Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Part 40


__ADS_3

Amsterdam


Anna tidak bisa tidur selama semalaman setelah tau dirinya hamil. Saat bangun di pagi harinya. Garis di bawah matanya menghitam seperti mata panda.


Namun ia melihat perut ratanya dan tatapannya sangat rumit. Ini pertama kalinya dia hamil. Apakah harus senang atau sedih. Pasalnya dia sendiri belum tau perasaannya. Pernikahannya juga belum pasti.


Tepat jam delapan pagi. Sebuah deringan telepon masuk di ponselnya. Ia masih mengantuk juga malas untuk berbuat sesuatu tetapi deringan itu memaksanya untuk segera mengangkatnya.


"Halo." ujar Anna.


"Anna!" Itu adalah suara Leya.


"Leya. Kau telepon di jam segini. Di sana pasti sudah larut?" Tanya Anna mengerutkan dahinya.


"Iya. Tadi pagi aku melihat siaran di televisi swasta. Arsya mengumumkan jika dia akan menjadi ayah. Apa kau tau?" Tanya Leya.


"Ya, aku tau." Sahut Anna.


Leya di ujung telepon menggigit bibirnya. "Lalu siapa yang dia hamili? Bukankah kalian telah bercerai. Aku tidak pernah mendengar dia telah menikah lagi. Sedangkan dengan Linda, waktu itu sangat jelas jika pernikahan mereka gagal. Dan Linda masuk penjara karena membunuh seseorang."


"Leya, aku akan berterus terang. Sebenarnya...." Anna menggigit bibir bawahnya dan berkata dengan ragu. Leya di ujung sebrang masih menunggu.


"Aku hamil." Ujar Anna.


"Hah. Siapa yang menghamili kamu?" Leya bertanya dengan suara tegas. Tentu saja dia terkejut. Selama ini mereka jarang berkomunikasi karena kesibukan masing masing. Leya bekerja di kantoran tentu saja tidak sempat mengurusi hal lainnya.


"Jika aku jujur, apakah kau marah padaku?" Tanya Anna.


"Memangnya ada apa?" Tanya Leya dengan penasaran.


"Aku hamil anak Arsya." Ungkapnya.


Jeder. Leya merasa syok mendengar berita ini. "Anna apakah kau yakin. Bagaimana mungkin?"


"Satu bulan ini, Arsya bersamaku lalu membantu kesulitanku selama berada disini. Dan malam itu. Dia terkena obat dan membuatnya mabuk. Malam itu kami melakukannya di hotel. Dan aku...."


"Hamil...." Leya menyelanya.


"Ya. Leya, aku mohon kau jangan marah. Kami melakukannya secara tidak sengaja."


"Baiklah aku mengerti." Leya menjawabnya.


"Jadi kau tak marah padaku kan?" Tanya Anna dengan hati hati.


"Sebenarnya aku sedikit kecewa atas jawabanmu. Tetapi jika kau masih mencintainya. Aku bisa mengerti." Ungkapnya.


Anna menghela nafas berat. "Leya. Dalam dua hari ini aku dipaksa kembali."


Mendengar berita ini mata Leya langsung berbinar terang. "Astaga. Apakah itu benar? Aku sungguh merindukanmu. Jika kau kembali aku akan menjemputmu." Ujar Leya penuh kebahagiaan.


"Tapi...."


"Apa yang kau pikirkan? Apakah kau sudah tidak mau denganku lagi?" Leya berkata dengan bibir cemberut.


"Bukan! Hanya saja, aku baru saja memulai usaha disini. Jika kembali bagaimana aku bisa mengurusnya." Anna menjelaskan dengan was was.


"Jadi kau memiliki usaha disana. Dan kau tidak berpikir untuk kembali?" Leya berkata dengan marah.


"Awalnya seperti itu. Lagi pula, saat kau merindukanku kau bisa datang padaku. Aku hanya tidak ingin bertemu dengan Arsya. Tetapi dia malah menemukanku lebih dulu dan itu membuat segala rencanaku gagal."


"Lalu sekarang? Apa rencanamu?" tanya Leya.


"Belum tau. Tetapi Arsya mungkin sebentar lagi datang menjemputku." Ujar Anna.


