
Ketiga manusia itu masih saling terdiam sampai makanan yang mereka hidangkan telah habis.
Setelahnya, mereka bertiga masuk ke dalam rumah. Arsya memapah pria tua itu tapi tangannya ditepis. Anna maju dan mencekal lengannya dan membantu memapahnya.
Herman menepuk nepuk tangan Anna, kemudian berjalan perlahan.
Saat berada di ruangan tengah. Ketiganya duduk disofa. Lalu memerintahkan pengawal untuk menyiapkan kamar tidur untuk Anna beristirahat.
"Kakek, besok masih sekolah."
"Tidak apa apa, nanti kakek akan mengatakan pada sekolah jika kamu menemani kakek sehari. Kakek baru pulang. Jarang menemukan kesempatan bersama cucu menantu." Ucap kakek itu dengan tersenyum.
"Sebenarnya yang cucu kakek ini aku atau dia." Gerutu Arsya dengan suara pelan.
"Diam kamu! Kamu selalu membuatku kesal." Ucap Herman menatap cucu-nya sendiri dengan sebal.
Arsya hanya mendengus. Melihat kedua manusia yang berbeda generasi itu saling berbahagia, ia segera beranjak.
"Mau kemana kamu. Aku belum selesai bicara sama kamu." Desis Herman.
"Oh oke." Arsya kembali duduk.
Herman menoleh kepada Anna. "Anna, kamu gadis yang baik. Pergilah istirahat. besok temani kakek jalan jalan." Ucap Herman dengan lembut.
"Baik kakek." Anna segera mencium tangan kakek dan pergi ke kamar untuk istirahat.
Sementara Arsya dan Herman masih di sana. Suasana menjadi tegang dan mencekam. Bahkan Ferdi merasa belakang lehernya terasa dingin. Kedua manusia beda generasi ini selalu membuat suasana lebih menakutkan.
"Sekarang coba jelaskan." Perintah Herman dengan tatapan mendominasi.
Arsya mengangkat kelopak matanya. Dengan santainya ia menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.
"Apa yang harus aku jelaskan. Bukankah itu sudah jelas." Ucap Arsya dengan santai.
"Anak durhaka! Omong kosong apa yang kamu katakan." Gigi Herman bergemeletuk tangannya menggenggam erat kepala tongkat, wajahnya memerah menahan amarah.
__ADS_1
"Kakek tidak perlu menutupi kejadian lima tahun lalu, Mereka bisa hidup enak hanya diusir olehmu. Sementara dia sudah tak bernyawa. Apa pantas mereka masih hidup."
"Dasar kurang ajar. Kamu selalu bertindak tanpa berpikir. Meskipun begitu keluarga mereka juga masih ada budi yang harus dibalas. Kamu....!" Herman tidak melanjutkan kata katanya. Dadanya naik turun karena marah.
"Sudah tua, jangan lekas marah. Aku tau apa yang harus aku lakukan." Jawab Arsya santai.
"Kamu tidak boleh menceraikan Anna. Dia adalah gadis baik. Aku tau perjodohan ini kamu tidak menyukainya. Gadis itu adalah kakaknya yang telah kau renggut nyawanya." Penjelasan Herman sampai disini tidak tau lagi harus menjelaskannya bagaimana.
"Apa!" Arsya terkejut hingga mendudukkan duduknya dengan tegap.
"Anzel, dia adalah kakak gadis itu. Wanita yang kau sayangi adalah keluarganya. Mana bisa aku menjodohkan kamu dengan wanita yang kau anggap tunanganmu itu."
"Huh. Apa maksud kakek."
"Kau tidak mengerti apa apa. Kedua gadis itu adalah yatim piatu. Ayah gadis itu adalah sahabat papa-mu, sebelum keduanya meninggal mereka berjanji untuk menikahkan kalian. Tapi sayang-nya di hidupnya ada sebuah ujian sehingga merenggut nyawa salah satu gadis itu."
"Adiknya menangis tersedu saat Anzel tidak pulang selama seminggu. Aku menyuruh orang untuk mencarikan keluarga baik agar bisa menyayangi gadis itu. Dan ternyata itu adalah Wiryo. Aku mendesak Wiryo untuk memberikan putrinya kepadaku. Itu karena perjanjian antara ayahmu dan Ayahnya. Tetapi kau malah merusaknya."
Sampai disini, Herman meneteskan air mata. Ia masih teringat Beni putra semata wayangnya. Dia berjuang hidup karena penyakitnya yang terus menggerogoti tubuhnya.
"Kakek!" Arsya merasa khawatir dengan keadaan kakeknya, ia beranjak dan ingin duduk di sampingnya.
"Jangan mendekat!" Tangan Herman terulur dan melambaikan tangan untuk tidak mendekatinya.
Arsya kembali duduk. Kemudian menghela nafas. "Sudah tua tapi keras kepala." Batin Arsya.
"Beni dan Irmawan. Keduanya adalah sahabat saat berusia muda. Keduanya selalu mendapatkan prestasi terbaik. Aku sungguh memuji kegigihan Irmawan. Dia selalu membuatku terharu."
