
Mobil yang di tumpangi Anna dan Arsya melaju ke sebuah bandara. Anna hanya terdiam ketika Arsya membawanya pergi. Tujuan Arsya kali ini berada di pinggiran kota belanda.
Butuh beberapa jam untuk sampai di sana. Dalam menunggu hingga sampai tujuan, Anna merasa sangat mengantuk. Di samping, Arsya duduk bersandar dengan kaca mata bertengger menutupi sebagian wajahnya. Telinganya tertutup dengan earphone untuk meredam suara bising pesawat.
Setelah beberapa jam berada di atas awan. Akhirnya pesawat mendarat dengan sempurna. Arsya membuka earphone dari telinganya lalu menoleh ke samping. Di samping, Anna masih tertidur dengan pulas.
"Tuan muda. Pesawat sudah mendarat." Rendi di samping mengingatkan.
Tetapi Arsya menaikkan sebelah tangannya. Menandakan untuk segera diam. Rendi melirik ke kursi samping dan melihat nona mudanya tertidur pulas. Rendi segera menunduk dan perlahan mundur.
Arsya tersenyum sembari melihat wajah Anna. Diliriknya bulu lentik yang menutupi matanya. Setelah beberapa saat, bulu lentik itu bergerak gerak menandakan Anna tersadar dari tidurnya.
Matanya terbuka dengan menyipit menyetarakan cahaya yang masuk ke pupil. Anna mengucek matanya dan sadar jika pesawat telah terhenti karena ia tidak merasakan apapun. Ia segera menoleh tapi dia malah terkejut betapa Arsya telah memandangnya dengan tatapan teduh.
Bibir tipisnya pun melebar membentuk senyuman. "Arsya!" Lirihnya.
"Sudah bangun?" Tanya Arsya.
"Kenapa kau tidak membangunkanku jika sudah sampai." Sebal Anna.
"Aku tak tega membangunkanmu. Kau tidur pulas sekali." Sahut Arsya. "Ayo kita turun. Jika tidak, kita bisa saja kembali ke Amsterdam."
"Apa! Secepat itu sudah sampai?" Anna menoleh pada kaca jendela di sampingnya. Saat melihat luar, dia tak mengenali daerah itu.
"Ini seperti bukan indonesia?" kata Anna seraya menoleh ke arah Arsya.
"Memang bukan. Ayo kita segera turun. Waktu kita hanya sepuluh menit." Arsya menjawab dan kemudian kembali mendesak untuk turun.
Meskipun dalam hati Anna masih bertanya tanya, ia sedang di mana? Tetapi Arsya sudah mendesaknya untuk segera turun. Jadi ia hanya menurut saja.
Di luar, sepuluh pengawal berada disisi kanan dan kiri membentuk barisan. Sementara Danni berada di pintu menunggu mereka beranjak.
"Presdir." Danni yang berada di pintu segera menyapa ketika melihat sosok pimpinannya sudah berjalan mendekat disisinya ada Anna.
"Hm."
Kemudian Arsya dan Anna menuruni tangga dengan berdampingan. Sementara di belakangnya ada Danni. Saat melihat Arsya turun. Semua pengawal segera menunduk hormat. Arsya hanya terus berjalan hingga melewati semua pengawal itu. Kemudian pengawal itu segera mengikuti di belakang.
Setelah melakukan prosedur di dalam bandara. Akhirnya mereka bisa segera meninggalkan bandara.
"Sya, sebenarnya kita mau kemana?" tanya Anna ketika berada di dalam mobil.
__ADS_1
"Kita lihat saja nanti. Yang pasti, aku tidak akan mencelakaimu." Ujar Arsya.
Dugh
Anna menendang perut Arsya. "Kau jangan bercanda. Aku serius!" Ujarnya kesal. Arsya memegangi perutnya dan meringis.
"Iya, aku juga serius."
Anna mendesah pelan.
Mobil dijalan melaju dengan kecepatan sedang. Di depan dan di belakang ada pengawalan. Mobil berkonvoi menuju sebuah hotel. Danni sudah mereservasi sebuah kamar presiden suit room sementara dia berada di kamar VIP.
Dalam beberapa menit, konvoi telah tiba di sebuah hotel. Danni mengambil pas pintu. Para pengawal segera menurunkan koper mereka. Lalu membawanya ke lantai paling atas.
Di dalam ruangan sempit itu ke empat pengawal berjaga di samping depan, kanan dan kiri. Arsya dan Anna berada di belakang mereka. Sementara Danni berada di samping kanan Arsya.
"Presdir, aku menemukan, jika Nyonya Anita sedang berada di perusahaan tuan Albert." Arsya mengerutkan keningnya dengan heran.
"Untuk apa dia kesana?" tanya Arsya.
"Belum tau. Aku akan segera menyelidiki lebih jelas apa tujuan nyonya Anita." jawab Danni.
"Hem."
Sampai di depan sebuah pintu yang memiliki nomer 1290, Danni segera membuka kunci pas. Pintu segera terbuka. Danni mendorong pintu ke dalam dan membukanya dengan lebar. Mempersilahkan presdir Arsya dan nona Anna masuk ke dalam.
