Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Part 5


__ADS_3

"Noni!"


Anna segera menoleh tatkala ada yang memanggilnya. Direktur Roni berlari dengan tergesa.


"Huh." Direktur Roni menghebuskan nafas panjang saat sudah sampai dihadapan Anna. "Akhirnya kau datang. Awalnya ku kira kau sakit. Jadi akan mengantarkan mobilmu ke rumahmu." Ujar direktur Roni.


Anna mengerutkan keningnya lalu melihat mobil yang terparkir di luar kebun. "Ah, sudah diperbaiki?" tanya Anna.


"Tentu saja. Semalam aku memanggil tukang bengkel dan mereka segera mendereknya. Pagi ini aku kembali ke bengkel dan menunggunya memperbaikinya." Ujar Direktur Roni menjelaskan.


"Duh, sudah membuat direktur Roni repot. Aku jadi sungkan. Ayo direktur Roni kita masuk, aku akan membuatkan teh mawar sebagai balasan kebaikan direktur Roni."


"Jika aku membuat penawaran, apa bisa?" Tanya direktur Roni.


Anna menaikkan alisnya.


"Kemarin saat aku kemari mencicipi teh mawarmu, Aku melupakan boss di luar dan menungguku berjam jam di sana. Dan dia marah. Jadi aku ingin menggunakan parfum buatanmu untuk menyenangkannya."


Anna menarik sudut bibirnya melengkung ke atas. "Hem, tentu saja boleh. Aku akan mengambilkannya. Tunggu sebentar." Ujar Anna lalu masuk ke ruangan yang lebih dalam. Ia mengambil dua botol parfum. Kemudian ia keluar dan memberikannya kepada direktur Roni.


"Ini, aku hadiahkan dua. Sekaligus berterima kasih karena direktur Roni mau meminum teh mawar hasil uji cobaku." Ujar Anna sembari memberikan kedua botol parfum.


Direktur Roni tersenyum cerah. "Terima kasih Noni, anda benar benar rendah hati."


"Yang satu bisa kau berikan kepada bosmu dan yang satunya untukmu." Ujar Anna membuat direktur Roni sempringah.


"Oiya. Apakah direktur Roni sudah sarapan. Tadi aku membuat roti sandwich. Kebetulan membawa dua." lanjut Anna.


"Wah, kebetulan. aku juga belum sarapan. Tadi pagi belum sempat sarapan soalnya orang bengkel menelepon. Dan aku buru buru kesana."


Kedua manusia itu saling duduk berhadapan lalu memakan sarapan secara bersama sama. Di dalam benak direktur Roni merasa penasaran apakah noni sudah memiliki pacar atau belum. Jika belum. Sepertinya ia memiliki kesempatan untuk mendekatinya jadi ia segera bertanya.


"Noni, jika ku boleh tau. Apakah kau sudah punya pacar?" saat memakan sarapannya Direktur Roni bertanya hal pribadi.


"Belum." Sahut anna jujur.


Sepertinya sebuah kesempatan ada di depan mata. Padahal kemarin ia ingin memperkenalkannya kepada bosnya tapi dia malah menolaknya. Jadi direktur Roni ingin mendapatkannya. Matanya pun berbinar terang.


"Noni, aku ingin berkata satu hal."


"Ya."


"Maukah kau menjadi pacarku?"


"Uhuk." Anna tersedak oleh makanannya.

__ADS_1


Ia segera meraih air putih di depannya dan meminumnya.


"Pelan pelan." Ujar direktur Roni.


Setelah merasa lebih baik. Anna lanjut makan. "Maaf Noni, ini terlihat begitu cepat." Ujar direktur Roni.


"Tidak apa apa. Ayo lanjut makan." Sahut Anna mencoba santai dan tidak terlalu memikirkan perkataan direktur Roni.


"Tapi, apa jawaban noni? Aku ingin secepatnya. Sejak pertama bertemu aku sudah menyukaimu." Ujar Direktur Roni.


"Soal itu, aku tidak bisa membahasnya sekarang. Aku sedang ingin mendalami karierku dulu." Sahut Anna.


"Satu tahun? Dua tahun, apakah cukup? Aku akan menunggumu sampai kau siap menerimaku."


"Ini..."


"Baiklah. Ku anggap ini sebuah penawaran. Aku akan menunggumu." Setelah itu direktur Roni meminum air hingga tandas dan membawa piring kotor itu di wastafel dan mencucinya. Setelah selesai ia mencuci tangan dan kembali le meja depan.


"Noni. Aku berharap kau mau menerimaku. Terima kasih atas sarapannya. Aku akan kembali bekerja." Ujar Direktur Roni kemudian ia pergi.


Anna menatap direktur Roni dengan pandangan rumit. Direktur Roni keluar dengan senyuman lebar dan tampak bahagia. Terlihat betapa ia menyapa semua pekerjanya.


Sementara Anna kembali masuk ke dalam ruangan dan memulai pembuatan parfum. Sejak kerja sama dengan Mr, Anderson berhasil. Ia harus menyetok beberapa parfum lagi sebagai persediaan.


Sambil tersenyum ia menatap kedua botol itu dengan bahagia. Saat ini Lincoln mengetuk pintu dan masuk.


"Mr Roni.!" panggil Lincoln.


Direktur Roni menarik pandangannya dan menatap Lincoln. "Lincoln. Ada apa?" tanya Roni.


