Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Part 53


__ADS_3

Semua kesaksian yang diberikan Arsya sudah selesai. Tepat saat itu Anita datang. Dia tersenyum cerah dan menyapa Arsya.


"Arsya!" Anita mengernyitkan dahinya.


Arsya dengan muram memandang Anita. "Masuklah, polisi menunggu anda di dalam."


Kemudian Arsya berlalu. Anita melirik punggung lebar itu melintasinya. Saat berada di dalam, Ada sepuluh orang meringkuk di dalam sel. Sementara Arin memandangnya penuh harap agar bisa menyelamatkannya.


"Nyonya Anita silahkan!" seorang polisi wanita menegurnya. Anita mengalihkan pandangan dan duduk di depan pak polisi.


Sementara Arsya kembali ke rumah sakit, sampai di sana hari semakin siang. Saat membuka pintu. Anna sudah sadar. Dia menatap Anna dengan kesedihan yang mendalam.


Anna duduk termenung di atas brankar dengan wajah bertumpu pada lutut yang tertekuk. Dia menatap kosong ke arah luar jendela. Pandangannya seperti orang linglung. Ada tetesan air yang keluar dari pipinya. Melihat pemandangan ini Arsya merasakan sakit lebih dari apapun.


Terdengar langkah kaki yang menapak di atas keramik. Anna dapat merasakan kehadiran seseorang. Dia menoleh dan memandang. Tiba tiba tubuhnyamenyusut. Dia gemetaran.


"Jangan kesini!" pekiknya dengan histeris. Seketika langkah Arsya terhenti. Wajah Anna menunduk dalam, tangannya terlipat di atas lututnya. Dia bergidik sangat ketakutan.


"Anna! Ini aku! Suamimu!"


"Jangan kesini! Pergi!" Anna menjerit mengusir siapapun. Dia merasa takut. Dia merasa sangat trauma saat di sekap. Jadi dia tidak mengenal siapapun.


Tanpa sadar air mata Arsya menetes. Dia ingin mengulurkan tangan untuk mengelusnya. Memberinya rasa aman dan juga rasa perduli yang tinggi. Tapi sayangnya Anna tidak mau bertemu dengannya.


Arsya membalikkan badannya dan keluar.


Di luar ada lima pengawal yang terus berjaga. Dia memerintahkan kepada pengawal itu untuk terus berjaga sepanjang hari.


Arsya berjalan di sepanjang koridor, tetapi langkahnya seakan goyah. Dia tidak mampu menahan, akhirnya di pergi ke pintu darurat dan duduk di tangga. Menyalakan rokok yang dijepitkan dikedua jarinya. Dia seakan menekan rasa sakitnya dengan menghisap rokok.


Dia tidak bisa menahan rasa sakit yang diderita oleh Anna. Tanpa sadar ia menjadi goyah.


Saat ini Danni menunggu dengan cemas ketika dia tidak menemukan Presdir di manapun. Dia memerintahkan kelima pengawal yang lain untuk pergi mencarinya. Tepat saat mereka pergi, Danni melirik pintu darurat sedikit terbuka.


Ia curiga jika saat ini presdir berada di sana. Dia berjalan pelan ke sana. Lalu mendorong pintu hingga terbuka. Saat menoleh, ia menemukan presdir duduk termenung ditangga.


Asap rokok mengepul ke udara. Matanya terlihat merah. Arsya melirik Danni yang tengah mencarinya. Saat melihat Arsya baik baik saja, dia merasa lega.


"Aku ini pria yang payah." Arsya mengeluh sambil menghisap rokok. Lalu asap kembali menyembul ke udara saat Arsya meniupnya.


"Sewaktu muda, aku membiarkan orang yang aku cintai dibunuh orang. Dan kedua kalinya aku tidak melindungi orang yang seharusnya aku lindungi."


Setelah itu, ia melirik Danni yang tengah berdiri diam sembari menundukkan kepalanya dengan dalam.


Arsya tertawa kering lalu mematikan puntung rokok yang habis terbakar setengah.


"Danni. Pergilah urus masalah ini dengan benar. Anita adalah orang yang ambisius. Sepertinya dia telah berencana untuk menghindari masalah ini dan menumbalkan Asistennya."

