Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Part 2


__ADS_3

Di pagi hari yang cerah. Anna membuka gorden jendela kamarnya. Rumah yang ia tempati adalah rumah berlantai satu. Maka hal itu akan memudahkannya untuk bergerak. Selain itu rumahnya tidak seluas rumahnya yang berada dinegaranya sendiri.


Jadi ia akan sedikit mengeluarkan tenaga untuk membersihkan rumahnya tanpa bantuan siapapun. Dia sudah enam bulan tinggal di rumah itu, sejak pertama ia membeli tanah sampai penanaman bibit mawar.


Semuanya ia lakukan sendiri. Dan perlahan lahan, ia mempunyai karyawan seperti sekarang. Saat membuka gorden, cahaya matahari masuk ke dalam rumahnya. Ia nampak lebih bersemangat.


Ia menghirup udara sebanyak banyaknya sebelum ia memulai aktivitasnya. Sebelum pergi ke kebun, ia membersihkan rumahnya terlebih dahulu. Selain itu, ia akan membuat sarapan dan bekal makan nanti siang.


Selesai menyapu lantai, gadis itu pun pergi ke dapur. Ia hanya membuat roti sandwich. Dan untuk bekal makan siangnya, ia membuat salad buah buahan sebagai makanan ringan. Setelah di rasa sudah cukup dengan perbekalannya ia merasakan tubuhnya lengket karena keringat. Jadi ia pergi mandi.


Tepat jam 7 pagi, ia akan bersepeda ke kebun. Nampaknya di sana para karyawannya sudah siap bekerja. Dia melihat dari kejauhan jika karyawannya telah bekerja merawat tanamannya dengan baik.


Saat ia sedang berbalik, dia menemukan sebuah alat berat melintas. Ia mengerutkan alisnya sejenak lalu melihat lahan luas di sampingnya. Mungkinkah lahan itu akan segera di dirikan rumah. Batinnya.


Anna pun acuh dan melirik sekilas lahan di samping dan kembali ke rumah penelitian. Ia akan membuat teh mawar sebagai penemuan baru.


...----------------...


Direktur Roni, sudah berada di lahan kosong itu untuk melihat langsung konstruksi yang ia kerjakan. Rumah penelitian ini paling lambat dikerjakan dalam dua bulan. Jadi selama dua bulan ini ia akan berada di sana.


Tapi ia sudah bekerja sama dengan Arsya. Tentu saja dalam pengerjaan ini ada campur tangan Arsya yang merupakan arsitek rumah penelitian itu. Sementara dirinya hanya menjalankan konstruksi sesuai gambar.


Sementara Arsya sendiri. Kini pesawatnya sudah landing. Danni bergegas turun membawa satu koper pakaian Arsya dan satunya lagi miliknya. Hari ini mereka akan melihat langsung konstruksi itu di mulai.


Sebelum pergi ke lahan, keduanya pergi ke hotel. Danni memesankan kamar presiden suit sementara dirinya berada di kamar VIP.


"Presdir, direktur Roni sudah berada di lahan konstruksi." lapor Dani saat menerima pesan dari direktur Roni.


"Kita bergegas kesana." ujar Arsya.


"Baik."


Setelah mandi dan mengganti pakaiannya, danni dan Arsya bergegas ke lahan kontruksi. Sepertinya alat berat sudah mulai bergerak.


"selamat pagi presdir Arsya!" sapa Direktur Roni saat Arsya datang.


"Hem, bagaimana pengembangannya?" tanya Arsya dingin.


"Sudah sejauh pembuatan beton sebagai fondasi." ujar direktur Roni.


"Hem." dehem Arsya mengangguk.


"Presdir, ayo kita kesana. Di sana sepertinya ada pondok buat kita berteduh." Ujar direktur Roni seraya mengajak Arsya ke sebuah pondok kecil yang tak jauh dari lahan konstruksi.


"Hem." ujar Arsya menyetujui.

