Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Bab Enam Puluh Tujuh


__ADS_3

Hati Arsya berkecamuk. Pria itu terus merenung dalam kesunyian malam. Mengapa dia lebih memilih Villa di sekitar pegunungan dan hutan. Karena pria itu lebih senang dengan kesunyian.


Sebuah nama Jo terpampang jelas di layar. Arsya berbalik dan mengangkat telepon.


"Hm."


"Tuan muda, saya telah menemukan pria yang menyuruhnya. Dia adalah Ardan preman pasar. Dia menginginkan keberadaan wanita yang tempo hari kita siksa."


Arsya mengerutkan keningnya. "Apa hubungannya dengan perusahaan Wiliam?"


"Tidak ada. Pria itu adalah pacar wanita itu. Dia ingin membalas dendam wanita itu. Makanya dia ingin mengulik kehidupan tuan. Tuan, apa yang harus kita lakukan sekarang?"


"Habisi mereka jangan sampai ada yang tersisa."


"Baik."


Setelah perintah itu dilontarkan Jo segera menutup telepon. Arsya meletakkan kembali ponselnya. Ia membuka laptop dan kembali bekerja.


Saat tengah malam ia baru kembali. Bukan ke kamar utama. Tetapi ke kamar di sampingnya yang di tempati Anna. Saat memutar knop pintu, ternyata pintu itu sulit di buka. Anna telah menguncinya dari dalam. Mungkin ia sangat jengkel dengan sikap Arsya sehingga gadis itu tidak ingin bertemu Arsya.


Sementara Anna berjalan mondar mandir di dalam kamar. Ia sudah menata pakaian yang ia perlukan seadanya ke dalam tas jinjing. Jika ia menggunakan koper akan sangat kesulitan bila keluar kamar melalui balkon. Karena ia akan melarikan diri melalui melompat dari balkon.


Entah kenapa dengan cara seperti ini, agar ia bisa lari dari villa ini. Hanya tinggal menunggu pengawal berganti sip. Maka dia bisa berlari keluar dengan aman. Dengan bantuan Erka, mungkin jejaknya bersama Leya akan terhapus. Tidak ada yang tau jika Ia begitu erat berhubungan dengan Erka.


Arsya kembali menuruni tangga. Menuju ke ruangan televisi. Ia tidak bisa tidur jika tidak bersama Anna. Jadi ia menyalakan televisi. Ricky segera mendekat.


"Tuan muda. Mau saya seduhkan kopi atau teh." Tanya Ricky.


"Teh, saya ingin minum teh saja." Sahut Arsya.


"Baik."


Ricky segera memerintahkan pelayan di dapur menyiapkan teh lalu menyajikannya ke hadapan Arsya juga roti sebagai teman camilannya.


Ricky melambaikan tangannya kepada pelayan agar segera menyingkir setelah menyajikan teh di atas meja.

__ADS_1


"Tuan muda, nona Linda setiap hari membuat keributan di rumah ini. Sebenarnya..."


"Kau tak tahan dengannya?" Lanjut Arsya.


Ricky terdiam dan menundukkan kepalanya tak berani bicara. Ia hanya ingin mengatakan jika setiap hari nona Linda selalu berdebat dengan siapapun dan sudah memecat dua pelayan sekaligus.


"Tidak seperti itu tuan. Maafkan saya telah salah bicara."


"Hem. Lebih baik kau segera pergi dari sini." ujar Arsya membuat gestur tangan.


Ricky membungkuk dan pergi dari sana. Arsya menyandarkan punggungnya di sandarana sofa. Menyalakan televisi yang sedang menyiarkan tentang kenaikan saham akhir tahun ini.


Di luar halaman, pengawal mulai berkurang dari penjagaan. Karena pergantian sip. Anna segera mengangkat tas jinjingnya dan melemparnya ke halaman melalui teras balkon. Entah kenapa dia tampak seperti maling di rumahnya sendiri.


Anna mendumel pelan karena kesal akan sikap Arsya yang tak memperbolehkannya keluar dari rumah ini. Padahal sudah jelas. Posisinya sudah tergantikan tanpa sepengetahuannya. Apalagi nikah kontraknya telah berakhir setelah surat cerai itu keluar.


