
Sesampainya di taman. Anna langsung menemui Leya yang tengah menunggunya di bangku panjang. Leya juga sudah mengenakan kaos dan celana training.
"Leya!" Pekik Anna memanggil Leya sembari melambaikan tangan dan berjalan ke arahnya.
Leya tersenyum dan menyambutnya dengan membalas lambaiannya. Tak berapa lama Daren juga datang.
"Wah kalian pada janjian ya!" Tanya Daren saat menemukan Anna yang berjalan ke arahnya.
"Ih, tau aja. Ini urusan perempuan. Lagian kamu kesini mau apaan?" Ucap Leya.
"Ya lari pagilah. Emang ke taman mau apaan?" Jawab Daren merasa lucu dengan sikap Leya.
"Kukira mau cari wanita. Bukannya diluar negeri kamu selalu bersenang senang." Balas Leya.
"Tau aja." Daren merangkul lehernya dan mengacak rambutnya asal.
"Eh, kenapa di berantakin. ini nanti cantiknya ilang deh." Ucap Leya mencebik kan bibirnya.
"Woy, kalau pacaran jangan disini kali Leya." Ejek Anna yang telah sampai.
"Enak aja pacaran. Aku mah ogah pacaran sama dia. dia emang ganteng, tapi aku gak mau digilir sama dia." Balas Leya sewot.
"Terima kasih pujiannya." Balas Daren menarik kerah bajunya sendiri.
"Eh, sudahlah. Ayo kita mulai start. nanti keburu siang, panas." Ucap Anna melihat terik matahari yang kian naik.
"Ayo!" Leya dan Anna segera berlari lari kecil disekitaran taman, sementara Daren mengikutinya dari belakang.
Dapat dilihat kedua gadis itu bagai dua ratu yang dikawal Daren. Daren diam diam memperhatikan Anna yang tampak mempesona. Jika di sekolah ia bisa memandangi paha Anna yang putih mulus, tapi kini tatapanbya ke arah leher jenjang Anna. Apalagi saat duduk berhadapan jika makan di kantin. Bibirnya yang berwarna merah muda selalu menggoda.
Daren membayangkan jika mereka berdua berada di atas ranjang pasti akan sangat menggairahkan.
Tanpa sadar ketiga orang itu sudah mengelilingi taman sebanyak tiga kali. Leya dan Anna merasa capek. Keduanya langsung berhenti tepat di bangku panjang yang tadi pagi ia gunakan.
Anna meneguk air dalam botol hingga setengah begitu juga Leya yang meminum botol air miliknya yang sudah ia siapkan. Daren yang melihat mereka berhenti juga ikut berhenti.
"Kalian udahan?" Tanya Daren pada keduanya.
"Iya, sangat melelahkan." jawab Leya sembari mengelap keringat di dahinya dengan handuk kecil.
"Oke, tunggu aku disini. Aku akan melakukan lima putaran lagi." ucap Daren.
"Oke." balas Leya.
Sebelum melanjutkan langkahnya, ia melirik Anna dari arah samping. lalu tersenyum. Anna yang diperhatikan pun tak menghiraukan semakin ia melihat daren ia merasa sangat jijik.
__ADS_1
"Ayo kita cari tempat buat sarapan sekalian traktir ya? ingat janji harus ditepati." Ucap Leya mengingatkan.
"Oke. "Jawab Anna.
Keduanya pun mencari kedai yang berjualan disekitarnya. Hanya ada penjual bubur ayam di sana. keduanya pun masuk ke gerai itu dan memesan dua porsi untuk dua orang.
"Ayo ceritakan! Bagaimana kamu bisa mengenal tuan Arsya. Dia itu orang yang aku kagumi sejak dulu loh. selain muda dan tampan, ia juga pengusaha sukses." Ucap Leya sembari menceritakan kekagumannya.
"ya, bisa dibilang ini kebetulan, sebenarnya kami sudah menikah."
"WHATS!" Pekik Leya. Anna buru buru menutup bibir Leya yang berteriak keras.
Semua pengunjung segera menoleh ke arah kedua gadis yang duduk di pojokan. Anna melihat sekitar lalu tersenyum dan menganggukan kepala.
Leya melepas paksa tangan Anna. "Sialan! Bau terasi." Umpat Leya.
Anna yang diejek pun segera mengendus tangannya. "Sialan, harum gini dibilang bau terasi."
Leya terkekeh. Pesanan bubur ayam pun tiba. Anna menggeser bagiannya ke hadapannya. begitu juga Leya melakukan gerakan yang sama.
"Lalu kapan kalian menikah, kenapa kamu tidak mengundangku. Apakah aku ini temen yang buruk." Seloroh Leya.
"Itu aja dilaksanakan secara mendadak. Lagian kami hanya mengundang sedikit orang saja dan semuanya tamu papa dan dia. Mana mungkin aku punya waktu memikirkanmu." Ucap Anna dengan polosnya
"Astaga! teman macam apa kamu ini." Leya tak habis pikir dengan temen satunya itu yang melupakan dirinya. Giliran kena musibah dia baru di panggil.
