusan kakekmu adalah benar." Ucap Ken.


Arsya menoleh lalu menepuk pundak Ken. "Kau juga sudah mendidik Linda dengan baik. Sekarang ia telah berubah." Sahut Arsya tersenyum.


"Tentu saja." Ken membusungkan dada dengan bangga. "Jika dia masih terus hidup di bawah keluarga Bramantyo mungkin dia masih semanja dulu. Dan masih arogan dan sok berkuasa." Lanjut Ken.


"Hahahaha...." Ken tertawa. "Lebih baik kita kembali saja. Biarkan mereka berdua menikmati moment ini. Kau sudah percaya padaku kan?"


"Ya, dari dulu aku sudah tak meragukanmu. Dan aku percaya bahwa Linda akan bahagia bersamamu." Sahut Arsya.


Mereka berdua meninggalkan area danau. Dan menuju kembali ke kebun anggur.


"Kapan kau akan kembali?" Tanya Ken seraya berjalan.


"Malam ini." sahut Arsya tanpa ragu.


"Secepat itu? Hati hati bro. Istrimu sedang mengandung. Dia jangan terlalu lelah karena banyak melakukan perjalanan." Ucap Ken.

__ADS_1


Arsya hanya mengendikkan bahu acuh.


__ADS_2