
Anna masih sibuk di rumah penelitiannya, meracik serbuk serbuk bunga mawar. Dan menjadikannya aroma yang khas. Punggungnya menunduk sementara kedua tangannya kesana kemari mengambil cairan dari satu botol ke botol yang lainnya.
Arsya pergi ke kebun mawar seperti biasanya. Menyapa seluruh pekerja lalu ia juga ikut membantu.
Anna merasa lelah setelah menghabiskan setengah harinya meracik parfum parfum itu. Saat mendongak, ia melihat Arsya yang begitu santai sambil bergurau dengan para pekerja. Wajahnya terlihat lebih cerah saat tersenyum. Kemudian Anna meletakkan peralatannya dan keluar.
Arsya masih tidak sadar jika saat ini, pria itu dipandang oleh Anna dari jarak sekitar 10 meter dari tempatnya. Para pekerja itu langsung tersenyum cerah dan melambai pada Noni yang tengah menatap keakraban mereka.
"Noni!" Lirih Laura dengan keras. Anna tersenyum sambil menyipitkan mata karena suasana siang hari sangat terik. Arsya sempat tertegun, kemudian ia berbalik dan tersenyum. Satu tangannya ia lambaikan ke arah Anna.
Anna melunturkan senyumnya dan berbalik masuk ke dalam rumah. Arsya langsung cemberut.
"Hei tuan ganteng. Gak semua pria bisa menanam bunga mawar ini loh. Tapi melihat tuan ganteng yang antusias ini ingin menanam bunga rasanya sangat aneh. Kebanyakan mereka akan bekerja di kantoran." Ujar Laila membuyarkan pandangan Arsya. Arsya menarik pandangannya dan kembali fokus pada tanaman mawar di hadapannya.
Seketika wajah Arsya kembali berseri.
"Aneh?" Arsya mengernyitkan dahinya.
"Hihi. Karena anda ini terlalu ganteng mau mengurusi bunga apalagi bunga mawar yang kebanyakan disukai oleh wanita." Lanjut Laila.
Arsya tersenyum simpul. Memang yang dikatakan oleh Laila itu ada benarnya. Tak berapa lama, Anna keluar dan menghampirinya.
"Eh Noni, ayo gabung. Tuan ganteng ini sungguh telaten ingin belajar menanam bunga." Ujar Laura.
Anna mengernyitkan alisnya balas menatap Arsya yang masih sibuk menyiangi daun daun yang menguning. Kemudian ia kembali menatap Laura.
"Tidak Bik. Aku hanya ada perlu sama pria ini. Kalian lebih baik istirahat lagi pula sudah saatnya makan siang." Sahut Anna.
Laura segera menilik jam di ponsel miliknya begitu juga Laila ikut nimbrung melihat waktu.
"Eh, benar. Gak terasa aja sudah waktunya makan. Itu karena ada tuan ganteng ini yang menemani." Ujar Laura Melirik ke arah Arsya sambil tersenyum malu malu.
"Ach benar." sambung Laila. "Kita jadi lupa waktu." lanjutnya.
Kemudian Laura dan Laila segera berpamitan kepada Anna dan juga Arsya. Lalu pergi ke sebuah pondok yang biasa mereka gunakan untuk istirahat.
Arsya masih di tempatnya tidak perduli dengan kehadiran Anna. Juga tidak perduli dengan teriknya panas matahari yang membakar kulitnya.
"Arsya, aku ingin mengembalikan ini padamu." Anna mengeluarkan kartu hitam dari balik sakunya.
Arsya melirik sekilas. Lalu tangannya kembali sibuk menyiangi daun daun kering dan sedikit berpindah di sampingnya. "Untuk apa kau kembalikan. Jika itu gadis lain sudah pasti membawanya. Di dalam sana ada triliunan uang." Jawab Arsya dengan dingin.
"Cih, aku bukan wanita matre seperti yang kau sebut." Sahut Anna lalu mendekati Arsya dan menarik salah satu tangan Arsya dan memaksanya untuk menerima kartu itu.
"Aku tak menganggap kau matre hanya saja kau masih banyak butuh uang untuk kedepannya." Di dalam nada bicaranya seolah mengejek Anna. Anna kembali membalikkan badannya dan langkahnya terhenti.
__ADS_1
Matanya menyipit dan wajahnya memerah. "Aku tak butuh uangmu." Kesal Anna.
Arsya tersenyum tipis, dan lanjut kerja.
"Dan satu lagi, aku tak membutuhkan pekerja sepertimu dan aku tak sanggup membayarmu. Sudah cukup banyak pekerjaku yang berada disini." lanjut Anna.
"Aku tak butuh kau bayar. Uangku cukup banyak untuk membeli kebunmu ini. Aku hanya senang berada disini." Ungkap Arsya.
Anna melotot. Sesaat kemudian ia kembali ke wajah datar. "Tapi aku tak suka kau berada di sini."
"Itu karena kau belum terbiasa jika aku ada disini." balas Arsya datar.
"Kau..." kata kata Anna terhenti tatkala ada sebuah deringan telepon. Arsya mengeluarkan ponselnya lalu tersenyum tatkala di layar ponselnya tertera nama Eli.
"Halo." Ujar Arsya mengangkat telepon. Anna pun merasa kesal dan ingin pergi dari sana. Namun langkahnya terhenti kala satu tangannya dicekal oleh Arsya.
"Baiklah, nanti malam restoran merah hati." Tak berapa lama telepon itu ia masukkan ke dalam sakunya.