"Silahkan presdir." ungkapnya dengan tangan mempersilahkan.
Arsya dan Anna masuk ke dalam kamar. Danni meletakkan kunci pas pada sebuah kode dan lampu segera menyala. Saat lampu menyala, Anna terkejut. Ruangan ini sangat luas sekali. Ruangan ini juga sangat mewah.
Arsya melepas mantel luarnya dan meletakkannya di sandaran sofa. Sementara Danni segera keluar dan menutup pintu.
Arsya menyusul Anna. Tampak terlihat jelas jika Anna sangat terkagum pada bangunan itu.
"Apa kau menyukai ruangan ini?" tanya Arsya membuyarkan rasa kekaguman Anna.
"Ya. Ini seperti desain romawi kuno."
"Benar." sahut Arsya. Ia juga tersenyum kecil. "Sekarang aku mau pergi mandi. Aku sangat lelah." Ucap Arsya. Anna mengerucutkan bibirnya dengan kesal.
Pria itu melenggang pergi begitu saja. Sementara Anna langsung merangkak naik ke atas ranjang. Dia juga sangat lelah dan mengantuk.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian. Arsya keluar dengan berbalut handuk kimono. Ia mengusap rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Ia berjalan mencari keberadaan Anna. Tetapi setelah ia mencari keluar, dia tidak menemukannya. Saat menoleh pada sebuah gundukan selimut ia tersenyum kecil.
Ia berjalan ke sana dan menarik selimut sedikit ke bawah. Terlihat rambut yang berwarna pirang di atas bantal. Juga mendengar dengkuran halus dari dalam selimut.
"Cepat sekali tidurnya." gumamnya pelan. Arsya kemudian pergi dari kamar itu. Lalu membuka pintu yang menghubungkan dengan balkon. Dia kemudian mengeluarkan sebatang rokok dan merokok di sana.
Saat di keesokan harinya. Anna terbangun. Ia merasa linglung ketika dirinya menemukan ia tidur bukan di kamarnya. Ia menoleh ke sana kemari dan mencari apapun untuk bisa mengenali daerah itu. Namun pikirannya tiba tiba teringat jika saat ini ia sedang berada di hotel. Ia lantas tersenyum.
"Sudah bangun." sebuah suara yang dalam membuatnya menoleh.
"Arsya!" ia terkejut kala menemukan Arsya yang sudah duduk dengan pakaian rapi sedang memangku laptop sambil menatapnya.
Ia buru buru melihat jam pada ponselnya. Ia membulatkan mata ketika sudah menunjukkan jam sebelas siang. Ia tersenyum canggung sambil menggaruk kulit kepalanya yang memang terasa gatal.
"Ternyata sudah siang." ia sangat malu karena bangun terlalu siang. Ini pertama kalinya dia bangun kesiangan.
"Pergilah mandi. Aku akan mengajakmu ke sebuah tempat dan bertemu seseorang."
"Siapa?" tanya Anna penasaran.
"Nanti bukan kejutan jika aku memberitaumu sekarang." Ujarnya.
Anna mengerucutkan bibirnya. Kemudian berlalu masuk ke dalam kamar mandi. Dalam waktu sepuluh menit ia sudah selesai mandi dan keluar sudah dalam keadaan pakaian ganti.
Arsya mendongakkan wajahnya ketika Anna keluar. Ia menarik sebuah kursi yang berada di dapur bar yang berada di dalam ruangan itu.
"Ayo kita makan." Ucap Arsya. Anna melangkahkan kakinya ke sana dan duduk pada kursi yang di tarik Arsya. Sementara Arsya duduk di sebelahnya.
Di atas meja itu sudah tersedia makanan mewah di hidangkan di sana.
Nafsu makan Anna semakin bertambah ketika dirinya hamil. Arsya merasa senang melihat Anna yang begitu lahap menghabiskan makanannya.
Setelah selesai makan, mereka berdua keluar dari kamar hotel dan bersiap pergi ke sebuah ladang anggur. Di bawah hotel. Bersiap tiga mobil yang akan mengantarkannya mereka ke sana.
Iring iringan mobil meninggalkan pelataran hotel. Butuh beberapa jam hingga sampai di sebuah ladang anggur. Anna menikmati setiap perjalanan menuju ladang yang di maksud Arsya. Jadi ia lebih banyak melihat keluar jendela.
Setelah beberapa jam. Akhirnya mobil terhenti. Arsya segera turun dari atas mobil dan di sampingnya Anna segera mengikuti. Saat turun dari atas mobil. Angin sepoi menerpa wajahnya. Udaranya sangat sejuk. Anna mengulas senyum dan merasakan angin itu dengan mata terpejam.
Linda yang menyadari ada suara mobil terhenti, ia menolehkan kepalanya. Saat melihat siapa yang datang. Ia tersenyum lebar. "Arsya!" lirih Linda.
Mendengar suara yang tidak asing bagi indra pendengaran Anna. Ia segera membuka matanya. Saat ia melihat Linda yang sedang berjalan menghampirinya, ia hampir tak percaya. Linda mendekatinya dengan senyum merekah di wajahnya.
__ADS_1
"Linda!" gumam Anna pelan sambil menatap Linda dengan tatapan terkejut.