__ADS_1


Sampai di pondok kecil itu, Direktur Roni menjelaskan sedikit permasalahan mendirikan rumah penelitian itu. Arsya hanya mengangguk seraya mendengarkan keterangan direktur Roni.


Selesai menjelaskan tiba saatnya untuk makan siang. Direktur Roni menelepon seseorang untuk mengirim makan siang ke sana. Saat sedang istirahat, tanpa sadar Arsya menoleh ke aran kebun yang berada di samping lahan konstruksi.


Selesai menelepon, Direktur Roni menoleh ke arah pandang Arsya. Ia tersenyum. "Presdir. Aku baru tau jika di sana ada kebun mawar."


"Hem, kebun itu terlalu luas." jawab Arsya.


"Benar. Kebun itu memang luas sekali. Dan sebelum ke sini, aku mendengar jika kebun itu di kelola seorang gadis. Dengan tanah seluas ini, dia sendirian menanam semua bunga mawar ini."


Arsya mengerutkan alisnya. Merasa penasaran dengan gadis yang di maksud. Sepertinya gadis ini sungguh hebat bisa menanam dan merawat bunga mawar yang luas ini.


"Dia juga gadis pekerja keras. Dia benar benar mandiri. Selain sebagai pekebun mawar. Dia juga membuat sebuah penelitian di sampingnya, dia mengembangkan bunga mawar ini menjadi parfum dan sabun mandi. Aku sungguh salut dengan gadis ini." Direktur Roni melanjutkan menjelaskan.


"Tapi menurut berita yang beredar gadis ini masih single. Presdir! Anda juga pria single. Sepertinya kalian akan cocok jika bersama gadis ini. Anda pekerja keras. Dia juga gadis pekerja keras." ujar direktur Roni tertawa.


"Apa yang kau katakan direktur Roni. Presdir...." Dani ingin menegur direktur Roni.


"Diamlah!" sela Arsya. Danni menoleh ke arah presdir Arsya lalu melirik direktur Roni.


"Presdir. Setelah selesai makan siang, bagaimana jika berjalan jalan di sekitar kebun mawar itu. Aku jadi penasaran siapa gadis itu." Direktur Roni lanjut berkata.


Danni menatap direktur Roni dengan kesal. Pasalnya, presdir Arsya saat ini sudah kehilangan istrinya. Dan sampai sekarang ia tak pernah sekalipun mencari gadis lain. Tapi direktur Roni malah memperkenalkan wanita kepadanya. Apakah direktur Roni tidak takut dibunuh?


"Presdir, anda jangan kesana. Jangan dengarkan direktut Roni, Direktur Roni hanya bergurau." ujar Danni.


Danni memijit pelipisnya sekaligus kesal dengan direktur Roni. "Presdir." Danni ingin mengalihkan presdir Arsya agar tak memikirkan perkataan direktur Roni. Hanya saja tanpa di duga presdir Arsya malah berbalik pergi.


Danni memelototi direktur Roni dengan kesal. Lalu berbalik dan mengikuti Arsya.


"Kenapa asisten Danni. Apa dia sedang sakit mata? Kenapa dia memelototiku?" gumam direktur Roni.


Selesai menghabiskan makan siangnya, Arsya dan Dani kembali ke hotel. Sementara Direktur Roni memilih tinggal di penginapan yang tak jauh dari lahan konstruksi.


Saat di malam hari, Direktur Roni menyeduh kopi dan duduk di teras seraya menikmatinya. Dia menatap ke arah rumah penelitian yang berada di kebun mawar itu. Sepertinya lampunya masih menyala.


Apakah gadis itu masih berada di sana melakukan penelitian?


Direktur Roni merasa penasaran. Ia pun beranjak dari tempat duduknya dan tak lupa mengunci pintu rumahnya. Ia ingin tau apa yang di lakukan gadis itu di malam gelap seperti ini.


Ia sekedar berjalan jalan melewati kebun mawar. Dia melihat kebun mawar yang penuh bunga itu tampak terpesona. Ia melihat kesana kemari dan memperhatikan jalan jalan di sekitar kebun.


