Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Part 25


__ADS_3

Selesai mengganti pakaian. Anna dan Arsya pergi bersama ke ladang menggunakan sepeda. Dari kejauhan layaknya pasangan yang akur. Tapi sebenarnya mereka tidak menganggap hal itu.


"Sya."


"Hmph." dehem Arsya menyahut panggilan Anna.


"Perkataanmu tadi membuatku teringat seseorang." Ujar Anna di sela membonceng dibelakang Arsya.


"Kalimat yang mana?" tanya Arsya sembari fokus pada kayuhan sepeda ontelnya.


"Kau bilang ingin terus melindungiku."


"Um. Tentu saja aku akan selalu melindungimu."


"Kau seperti orang yang aku kenal. Karena dulu dia selalu berjanji akan selalu melindungiku."


"Oh ya. Siapa? Jangan katakan jika kau memiliki pacar disini." Wajah Arsya berubah cemberut.


"Haha. Kau cemburu?" tanya Anna menggoda.


Sepeda yang dikayuh Arsya sudah sampai di ladang. Arsya dan Anna berjalan berdampingan sementara Arsya menuntun sepedanya hingga sampai di rumah penelitian di tengah tengah ladang.


"Mengapa kau cemburu? Kita sudah bercerai. Apa kau tidak sadar dulu dengan sikapmu yang selalu dingin seperti ini." Anna mengingatkannya dulu.


"Hmph." sahut Arsya dengan dingin.


Anna menolehkan kepala. Lalu kembali menatap lurus ke depan. "Dia adalah kakakku, namanya kak Anzel. Dia bilang dulu akan selalu melindungiku. Menjagaku. Membuatku tertawa walau hanya hal kecil saja." Ujar Anna lalu tersenyum getir.


"Tapi sayangnya, Tuhan lebih sayang dia. Dan pada akhirnya semua itu hanyalah menjadi kenangan."


Arsya menolehkan kepala. Menatap Anna yang tersenyum. Ia merasa sangat bersalah akan hal ini. Tetapi ia tetap bertahan dan melanjutkan langkahnya. Hingga tiba di sebuah rumah penelitian yang tak terlalu besar itu.


"Letakkan sepeda itu di sana." Anna menunjuk ke tembok yang berada di samping rumah.


Arsya melangkah ke sana dan meletakkan sepeda itu di sana. Sementara Anna membuka pintu.


"Anna, aku juga akan membuat kau sama seperti yang Anzel katakan. Membuatmu bahagia dan tertawa." diam diam Arsya juga berjanji di dalam hatinya. Tak lama setelahnya ikut masuk.

__ADS_1


"Na..." panggilan itu terhenti kala Anna keluar dari sebuah ruangan.


"Jangan berteriak. Aku tidak tuli." Ujar Anna.


Arsya tersenyum simpul lalu mengikutinya masuk ke dalam ruangan yang biasa digunakan Anna untuk membuat penelitian. Arsya ternganga ketika melihat ruangan itu penuh bunga. Bunga itu tampak masih segar dan banyak warna persis dengan ladang di luar yang penuh bunga dan warna warni.


Kemudian Arsya ikut duduk di samping Anna yang tengah mengerjakan sesuatu. Ia meneliti satu persatu penemuan Anna. Ia tertegun sejenak menatap ke empat benda di depannya itu.


"Ini semua kau yang membuatnya?" Tanya Arsya.


"Tentu saja." sahut Anna tanpa memperdulikan Arsya.


"Kau memang berprestasi. Seharusnya kau lebih unggul sejak dulu jika kau tak malas." Ujar Arsya yang membuat atensi gadis itu naik.


"Sial. Kau mengejekku." Geram Anna.


"tapi memang benar kan."


"Cih." Anna menggeram dan lanjut dengan kegiatannya.


"Tapi ngomong-ngomong. Sejak kau datang kemari aku tak menemukan pengawalmu berjaga." celetuk Anna menyadari sesuatu.


"Hmph, kenapa? Kau menghawatirkanku?" tanya Arsya lalu meletakkan teh ke dalam tempatnya.


"Tidak. Hanya saja merasa aneh. Di tempat tinggalmu kau mempunyai banyak pengawal yang berjaga di setiap sudut rumahmu. Kenapa malah di luar kau tampak bebas."


"Di luar dan di dalam itu berbeda. Orang sepertiku memang banyak yang mengancam. Musuh di mana mana. Bahkan terkadang sulit membedakan mana lawan mana kawan." Arsya melirik Anna melalui sudut matanya. Terlihat dengan jelas Anna sedang mendengarkannya dengan serius.


