Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Part 11


__ADS_3

Anna mencebikkan bibirnya. Jelas jelas ini adalah rencana Arsya untuk menjauhkannya dari direktur Roni.


"Aku bisa pulang naik taksi." ujar Anna sambil matanya melirik ke arah taksi yang mendekat dan ternyata itu sudah dihentikan oleh orang di depannya.


Arsya tersenyum smirk menatap Anna yang masih kekeh dengan pendiriannya.


"Masih ngotot gak mau di antar. Di sini sudah gak ada orang loh. Yakin!" Ujar Arsya.


Anna menoleh ke belakang. Semuanya sudah sepi. Hanya tinggal beberapa saja. Akhirnya Anna mau masuk ke dalam mobil. Arsya segera menutup pintu dan ia bergegas masuk ke bagian kursi setir.


Sebelum Arsya melajukan mobilnya ia melihat sekilas ke samping. Anna duduk diam dan melihat kedepan dengan kesal. Meskipun mesin mobil sudah menyala tetapi Arsya belum mau melajukan mobilnya. Anna terpaksa menoleh.


"Kalau gak mau antar ya sudah. Kau membuang waktuku saja." geram Anna ingin membuka pintu mobil tapi ditahan oleh Arsya.


Tubuh Arsya segera mendekat dan condong ke depan. Membuat Anna semakin geragapan lalu memejamkan mata. Arsya tersenyum kecil tapi ia malah menarik seatbealt dan mengikat tubuh Anna.


Klik.


Anna tersadar saat suara itu masuk ke dalam indra pendengarannya. Pipinya merona karena tadi ia sempat mengira jika akan dicium. "Bodoh sekali Anna." batin Anna kemudian pandangan matanya ia buang ke arah samping. Sangat memalukan.


Arsya segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Meninggalkan tempat pesta dengan suasana hati gembira. Sementara Anna merasa dongkol telah dipermainkan oleh Arsya.


"Sejak kapan kau mengelola kebun mawar ini?" tanya Arsya memulai percakapannya agar suasana di dalam mobil tidak hening.


"Itu bukan urusanmu?" jawab Anna datar.


Arsya berdecak, tapi tak berhenti untuk terus mengobrol. Tapi Anna tetap menyahutnya dengan dingin. Karena terlalu lama berada di dalam mobil bersama Arsya, Anna segera bersuara agar membelokkan mobilnya ke depan gang sana.


Tak berapa lama, mobil terhenti di depan sebuah rumah minimalis berlantai satu. Rumah itu tampak rapi dan nyaman. Terlihat rumah itu sangat sepi.


"Kau disini sendirian?" Tanya Arsya. Tetapi Anna tak menyahut melainkan mengatakan rasa terima kasihnya karena sudah mengantar. Anna keluar mobil dan pergi begitu saja.


"Haha. Anna...kau masih tetap yang dulu." gumam Arsya tersenyum ringan. Lalu melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah Anna kemudian ia menuju penginapannya sendiri.


Anna membuka kunci pintu tanpa mau melihat kebelakang. Saat deru mobil sudah menjauh. Akhirnya ia bisa bernafas. Kemudian ia masuk ke dalam rumah dan menguncinya.


Sementara direktur Roni merasa bersalah karena telah meninggalkan Anna tadi di pesta, jadi berniat meneleponnya. Tak berapa lama teleponnya di angkat. Direktur Roni merasa senang.

__ADS_1


"Noni, apa kau sudah sampai rumah? Aku sangat menghawatirkanmu?" Ujar Direktur Roni.


"Heem, baru sampai." jawab Noni sambil meletakkan satu persatu hiasan yang menempel ditubuhnya.


"Syukurlah. Tadi aku ingin sekali menghampirimu. Tapi Asisten Danni sungguh tak menghiraukanku. Malah melajukan mobilnya dengan cepat."


"Aku tau."


"Maaf Noni." Direktur Roni merasa bersalah.


"Tidak apa apa."


"Baguslah jika kau sudah memaafkanku. Aku benar benar menyesal tadi telah meninggalkanmu. Dan sekarang aku sudah lega. Kalau begitu selamat malam."


"Selamat malam." Sambungan telepon ditutup.


Direktur Roni ini terlihat polos dan suka bermain main. Tetapi sekalipun serius ia benar benar sangat mengagumkan. Anna tersenyum kemudian berbalik dan masuk ke dalam kamar mandi.


