
Anna merasa kesal karena Arsya begitu perhatian pada wanita ular itu. Ia membanting pintu mobil dengan keras. "Jalan pak!" perintah Anna kepada pak Jaki sopir pribadi yang memang diatur untuknya.
Wajahnya terlihat muram. terdengar notif pesan masuk. Dengan malas ia membuka ponsel dan membaca isi pesannya. Seketika matanya membola.
"I...ini sungguhan!" Anna tak menduga apakah ini mimpi atau nyata. Ia beberapa kali mengucek matanya. Dan memang ternyata ini benar. Ia menghitung jumlah nol di belakang angka satu.
"1 2 3 4 5 6.....8." Matanya langsung berbinar. Ada 8 angka di belakang angka satu. "Astaga!" Satu tangannya menutup mulutnya yang menganga.
Tak berapa lama, pesan berikutnya masuk. Anna segera membukanya.
"Hari ini manis sekali. itu bayaranmu untuk pagi ini. Mana balasanmu sebagai tanda terima kasih." Itu adalah isi pesan yang dikirim oleh Arsya.
Anna ingin tertawa juga sangat terharu. Sikapnya yang dingin ternyata ada sisi manisnya. Ia terkikik sendiri dengan terus menatap layar ponselnya.
"Nona, sudah sampai!" Ucap Pak Jaki.
"Ah iya." Anna mendongak dari ponsel beralih ke luar jendela. Untung pak Jaki mengingatkan. Ia merapikan penampilannya lalu berdehem.
Ia mengabaikan pesan Arsya, tapi dalam benaknya sepulang sekolah ia akan membelikan martabak manis sebagai balasannya. Pergi menemuinya secara surprise pasti akan bermakna. Membayangkannya saja sudah merasa geli.
Mobil phantom itu pergi meninggalkan gerbang sekolah. Anna melompat dengan begitu riang. Tak lupa menyapa pak satpam yang menjaga gerbang dengan senyuman manisnya.
"Pagi pak...." Sapa Anna.
"Pagi Nak Anna." Balas Pak satpam lalu menatap punggung Anna menjauh dengan menggelengkan kepala pelan. Ada apa dengan Anna hari ini? pikirnya.
"Anna!" Pekik Leya dari arah kantin.
"Hei." Anna membalikkan badan menatap Leya yang berlari ke arahnya. "Pagi." Sapa Anna dengan senyum cerahnya.
"Kamu semanis ini, lagi ketiban hoki ya?" celetuk Leya.
"Hehehe...." Anna nyengir. Keduanya berjalan berdampingan menuju lift. "Kamu sepagi ini dari kantin?" Tanya Anna.
"Ya, Daren mentraktirku sarapan dan aku menemuinya di kantin." Jawab Leya.
"Oya, kamu masih berhutang cerita sama aku." Tiba tiba Leya teringat malam itu di restoran. "Bagaimana kamu bisa bersama tuan muda Arsya?"
Anna langsung terpaku. Ah lupa masih ada Leya dan Daren yang melihatnya saat ia dipaksa keluar oleh Arsya.
Anna menggaruk belakang lehernya. "Ayo ceritakan!" Desak Leya.
Untung saja langkahnya sudah dekat dengan pintu lift. "Nanti saja, ada banyak orang di sekitar sini. Kita ketemuan di luar. Aku akan cerita sekaligus mentraktirmu makan siang. Bagaimana?" Ucap Anna mengalihkan topik.
Leya melihat keadaan disekitar lift, ada banyak siswa lain yang menunggu pintu lift terbuka. "Oke." jawab leya mengangguk.
__ADS_1
Lift sudah sampai di lantai empat, Keduanya langsung masuk kelas. pelajaran di mulai. Pelajaran hari ini tentang kimia. Anna sudah terlalu lama tidak masuk sekolah jadi ia tidak terlalu paham. Alhasil ia malah mengantuk.
Bel istirahat berdenting. Leya bersorak senang. pelajaran kimia ini sangat membosankan dirinya saat menoleh ia menepuk dahinya. "Astaga anak ini malah tidur." Leya berseru.
Ia mendekati Anna yang menelungkupkan kepalanya di atas lengannya, Bukunya masih berdiri tegak sebagai penghalangnya.
"Anna ayo bangun!" Leya menggoyangkan tubuh Anna.
"Ah, martabak manis...." Gumam Anna dengan suara serak.
"Haist..." Leya mendesis. Sekali lagi ia menggoyangkan tubuh Anna dengan keras. "Banguuunnn!" Ucap Leya mengeraskan suaranya.
"Astaga!" Pekik Anna menepuk bahu Leya dengan spontan saking kagetnya. Ia terduduk tegak karena suara Leya yang membuat gendang telinganya hampir pecah.
"Aw! Sakit Naaa." Ucap Leya mengelus bahunya yang di timpuk Anna dengan keras.
"Lagian, kira kira dong kalau mau bangunin, kuping aku hampir pecah karena suara cempreng kamu." Ucap anna mengelus telinganya.