"Mereka berdua berjanji akan melaksanakan perusahaan agar makmur dan berjaya. Meskipun sebagai staf biasa ternyata kemampuannya patut diapresiasikan. Dia selalu sukses meyakinkan penanam saham. Dan mewujudkan perusahaan menjadi besar."
"Tetapi kendalanya, dia harus kembali kepada orang tuanya di desa dan harus menikah dengan gadis pilihan orang tuanya. Sampai saat itu Ayahmu-Beni tidak pandai mengelola perusahaan meskipun dia pandai. Dia terhalang oleh penyakitnya."
"Aku memerintahkan seseorang untuk mencari keberadaannya. Tapi sayangnya aku terlambat menyelamatkan mereka. Keduanya meninggal dalam kecelakaan. Dan dia meninggalkan kedua putrinya. Kakaknya bekerja keras untuk menghidupi adiknya."
"Anzel yang kau sebut sebagai kekasihmu, dia rela bekerja paruh waktu di sebuah restoran selain menghidupi adiknya ia diam diam mengambil jurusan perkuliahan. Kemudian ia membawa adiknya kembali ke kota. Dan akhirnya aku menemukan jika mereka hidup di salah satu rumah yayasan."
__ADS_1
Herman menghentikan perkataannya dan mengambil nafas panjang.
"Dari situ tidak tau kau bisa mengenalnya. Saat itu aku menyelidikimu secara diam diam, awalnya aku merasa senang saat menemukan gadis itu kembali dan menjalin hubungan denganmu."
"Tapi kau selalu menjalani hubungan keduanya bersamaan dengan gadis lain. Aku marah dan menekan perusahaannya. Tak disangka gadis yang kau anggap sebagai tunanganmu mengamuk dan mengancamku."
Herman menoleh dengan mata memerah menatap Arsya yang masih terdiam. "Apa kau masih ingin membuatku mati lebih cepat hah! Dengan membuat berita bertunangan dengan gadis itu!" Teriak Herman.
Arsya terdiam. Dia memang tak begitu jelas dengan tragedi lima tahun yang lalu. Dia asal menggunakan hubungan untuk membalas dendam. Waktu itu Linda selalu menangis di pangkuannya, perusahaan ayahnya bangkrut. Demi menenangkannya ia mau menjalani hubungan dengannya agar dia tak merasa prustasi.
Selama seminggu gadis itu sudah ceria lagi, tetapi sikap Arsya selalu dingin dan datar. Berbeda jika bersama Anzel, ia akan selalu tersenyum dan bersikap hangat. Itu membuat Linda merasa iri dan cemburu.
Dari situ, kejadian lima tahun lalu mulai terulang di rekaman otak Arsya. Dia di penuhi luka akibat pukulan dari 20 orang berbadan besar. Ilmu bela dirinya sewaktu muda masih belum sempurna.
Dia tidak tau siapa yang merencakan hal penculikan terhadap Anzel, Anzel dibius tak sadarkan diri. Setiap kali sadar ia akan dipukul. Arsya yang tak menang dari melawan ke dua puluh orang itu ikut di tawan. kaki dan tangannya di ikat.
Ia mencoba memanggil nama Anzel, tetapi suaranya tidak dapat keluar. Tenaganya terkuras habis karena dipukuli. Ia begitu lemas tak berdaya. Dia mencoba berdoa semoga ada keajaiban.
Tiga hari berada dirumah tua, Ia tak sadarkan diri selama dua hari, saat sadar. ia dapat melihat jelas Anzel disiksa dan diperkosa lima orang. Giginya bergemeletuk menyaksikan gadis yang ia sayangi diperkosa.
Dia sebagai pria tidak bisa melindungi gadis yang ia sayangi. Di dalam hatinya ia akan membalas dendam kepada ke dua puluh orang itu. Gadis itu menangis di pojokan tahanan. Psikologisnya terguncang.
Arsya tidak bisa menolongnya, ia hanya berbicara sekuat tenaganya. "Anzel, jangan menangis!" Seru Arsya.
Tetapi gadis itu terus menangis hingga lelah dan tertidur. Arsya menatapnya dengan tatapan pilu. Ia memang manusia brengsek yang tidak berguna.
Arsya menyalahkan dirinya sendiri. Saat di malam hari, ada sebuah tragedi, rumah itu dibakar habis. Dia memejamkan matanya, andai dia mati saat itu ia pun rela karena ia akan mati bersama sama dengan gadia yang ia sayangi.
Saat terjadi kebakaran, sayub sayub mendengar suara yang familiar. Suara itu suara seorang perempuan. Ia menoleh tapi api semakin membesar, ia tidak bisa melihat apa-apa.
Selain suara nada kemarahan karena membiarkan pria itu ikut terbakar di dalamnya. Ia mengumpat. Dari sekian lama menghisap asap terlalu lama, kesadaran Arsya kian menurun dan tak sadarkan diri.
Saat kesadarannya pulih ia sudah berada di rumah sakit. Ia menoleh ke samping kanan dan kiri tidak ada siapapun. Ia teringat pada Anzel. Ia segera mencabut selang infus yang menancap ditangan kirinya.
Ia mencoba bangun dari tempatnya, tapi sayangnya ia terlalu lemah sehingga ia terjatuh dari brankar.
__ADS_1