Semua bunga mawar itu terlihat cantik, apalagi di rawat dengan baik. Direktur Roni mengambil bunga mawar itu dan tanpa sengaja duri bunga mawar itu malah menusuk jarinya hingga mengeluarkan darah.


Kebetulan Anna sudah selesai melakukan penelitian. Ia akan pulang. Saat menoleh ke arah kebun sepertinya ia melihat ada seseorang di kebun mawar miliknya. Ia menyorong dengan senter dab berteriak keras.

__ADS_1


"Siapa di sana?" tanya Anna dengan lantang.


Pria itu hanya melambaikan tangan di atas. Anna mengerutkan kening dan berjalan menghampiri orang itu.


"Siapa kamu?" tanya Anna.


"Aku...Aku...Ah ya jariku terluka. Aku yang bekerja di lahan konstruksi sebelah." Ujar Direktur Roni gugup untuk menjelaskan.


Anna menoleh ke arah lahan konstruksi lalu kembali menatap pria di hadapannya.


"Sedang apa kau kemari?" tanya Anna.


"Aku...Aku tadi melihat kebun mawarmu saat berada di sana. Dan aku penasaran. Saat lenggang, aku ingin melihat lebih dekat." ujar direktur Roni.


"Oh." Anna mengangguk kemudian ia melihat jari pria itu yang sedang ia genggam.


"Jarimu berdarah?" tanya Anna.


"Iya, tadi aku ingin memetik bunga mawarmu. Tapi tak di sangka malah terkena duri." Ujar Direktur Roni.


"Kalau begitu ikut aku. Akan mengobati lukamu." Ujar Anna lalu mengajak direktur Roni untuk masuk ke dalam rumah penelitian. Saat masuk ke dalam rumah penelitian itu direktur Roni tercengang dengan isinya.


Banyak sekali bunga mawar yang di urutkan sesuai warnanya selain itu, ia juga menemukan banyak botol yang ia hirup akan terasa wangi. Sepertinya itu parfum.


"Ekhemmmm." dehem Anna saat keluar membawa kotak obat.


"Eh, aku hanya melihat lihat. Ini, parfum yang kau buat?" tanya Direktur canggung saat ketahuan mengotak atik parfum milik Anna.


"Ya, ini adalah penemuanku selama ini." Ujar Anna lalu duduk di sebuah sofa dan meletakkan kotak p3k di atas meja.


"Hem, sungguh gadis yang berbakat." direktur Roni ikut duduk di samping Anna.


"Anda bisa mengobati luka anda sendiri kan?" tanya Anna.


"Oh, iya. Ini hanya luka kecil." Direktur Roni segera membuka kotak obat dan mengambil botol alkohol yang ia oleskan di permukaan kapas lalu mengusapnya di atas darah yang masih menetes.


"Jika aku lihat, anda orang yang waktu itu di supermarket?" tanya Anna saat memperhatikan wajah pria itu.


"Hehe, ternyata kamu sangat mengenali orang dengan baik. Bahkan aku sudah lupa." Pria itu tersenyum memperlihatkan gigi depannya.


Anna hanya tersenyum. Setelah pria itu menutup lukanya dengan handsaplast. Anna kembali menutup kotak obat dan menaruhnya di bawah kakinya.


"Ah, ya. Ini sudah malam. Sepertinya anda harus istirahat. Aku juga akan pulang ke rumah. Soal bunga, apakah anda tertarik dengan kebunku?" tanya Anna.


"Ya," Direktur Roni segera mengangguk. Karena ia memang sangat tertarik dengan kebun mawar ini. "Jika nona berkenan. Aku mau nona mengirimkan bunga mawar ke lahan di sebelah untuk mengisi mejaku yang kosong."

__ADS_1


"Baiklah, aku akan mengirimkan bunga mawar besok saja." jawab Anna. Direktur Roni pun merasa senang


__ADS_2