"Hehehe. Lagian dibangunin gak bangun bangun..." Leya nyengir. "Yok kantin, laper." Leya mengusap perutnya yang sudah keroncongan.
Sebelum beranjak Anna merapikan rambutnya yang berantakan lalu menggandeng lengan Leya dan melangkah keluar dari kelas.
Sepanjang hari ini, Anna tidak memperhatikan pelajaran. Ia hanya duduk dikelas matanya melihat depan kelas tapi telinganya mendengarkan musik melalui ear phone.
Anna menyopot ear phone-nya. "Apa?" Tanya Anna.
"Bener bener nih anak. sudah saatnya pulang, ayo pulang." Ucap Leya mengulangi kalimatnya.
"Ya." Anna segera merapikan bukunya ke dalam tas.
"Kamu ini harus memulai les privat deh kayaknya?" Celetuk Leya saat sudah berjalan berdampingan keluar kelas.
"He, maksud kamu apa? Aku tak sebodoh itu kali..." Ucap Anna tak terima.
"Ya kali, kamu itu selalu tidur di dalam kelas. Apa kamu mau tinggal disini selamanya?" Ucap Leya yang tanpa sadar mengingat hubungannya bersama Arsya yang bakalan kandas di tengah jalan.
Anna terbengong.
"Anna...hei...." Leya melambaikan tangannya di depan wajah Anna.
"Kalau gitu aku pinjem catatan kamu aja." Ucap Anna setelah sadar akan lamunannnya.
"Boleh saja, dan ingat! kamu masih berhutang cerita sama aku." ucap Leya memperingatkan.
"Oke, besok kan weekend. kita bertemu di taman seperti biasa. aku akan menceritakanmu pelan pelan." ucap Anna.
__ADS_1
"Oke. Deal!" Leya menyunggingkan senyuman.
Mereka berpisah di lantai satu. Leya menuju parkiran bawah tanah sementara Anna berlari menuju keluar gerbang karena pak Jaki sudah menunggunya.
Di sepanjang perjalanan menuju perusahaan Adiyaksa, Anna menengok kanan dan kiri berharap ada penjual martabak manis yang mangkal di pinggiran jalan.
Dan benar saja, ia menemukan penjual martabak yang tak jauh dari taman.
"Berhenti pak!" Ucap Anna.
Pak Jaki yang mendengarkan perintah secara tiba tiba langsung mengerem secara mendadak. "Aduh!" Pekik Anna yang keningnya hampir mengenai dasbor.
"Maafkan saya nona." Ucap pak Jaki formal.
"Tidak apa apa. Tunggu sebentar disini pak." Ucap Anna lalu keluar.
Pak Jaki tak yakin dengan nona mudanya, karena dulu ia pernah dibohongi. Ia Segera menghidupkan radio yang terhubung dengan pengawal yang ditugaskan untuk menjaga nona mudanya untuk segera mendekat.
Pria berbadan kekar itu keluar dari dalam mobil yang mengawalnya dari depan dan belakang. Dengan gerakan cepat langsung menutup akses orang yang ingin menghalangi jalan nona mudanya.
Semua orang yang berlalu lalang di sana ketakutan oleh pria berbadan kekar ini. Anna mendesis, ia merasa malu dengan sikap pengawal ini yang melindunginya terlalu dekat.
Anna melemparkan senyuman kepada orang yang melihat pemandangan ini. sampai di salah satu gerai martabak ia segera memesan martabak manis berlapis coklat.
Setelah penjual itu menjawab ia segera mendekati pengawal dan menarik ujung kemejanya. Pengawal itu segera berbalik dan membungkuk hormat.
"Ya nona muda." ucap pengawal itu dengan formal.
"Astaga!" Anna bergumam pelan seraya menepuk dahinya. "Kamu biasa aja, aku diliatin orang. malu tau." Ucap Anna dengab kesal.
"Maaf nona, ini perintah tuan muda sendiri. jangan mempersulit kerjaan kami nona." jawab pengawal itu.
Anna mencebikkan bibirnya. Ini terlalu berlebihan ia cukup tau jika dirinya di kawal bahkan sampai di dalam kelas. tapi ia tak terlalu memperdulikan asalkan keberadaannya tidak terlalu mencolok.
"Nona pesanan anda." Seorang pemuda memberikan kantong plastik berwarna hitam dengan martabak manis di dalamnya.
"Terima kasih." Balas pemuda itu seraya menerima uang yang diberikan Anna.
"Tunggu kembaliannya nona."
"Eh, tidak perlu ambil saja." Ucap Anna melambaikan tangan.
"Terima kasih nona, Anda orang dermawan semoga ke depannya di berikan kelancaran." Ucap pemuda itu.
Anna segera pergi dari gerai itu seraya membawa kantong plastik yang berisikan martabak manis. Ia sungguh tak tahan pada orang orang yang berlalu lalang dengan menatapnya aneh.
__ADS_1