
Sesampainya di Amerika. Linda tak bisa sebebas dulu. Apapun yang dilakukan akan dijaga ketat oleh pengawalnya. Bramantyo tak akan melepaskan kehidupan Linda seperti dulu.
Tak lama setelahnya Linda kembali. Ken juga ikut pergi. Dia seakan kehilangan jiwanya separuh saat ditinggal Linda. Jadi menyusulunya ke Amerika demi mendapatkan simpatiknya.
Ken hampir setiap hari pergi ke tempat Linda setelah mendapatkan alamatnya. Hanya saja. Setiap kali datang, ia akan diusir oleh pengawal dengan kejam.
Tapi bukan Ken namanya jika tidak ada perjuangan. Semuanya butuh perjuangan. Dia bahkan memanjat dinding agar sampai ke kamar Linda.
Ken berjalan mengendap dan sampai akhirnya ia menemukan kamar Linda. Kebetulan Linda saat ini sedang tidur siang. Ken tersenyum saat menatap wajah Linda yang tenang saat tertidur.
"Linda!" Gumam Ken dengan senyuman misterius. Linda tersadar saat sebuah tangan menyentuh pipinya.
"Ken." Linda terbelalak karena Ken sudah berada di dalam kamarnya. Linda berkali kali melihat situasi rumahnya. Ia langsung mengunci pintu kamarnya dan juga pintu balkon.
"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Linda dengan sinis.
"Tentu saja melihatmu. Apakah kau tidak merindukanku. Sejak kau tinggal di tempat Arsya sampai sekarang, kau tak pernah melihatku." ujar Ken lalu menatap ke perut Linda yang rata.
"Dimana bayiku?" tanya Ken dengan menaikkan sebelah alisnya. Linda menunduk dan menatap perutnya.
"Dia sudah pergi. Lagi pula itu adalah anakmu. Aku tak menyukaimu. Kau melakukan hal bejat kepadaku jadi dia tidak pantas hidup." Ujar Linda.
Ken merubah wajahnya dengan muram. di samping tubuhnya ia mengepalkan tangannya.
"Yang ku inginkan adalah anak Arsya. Tapi kau menggunakan obat untuk merangsangku dan malah menggunakan dengan cara seperti ini." kesal Linda.
Mata Ken langsung memerah karena amarah. Tanpa diduga tangannya terulur dan mencekik leher Linda. Membuat Linda tak bisa bernafas.
"Apa yang kau lakukan?" Ujar Linda dengan terbata karena tenggorokannya tercekat akan cekikan Ken.
"Kau selalu bilang bahwa kau suka dengan Arsya. Aku berbuat seperti ini karena aku benar benar mencintaimu. Bahkan di saat kau sedang susah. Sedang di abaikan, bahkan kau di saat sedang menangisi Arsya. Akulah yang berada disisimu menghiburmu. Bahkan sampai pada malam itu kau sendiri yang menginginkannya." Ujar Ken mengingatkan Linda saat bersamanya.
__ADS_1
"Ken, lepaskan!" Linda tak menggubris ucapan Ken, kedua tangannya memegang tangan Ken yang mencekiknya. Ken sangat emosi lalu melempar Linda ke atas ranjang. Linda kehabisan nafas bahkan terbatuk batuk hingga wajahnya memerah. Belum juga sembuh dari cekikan yang dilayangkan Ken, Ken kembali menarik Kedua tangan Linda ke atas kepalanya dengan satu tangannya yang besar. Ia mendekatkan wajahnya persis dihadapannya. Bahkan hembusan nafasnya sangat terasa di wajah Linda.
"Ken. Tolong jangan lakukan lagi." Linda berlinang air mata.
"Cih." Ken mendesis. "Dengar! Kau adalah wanitaku. Siapapun tidak boleh menyentuhmu. Bahkan Arsya sekalipun." ujar Ken dengan nada mengancam memperingatkan. Kemudian ia melepaskan tangan Linda dan menjauh.
"Ken, kau tak bisa seperti itu." Ujar Linda kesal.
"Cih. Aku tak perduli." selesai mengucapkannya. Ken segera melompat dari jendela. Terlihat ada bayangan dari lantai atas. Tapi pengawal tidak menemukan apa apa selain kucing yang mengeong di atas genteng.
Bramantyo menggelar sebuah acara perjamuan. Tetapi ada maksud tertentu dibalik acara perjamuan itu. Dia ingin mencarikan lelaki yang baik dan bisa menerima putrinya karena kekurangannya.
Dengan kelincahan Ken, Ken bisa tau jika Bramantyo mengadakan perjamuan. Hanya saja, perjamuan ini dilakukan secara tertutup lebih tepatnya hanya para pengusaha terkenal dan kaya yang diundang.