__ADS_1


"Ugh." Danni tertegun. Sepertinya dia hampir melupakan masalah soal Anita ini.


"Baik." Danni pun langsung pergi.


Arsya menghela nafas setelah kepergian Danni. Arsya mengeluarkan ponselnya lalu menelepon seseorang. Setelah mengucapkan beberapa kata, ia pun memutus sambungan dan kembali menyimpan ponselnya ke dalam saku celananya.


Dia kembali ke bangsal. Di dalam bangsal Anna sudah tertidur. Anna baru saja selesai meminum obat. Mungkin karena pengaruh obat dia telah tertidur.


Arsya berjalan ke kursi yang berada di samping ranjang. Membelai rambut yang berwarna pirang yang kini telah sedikit memanjang. Dia sudah dua malam tidak tidur rasa kantuk mulai menerpa. Melihat Anna yang kini telah terlelap. Ia pun perlahan tertidur dengan kepala bertumpu pada ranjang sambil satu tangannya menggenggam tangan Anna dengan erat.


...****************...


Anita keluar dari kantor polisi setelah setengah hari menghabiskan waktunya hanya dengan sebuah pertanyaan. Dia akhirnya mampu meluluhkan polisi meski banyak bukti yang diajukan oleh Arsya. Tapi nyatanya semua bukti bukti malah mengarah kepada Arin karena semua yang melakukannya adalah Arin. Anita hanya memberinya perintah tanpa ikut campur tangan.


Tubuh Arin merosot ke bewah ketika apa yang ia dengar dari Anita bukan membelanya malah menjebloskannya ke dalam lubang yang besar. Dia tak bisa berkata apa apalagi selain menerima hukuman selama 20 tahun di dalam penjara.


Dia telah menghabiskan waktunya selama sepuluh tahun terakhir bersama Anita. Dia menghabiskan masa mudanya demi melayani Anita. Tetapi sekarang masa masa itu telah hilang. Dia harus mendekam di dalam penjara hanya dengan kesalahan Anita yang kini telah berlimpah kepadanya.


Arin meneteskan air matanya. Bahkan selama sisa hidupnya ia tidak mengenal orang terkasihnya. Bahkan di waktunya yang terakhir ia harus menjalani hukuman yang bertahun tahun di dalam penjara bersama tawanan lainnya.


Ketika hari itu tiba. Arin tidak mempunyai semangat hidup lagi. Di dalam hatinya tersimpan sebuah kebencian kepada waktu yang menenggelamkannya hanya karena tergiur dengan uang serta kemewahan yang telah ia dapatkan selama bertahun tahun. Dan pada akhirnya semua itu sirna. Bagai di telan bumi yang tak tersisa.


Dan kini apa yang dilakukannya terhadap Anita hanya berakhir sia sia.



Ia bernafas lega, dia melihat Anna tengah berdiri memandang angin malam sendirian. Dia terlihat mendongak ke atas langit dengan cahaya bulan yang menerangi.


Wajahnya yang putih tampak bersinar cerah memancarkan kecantikannya yang alami. Arsya memandangnya dengan penuh kekaguman. Ini pertama kalinya dia melihat Anna yang mempesona bagai air yang jernih di malam hari.


Namun pesona itu menyadarkannya tentang rasa sakit yang di alami Anna. Ia pun ingin melangkahkan kakinya ke sana. Namun pikirannya menghentikannya. Ia takut kehadirannya akan mengingatkannya pada hari di mana setiap hari ia disekap. Akhirnya Arsya mengurungkan niatnya untuk menghampirinya. Dia pun hanya berani memandangnya dari samping.


Saat ini, Anna telah merasakan cahaya bulan di malam hari yang indah. Suasana malam semakin dingin. Ia pun tak tahan dengan rasa dingin ini.


Arsya melihat Anna yang hendak masuk ke dalam ruangan. Arsya buru buru berbalik dan keluar kamar.


Anna tertegun ketika melihat sebuah bayangan keluar dari kamarnya. Kemudian ia tetap melangkah masuk dan tak lupa mengunci pintu balkon.