"Anna. Jika aku jadi kau. Aku tidak akan kembali. Kau baru saja memulai usaha. Lagi pula. Dia sudah menyakitimu terlalu dalam. Dan membuat kau menderita. Selama sebulan itu, dia mungkin hanya berpura pura mendekatimu agar kau masuk ke dalam perangkapnya. Anna. Kau mungkin di manfaatkan olehnya." Ucap Leya.


"Eh...apa benar dia seperti itu?" Anna bertanya dengan kening berkerut.


"Itu hanya dugaanku saja. Tapi semuanya terserah kau. Kau yang menjalaninya. Dan kau yang paling tau." Jawab Leya.

__ADS_1


Hati Anna mulai goyah dan kepercayaannya terhadap Arsya mulai berkurang.


"Leya. Sepertinya sudah jam tujuh disini. Aku tutup dulu. Aku harus pergi ke ladang." Ujar Anna pada akhirnya. Dia harus memikirkan segalanya dengan matang jika ia kembali.


"Baiklah. Aku juga mengantuk. Aku akan pergi tidur. Dan kau jaga kesehatanmu dengan baik."


"Oke. Kau juga harus menjaga tubuhmu jangan sampai kau sakit karena terus bergadang."


"Ya." Setelah itu mereka saling menutup telepon.


Masih terngiang di benaknya tentang pembicaraannya dengan Leya. Namun di dalam pikirannya, apa keuntungan Arsya jika ia benar di manfaatkan. Jika dipikirkan lagi, Sepertinya Arsya tidak mendapatkan keuntungan apa apa darinya. Jika di lihat dari segi perusahaan ayahnya. Itu tidak mungkin. Perusahaan ayahnya hanyalah perusahaan kecil. Dia tidak mungkin mendapatkan keuntungan apa apa dari sana.


Anna kembali berpikir. Tetapi jam alarm telah berdering. Anna menoleh ke arah meja nakas lalu mematikan deringan jam weker itu. Setelahnya ia pergi ke kamar mandi dan mandi dengan air hangat.


Setelah selesai, ia pergi berganti pakaian dan pergi ke ladang kebun mawar. Anna mengayuh sepedanya menuju ladang. Saat sebelum sampai di pintu, ia melihat seorang pria di sana berpakaian serba hitam. Dia mengernyitkan dahinya.


Pria itu sangat mencurigakan. Jadi ia lekas turun dari atas sepeda. Meletakkan sepedanya begitu saja di pinggir jalan. Dengan ilmu keyakinan. Anna pergi ke sana dan memukul pria itu dengan kayu.


Dugh.


Ach.


Pria itu meringis kesakitan. Tetapi tenaganya masih kuat, ia hendak berdiri dan ingin membalasnya. Tetapi saat mendongak bahwa itu adalah nona mudanya. Ari langsung menundukkan kepalanya.


"Siapa kamu? Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Anna bersiap memukul pria berbaju hitam itu.


"Tidak ada, aku akan pergi." Ujarnya mengangkat tubuhnya dan pergi begitu saja.


Anna tertegun sesaat dan melihat punggung pria itu pergi menjauh hingga menghilang. Ada rasa curiga terhadap pria itu. Ia menoleh ke kanan dan kekiri tak melihat orang lagi. Ia segera mengambil sepeda kayuhnya dan bergegas masuk ke dalam kebun.


Ia juga memperingatkan kepada Elmo dan yang lainnya, jika ada orang yang mencurigakan segera melaporkannya kepadanya. Dan Elmo mengangguk tanda setuju. Mereka semua langsung waspada dan kembali bekerja.


Baru beberapa saat, Anna memulai mengekstrak bunga mawar miliknya. Tetapi dia sudah sangat mengantuk. Itu dikarenakan ia semalam tidak tidur. Matanya semakin lama semakin menyipit dan pandangannya semakin buram. Beberapa kali ia menggelengkan kepalanya untuk mengusir rasa kantuk. Tetapi tetap tidak bisa. Pada akhirnya, dia tetap memejamkan matanya dengan perlahan.


Di tempat Arsya.


Anita kembali datang ke perusahaan lagi. Ia tersenyum dingin dan menatap Arsya dengan tatapan mengejek.


"Terima kasih bibi." Ujarnya dengan tatapan nyalang.