Dan para tamu undangan juga mempunyai satu tiket sebagai bukti bahwa mereka adalah tamu terhormat. Ken tersenyum miris. Bagaimanapun ia harus bisa pergi ke sana dan termasuk pria yang akan terpilih. Dengan latar belakang Ken, dia bisa saja masuk tapi hanya bisa sebagai pelayan.
"Dengar. Semua pelayan yang ada disini. Kalian harus membawakan minuman kepada semua tamu yang hadir. dan minuman itu terbagi tiga jenis. Minuman beralkohol berat, sedang dan ringan. Kalian para pekerja juga demikian. Untuk alkohol berat berikan pada tamu terhormat. Sementara untuk sedang dan ringan, itu untuk tamu yang biasa saja. Kalian mengerti."
"mengerti." jawab serempak pelayan.
Dengan wajahnya yang rupawan dan tubuhnya yang atletis. Ken menarik perhatian para tamu wanita. Minuman yang ia bawa termasuk yang beralkohol sedang dan ringan. Seorang wanita selalu memanggilnya dan suka mengambil minumannya. Gelas di atas nampannya selalu cepat habis.
Lelaki yang berukuran tinggi 175 cm melihatnya. Dari tatapan sorotan matanya dia tidak menyukai Ken, jadi menyenggol lengan Ken, sehingga minuman itu tumpah di atas bajunya.
Ken segera melayangkan tinju ke arah lelaki itu. Dan di aula perjamuan terjadi keributan besar. Semua para tamu undangan mendapatkan tontonan yang menarik.
Linda yang baru saja turun dari kamarnya, melihat pertengkaran ini. Ia langsung bertanya tanya. Awalnya ia merasa acuh apalagi security langsung datang saat ada yang melaporkan. Tapi tenaga Ken lebih kuat dari security itu dan berlari ke arah Linda yang tak jauh darinya.
Semua mata tercengang melihat adegan ini. Terlebih Bramantyo. Ia meluapkan amarahnya dan mengambil lengan Ken dengan paksa.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Bramantyo dengan tajam.
__ADS_1
"Tentu saja membawa calon istriku. Tuan Bramantyo yang terhormat." Ujar Ken menekankan kalimatnya.
"Cih. Kau tidak bisa membawanya. Lihatlah dirimu. Bahkan kau sekarang menjadi pelayan. Kau tidak pantas menjadi menantuku." ujar Bramantyo emosi.
"Heh, Bahkan aku seorang pelayan pun. Mereka juga tak pantas menjadi menantumu." ujar ken menunjuk para lelaki yang akan menjadi pilihan Bramantyo.
"Sialan!" desis Bramantyo. "seret dia pergi dari sini." perintah Bramantyo kepada pengawal.
Sebelum pengawal maju, ken sudah menendang satu persatu pengawal itu dengan sekali tendangan. Lalu menarik lengan Linda dan membawanya pergi dari pesta.
Acara perjamuan menjadi kacau. Bramantyo sangat murka dengan kejadian ini.
Di luar, Linda mendesis marah. Lalu menepis tangan Ken yang menariknya dengan paksa. "lepaskan." pekik Linda.
"Oke," Ken mengangkat kedua tangannya.
"Ken, kau sudah menghancurkan hidupku. Sekarang membawaku pergi. Apa yang kau inginkan?" gumam Linda.
"Apa masih kurang jelas dengan perkataanku semalam. Kau adalah wanitaku. Tiada seorang pun yang bisa merebutmu dari ku. Bahkan sampai aku kehilangan nyawa pun kau tetap milikku." ujar ken.
"Sial. Kenapa aku bisa masuk ke dalam orang sepertimu." Ujar Linda marah.
"Aku bisa membuatmu bahagia. Apalagi?" ujar Ken dengan percaya diri.
"Tapi aku tak menyukaimu."
"Sudahlah, ayo pergi sebelum pengawal datang dan membawamu kembali. Aku tak sudi kau dipinang orang lain." Ujar Ken lalu menarik tuas gas dan meninggalkan kota.
Saat dipagi harinya. Ken membawa Linda ke sebuah rumah yang tercantum dengan nama kantor urusan agama. Linda berdecih, tapi karena tekanan Ken, membuat ia tak bisa lari. Ken tersenyum puas.
Pernikahan sudah terlaksana. Linda dan Ken telah sah menjadi suami istri. Hanya saja kali ini Ken membawa Linda pergi dari Amerika dan akan tinggal di pinggiran negara eropa. Selain itu, Ken lebih senang bercocok tanam buah anggur. Dan Linda juga merasa bahagia meski sebelumnya ia tak menyukai Ken. Tapi lambat laun gadis itu bisa menerimanya.
__ADS_1
...----------------...
Inilah kisah Linda yang pada akhirnya bertemu dengan orang yang tepat. Kisah Linda telah berakhir. Dan semua ini hanya selingan. Terima kasih.