Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Bab 70


__ADS_3

Arsya membuka matanya perlahan lalu melihat sekeliling.


"Tuan, anda akhirnya siuman." pengawal bergerak maju kala melihat pergerakan di atas ranjang. Dengan reflek mengambilkan segelas air hangat dan membantu Arsya minum.


"Dimana Fendi, kenapa kamu yang ada disini?" tanya Arsya setelah beberapa saat tidak mendapati Fendi yang seharusnya menjaganya.


"Maaf tuan, sudah beberapa hari ini Fendi keluar. Entah apa yang di lakukan Fendi sampai sekarang tidak kembali." pengawal itu menundukkan kepala.


"Hm," Arsya mengangguk. "Deri. Kamu pesankan tiket pesawat kembali ke indonesia. Aku bosan tinggal disini." kata Arsya.


Seketika wajah pengawal tertegun sejenak. "Bagaimana dengan nyonya, apakah anda akan meninggalkannya disini?" tanya pengawal itu.


Arsya sekejap memejamkan matanya mengingat Anna mengatakan bahwa ini rumahnya. Seketika itu hatinya terasa sedih. Sepertinya dia memang tidak pernah perduli padanya.


"Lakukan saja perintahku." Kata Arsya lalu melengos ke arah jendela.


Pengawal itu menghela sejenak. Tidak mengerti kenapa tuan tiba tiba berubah.


"Baik tuan, akan saya laksanakan." jawab pengawal itu.


Setelah beberapa saat, pengawal itu kembali dan memberitaukan keberangkatannya.


"Tuan, pesawat kita akan berangkat jam 11 malam nanti." kata pengawal itu.


"Hm, bantu aku siap siap." kata Arsya.


Tanpa memberitaukannya tentang kepulangannya ke indonesia kepada Anna. Arsya terduduk sambil menatap keluar jendela dalam malam. "Jika kau perduli padaku, kau harus segera pulang menemuiku Anna." gumamnya berseru kepada langit.


"Tuan, koper anda sudah siap." kata pengawal seraya membuka pintu dan berjalan ke arahnya.


"Hm." dehem Arsya.


Pengawal itu masih terdiam di sana dan ragu sejenak. Arsya menoleh dan masih mendapati pengawal itu masih di sana.


"Ada apa?" tanya Arsya mengerutkan kening.


Pengawal itu menundukkan kepalanya. "Tuan, kesehatan anda belum pulih. Bahkan racun anda semakin serius. Bila anda kembali dalam waktu dekat. Saya takut anda...."


"Aku tidak akan mati secepat itu." Sarkas Arsya.


Pengawal itu bergidik. "Baik tuan. Maaf."


Pengawal itu hendak pergi.

__ADS_1


"Tunggu!" kata Arsya membuat pengawal itu terhenti.


"Ya tuan."


"Rahasiakan tentang penyakitku ini dari nyonya. Juga jangan katakan jika aku kembali." titah Arsya.


"Baik tuan."


Setelah pengawal keluar, Arsya menghela nafas.


Detik demi detik telah berlalu. Para dokter memberikan beberapa obat untuk menetralkan racun meski obat ini tidak bisa menetralkan secara keseluruhan. Ini hanya menghambat untuk sesaat selama dalam perjalanan.


"Tuan, mobil anda sudah siap." kata pengawal.


Arsya sudah mengenakan pakaian rapi yang di balut dengan mantel. Dia masih terlihat berwibawa dan tegas seperti biasanya.


"Hm, ayo pergi." kata Arsya.


Arsya berjalan tegak meski di dalam tubuhnya terasa rapuh. Berjalan menuju loby dan masuk ke dalam mobil.


Meski dalam keadaan seperti ini Arsya ingin melihat perkembangan perusahaannya. Ia pun meminta i-pada kepada pengawal.


"Tuan, perusahaan anda dalam keadaan genting sekarang." kata pengawal itu sembari memberikan i-pad. Arsya mengerutkan kening.


"Bagaimana dengan Danni." tanya Arsya lalu membuka i-pada dan mengelolanya langsung ke dalam pekerjaan.


"Aku mengerti. Ini ada kaitannya tentang racun itu."


"Jika tidak salah tebak, nyonya Anitalah dalang di balik semua kejadian ini." kata pengawal menganalisis.


"Hm." Arsya mengangguk. "Sebelum aku dan nyonya menikah. Kita harus mengungkapkan kepada tuan besar."