"Oih," Leya mencebikkan bibirnya. "tapi tak apalah, itung-itung ngirit uang jajan haha." Ucap Leya dengan senyuman lebar.
Saat menyuapkan bubur ke mulutnya tangan Leya berhenti diudara. "tapi....(menatap Anna dengan menyatukan alisnya) udah di ***** ***** belum?" Tanya Leya berbisik pelan dan berkata dengan polosnya.
Dengan spontan, Anna menepuk lengannya. "Sialan! aku masih perawan kali." Balas Anna tak kalah sewotnya.
"Hehe, piece!" Leya tersenyum sembari memperlihatkan gigi putihnya satu tangannya yang menganggur mengangkat ke udara dua jari telunjuk dan jari manisnya membentuk huruf 'V'.
"Tapi beneran kamu belum di apa-apain kan?" Tanya Leya serius dengan makanan yang sudah ia telan.
"Iya lah, saat malam pernikahan aja, dia pergi ke jerman. mana mungkin melakukan hal itu. lagian ya, aku ini masih SMA. emangnya aku ini mau di apa-apain sebelum lulus. Aku tuh masih pengen melakukan hal hal indah di masa abu-abuku. gak ingin ternoda karena masalah ini."
"Bagus sekali, tetapi kenapa dia begitu tega meninggalkanmu saat malam pertama pernikahan." Tanya Leya merasa kesal dengan sikap pria itu.
"Mana aku tau?" Anna mengangkat bahunya.
"Ya sudah lah yang penting kalian sekarang jalani dengan baik. Aku doakan semoga pernikahan kalian sampai kakek kakek dan ninen ninen." Ucap Leya mendoakan dengan tulus.
"Terima kasih doanya. moga kamu juga segera menyusul mendapatkan pacar, jangan ngejomlo terus." Balas Anna.
__ADS_1
"eh, sialan! kok malah jadi aku yang didoakan. tapi gak apa apalah asalkan kamu seneng aja. Ya meskipun jomlo aku akan tetap bahagia." Balas Leya dengan tersenyum bangga.
"Ji-achhhh...." Keduanya tertawa bersama.
Tak berapa lama Daren juga ikut menyusul. "Oh, ternyata kalian disini toh?! pantesan aku cariin gak ada. Udah pada selesai sarapan?" tanya daren.
"Udah kok, lagian kamu kelamaan keburu laper Ren." Balas Leya.
"yach, ga pa-pa lah. Bang pesen buburnya dong." Ucap daren memesan makanannya.
"Siap mas, tunggu lima menit. "Balas si penjual bubur ayam.
"Bubur disini enak loh," Ucap Daren langsung duduk berhadapan dengan Anna.
"Oh, pantes aja si mamangnya sudah kenal." Balas Leya.
"ini mas buburnya." ucap si mamang meletakkan mangkuk bubur dihadapan Daren. "eh ini siapanya si mas Daren, cantik." Lanjut si mamang saat menoleh kepada Anna dan Leya.
"Mereka temen disekolah aku mang." Ucap Daren memberitau.
"Oh kirain salah satunya pacar mas daren. ya udahlah, silahkan dinikmati mas Daren, mari mbak berdua." Ucap si mamangnya kemudian berlalu.
Anna dan leya mengangguk seraya tersenyum sebagai jawaban.
Arsya yang sedang melakukan lari pagi, tanpa sengaja melihat Anna yang juga berada di taman. Ada satu teman perempuan dan satu laki-laki. Mungkin masih aman jika itu temen perempuan. Tetapi saat melihat ada si lelaki ini ia teringat tempo hari di restoran.
Lelaki ini tidak boleh dibiarkan menempel pada Anna. Jadi ia segera bergegas menyusul Anna yang masuk ke gerai bubur ayam.
"Aduh!" Pekik Linda yang kakinya tersandung.
Arsya yang tadinya ingin segera pergi langsung menoleh pada Linda di belakangnya. Ia bergegas menghampiri Linda dan melihat kaki-nya.
"Aku tidak apa apa kok Sya, palingan lecet aja." Ujar Linda.
"Kita obati di dalam mobil." Ucap Arsya tanpa mau dibantah. "Masih bisa jalan?"
"Bisa." Linda mengangguk tetapi saat digunakan untuk berjalan kaki-nya merasa kesakitan. karena tak sabar, Arsya langsung membopongnya masuk ke dalam mobil.
Anna dan Leya sudah keluar dari gerai bubur ayam. Karena sudah sangat panas ia akan segera pulang. Tapi saat mencari keberadaan mobilnya tanpa sengaja ia malah melihat pemandangan ini.
Anna melihat sebentar tapi tak menghiraukan pemandangan ini. Dan pada akhirnya Leya menepuk bahunya, sehingga ia memutus pemikiran ini.
"Anna! Katanya mau pulang kok berdiri disini." Ucap Leya.
"Eh iya, ayo pulang." Ucap Anna langsung tersenyum.
__ADS_1
Keduanya berpisah. langsung menuju mobil mereka masing-masing.