"Wow. Ini pertama kalinya kau begitu manis. Oh ya. Sejak aku datang, kau tidak pernah mengenalkanku kepada istrimu. Di mana istrimu?" Ujar Anita.


"Dia tidak ada disini?"


"Oh ya. Lalu di mana?"


"Bibi tak perlu tau di mana dia. Yang pasti aku tidak akan memberikan kesempatan untuk bibi merebut perusahaan ini, dan sekarang aku sudah mempunyai keturunan."


"Hahaha... Cukup mengesankan! Kau terlalu sungkan untuk membicarakan hal itu. Arsya. Berbicara denganmu membuatku sangat mengantuk. Awalnya aku datang untuk berkenalan dengan istrimu tapi ternyata kau menyembunyikannya. Tak apa untuk sekarang, aku akan mencari tau sendiri." Ungkapnya.


Dan perkataan itu memancing amarah Arsya. "Kau tidak akan pernah menemukannya. Dan kau tidak bisa mencelakainya." Ujarnya dengan mengepalkan telapak tangannya di sisi tubuhnya.


"Haha, ide yang bagus. Aku baru teringat sesuatu. Baiklah, ternyata aku tidak sia sia datang ke sini." Anita segera bangkit untuk berdiri.


"Apa yang akan bibi lakukan. Jika saja, aku tau kau melukai istriku, aku tak akan segan membuat tanganmu patah." Arsya berucap dengan geram sambil berdiri. Ia menatap sang bibi penuh amarah.


"Oh ya. Jika kau berani kau akan berhadapan dengan ayah."


"Kenapa tidak. Kau di luar negeri selalu menghamburkan uang dan berbisnis tak jelas. Sekarang kau mempunyai hutang di mana mana baru mencari kakek. Menurutmu, jika aku mematahkan tanganmu apakah kakek akan segan padamu." Arsya berkata dengan dingin.


Senyum lebar di wajah Anita menjadi pudar. Ia menggeram dan mengepalkan telapak tangannya disisi tubuhnya.


"Kau...."


"Bibi! Lebih baik kau simpan saja amarahmu pagi ini. Kau seharusnya pergi berbelanja dengan kawan kawanmu. Kau tenang saja. Asalkan uang masuk ke dalam kantongmu tidak terkuras habis. Maka kau bisa menikmatinya. Jadi silahkan anda keluar dan aku akan mulai bekerja." Ujar Arsya tersenyum lebar.


Anita kalah telak. Jadi ia menatap Arsya dengan jengkel. Lalu ia pun pergi dari kantor Arsya.


Arsya terduduk di kursi eksekutif dengan memijat keningnya. Dia sangat lelah. Apalagi berdebat dengan Anita, membuat kepalanya terasa pusing.

__ADS_1


Kemudian ia mengambil gagang intercom, dan memanggil Merlin untuk di buatkan kopi.


Berbeda dengan Anita. Setelah keluar dari perusahaan, ia segera menelepon Herman dan mengadu.


"Ayah. Aku tidak diperbolehkan pergi ke perusahaan?" Adunya dengan Herman.


"Hem, Anita! Apa yang kau lakukan pergi ke perusahaan. Apakah belum cukup dengan saham lima persen yang aku berikan kepadamu?" Tanya Herman dengan suara dingin.


"Ayah. Saham lima persen itu, apakah tidak memperbolehkan aku pergi ke perusahaan?" Tanya Anita dengan kening mengerut tipis.


"Anita. Kau di luar negeri cukup bersenang senang saja. Lalu sekarang kembali dan mengelola perusahaan. Waktu itu, kau membuat perusahaan ayah bangkrut dan sekarang kau kembali apakah akan melakukan hal yang sama."


"Ayah, aku sudah berubah. Apakah ayah masih belum percaya padaku? Aku ingin belajar kembali mengelola perusahaan, apakah tidak ada kesempatan kedua bagiku?" Tanya Anita.


"Ayah tau, tetapi ayah masih ragu dengan kemampuanmu. Jika kau percaya dengan ayah, maka biarkan Arsya mengelola perusahaan ayah."


"Ayah! Apakah aku ini bukan putrimu? Kenapa ayah malah percaya dengan Arsya. Dia masih terlalu muda."


