Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Bab delapan puluh satu


__ADS_3

Bramantyo menatap gambar itu dengan sedih. Awalnya ingin mendorong Arsya untuk tidak membatalkan pernikahan bersama putrinya dengan cara seperti ini. Tapi tak di sangka. Sepertinya putrinya memang melakukan hal ini dengan orang lain. Pantas saja putrinya tidak diterima oleh keluarga adiyaksa.


Selain putrinya yang terlalu nakal juga selalu melakukan hal keji. Bramantyo mungkin terlalu memanjakan putrinya sehingga terjadi hal seperti ini.


Herman setelah menjenguk Linda, ia segera kembali. Sementara Arsya juga ikut kembali dan melakukan hal terakhir pada bayi yang berada di ruang jenazah. Meskipun dia bukanlah bayi miliknya. Tetap saja ia harus melakukan pertanggung jawabannya kepada Linda.


Dia membawa jenazah bayi itu ke tempat yang paling indah. Meskipun bukan bayinya, ia juga harus menghormati pertemanannya.


Arsya Sampai di Villa kediamannya sudah malam. Ia segera ke ruang kerjanya dan mengecek beberapa laporan bulanan pada perusahaannya. Saat sedang sibuk. Jo kembali ke Villa. Dan melaporkan suasana kali ini.


"Tuan! Li Xuyi kabur lagi, tapi aku sudah melakukan laporan kepada pihak yang berwajib sekaligus menyodorkan beberapa pengakuan insiden lima tahun lalu." ujar Jo.


"Hem, biarkan polisi yang bertindak. Kita hanya bisa menyaksikannya saja. Kau bekerja sangat keras. Kau bisa kembali ke markasmu." sahut Arsya.


"Baik."


Di rumah sakit. Psikologis Linda sudah membaik dengan bujukan Bramantyo untuk mengandung lagi. Linda merasa terhibur. Kedua anak dan bapak itu bisa melupakan kesedihannya soal anaknya yang sudah meninggal.


Tak lama setelahnya, tes dna yang di minta Arsya sudah keluar bersamaan dengan polisi datang melakukan penangkapan pada Linda.


"Pa, apa yang terjadi?" tanya Linda.


"Entahlah, papa juga tak tau." Ujar Bramantyo. Ia segera menghampiri polisi yang hendak melakukan penangkapan. Saat Bramantyo membaca isi surat penangkapan itu, Bramantyo membelalakkan mata.


"Linda, apa yang kau lakukan pada lima tahun yang lalu?" Tanya Bramantyo syok setelah membaca isi surat itu.


"Memangnya apa yang pernah aku lakukan?" tanya Linda bodoh.

__ADS_1


"Jangan bodoh Linda. Ini atas tuduhan kau telah membakar orang hidup hidup. Selain itu kau telah membunuh banyak orang. pantas saja tuan besar tidak menyukaimu, ini karena kau terlalu kejam sebagai manusia."


"Pa, aku putrimu. Mana berani melakukan hal seperti itu." ujar Linda memelas.


"Sudahlah, Pak polisi. Bawa saja dia." ujar bramantyo menampakkan wajah muram.


"Pa, kenapa kau berkata seperti itu. Linda adalah putri kita. Bagaimana mungkin kau membiarkannya dia di tangkap polisi." ujar Noni memberikan pembelaan kepada putrinya.


"Ma, sejak kecil aku tak pernah mendidik dia menjadi sekejam ini. Lagi pula. Dana perusahaan kita merosot banyak itu dikarenakan anak kita yang melakukan korupsi besar besaran. Terlebih uang perusahaan malah digunakan untuk berfoya foya di bar." Ujar Bramantyo menjelaskan.


"Apa!" Noni merasa syok mendengar hal ini. Ia menatap putrinya dengan raut wajah tak percaya. "Apa benar itu Linda?" tanya Noni yang kini beralih menatap putrinya.


"Ma, itu bukan salahku ma. Itu karena papa yang memberiku sedikit uang. Dan aku harus menutup segala gengsiku karena papa adalah pengusaha terkenal."


"Lalu kau melakukan hal ini?" Sela Noni." kalau begitu, mama setuju dengan papa." Noni lanjut menatap pak polisi yang berdiri menunggu perdebatan mereka berakhir. "Pak, tangkap saja dia. Mama gak mau lagi mempunyai putri seperti kamu. Kau terlalu kejam dengan membunuh nyawa yang tak bersalah."


Tanpa sadar. Linda mengakui perbuatannya sendiri. Pak polisi tanpa sadar mendapatkan bukti yang kuat.


