
Setibanya Arsya di sebuah restoran bersama Linda. Mereka berdua langsung memesan makanan. Sepertinya Arsya sedang membaik hari ini. Jadi membawanya pergi ke restoran. Linda begitu senang.
Mereka memesan stiek daging sapi impor yang berkualitas tinggi dan juga di masak koki terbaik. Semua bahannya di jamin berkualitas tinggi.
Arsya memegang garpu dan pisau di tangannya. Membelah daging hingga kecil. Setelah daging sudah terpotong kecil kecil ia mengambil piring Linda yang baru saja ia potong sedikit. Lalu mengganti dengan piringnya.
Sebegitu perhatiannya kepadanya. Linda tersenyum, Arsya memiliki sifat dingin tapi sebenarnya ia sangat lembut dan perduli. Setelah menerima piring dari Arsya, Linda tersenyum.
"Kau begitu baik padaku hari ini. Biasanya kau selalu sibuk kerja bahkan setiap kali kau berjanji pulang awal. Tetap saja kau melupakannya dan pulang larut." Ujar Linda seraya memasukkan potongan daging sapi ke dalam mulutnya.
"Karena sebuah pekerjaan yang tak bisa aku abaikan." Ujar Arsya singkat dan logis.
Linda mengangguk dan kembali memakan sepotong daging ke dalam mulutnya.
"Apa kau sudah menemukan Anna?" Tiba tiba Linda menanyakan kabar Anna.
Arsya meletakkan garpu dan pisau di tangannya. Wajahnya terlihat serius. Arsya berpura pura tidak perduli dengan Anna yang meninggalkannya. Sepertinya Linda memang sedang memancingnya.
"Jangan diungkit lagi." jawab Arsya.
Linda tersenyum sesaat kemudian ia memperlihatkan wajah prihatin.
"Istri pilihan kakekmu itu memang benar benar wanita tanpa atitude. Di luar dia sering jalan dengan pria lain. Selain itu menghabiskan uangmu. Bahkan aku melihat sendiri bagaimana ia pernah bertengkar dengan temannya hanya karena memperebutkan lelaki." Terang Linda.
Ia kemudian mengambil ponselnya dan memperlihatkan sebuah video. Video itu di ambil sekitar 4 bulan yang lalu. Saat itu Anna baru saja keluar dari bioskop bersama temannya. Kesya dan Dea mengikutibya hingga ke restoran.
Saat menunggu makanan pesanan mereka. Kesya dan Dea segera menyiram air dingin di wajah Anna. Dan semua pengunjung menoleh ke arah sana. Dan itu menjadi sebuah tontotan publik. Linda yang kebetulan di sana langsung mengambil video.
Tapi Linda tidak tau apa yang sedang mereka bicarakan. Jadi ia hanya menarik kesimpulannya sendiri. Biasanya orang yang saling memukul itu hanya memperebutkan seorang pacar.
Arsya mengerutkan dahinya lalu menyalinnya ke dalam ponselnya lalu menghapus video yang tersimpan di ponsel Linda. Kemudian ia mengembalikan ponsel kepada Linda.
"Kau lihat sendiri kan." Linda tersenyum dan menyimpan ponsel miliknya ke dalam tas.
__ADS_1
"Kau cepatlah makan. Aku harus segera berangkat ke kantor." Sela Arsya. Wajah Linda berubah masam. Ia kembali menelan makanannya.
Selesai membayar bill. Linda dan Arsya kembali ke Villa. Ia menuju ruang kerja di lantai bawah meninggalkan Linda yang sedang berada di kamar utama. Elsa buru buru mencari Linda saat punggung Arsya sudah menghilang di balik pintu ruang kerjanya.
"Nona Linda. Apakah sudah ada kemajuan?" Tanya Elsa buru buru bertanya perihal mereka yang sedang keluar menghabiskan sarapan pagi berdua.
"Hem, ide kamu sungguh bagus. Sepertinya dia akan mulai perhatian padaku bukan hanya ada bayi di dalam perutku." Jawab Linda.
Seketika ia melihat perutnya yang sudah enam bulan. Ia teringat jelas saat ia mabuk ada pria yang juga masuk ke sana. Awalnya ia mengira itu adalah Arsya. Ia tersenyum senang di balik kesadarannya yang menurun.
Tapi saat di keesokan harinya, ia menemukan pria di sampingnya bukanlah Arsya. Melainkan Ken -- teman lelakinya. Ken akan selalu datang menjemputnya di saat wanita itu butuh teman atau sekedar bercerita.
Entah bagaimana malam itu terjadi. Ia sudah lupa kronologisnya. Sampai ia harus menemukan cara agar malam itu ia bisa bermalam dengan Arsya. Sebulan kemudian ia menemukan jika ia sedang hamil. Setidaknya ia mendapat alasan yang tepat. Bahwa malam itu Arsya lah yang melakukannya.