"Aku bersumpah, suatu saat kau akan menyesal karena membawa wanita ular ke dalam. Dan kau akan bangkrut. Oh tidak, jika dia bangkrut bagaimana dia hidup nanti. Aih, persetan kenapa aku malah memikirkannya. Ah sial. Kenapa aku tak bisa melupakannya. Aih...."


"Anna!" lirih Erka melalu balik tembok pagar di tepi hutan. Ini adalah jalan satu satunya yang terlepas dari cctv.


"Cepat! Disini banyak singa yang mengaung. Jika kau tak segera keluar. Aku bisa di mangsa binatang buas ini tanpa ampun." Ujar Erka.


"Astaga, Erka. Kenapa kau mengambil jalan di sana. Lewat gerbang depan saja. Bagaimana aku melompati pagar setinggi ini." Ujar Anna kesal dengan Erka.


"Bodoh! Aku akan cepat mati jika terang terangan di depan gerbang. Aku masih sayang dengan nyawaku." Balas Erka


"Aish, menyebalkan sekali. Aku sudah keluar di teras. Tinggal turun. Tapi aku takut." Ujar Anna.


"Bodoh, kau jangan turun. Tapi kau harus melompat ke pohon di seberangmu." Arahan Erka.


"Hah." Anna menoleh mencari pohon yang tak jauh dari kamarnya. "Pohon ini, bagaimana aku melompat. Kau gila. Aku tak mau mati muda melompati pohon."


"Cari papan atau apapun."


Anna kembali masuk ke dalam kamar, mencari bahan apapun yang bisa menjembatani ke pohon besar. Tidak ada apapun yang bisa menolongnya. Ia kembali keluar dengan panik.

__ADS_1


"Aku tak menemukan apapun hanya ada kain panjang." ujar Anna.


"Sudahlah, apapun kau bisa pergi dari sana. Singa singa itu segera mendekat."


Anna menjadi semakin panik. Ia meraih apapun. Ia sedikit berjinjit dan menatap ke bawah. Penjagaan hanya tinggal dua orang dan orang itu membelakangi. Ia mengaitkan kain panjang di pagar besi dan melemparkan sisa kain yang ia ikat dengan gulungan besar ke atas pohon. Sepertinya kain itu telah terkait karena saat ia tarik sudah tak bisa lagi kembali. Anna menghembuskan nafas panjang hingga akhirnya ia bisa berjalan merangkak sampai di atas pohon.


Hanya tinggal saatnya ia melompati pagar. Anna kembali berdecak. Pagar ini begitu banyak jaring besi yang lancip.


"Aih, Erka. Aku takut melompat. Di pagar itu ada banyak besi." lirih Anna.


"Shhhhttt shhhhtttt." Terdengar ada yang memanggil dari arah belakang. Ternyata itu adalah Erka.


"Kau."


"Sudah. Cepatlah. Gunakan papan ini. Aku akan menangkapmu." sahut Erka tanpa memberi ruang kepada Anna untuk bicara. Ia kehabisan waktu jika saja para pengawal sadar akan kedatangannya.


"oke." Anna segera melomapt dan sebentar lagi akan sampai dihadapan Erka.


Arsya menyadari di halaman terdengar suara bising yang teramat jelas. Ia kembali membuka matanya. Lalu melihat melalui jendela. Tidak ada apa apa di sana. Atau mungkin para pengawal sedang mengobrol karena pergantian berjaga. Ia kembali menoleh ke arah televisi yang masih menyala lalu mematikannya.


"Erka!" Lirih Anna.


"Diam bodoh, nanti kita ketahuan jika kau terus bicara."


"aih, bagaimana aku tidak. Oh tidak Erka papan ini membuatku semakin merinding."


"Sudah. Cepatlah!" Erka tak bisa lagi menunggu.


"kriek." terdengar papan tipis itu hampir patah.


"Cepat--cepat." Erka mengulurkan tangannya.


Sementara Arsya mendengar suara itu semakin keras. Ia tak bisa diam saja. Jadi ia berjalan menuju ke jendela dan menariknya hingga terbuka.


Anna akhirnya bisa meraih tangan Erka dan keluar dari pagar. Sementara Arsya menatap keluar jendela. Ia tidak menemukan apa apa selain penjaga itu kembali dengan yang lain. Ia juga mendongakkan wajahnya, ia tak menemukan apa apa. Mungkin hanya perasaannya saja.

__ADS_1


__ADS_2