"Tapi menurut saya, tuan besar tidak akan sepenuhnya percaya. Ini harus mendapatkan bukti yang kuat. Sementara anda terlihat berdiam saja dan malah pergi keluar negeri. Menurut pandangan tuan besar justru andalah yang mengabaikan perusahaan." kata pengawal.


Arsya mengerutkan alisnya. Memang benar apa yang dikatakan oleh pengawal itu.


"Baiklah, kau benar. Dulu Anita di deportasi keluar negeri setelah membuat perusahaan hampir runtuh. Kini ayahku telah tiada. Dalam perkembangan ini dia pasti sudah merencanakam sesuatu di saat aku lengah. Dia satu persatu membuat tuan besar percaya padanya. Meski dia berani memplagiat gambar desain milikku. Dan dengan itu tuan besar menjadi percaya dengannya karena berhasil menciptakan sebuah kesuksesan. Sementara itu dia mematikan cara kerjaku. Sepertinya ini akan berlanjut dan menekan posisiku." kata Arsya.


"Nyonya Anita juga sudah mempersiapkan tuan Brian. Dan menunggu anda mati perlahan. Dengan begitu nyonya Anitalah yang akan menggantikan anda." lanjut pengawal.


Tepat setelah obrolan mereka terhenti, mobil yang mereka tumpangi telah sampai di bandara.


Sebelum memasuki bandara, Arsya mengernyitkan dahi.

__ADS_1


"Tuan, ada apa?" tanya pengawal.


"Sepertinya kita setelah sampai di bandara indonesia akan ada anak buah Anita. Kita harus memutar balik."


Pengawal itu mengerutkan kening. Ia melihat sekitar dan menemukan mata mata yang dikirim Anita.


"Baik tuan Aku mengerti."


Setelah itu Arsya dan beberapa pengawal lainnya memasuki bandara. Dari kejauhan mata mata yang dikirim Anita segera melapor.


"Nyonya, tuan Arsya sudah memasuki bandara." lapor mata mata itu kepada Anita melalui sambungan telepon.


"Hm bagus sekali. Kau segera ikuti masuk ke bandara. Periksa apakah dia benar naik pesawat." kata Anita.


"Baik nyonya."


Segera setelah itu sang mata mata yang ditugaskan Anita memasuki Bandara. Dia memeriksa pesawat yang akan di tumpangi Arsya. Dia juga memeriksa nama setiap penumpang dan menemukan nama Arsya di dalamnya.


Tak berapa lama pesawat mulai lepas landas meninggalkan bandara. Terlihat mata mata itu menarik nafas dan segera melaporkan.


"Nyonya, tuan Arsya sudah menaiki pesawat. Dijadwalkan pesawat akan tiba jam 12 siang waktu Indonesia."


"Hm kerja bagus. Baiklah."


Seutas senyum menarik di sudut bibir Anita.


"Selamat datang keponakanku Arsya." gumam Anita.


Sementara itu di kabin pesawat bukanlah Arsya yang menaiki pesawat itu. Dia memundurkan waktu hingga dua jam ke depan. Itu artinya Arsya menaiki pesawat sekitar jam 1 dini hari.


Anita merasa senang, maka mengatur beberapa tim untuk berada di bandara kedatangan.


Sementara itu Anna sedang berkebun ketika hari terlihat cerah. Ia menghirup dalam dalam udara pagi yang masih segar.


Ia melirik ke arah ponsel. Lalu membuka aplikasi chat berwarna hijau. Melihat nama yang tertera nama Arsya. Beberapa detik ia memandanginya. Sudah hampir seminggu pria itu marah kepadanya. Bahkan selalu mengabaikan panggilannya.


"Ada apa dengan kamu Sya? Beberapa waktu dekat ini kita akan menikah tapi kamu mengabaikan aku." gumam Anna.


"Nyonya, bunga sebelah mana yang harus di ambil." tanya salah satu pengawal yang berada di tengah tengah kebun.


Anna mengalihkan pandangan dari ponsel ke arah pria berbaju hitam ketat itu. Ia melihat ke arah bunga mawar yang semakin cantik dan terawat itu.


"Kau ambil saja yang sebelah sana." kata Anna sambil menunjuk ke sisi kanan dari pria berbaju ketat itu.

__ADS_1


"Baiklah nyonya." sahut si pria itu.


Anna lalu menyimpan ponselnya lagi dan masuk ke dalam rumah penelitian.


__ADS_2