Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Part 58


__ADS_3

Anita berjalan dengan tergesa memasuki perusahaan. Dia tidak perduli dengan tatapan orang orang yang sedang memandangnya. Dia membawa sepuluh anak buahnya untuk di bawa ke lantai atas. Ia membaginya menjadi dua, kelima pengawalnya masuk bersamanya ke dalam lift Sementara kelima anak buah yang lain menggunakan tangga darurat untuk mencapai lantai teratas itu.


Arsya tersenyum sambil berdiri di dalam lift disisi lain menuju lantai bawah bersama kedua anak buahnya dan di sampingnya ada Danni.


Anita Sesampainya di lantai paling teratas. Ia berjalan ke arah kantor Arsya. Dua pengawal pria berkulit hitam membuka pintu dengan menendang hingga pintu itu rusak. Anita berjalan masuk dan memindai seluruh ruangan Arsya.


"Arsya. Keluar kamu!" Pekik Anita tersulut emosi. Wajahnya memerah karena amarah. Bersamaan dengan itu kelima pengawal telah sampai.


"Nyonya, saya melihat mobil tuan muda Arsya pergi." seorang pengawal melangkah maju dan memberi laporan.


"Sial." Desis Anita mengumpat.


Sementara Arsya duduk di jok belakang dengan wajah santai.


"Presdir, saya yakin wajah Nyonya Anita pasti merah karena marah kepada anda." di sisi depan samping kemudi Danni bersepekulasi.


"Biarkan saja. Siapa suruh dia bermain denganku! Dia sudah membuat istriku keguguran dan menyekapnya beberapa hari. Ini bukan balasan yang seberapa."


Mobil Limousin melaju membelah jalanan. Tak berapa lama ia telah sampai di villa bergaya perancis. Danni keluar lebih dulu dan membuka pintu belakang.


Arsya menurunkan kakinya dan keluar mobil. Berjalan masuk ke dalam Villa kediaman Wiryo. Saat ini Bik Sumi melihat kedatangannya. Arsya segera bertanya.


"Anna di mana?" Tanya Arsya dengan suara rendah.


"Di kamarnya tuan muda."Saut Bik Sumi.


Arsya melirik ke lantai atas. Lalu bergegas ke sana. Begitu sampai di depan pintu ia langsung masuk.


"Ah...." tepat saat Arsya masuk. Anna menjerit dan mengenakan handuknya lagi.


Dia baru saja selesai mandi dan akan berganti pakaian. Dia tidak tau jika Arsya akan kembali dan dia juga lupa untuk tidak mengunci pintu.


"Arsya! Kenapa kau kembali tiba tiba. Dan masuk tidak mengetuk pintu." Lirih Anna masih memandangnya dengan mata menyipit.


"Kenapa harus mengetuk pintu, bukankah aku juga berhak tinggal di kamar ini." Ujarnya santai sambil melepas jas hitamnya. Mata Anna melotot.


"Kita belum menggelar pernikahan, bahkan kau sudah semena mena seperti ini." Lanjut Anna.


"Ini hanyalah pernikahan kedua, dan secara hukum kita masih suami istri." Arsya masih bisa menjawab perkataan Anna yang mendesaknya. "Sudahlah, lebih baik kau segera berganti pakaian. Kita akan melakukan fitting baju lagi, jika kau masih membantah maka aku akan memakanmu hari ini juga." Arsya malas berdebat. Jadi ia duduk bersandar sambil berselancar pada ponsel.


Anna tidak bisa melanjutkannya lagi. Ia pergi ke dalam kamar walk in closet dan menutup dengan cara membanting pintu. Ia memilih pakaian dan mengenakannya. Tak berapa lama ia keluar.

__ADS_1


Terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Anna acuh pada suara itu karena ia tau bahwa yang berada di dalam sana adalah Arsya. Ia duduk di depan kaca rias lalu menggunakan beberapa cream yang melembutkan kulit wajahnya lalu menyisir rambutnya dan menatanya dengan rapi.


Saat Arsya keluar, tercium aroma sabun yang menyegarkan. Dia menoleh bersamaan dengan mata hitam Arsya yang menatapnya. Dalam beberapa detik ia terpana dengan pancaran mata Arsya yang memiliki gelombang magnet yang mampu menariknya ke dalam lubang besar.


Tiba tiba kepala Anna merasakan sakit. "Ach...." Anna memegangi kepalanya dan matanya terpejam merasakan rasa sakit itu.


Arsya merasa panik melihat Anna yang kesakitan. Dia langsung menghampirinya.


"Anna! Ada apa?" Arsya membawanya ke dalam pelukannya.


Rasa pelukan Arsya itu menghangatkan tubuh Anna. Anna kembali ke akal sehatnya lalu mendorong Arsya dengan kuat.


"Ugh." Arsya terlempar dua langkah ke belakang. Namun karena tidak seimbang Arsya terpelanting ke lantai. Anna dengan cepat ingin menariknya tetapi tangannya tak sampai sehingga ia meraih apapun. Handuk yang dikenakan Arsya terlepas.


"Ach...." Anna menjerit kala senjata milik Arsya terpampang nyata di depannya. Ia buru buru memejamkan mata dengan kedua tangan menutupi seluruh wajahnya.


Sementara Arsya merasakan bokongnya merasa sakit. Ia meringis kesakitan.


"****!" Umpat Arsya dengan suara rendah. Ia kemudian melirik Anna di depannya yang menutup seluruh wajahnya. Kemudian ia merasakan rasa dingin menjalar ke tubuhnya. Ia menunduk dan mengernyit ketika handuknya malah terjatuh di kaki Anna. Ia mengambil handuk itu dan melilitkan ke pinggangnya.


Ia tersenyum nakal dan berdiri dihadapan Anna. Mendekatkan wajahnya tanpa memiliki jarak.


