
Anna yang berada di lantai atas mendengar suara deru mobil yang tergesa. Ia menyembulkan kepalanya ke bawah karena memang dirinya saat ini sedang duduk di teras balkon sambil membaca buku novel yang baru saja ia dapatkan kemarin.
Ia mengerutkan kening. Sepertinya teman Arsya sedang ketakutan terlihat dia membawa mobil yang menerjang begitu cepat.
Ceklek
Terdengar bunyi pintu handle di buka. Anna segera menoleh ke belakang, Arsya berjalan mendekatinya.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Anna pada Arsya yang tengah membawa dua cangkir terisi teh hijau.
"Tidak ada." jawab Arsya dengan santai kemudian meletakkan dua gelas di meja kecil dan duduk di kursi.
"Mana mungkin? Kalau tidak ada kenapa temanmu pergi dengan seperti itu."
"Mungkin saja ada kerjaan yang harus dia kerjakan dengan segera." Balas Arsya acuh.
Anna menghela nafas panjang. Berbicara dengan pria ini serasa percuma. Jadi ia tak ingin bertanya lagi. Kembali duduk dan melirik gelas yang tersedia di meja. Dua gelas? Kemudian melirik Arsya yang sedang menikmati teh dengan menatap langit luar.
"Itu teh buat kamu." Ucap Arsya yang sadar dengan lirikan Anna.
"Gak ada racun." lanjut Arsya melirik ke arah Anna yang terlihat mencurigai sikap Arsya.
Anna akhirnya menjulurkan tangannya dan mengambil gelas lalu menyeruputnya dengan pelan. Teh ini terasa enak lalu menganggukkan kepala sambil tersenyum.
Arsya mengambil sebuah dokumen dan di ulurkan kepada Anna. Anna mendongak Wajah Arsya lalu mengendikkan dagu dengan maksud. "Apa ini?"
"Itu perjanjian ulang, aku sudah mengubahnya. Jika ada yang perlu ditambahkan, kau bisa menambahkan." ucap Arsya menjelaskan.
Anna meletakkan gelas di meja lalu mengambil dokumen dari tangan Arsya, kemudian membuka dan membacanya.
"Apa maksud dari kata terakhir ini?" Tanya Anna dengan menunjuk kalimat kata berselingkuh.
"Tentu saja sudah jelas di sana. Jika kau berselingkuh maka hak waris tidak sah. Dan wajib mengajukan perceraian." balas Arsya.
Enak sekali dia bilang begitu.
Anna meletakkan dokumen itu dengan kasar lalu menatap Arsya dengan tajam. Arsya melirik sekilas dengan santainya menyesap teh ditangannya.
"Bukankah ini sudah jelas jika kau yang berselingkuh. Kenapa hak waris tetap berada di pihakmu. Ini namanya tidak adil." tolak Anna. Sebenarnya bukan ini yang ia maksud. Tetapi mengarah pada perselingkuhan itu yang jelas adalah Arsya sendiri.
"Itu perusahaanku dan itu adalah milikku. Mana bisa harus membagimu separuh. Yang bekerja adalah aku. Jika aku yang selingkuh, sudah jelas menandatangani surat cerai tapi tidak termasuk pembagian hak waris. bukan?"
__ADS_1
Benar juga apa yang dikatakan oleh Arsya. Anna tak bisa menjawab lagi. "Licik sekali." batin Anna.
Anna teringat jika siang ini dia dan Leya berjanji ketemuan di mall. Ia menghela nafas berat lalu membawa buku novel masuk ke dalam. Sudah pasti ia sangat marah. Tanpa kata, ia meninggalkan Arsya duduk di sana. Arsya tidak memperdulikan kepergian Anna.
Anna menghabiskan waktu di kamar mandi selama 20 menit, ia serasa berada di salon spa yang memanjakan tubuhnya. Dengan begitu kemarahannya akan segera mereda. Selesai mandi dia berganti pakaian dengan rok pendek selutut dan atasan sabrina yang mengekpos pundaknya yang putih mulus. Juga tak lupa mengenakan sepatu berwarna putih. Sangat cocok dengan dirinya yang masih gadis remaja.
Ia juga membiarkan rambutnya tergerai ke belakang. Dengan menyemprotkan sedikit parfum dan merias wajahnya tipis. Dengan begitu dia sudah sangat terlihat cantik. Saat keluar dari walk in closet, ia menoleh ke teras balkon sepertinya pria itu sudah pergi dari sana.
Anna juga tidak memperdulikan lagi. Segera keluar dari kamar. Saat melewati ruangan tengah, Arsya mencium bau parfum yang sangat wangi. Arsya menolehkan kepala sudah melihat Anna yang berpakaian rapi.
"Mau kemana?" Tanya Arsya dengan suara tegas.
Anna menoleh ke arah sumber suara dengan kesal ia harus menghadapi pria ini.
"Pergi?" jawab Anna datar. Ia kembali melangkahkan kakinya menuju keluar pintu utama. Namun langkahnya belum sampai Pintu sudah ditutup dari luar. Anna menggerakkan kakinya lebih cepat, Tangannya terulur dan mendorong pintu itu tapi susah untuk membukanya.
Anna menoleh ke arah Arsya, pasti pria itu yang memerintahkan anak buahnya untuk mengunci pintu.
"Arsya, apa yang kamu lakukan!" Anna bertanya dengan suara keras.
"Melakukan apa yang aku lakukan." jawab Arsya datar seraya membalikkan koran.
Anna bergegas mendekati Arsya yang tidak tau diri itu. "Apa maksud kamu dengan mengunci pintu?" Anna tidak sabar dan segera memarahi Arsya.