"Maka dari itu, sebenarnya kau juga di posisi yang sama. Yang mana, mereka jika tau kau adalah kelemahanku. Maka mereka akan menyerangmu sebagai tameng mereka. Dan aku akan dikalahkan oleh mereka secara terang terangan." Ujar Arsya.


Anna baru tau, kenapa waktu itu saat mereka menikah hanya kolega bisnis terpenting yang mereka undang. Dan semuanya terlihat sangat akrab satu sama lain.


"Pantas saja. Tapi jika itu Linda. Kenapa dia baik baik saja.?" tanya Anna.


"Linda adalah orang yang berbeda. Melalui tempramentalnya. Dia mampu menghadapinya. Dia sebenarnya orang yang tak terkalahkan. Meski dia tidak memiliki cukup ilmu bela diri. Tetapi dia memiliki strategi yang cukup untuk menjaga dirinya sendiri. Berbeda denganmu...." Arsya menatap sekilas dan melanjutkan perkataannya.


"Um..."

__ADS_1


"Kau tidak mempunyai perlindungan diri. Terlebih kau masih bocah. Jika para musuhku ada yang tau. Akan mudah bagi mereka untuk menculikmu. Maka aku hanya bisa memberimu perlindungan dengan memberi banyak pengawal." Ungkap Arsya.


"Tapi itu membuatku merasa tak nyaman. Aku kira kau mematai mataiku dengan cara seperti itu." Anna menolehkan kepala sedikit dan bersamaan Arsya juga menolehkan kepala. Mereka bersitatap dalam sekian detik.


"Ekhemm." Anna berdehem untuk menstabilkan jantungnya yang mulai berdegup kencang. Lalu kembali menatap lurus ke depan sembari menundukkan kepalanya.


Sementara Arsya juga merasakan hal yang sama. Untuk menstabilkan jantungnya ia bangkit dari duduknya.


"Aku akan keluar sebentar." Ujar Arsya.


"Hm." sahut Anna. Dia juga menjadi salah tingkah. Padahal itu hanya saling tatap saja. Tapi tatapan itu seolah memberikan energi yang kuat.


Arsya pun keluar dan memilih berjalan jalan di sekitar ladang. Ia juga menoleh ke arah ladang di sampingnya. Sepertinya ladang itu ditanami banyak anggur. Bahkan sangat terlihat jelas ladang anggur itu terlihat lebih luas dari ladang kebun mawar.


Di malam hari, Anna terpaksa mengikuti Arsya pergi ke pesta. Pesta itu di adakan di dalam aula hotel. Anna mengenakan stelan gaun berwarna hitam panjang. Mempelihatkan tubuhnya yang seksi. Sesaat sebelum keluar dari dalam mobil Arsya tak puas dengan penampilan Anna.


"Ayo keluar." Ujar Anna tatkala mobil yang dikendarai Arsya telah sampai di parkiran Hotel.


"Huh." Arsya mengeluarkan nafas dengan kesal lalu sedikit menoleh ke arah Anna yang duduk di sampingnya.


Anna masih menunggunya untuk turun. "Kau sangat cantik malam ini. Aku tak rela membawamu pergi ke pesta. Nanti orang memandangmu jelalatan sungguh aku tak rela." gumam Arsya


Anna memandang Arsya dengan jengah. Sesaat kemudian Arsya keluar lebih dulu dan membuka kan pintu samping Anna. Terlihat kaki panjang yang ramping turun dari dalam mobil. Arsya menutupi kepalanya agar tidak mengenai kap mobil.


Anna menggamit lengan Arsya layaknya pasangan. Mereka melewati karpet merah hingga masuk ke dalam lobi hotel. Di sana ada banyak wartawan. Tetapi mereka menganggap tamu yang tidak penting sehingga memudahkan Arsya dan Anna masuk tanpa hambatan.


Sampai di lobi, Eli datang menyambut. "Halo tuan Arsya." sapa Eli dengan sopan dan elegan. Setelah itu melirik Anna sekilas.


"Halo, nona Eli." jawab Arsya dengan senyuman. Eli pun kembali menatap Arsya. Kemudian berpindah menyapa Anna.


"Halo Noni." sapa Eli pada Anna.


"Halo." sahut Noni membalas sapaan Eli dengan lembut dan elegan.


"Karena kalian telah datang. Mari kita naik ke atas. Pesta diadakan di aula hotel." Ujar Eli memberi tau.


"Ya." sahut Arsya dengan menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2