"Dengar Linda. Kau sudah aku didik sedari kecil dengan baik. Mengajarkan sopan santun yang tinggi. Bahkan aku mengajarimu bisnis sampai kau hebat dan di antara kakak kakakmu, kau lah yang paling unggul. Tapi apa yang aku dapat malah sebuah kekecewaan." Ujar Bramantyo tampak sangat kecewa terlalu dalam. Wajahnya pun tampak memerah karena emosi.


"Bawa saja dia pak." Tutup Noni.


Kedua polisi yang menyaksikan perdebatan ketiga manusia itu maju dan membawa Linda. Bramantyo tersungkur ke bawah begitu juga Noni saat putrinya yang ia banggakan di bawa oleh polisi.


Memang benar kata tuan besar. "Kelak putrimu akan membawamu ke dalam jurang kehancuran." semua itu memang benar. Ia tak memahami sifat putrinya yang seperti ini. Terlalu memaksakan obsesinya dan susah di atur. Mungkin ini salah satu kenapa tuan besar tidak menyukai Linda.


Setelah Linda di bawa. Arsya masuk dengan kertas hasil tes dna di tangannya.

__ADS_1


"Tuan Bramantyo." Lirih Arsya.


Bramantyo mengusap pipinya yang basah dan segera berdiri. Begitu juga Noni yang langsung di tarik oleh suaminya itu agar beranjak dari lantai.


"Arsya." lirih Bramantyo.


"Ini hasil tes dna yang aku katakan." Arsya menyerahkan kertas hasil tes dna kepada Bramantyo.


Bramantyo membaca hasil laporan itu, kemungkinan 0.10 persen bukan anak kandung Arsya. Bramantyo semakin lemas. "Maaf Arsya, aku telah menarikmu seperti ini. Kau harus menanggung akibatnya oleh ulah putriku. Ku kira dengan mengungkit jasa yang pernah aku berikan kau akan membalasnya dengan menikahi putri kami. Apalagi dikuatkan dengan bayi yang ada di kandungan Linda saat itu. Sepertinya aku merasa malu berkata demikian." Ujar Bramantyo kembali meneteskan air mata.


"Iya nak Arsya. Kami minta maaf telah menuduhmu macam macam. Tapi kami mohon jangan penjarakan anak kami. Dia sudah kehilangan bayinya dan sekarang ia harus menanggung beban berada di penjara." Ujar Noni berlinang air mata.


"Benar nak. Kami mohon." Bahkan Bramantyo bersimpuh dihadapan Arsya.


"Mungkin akan menghabiskan waktu semalam Linda berada di penjara. Besok pagi kalian bisa membawanya pulang. Aku sudah mengurus segalanya dan bayi itu adalah mikik Ken. Kalian bisa menikahkan Linda dengan Ken. Dia adalah pria baik. Aku sudah menyelidikinya."


Bramantyo merasa tercengang mendengar nama Ken di sebut. Pria itu selalu menganggur dan suka berfoya foya di bar juga selalu bermain dengan wanita.


"Tidak. Linda tidak boleh menikah dengan Ken. Mana bisa menikah dengan pria bejat seperti Ken." Bramantyo meradang.


"Tuan Bramantyo, dia bukan orang seperti itu. Mungkin di mata tuan Bramantyo, Ken adalah pengangguran. Tetapi dia sebenarnya memiliki bisnis yang tak terlihat. Hidupnya mapan. Dia sangat menyukai Linda. Dan ia sangat tulus. Lebih baik anda pertimbangkan Ken. Tidak mudah lelaki yang akan menerima sifat Linda yang seperti ini. Terlebih lagi Linda sudah melahirkan anak." Ujar Arsya.


"Terserah kau Arsya. Apapun yang kau katakan aku tidak setuju dengan Ken yang akan menikah dengan Linda. Sebaiknya kau keluarkan Linda dan kami akan membawanya pulang." Ujar Bramantyo.


"Baik. Masa tahanan Linda bisa dicabut setelah 24 jam. Anda harus menunggu. Dan satu lagi. Ini adalah hasil kesehatan Linda. Aku berharap dengan begini, ia tak akan mengulangi perbuatannya." Ujar Arsya lalu berbalik pergi.


Bramantyo menatap punggung Arsya dengan datar. Di samping tubuhnya Bramantyo mengepalkan tangannya karena kesal. Dia tak menyangka jika yang menghamili Linda adalah Ken.

__ADS_1


"Sialan." umpat Bramantyo.


__ADS_2