"Apa kau tak malu...." dia akan melanjutkan kalimat selanjutnya tetapi terhenti ketika ada suara nafas yang begitu dekat.


Dengan cepat Arsya menarik kedua tangannya dan...


Cup


Sebuah kecupan merambat ke dalam bibirnya. Anna tertegun sejenak merasakan benda kenyal itu ******* bibirnya. Tanpa sadar ia merasakan sensasi hingga dirinya menggelinjang.


Sensasi itu terus merambat naik hingga ke kepalanya. Otaknya merespon ingin meminta lebih. Tetapi pikirannya ingin dia segera menolaknya. Tanpa sadar ia membalas pagutan itu. Otak dan pikirannya bertolak belakang. Tidak sesuai apa yang ia pikirkan. Tubuhnya seolah merespon dengan sensitif.


Arsya tersenyum miring dan melepas pagutannya ketika ia sadar akan tindakannya.


Anna terpana ketika sensasi itu menghilang. Dia membuka matanya lebar lebar menatap Arsya. Arsya tersenyum kecil lalu mengusap air liurnya yang gelepotan di sekitar bibirnya.


Sedetik kemudian Anna kembali ke akal sehatnya. "Kamu...."


"Lain kali jangan memainkan drama di depanku. Aku bisa saja khilaf."


Setelah mengatakan itu. Ia berlalu pergi.

__ADS_1


Anna : (.....)


Sejam kemudian. Keduanya telah berada di salah satu butik ternama. Melakukan fitting baju pengantin dengan mengukur tubuh Anna dalam pembuatan kebaya. Begitu juga Arsya yang melakukan pengukuran tubuhnya dalam pembuatan jas yang berwarna senada.


Selepas itu, hari semakin sore. Mereka melanjutkan pergi ke mall sekedar berjalan jalan. Arsya merasa jika Anna akan bosan di rumah saja maka membawanya pergi ke sana.


Dan saat pergi ke sana, Tercetus sebuah ide untuk menonton film bioskop. Awalnya Arsya akan menyewa satu gedung agar lebih leluasa untuk menonton. Tetapi Anna malah cemberut dan ingin menikmati film dengan banyak orang. Arsya meminta salah satu pengawal untuk mendapatkan tiket sementara Arsya dan Anna akan duduk menunggu.


Anna tiba tiba mencubit lengannya hingga lelaki yang duduk disebelahnya menaikkan alisnya tanpa merasakan sakit apapun.


"Ada apa?" Tanya Arsya.


"Kau kenapa malah menyuruh anak buahmu yang mendapatkan tiket. Ini nggak seru. Harusnya kau sendiri yang membelinya." Ujarnya dengan wajah cemberut.


Arsya melihat orang orang yang berdesakan membeli tiket itu mengular panjang. "Kau yakin, aku harus berdesakan di antara mereka." Tunjuk Arsya pada segerombolan orang orang yang sedang mengantre itu.


"Kenapa tidak? Kau ini orang kaya, tidak merasakan bagaimana orang kecil bisa mendapatkan sebuah tiket. Dan itu sangat mengasyikkan." Ungkap Anna.


Arsya mengernyitkan dahinya. "Kau masih untung, aku mau diajak nonton kemari. Jika bukan kau...."


"Mau apa tidak!" Lirih Anna dengan mata hampir berkaca kaca.


"Ya ya ya... Tunggu disini. Jangan kemana kemana." Arsya langsung beranjak dari kursinya karena gertakan Anna yang membuat ia tak sampai hati jika Anna menangis.


Tetapi perbuatan Arsya yang mengantre di antara puluhan orang itu membuat Anna melongo. Pria itu terlihat sangat tampan di antara orang orang yang berkerumun. Membuat semua orang terpana dengan ketampanannya bahkan banyak di antara gadis gadis yang meminta berkenalan dengannya bahkan mereka rela antreannya di terobos oleh Arsya sehingga Ia bisa mendapatkan tiket lebih cepat setelah menunggu lima belas menit.


Bahkan ada yang meminta berfoto bersama dengan Arsya. Dan Arsya secara sukarela menerima permintaan gadis itu. Ada juga para gadis itu merayunya agar dijadikan suaminya di masa depan. Tetapi Arsya hanya menanggapinya dengan tersenyum.


Anna yang melihatnya menggeram kesal. "Dasar buaya!"


Tak berapa lama Arsya sudah mendapatkan tiket. Arsya tersenyum lebar dengan mengibarkan kedua tiket di tangan kanannya. Ia tersenyum ke arah Anna. Anna malah semakin cemberut dengan melipat kedua tangannya di dadanya.


"Ini tiketnya, ayo masuk." Ucap Arsya memperlihatkan tiket yang ia dapatkan.


"Tidak jadi!" Pekik Anna kesal. Arsya menaikkan alisnya.


"Loh, kenapa? Bukankah aku sudah melakukannya seperti yang kau mau. Kenapa lagi?" Tanya Arsya dengan bingung.


"Kau terlalu mempesona hari ini. Kita batalkan saja nonton filmnya. Ayo pulang." Anna menarik lengan Arsya dengan lengket dan membawanya keluar dari mall itu. Di belakang sekelompok orang mengikuti.


Selama dalam perjalanan Arsya dan Anna saling terdiam dan tenggelam dalam pikirannya masing masing. Tetapi diamnya Arsya adalah menunggu Anna untuk menjelaskan apa yang terjadi. Sementara Anna masih kesal dengan sikap Arsya yang malah tebar pesona dengan wanita lain. Jika dia masih menganggap dirinya adalah wanitanya seharusnya dia tidak tebar pesona seperti itu. Dan semua itu membuatnya semakin kesal.

__ADS_1


__ADS_2