Merangkak naik ke atas ranjang dan menyelimuti dirinya sampai sebatas leher. Kemudian ia pun mulai memejamkan mata.


Di luar Arsya terus berjalan di sepanjang koridor. Perutnya yang lapar membuatnya pergi ke suatu tempat. Di tempat itu ia memesan makanan dan kemudian berpikir untuk memesankan bubur untuk Anna namun ia ragu sejenak jika Anna masih merasa trauma dan menolaknya.


Pada akhirnya, ia menenteng sebuah kresek hitam yang berisikan bubur ayam yang ia pesankan tadi. Dia ragu ketika ingin masuk. Dia menghela nafas sejenak lalu tangannya terulur mendorong pintu dan masuk.


Dia diam sambil melangkah. Namun Anna tau akan kehadirannya. Anna membuka matanya dan menoleh.


Arsya sempat menghentikan langkahnya dan mundur selangkah. Dia takut jika Anna akan merasa histeris lagi.

__ADS_1


"Arsya!" suaranya sangat serak.


Arsya hampir saja kehilangan tulangnya ketika namanya disebut. Tanpa pikir panjang ia berlari dan memeluknya dengan erat hingga lupa bahwa Anna yang kurus terlihat kesusahan bernafas.


Dia tersenyum sambil memeluknya tanpa batas. Ia merasa bahagia sampai meneteskan air matanya.


"Ugh." Anna mendorong dada Arsya dengan kuat hingga pria itu sedikit mengendurkan pelukannya.


"Apakah masih sakit?" Dia bertanya sambil memandangnya dengan lekat.


Anna mengangguk. Dia hampir tidak memiliki suara karena terus berteriak. Arsya memandangnya dengan jarak 10 cm. Nafasnya terlihat sangat dekat bahkan mampu ia rasakan pada setiap kulit wajahnya.


"Maafkan aku yang tak bisa melindungimu. Memang benar dengan kata katamu. Hidup disampingku tidaklah aman." dia merasa sangat bersalah.


Anna mengulurkan tangannya lalu mengusap pipi Arsya yang terasa basah hampir mengering. Lalu menggelengkan kepalanya dengan kuat.


"Kau tidak salah. Mungkin ini kecerobohanku. Waktu itu seharusnya aku tidak keluar." Anna memberi penjelasan selama dia masih ingat.


Sssttt....Arsya mengulurkan jemarinya dihadapan Anna dengan telunjuknya. Anna pun terdiam.


"Apa kau lapar?" Arsya tak ingin Anna mengingat kejadian itu lagi. Ia pun mengalihkan topik untuk melupakan rasa sakitnya ketika berada di dalam penyekapan.


Anna mengangguk.


"Aku membelikan bubur untukmu." Arsya membantu Anna duduk sambil bersandar pada heard board lalu mengambil kresek hitam yang berisi semangkuk bubur yang masih panas.


Ia memandang kresek hitam itu lalu tersenyum pahit.


Sambil membuka kresek hitam itu ia teringat pada masa lalunya ketika ia dibelikan sebuah martabak manis berbahan kacang coklat keju untuk pertama kalinya.


"Ini pertama kalinya aku keluar membelikan bubur ayam sendirian." Ungkap Arsya.


"Mmmm..."


Ada rasa yang tak terduga pada sorot mata Anna. Arsya kemudian terkikik dengan suara rendah. "Dan itu mengingatkanku pada awal pertama kau membelikan aku sebuah martabak manis rasa pisang coklat keju."


"Makanlah." Arsya menyodorkan sesuap bubur di depan mulut Anna setelah lama ia meniupnya.


Anna membuka mulutnya dan memakan bubur itu dengan baik.


"Enak?"


"Ya."


Suap demi suap telah masuk ke dalam perut Anna. Kini Anna telah kenyang. Arsya menyimpan bekas bungkus bubur itu ke dalam tempat sampah.


"Tidurlah. Sudah malam. Aku akan menjagamu."

__ADS_1


Anna mengangguk dan berbaring di atas ranjang. Sementara Arsya memilih berbaring di sofa panjang.


__ADS_2