Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Bab Lima Puluh Dua


__ADS_3

Tepat jam enam pagi, Anna bergerak dan terbangun. Dia menoleh ke samping. Arsya masih tetap tertidur dengan posisi yang teratur.


Anna sempat terpana, meski dalam keadaan tidur pria itu masih saja terlalu tampan. Ia menggelengkan kepalanya, agar ia kembali ke akal sehatnya.


Lebih baik ia pergi mandi, setelah itu ia mengganti pakaian dengan seragam dan bergegas keluar. Diruang makan, Ricky selalu menyambut dan mempersiapkan sarapan.


"Selamat pagi!" terdengar sapaan yang familiar di dalam ruangan makan itu. Ini tidak seperti Arsya yang biasanya. Pria itu tidak akan pernah menyapa meski satu kalimat saja.


Anna mengerutkan kening, tapi ia tak melirik sama sekali. Dia justru sangat enggan melihat tampang Arsya yang menurutnya sangat munafik.


Ia lebih baik memakan sarapan paginya dengan tenang, tanpa harus menjawab sapaan yang terlontar dari mulut Arsya. Ricky segera maju menarik kursi, Arsya segera duduk di sana masih dengan piyama semalam yang ia pakai.


Suasana ruangan meja makan sangat hening, bahkan hanya terdengar suara sendok yang beradu dengan piring. Bahkan sampai makanan yang Anna habiskan telah tandas pun tak ada percakapan di antara mereka. Seketika ruangan menjadi canggung di antara para pelayan yang berdiri tegak di sana.


Arsya melirik ke arah Anna yang masih terdiam. Kemudian mengisyaratkan para pelayan. Satu persatu pelayan itu kembali ke belakang setelah menyelesaikan membersihkan meja makan.


Dua manusia saling terduduk diam tanpa kata. Anna merasa muak dengan sikap Arsya yang seolah sangat harmonis dan baik, tapi kenyataannya itu hanyalah fatamorgana.


"Anna!"


"Sudahlah, jangan panggil lagi. Aku mulai muak dengan sifatmu yang seperti ini. Setidaknya, selama kau masih menjadi suamiku,, kau harus menahan rasa cintamu kepada nona Bramantyo. Tetapi kau....!" Anna melirik pada wajah Arsya yang diam bergeming. Lantas menghela nafas panjang mengatur emosinya yang kian naik.


"Aku tau. Tapi bagaimanapun dia disini sendirian dan dia hanya mempunyai aku."


"Kalau begitu sama denganku. Apakah kau tau, aku juga butuh teman, tapi kau selalu curiga dan terlalu posesif terhadap semua temanku. Mereka bahkan menjauhiku karena sifatmu ini." seraya mengatakannya seraya menggebrak meja karena amarah. Anna tak bisa lagi duduk diam. Ia segera beranjak dan meninggalkan Arsya seorang diri di sana.


Arsya menghela nafas berat. Dia hanya mampu menatap punggung yang ramping itu pergi menjauh. Ia menenggak air putih yang tersedia di depannya.


"Tuan muda!" Ricky mengulurkan obat kepada Arsya, dan ia menerimanya lalu menelannya.


"Sejak tuan tidak kembali, nona muda selalu menunggu anda. Dia ingin memberikan ini kepada anda." Ricky memberikan beberapa kertas hasil ujian semester kepada Arsya.


Arsya menerimanya dan melihat hasilnya. Ia menyunggingkan senyuman lebar tatkala nilai itu hampir memenuhi standar bahkan hampir seratus persen nilai itu terlihat sempurna.


"Kau kembalikan ini ke tempat semula, biar dia sendiri yang memberitaukan ini kepadaku." perintah Arsya.

__ADS_1


"Baik!" Ricky berbalik pergi.


Selama ia belum menemukan bukti yang kuat untuk menyerahkan Linda ke pihak berwajib, ia harus terus bersikap seolah olah teman yang baik. Tetapi disini ia masih terhalang oleh Anna. Sepertinya dia seolah sangat....


Cemburu!


Cemburu!


Arsya terbelak saat memikirkan satu kata ini, benarkah dia merasa cemburu saat dia bersama Linda. Dia tidak percaya jika kata ini tersemat di antara mereka, kemudian ia menelepon dokter Angga.


"Halo tuan muda!" dari sebrang segera mengangkat telepon. "Apakah terjadi sesuatu dengan anda?" Dokter Angga yang biasanya mendapat telepon pasti terjadi sesuatu dengan Arsya jadi buru buru mempertanyakannya.


"Tidak!" Dari balik telepon Arsya menggelengkan kepalanya. Tetapi pandangannya lurus ke depan melihat pemandangan luar melalui teras balkon. "Tapi ada satu hal yang ingin kutanyakan kepadamu?"