Anna melebarkan mata dan merebut remot tivi dan mematikan siaran itu. "Itu pasti alasanmu saja kan? Karena aku mau pergi." ujar Anna.
"Kalau gak percaya ya sudah." jawab Arsya masih dengan santai.
Anna menoleh ke arah pintu yang terhubung dengan garasi. Ia segera melangkah kesana dan keluar melalui pintu itu. Jika berlama lama dengan pria itu yang ada dia akan semakin darah tinggi. Dia tak perduli dengan omongan Arsya. Jadi pergi sendiri menggunakan taksi yang ia pesan secara online.
Villa yang ia tempati sangat jauh dari pemukiman, tentu saja saat pergi harus melewati lereng gunung juga banyak hutan lebat di sekitarnya. Tepat di setengah jalan, terjadi hujan lebat.
Sopir taksi menggerakkan kemudinya dengan pelan. Terdengar suara telepon dari ponsel Anna. Itu adalah Leya.
"Halo."
"Anna, diluar hujan lebat. Sepertinya kita batalkan saja pergi ke mall. Di siaran berita akan ada hujan badai." ucap Leya dari sebrang telepon.
"Apa! Jadi ini akan ada badai? Tapi aku sudah dijalanan." jawab Anna.
"Iya, hujan badai! Apa! Kamu dijalan? cepat kembali. Tidak baik digunakan untuk bepergian. Cepat putar balik." setelah itu sambungan terputus. Anna melihat ponselnya ternyata habis daya.
__ADS_1
Ia menghela nafas berat. Lalu melihat sang sopir sepertinya ia tidak dapat melihat dengan jelas jalanan di luar. Anna menoleh ke samping jendela. Dia sudah berada di tengah tengah perjalanan.
Kenapa dia sangat menyesal karena tidak mempercayai omongan pria itu. Sekarang mau kembali pun susah. Terdengar suara geledek menyambar di luar. Dia menutup telinganya dengan kedua tangannya. Beberapa kali terdengar sopir taksi mendesah. Seharusnya ia tak mengambil job ini kalau akan ada hujan badai seperti ini.
"Nona! Sepertinya tidak bisa melanjutkan perjalanan ini." Sopir itu melihat keluar dan berhenti di tengah tengah hujan badai. Apalagi usia sopir taksi itu juga sudah terlihat tua.
Anna merasa bersalah, tapi juga tak bisa memberikan solusi yang tepat. Ia benar benar terjebak di tengah hutan.
"Kita menepi dulu pak." Sahut Anna.
Meskipun menepi juga tidak bisa singgah kemanapun atau berteduh ke tempat yang lebih aman. Ini rintangan yang terberat yang ia lalui. Sopir itu menepikan mobilnya. Tidak bisa turun juga tidak bisa menghindar. Mereka berdua terjebak di dalam mobil berduaan.
Sepanjang siang Arsya masih terlihat tenang. Salah satu pengawal datang melapor.
"Tuan muda, sepertinya nona muda sedang terjebak di tengah jalan. Dia sudah hampir dua jam tidak kembali." lapor Rendi.
"Biarkan saja." Rendi membelalak tapi ia tetap terus tenang dan menundukkan kepalanya.
Arsya melambaikan tangan mengisyaratkan segera pergi. "Dasar bodoh." Arsya menggeram juga kesal. Ia pergi ke ruang kerja. Dan menggunakan koneksinya menghubungi salah satu polisi untuk segera berpatroli.
Dengan cepat, patroli segera beroperasi. Melewati jalan jalan di sebagian kota kota juga mengarah ke Villa Villa.
Anna serasa mendapatkan oase saat ada mobil yang melintas. "Pak, ada bantuan datang." Anna segera menepuk belakang kursi kemudi dengan riang.
Sopir itu yang tadinya lesu segera membuka matanya. Ia melihat, dari kejauhan ada cahaya yang menerjang hujan badai. Sopir taksi itu segera menyalakan sen kanan kiri. Tandanya butuh pertolongan.
Mobil polisi yang berpatroli dapat melihat ada mobil yang terhenti dibawah pohon. Saat akan mendekat ada suara guntur yang menyambar nyambar bagai kilatan api yang siap mencabik siapa saja.
Sopir taksi keluar mengenakan jas hujan. Polisi itu mendekat dan bertanya sedang apa mereka berada disini. Sopir itu mengatakan jika mengantar penumpang yang ingin pergi tapi terjebak hujan badai ditengah jalan. Polisi itu mengangguk.
Kalau begitu aku derek mobilnya keluar hutan. Kata polisi itu. Dengan senang hati sopir itu mengangguk. Dan segera masuk ke dalam mobil. Terdengar lagi suara kilatan api yang menyambar salah satu pohon di samping mobil.
Saat itu sopir sedang menyalakan mesin mobil. Tapi tak di sangka pohon yang terkena kilatan api itu tumbang dan ambruk ke arah atas mobil. Sopir itu tertimpa pohon, dan Anna yang berada dibelakangnya merasa kaget secara tiba tiba dan ia pun pingsan.
Polisi yang siap menderek mobil pun ikut terkejut terdengar suara pohon yang ambruk menimpa atas mobil. Mereka tergopoh melihat situasi di dalam mobil.
Kemudian menelepon seluruh anggotanya untuk mengirim ambulan ke sana. Dengan cepat berita tersebar.
"tuan muda. Mobil yang ditumpangi nona muda terjadi kecelakaan." lapor Rendi.
"Apa! Cepat pergi ke rumah sakit."
__ADS_1
"Baik."
Arsya segera mengambil mantel. Di luar Reimond sudah menyiapkan mobil. ke empat mobil beriringan pergi menuju rumah sakit.