"Kau tetap putriku, dulu, sekarang ataupun nanti. Jika ingin ayah percaya padamu. Lakukan sesuatu agar ayah percaya padamu."


"Hah."


"Sekarang begini saja. Ayah harus pergi melakukan pemeriksaan. Kondisi ayah sangat lelah karena kemarin bermain golf. Sekarang ayah tidak ingin berbicara lagi."


"Ayah!"


Sambungan telepon di tutup oleh Herman secara sepihak. Anita berkata dengan kesal lalu melempar ponsel di sampingnya. Baik Arsya maupun Ayahnya tetap saja. Masih tidak percaya kepadanya. Dia harus melakukan sesuatu. Tapi apa? Pikirannya terasa buntu.


Mereka berkompromi untuk tidak memberinya kesempatan kedua. Meskipun ia kembali, rasanya sia sia saja. Jika saja hartanya tak habis karena permainan bisnis yang curang tentu saja dia tidak akan pernah menginjakkan kakinya lagi kemari.


Anita menyandarkan kepalanya yang pusing di sandaran jok mobil.


"Nyonya? Kita pergi kemana?" tanya Arin sang asisten yang duduk di kursi samping kemudi.


"Pergi ke bar alaska."


"Baik."


Mobil mengarahkan lajunya pergi ke Bar Alaska. Meskipun masih siang bar itu tetap buka. Hanya saja tidak terlalu ramai pengunjung.


Tak berapa lama mobil telah sampai di sana. Anita mencari ruang privasi dan memesan minuman. Tepat saat ia duduk di sofa, matanya berkedip. Arin melihat berita bahwa seseorang telah dihamili dan semua itu ditujukan kepada Arsya.


"Nyonya, seorang wanita tengah hamil. Dan diperkirakan jika wanita itu tengah hamil tuan Arsya." Ujar Arin.


Mata Anita langsung berbinar terang. "Oh ya. Berita yang bagus. Arin. Kita harus melakukan permainan."


"Permainan?" kening Arin berkerut dalam.


"Arin, aku beri tau kau. Jika kita tidak mempermainkan sebuah permainan, tentu kesempatan kita untuk menguasai harta ayah akan berakhir mengenaskan. Kita manfaatkan wanita itu untuk mengancam posisi Arsya." Ujarnya dengan senyum cerah di wajahnya.


"Nyonya, aku mengerti. Lalu apa yang akan kita lakukan?" tanya Arin.


"Kita harus mengedarkan berita tak berbobot ini kepada media dengan alasan bahwa gadis itu benar benar hamil anak Arsya lalu dengan tidak sengaja memanggil gadis itu dan sepertinya gadis itu memang sangat menyukai Arsya." Ujar Anita seraya melihat video berita yang tengah ia tonton.


"Video ini sudah di cekal nyonya. Bagaimana mungkin berita ini bisa diedarkan kembali. Gadis itu sudah mengakuinya jika dia hamil anak tuan Arsya. Tapi tuan Arsya tak mengakuinya. Berita ini sudah di redakan dua hari lalu." Ujar Arin.


"Bodoh, kenapa kau tidak memberitauku?" Ujar Anita kesal.


"Karena nyonya terlalu sibuk berbelanja." Sahut Arin.


"Baiklah. Tidak lagi mengedarkan video itu. Yang kita perlukan, kita harus memanggil gadis itu kemari. Kita harus membuat rencana sebelum Arsya memperlihatkan istrinya ke publik. Sepertinya ini kesempatan yang baik."


"Baik nyonya."


Tak berapa lama mereka selesai berdiskusi, pesanan minuman mereka telah datang. Pelayan meletakkan botol wisky di atas meja dengan gelas berkaki di sampingnya. Setelah itu, pelayan hendak menuangkan minuman ke dalam gelas. Namun Arin segera memerintahkan kepada pelayan untuk segera meninggalkan ruangan itu.


"Pergilah!" Usir Arin.


"Baik." pelayan itu meletakkan botol wiskey itu ke tempat semula. Kemudian segera berdiri dan pergi.

__ADS_1


Arin langsung menuangkan botol wiskey itu ke dalam gelas dengan perlahan. Anita segera menenggaknya secara perlahan dan elegan.


__ADS_2