"Baiklah!"


"Jika seorang wanita marah marah tak jelas, apakah itu disebut dengan cinta?" tiba tiba Arsya menanyakan hal sensitif kepada dokter Angga yang juga masih jomblowan.


Dokter Angga menggaruk pelipisnya dengan jari telunjuknya. "Ini...."


"Aku akan menceritakan dari awal." ucap Arsya.


Mendengar satu persatu cerita ini, Angga merasa sepertinya ia harus menjadi dokter cinta. Ia merasakan sakit dikepalanya. Ia juga belum beristri tetapi kliennya ini seolah sedang merasakan jatuh cinta yang dalam.


"Dokter Angga, apakah seorang wanita yang bertingkah tak wajar seperti ini, apakah mereka berati sedang cinta dengan kita?" Sekali lagi Arsya menanyakan hal yang sama kepada dokter Angga.


"Ini....aku...akan menganalisanya terlebih dahulu. Jika kudengar ceritamu memang sepertinya iya. Kamu dan dia sama sama jatuh cinta tapi kalian selalu gengsi untuk mengakui satu sama lain. Selain itu perasaan wanita akan berubah sensitif. Wanita memang sulit dimengerti."


"Benar!" Arsya membenarkan analisa dokter Angga.


"Ahh..." Dokter Angga terkejut.


"Baiklah dokter, terima kasih." setelah mendapatkan jawaban dokter Angga, Arsya merasa sedikit tenang. Ia pun pergi ke ruang kerja dan mengeluarkan surat perjanjian pranikah dulu. Dia akan mengubahnya agar perceraian itu tidak terjadi. Arsya menghubungi kuasa hukumnya untuk bertemu.


Di sekolah Elit.

__ADS_1


Anna dan Leya sedang berada di taman, dibawah pohon besar yang rindang. Saat ini suasana agak sepi. Kebanyakan mereka sedang pergi menyaksikan tandingan basket di lapangan. Jadi lumayan sepi, hanya mereka berdua yang berada di taman.


Anna merasa tak kuat menahan perasaannya yang sedang kalut. Ia pun menumpahkan rasa sesaknya selama ini.


"Hiks hiks....."


"Anna menangislah jika itu membuat kamu merasa tenang." leya merangkul pundaknya di pelukannya.


"Aku benar benar tidak bisa mempertahankan rumah tangga ini, Leya. Dia selalu memilih bersama Linda. Setiap waktu, bahkan dia menganggap aku ini hanyalah boneka. Dia tak pernah melihatku, kebaikanku. Setiap kali Linda yang terluka dia selalu pergi menyelamatkannya. Dan aku...."


Leya kembali mengelus rambut panjang Anna yang tergerai. "Leya, jika suatu saat aku bercerai...."


"Anna kenapa kamu mengatakan hal itu...." Leya segera menyelanya.


"Karena....Sebenarnya setelah kami menikah. Dia melakukan perjanjian pranikah. Dan pernikahan ini mempunyai batas waktu...."


"Apa!" Leya terkejut hingga tak bisa meredam emosinya. "Sampai kapan?" Tanya Leya tersulut emosi.


Anna mengangkat kelopak matanya. "Leya tenanglah!"


"Anna, aku tak bisa tenang Jika sahabatku diperlakukan seperti ini." jawab Leya semakin menggebu.


"Leya dengarkan aku!" Leya kembali meredam amarahnya dan menatap Anna.


"Jika nanti aku berpisah dengan Arsya. Aku ingin meminta satu hal."


"Katakan!"


"Kemanapun aku pergi, kau harus merahasiakannya. Aku ingin ketenangan yang haqiqi. Menata kehidupanku agar lebih baik. Setelah itu ingin menjadi wanita karier yang sukses."


"Baiklah! Tapi kau harus janji padaku. Kelak jika sudah sukses kau harus kembali padaku."


"Um." mereka berdua saling memeluk satu sama lain.


Melihat keakraban mereka ini, seseorang sangat terharu. Tapi setelah kejadian tempo hari, ia takut mendekati mereka berdua.

__ADS_1


Ya, dia adalah Daren. Setelah kejadian tempo hari di restoran. Anak buah Arsya langsung menyekapnya beberapa hari. Dia hampir mati disiksa oleh pengawalnya.


Setelah kejadian tiga hari disekap, ia akhirnya bisa bernafas lagi. Ia dilepaskan dengan syarat. Sekarang dia bukan lagi si brengsek Daren yang selalu bermain wanita. Sekarang dia tau artinya apa itu cinta. Dia benar benar menyukai Anna dengan tulus.


__ADS_2