"Lepas!" Ujar Anna menghentakkan tangannya tapi Arsya tak mau melepaskannya.
"Aku lapar. Bisa tidak kau memasakkan sesuatu untukku?" tanya Arsya masih menahan Anna.
"Kau kan bisa menyuruh Eli buat memasakkannya untukmu. Bukankah kalian berpacaran. Atas dasar apa kau memerintahku." ucap Anna ketus.
Sampai di dalam rumah penelitian, ada dapur kecil di pojokan. Arsya langsung membawanya masuk ke dalam sana. Anna melepaskan diri dari rangkulan Arsya. Wajahnya terlihat cemberut.
"Kau mau makan apa?" Tanya Anna dengan terpaksa.
"Apapun masakanmu, aku akan memakannya." sahut Arsya datar sambil bersedekap di dada. Punggungnya yang lurus ia sandarkan di tembok.
Anna melihat isi kulkas hanya ada telur dan daging. Ia segera mengeluarkannya. Ia akan membuat stiek daging dan omelet yang paling mudah.
Semantara Arsya sedang menunggu di kursi yang tersedia. Sambil menunggu ia melirik kesana kemari. Ia dapat melihat di sebelah kanan ada ruangan khusus yang mana biasa di gunakan oleh Anna untuk melakukan penelitiannya.
Tak berapa lama makanan yang di masakkan oleh Anna telah matang. Ia menghidangkannya ke hadapan Arsya.
"Makanlah, setelah itu segera pergi dari sini!" Ujar Anna.
Arsya menaikkan satu alisnya. Lalu mengambil pisau dan garpu. Ini pertama kalinya Anna memasakkan untuknya. Dia merasa senang. Untuk rasa, dia menilainya cukup enak untuk dilidahnya. Arsya terus membelah daging sedikit demi sedikit.
"Ternyata masakanmu tak kalah jauh dari restotan." Arsya memuji hasil masakannya.
"Terima kasih. Tapi disini bukan restotan. Lain kali kau jangan memintaku memasak lagi. Ini yang pertama dan yang terakhir." Ujar Anna merasa jengah.
Arsya kemudian mengeluarkan kartu yang di kembalikan oleh Anna.
__ADS_1
"Ini sebagai gantinya. Dan aku ingin terus makan disini selama aku berada di sini." Ujar Arsya.
Anna melirik kartu hitam itu yang tergeletak di depannya dengan sudut matanya. Lalu menatap Arsya dengan tidak sabar.
"Kau menganggap aku pelayanmu!"
"Hehe, tidak juga. Dari tempatku menginap sampai restoran itu butuh waktu yang lama. Jika aku bolak balik ke restoran tentu saja akan cepat lapar. Jika disini. Akan lebih dekat dan bisa menghemat waktu." Ujar Arsya tanpa rasa malu.
"Kalau begitu, kenapa kau tidak kembali saja ke negaramu. Di sana ada banyak pelayan yang melayanimu. Tapi kau malah berada disini dan terus menggangguku." Ujar Anna dengan mencibir.
"Semua pelayanku sudah dipecat oleh Linda. Sekarang tidak ada pelayan yang berada di tempatku. Tinggal para pengawal yang berjaga. Aku terpaksa menyuruh salah satu pengawal untuk memasak. Tapi tak seenak masakan pelayanku yang dulu."
"Kalau begitu panggil saja lagi." Ucap Anna dengan entengnya.
"Tidak bisa, bik Rani sudah memutuskan untuk menjaga suaminya yang sakit. Dia sudah tidak mau kembali. Sekarang jika harus merekrut pelayan sangat sulit. Tidak sesuai dengan yang aku mau. Mereka hanya suka uangku sementara kerjanya nihil." Arsya bercerita mengalir begitu saja.
Anna menatap bola mata Arsya yang hitam kelam. Tatapannya tetap tajam seperti dulu. Dia mencari kebohongan di sana tapi ternyata tidak ada. Anna menghela nafas.
"Lalu Linda. Oiya, kenapa aku melupakan Linda. Sejak dulu kau bersikeras mempertahankan Linda. Kenapa tidak kau suruh Linda saja yang memasak untukmu."
Arsya menaikkan pandangannya. Ia juga sudah selesai makan. Omelet juga sudah tandas di dalam mulutnya.
"Linda sudah bahagia dengan pasangannya." Ucap Arsya lalu meraih gelas yang berisi air putih dan menenggaknya.
"Bagaimana mungkin. Waktu itu jelas sekali Linda berada di rumahmu bahkan berani mengusir aku dari tempatku yang seharusnya." Ujar Anna berpikir.
Arsya tersenyum kecil.
"Jadi, kau senang tinggal di kamar berdua denganku kan?" Arsya menyipitkan matanya.
Anna menjadi panik.
"Uhg, itu..."
"Aku tau jawabannya." Arsya menyunggingkan senyuman tipis lalu meletakkan gelas itu ke atas meja.
"Apa?" Tanya Anna dengan wajah memerah.
"Ekhem. Tidak apa apa. Oiya terima kasih untuk makan siangnya. Aku akan kembali ke ladang." Ujar Arsya bersiap pergi.
Anna masih termangu di tempatnya. "Nanti malam, kau harus dandan yang cantik." Pesan Arsya sebelum pergi.
"Hah." saat menoleh. Arsya sudah menghilang di balik pintu.
Apa maksudnya?
__ADS_1