Lincoln melirik kedua benda dihadapan Roni kemudian ia kembali serius melaporkan laporannya.


"Mr Roni. Bahan yang tersedia sepertinya masih ada kekurangan. Apakah kita harus melaporkan hal ini kepada presdir atau kita menutupinya sendiri?" Tanya Lincoln.


Sejenak Roni mengerutkan keningnya. Saat ini masih ada dana sedikit jika ada kekurangan pembiayaan. "Berapa kekurangannya?" tanya Roni.


"Itu. Sekitar dua miliar." Ujar Lincoln menjelaskan.


Roni terkejut, tapi sedetik kemudian ia kembali datar. Bagaimana mungkin kurangnya begitu banyak. "Kau kerjakan dulu bahan yang masih ada. Untuk kekurangannya kita pikirkan nanti." Ujar Direktur Roni.


"Baik." Lincoln segera undur diri.


Baru saja ia tersenyum dengan mengungkapkan kata cinta kepada Anna. Dia juga tersenyum bisa mengirim hadiah kepada presdir Arsya untuk menyenangkannya. Tetapi ini malah mendapat kejutan besar. Jika ia mendanai sendiri kekurangannya tentu saja ini tidak mungkin. Jika melaporkan ke atasan. Bisa saja dibilang sedang korupsi.


Roni meremas rambutnya karena kesal dan bingung. Sedetik kemudian ia menyandarkan kepalanya di atas meja dengan lemas.

__ADS_1


**


Saat di malam hari, Arsya pergi ke tempat Wiryo. Sejak kembali dari amsterdam ia belum pernah datang ke sana.


Ia membawakan dua paper bag di tangannya. Mobil liumosin berhenti tepat di depan pintu utama. Rendi segera membuka pintu mobil. Arsya menurunkan kakinya.


Di luar mobil, Ia merapikan mantelnya kemudian bergegas menuju pintu. ia mengetuk pintu sebentar tak lama kemudian pintu terbuka. Saat ini Wiryo dan Dewi sudah tak merasa asing lagi dengan kedatangan Arsya di malam hari.


Jadi kedua pasangan paruh baya itu sudah terbiasa. Mereka juga selalu menyambut hangat kedatangan pria itu.


"Tuan Wiryo, nyonya Dewi. Maaf baru sempat datang. Aku ada perjalanan bisnis ke amsterdam. Ini aku bawakan oleh oleh untuk anda." Ujar Arsya. Rendi segera maju dan memberikan kepada Arsya. Dan Arsya memberikannya kepada tuan Wiryo dan nyonya Dewi.


Dewi dan Wiryo segera menerimanya. Lalu membukanya. Dewi melihat tas tangan buatan tangan dengan merk gucci. Dewi melengkungkan senyumnya. "Ini..." Dewi merasa terharu.


"Apakah nyonya Dewi tidak senang?" tanya Arsya mengerutkan kening.


"Bukan. Aku hanya terharu. Terima kasih nak Arsya." ucap Dewi.


"Nak Arsya, sebenarnya. Kau tak perlu begini. Anak kami tidak tau kemana keberadaannya. Dan ini..."


"Tuan Wiryo. Aku hanya ingin menyenangkan kalian berdua. Aku sudah menganggap kalian sebagai kedua orang tuaku sendiri. Tidak bermaksud lain." Ujar Arsya menyela perkataan Arsya.


"Baguslah jika nak Arsya berpikir secara terbuka." Sahut Wiryo.


Arsya mengangguk kemudian mengambil cangkir teh dan menyesapnya. Setelah itu ia berpamitan pulang.


Dewi dan Wiryo menatap punggung Arsya yang pergi menjauh. Tatapan mereka menjadi rumit.


"Ma, kenapa nak Arsya begitu baik dengan kita? Sebelumnya dia selalu datang kerumah kita. Kemudian selalu membawakan sesuatu untuk kita. Aku merasa nak Arsya sedang merayu kita." Ujar Wiryo.


"Justru aku merasa tidak seperti itu pa. Dia adalah orang yang berkuasa. Buat apa merayu kita yang jelas kalau keluarga kita statusnya lebih rendah. Sepertinya nak Arsya memang benar benar tulus menganggap kita keluarganya." Dewi mengerutkan kening dan lanjut berkata. "Kita tidak tau Anna entah pergi kemana. Jika benar ia masih mencintai putri kita dengan kekuasaannya sudah pasti dapat menemukannya."


"Huft." Wiryo menghembuskan nafas panjang. "Aku juga heran dengan Anna kita. Ini sudah enam tahun tapi dia belum kembali. Kita juga tak tau kabarnya." Wiryo merasa sedih mengingat putrinya.


"Pa, sudahlah. Mungkin dia seperti itu karena merasa trauma. Dulu kita memaksanya menikah."


"Benar. Ini salah papa." Wiryo menunduk dengan sedih.


"Mama juga merasa bersalah. Pa. Lebih baik ayo masuk. Angin malam seperti ini tidak baik untuk kesehatan papa." Ajak Dewi.


Kedua pasangan paruh baya itu segera masuk ke dalam rumah. Sementara bik ijah segera menutup pintu dan menguncinya.


"Jika Anna kembali di masa depan, papa akan segera meminta maaf pada Anna." Gumam Wiryo seraya memasuki rumah mewahnya.


"Ya, mama juga."

__ADS_1


__ADS_2