Di ruang kerja
Arsya duduk sembari memperhatikan foto usang yang ia ambil tadi. Foto itu sepertinya di ambil saat Anna masih kecil sekitar tiga tahunan.
Foto ketiga, Anna berada di sebuah rumah yang ia kira itu adalah sebuah panti asuhan. Arsya mengernyit, ia memperhatikan rumah panti itu dengan seksama. Sepertinya ia pernah datang kesana bersama ibunya.
Panti itu bernama Bunda Kasih yang berada di jalan merpati. Ya benar. Sepertinya panti asuhan itu adalah tempat keluarganya memberikan sebagian hartanya. Setiap tahun keluarga adiyaksa akan memberikan sumbangan ke panti tersebut.
Terdengar suara ketukan di pintu. Arsya segera menyimpan kembali foto usang itu dan memerintahkan untuk segera masuk. Itu adalah Jo, yang baru saja kembali dari luar negeri.
"Tuan, ini adalah foto foto Li Xuyi. Dia adalah orang di balik insiden lima tahun lalu." Ujar Jo sembari memberikan foto yang ia ambil di luar negeri.
"Li Xuyi." gumam Arsya.
"Li Xuyi dulunya preman pasar. Dia hampir mati karena terkena tembakan saat sedang merampok bank. Dia pernah di penjara selama tiga tahun, setelah bebas ia tak mempunyai pekerjaan. Lalu ia datang ke bar tapi malah bertemu dengan Nona Linda. Nona Linda mendesaknya untuk bekerja dengannya. Dan Nona Linda memberikan bayaran tinggi kepada Li Xuyi sebagai pengawalnya saat itu."
"Hem, kerja bagus Jo. Aku tak sia sia memperkerjakanmu." Ujar Arsya menaikkan sudut bibirnya. "Kau terus selidiki dia lalu pancing dia agar kembali ke negera ini." perintah Arsya.
"Baik." Setelah itu Jo undur diri. Saat di depan pintu ia bertemu dengan Linda. Untung saja di ruang kerja Arsya kedap suara. Jadi ia tak akan mendengar apapun.
__ADS_1
Jo segera membungkuk hormat kepada Linda kemudian ia pergi dari Villa. Linda mengetuk pintu karena sudah saatnya makan siang jadi ingin mengajaknya makan bersama.
"Masuk!" Ujar Arsya dari dalam ruangan.
Linda masuk dan lekas tersenyum berjalan ke arah meja kerja Arsya. Arsya sedang menunduk sembari tangannya membolak balikkan sebuah dokumen.
"Arsya!"
"Hem,"
"Hari ini tidak ada koki yang masak di dapur. Tadi aku memasak dan tanganku masih sakit. Hanya bisa memasak sup saja." Ujar Linda.
"Kau tak perlu memasak. Nanti bisa keluar." jawab Arsya.
Linda melihat tangan Arsya yang sibuk mengetik. "Apa kau masih sibuk. Aku akan menunggumu sampai selesai lalu kita makan bersama."
"Hem sebentar lagi." Tak berapa lama Arsya menutup dokumen dan beranjak dari tempat duduknya.
Lalu keluar bersama sama. Di Villa itu tampak sepi. Elsa berdiri di ruang makan sembari menunggu Linda datang. Sementara Ricky selalu menyambut Arsya.
Elsa menyunggingkan senyuman tatkala Linda datang lalu menarik kursi untuk Linda. begitu juga Ricky yang menarik kursi untuk Arsya. Sup iga sapi telah tersedia dia atas meja. Uapnya mengepul seolah menggugah selera. Karena semua pelayan sudah diusir pergi hanya tinggal Elsa yang melayani.
Linda tersenyum dan mengambilkan sup ke mangkok dan diserahkan ke hadapan Arsya.
"Semoga kau suka. Ini hasil masakanku sendiri." Ujar Linda.
Arsya menarik mangkuk mendekat lalu menyuapkan sesendok ke dalam mulutnya. Sup ini terasa sangat manis. Arsya melirik Linda yang menantikan jawabannya.
Arsya mendongak dan menyeruput sup melalui sendoknya. "Enak." sahut Arsya.
Linda merasa senang. Arsya hampir muntah karena sup itu sangat manis. Setelah menghabiskan semangkok sup Iga. Linda ingin menambahkan lagi ke dalam mangkok Arsya. Tapi Arsya menolak karena ia sudah kenyang.
Arsya segera mendorong kursi dan kembali ke ruang kerja. Di sana ada sebuah kamar mandi dan memuntahkan segala isi yang masuk ke dalam perutnya di wastafel.
__ADS_1