Sementara Arsya sendiri, ia telah sampai di penginapannya. Ia memutar mutar kunci di jari telunjuk sambil berjalan masuk. Bibirnya masih tersungging senyuman. Danni yang melihat atasannya melintas terlihat bahagia ia tak bisa menahan rasa penasarannya.


Danni pun segera bertanya. "Presdir terlihat bahagia. Apakah sudah berhasil?" cegat Danni. Di bibirnya tersungging senyuman lebar.


"Sana. Menganggu saja." Ujar Arsya kemudian membuka pintu dan masuk.


"Aih, presdir jika hal ini tidak ada campur tanganku. Kau juga pasti tidak akan bisa mendekati nona muda." Danni merasa putus asa.


Tak berapa lama, pintu kamar Arsya terbuka kembali. Lalu melihat Danni yang tengah menatapnya.


"Kau mengataiku?" ujar Arsya dengan kepalanya menyembul keluar.


Mata Danni membola namun itu hanya sesaat. Ia segera menggelengkan kepalanya. "Tidak."


"Baguslah. Sana masuk. Besok kau harus membereskan kandang kambing di samping."


"Ach." Danni terperangah. Rendi dan satu pengawal lainnya yang melihat hal ini melongo. Danni yang tau sedang di tonton segera menoleh.


"Apa yang kalian lihat, cepat pergi." Ujar Danni memarahi kedua pengawal. Tapi Rendi tak menghiraukan sementara satu pengawal yang lain terkikik. Danni berbalik pergi dan masuk ke dalam kamar dengan kesal.

__ADS_1


Saat di pagi hari. Anna melakukan joging di sekitar perumahan. Arsya yang kebetulan sedang joging pun segera menyamai lari Anna. Bukan kebetukan sebenarnya. Tapi memang sudah direncanakan.


"Selamat pagi, cantik!" sapa Arsya membuat Anna menolehkan kepala sekilas. Ia tak menjawab sapaan Arsya melainkan lanjut berlari. Di depan, Direktur Roni juga sedang melakukan joging.


Saat melihat Anna sedang joging, ia segera melambaikan tangan. Arsya yang melihat hal ini langsung muram. Ia lanjut berlari tanpa mau melirik Roni.


Anna yang melihat direktur Roni langsung tersenyum dan membalas lambaian tangan Roni. Arsya tampak terhenti dan minum sebentar.


Tak jauh dari pandangannya, Anna segera menghampiri direktur Roni. Tampak mereka bercipika cipiki dan saling menyapa. Membuat hati Arsya merasa dongkol. Setelah menghabiskan setengah botol mineral Arsya lanjut berlari dibelakang mereka.


"Noni, nanti aku akan menemanimu membeli peralatan. Kau bilang kau akan pergi ke mall kan jika akhir pekan." Ujar direktur Roni.


"Ach, iya. Aku hampir lupa jika pak Roni tidak mengingatkan. Ya, nanti kita pergi bersama." sahut Anna.


Arsya yang berada dibelakangnya makin geram karena telat satu langkah dengan Roni. Ia pun segera menyamai langkah Anna yang berlari berdampingan dengan Roni.


"Awas ada buaya. Jangan termakan sama omongannya." Ujar Arsya dengan nada yang tak enak didengar. Kemudian ia mempercepat langkahnya.


Roni baru menyadari jika sejak tadi mereka di buntuti oleh presdir Arsya.


"Jangan dengarkan sama omongannya. Anggap saja orang gak waras." Ujar Anna. Membuat Roni tersadar.


"Eh, iya. Noni. Lebih baik kita istirahat sejenak." Ajak Roni.


Mereka berdua langsung mencari tempat di bawah pohon yang rindang.


"Noni, aku penasaran dan sudah lama aku ingin bertanya. Apakah Noni kenal sama presdir Arsya?" tanya Direktur Roni. Anna yang sedang minum pun terbatuk sampai air yang berada di dalam mulut muncrat lagi keluar.


"Ugh," Roni langsung panik dan menepuk nepuk punggung Anna.


"Sudah tidak apa apa lagi kok. Kenapa pak Roni bertanya seperti itu?" tanya Anna.


"Waktu itu, aku mendengar kalian mengobrol seolah kalian sudah kenal dekat bahkan sangat dekat."


"Apa saja yang kau dengar?"


"Aku dengar. Kedua orang tuamu sakit dan presdir bilang untuk kau segera pulang. Kalian sebenarnya kakak beradik yang sedang bertengkar?" tanya direktur Roni.

__ADS_1


Anna tadi sempat was was tapi ternyata direktur Roni malah menebak hubungan mereka adalah kakak beradik.


__ADS_2