
Saat malam, waktu menunjukkan sudah jam 2 dini hari, Anna terbangun. Ia merasa tenggorokannya kering, saat menoleh air digelasnya ternyata kosong. Terpaksa ia bangun dan pergi ke lantai bawah untuk mengambil air.
Jadi ia pergi ke dapur, mengisi gelas dan minum. Tiba tiba sebuah tangan besar memegang bahunya. Tanpa menoleh, Anna segera menjerit.
"Aaaaa SETAANNNNN!" Pekik Anna dengan memejamkan matanya, ia berjongkok dengan kedua tangan menutupi wajahnya.
Arsya menoleh kebelakang, tidak ada siapapun selain dirinya. Ia mengerutkan kening.
"Setan! Dimana ada setan!" Tanya Arsya dengan suara datar.
"Ah." Anna tertegun. Suara itu sangat familiar di indra pendengarannya. Dengan pelan menyingkirkan tangannya dan mendongak.
Matanya mengerjap beberapa kali. Menatapnya dengan telaten apakah benar dia manusia. Saat itu, Arsya menatapnya dengan penasaran. Bulu matanya yang bergerak gerak membuat wajah Anna semakin imut dan lucu. Dia tidak bisa menahan godaannya kemudian ia berdiri tegak dan berdehem.
"Ekhemmm!"
Anna segera tersadar. "Kamu! Kenapa aku tak mendengar langkah kakimu? Kamu seperti setan." Anna mengumpat kesal dan segera berdiri.
Arsya : ....??
"Lain kali, jangan mengendap endap. Hampir saja aku terkena serangan jantung karena takut." Ucap Anna kembali menuangkan air digelas yang tadi ia gunakan dan meminumnya.
"Lagi pula ini tengah malam, apa yang kamu lakukan didapur. Aku kira kamu pencuri!" Jawab Arsya berbalik dan duduk di kursi meja makan.
"Uhuk!" Dituduh oleh Arsya sebagai pencuri, Anna terbatuk dengan air di tenggorokkannya muncrat keluar.
Arsya yang mendengar suara batukan itu panik dan segera mendekat. "Pelan pelan!" Arsya menepuk nepuk punggung Anna dengan pelan.
Batuk Anna agak mereda, tetapi wajahnya masih terlihat merah. Ia menatap Arsya dengan wajah garang. "Ini gara gara kamu, kamu menuduhku sebagai pencuri."
"Puft." Tanpa sadar Arsya mundur kebelakang. Kemudian ia berbalik dan menuju kulkas dan mengambil air dingin.
"Ya siapa tau, disini rawan pencuri. Aku tidak tau." Dengan acuh Arsya berkata dan menenggak air di wadah botol hingga berkurang setengah.
Kemarahan Anna memuncak karena penuduhan itu tertuju padanya. Hawa panas mengisi ruangan itu, segera tanduk yang panjang dan runcing keluar dari atas kepala.
"Ulangi sekali lagi. Kamu menganggap aku pencuri?" Ucap Anna dengan suara menggebu.
Arsya mengembalikan wadah botol ke dalam kulkas dan menutupnya kemudian berbalik dan keluar dari dapur. "Iya!" Teriak Arsya dari luar dapur. Anna bersungut marah dan berlari mengejar Arsya.
Arsya melangkahkan kakinya dengan lebar tapi santai kemudian masuk ke dalam sebuah kamar utama, Anna dibelakang mengejar tanpa di sangka pintu tertutup tepat didepan wajahnya. Ia terbengong.
"Arsya!" Tubuhnya seolah membesar seperti raksasa. Api kemarahan sudah berada diujung kepalanya. Anna menggulung lengannya ke atas. Dan mendorong pintu itu dengan keras.
"Brukk"
__ADS_1
Pintu tiba tiba terbuka, Tubuh Anna limbung ke depan dan jatuh.
Arsya menatap Anna yang terjatuh.
Arsya : ???
"Kamu kenapa tidur di sana?" Tanya Arsya dengan suara datar dan mengerutkan keningnya.
"Ugh." Anna yang tersungkur dibawah, menatap ke atas. Ia melihat raut wajah Arsya yang datar dan santai membuat dirinya menggertakkan giginya.
Ia sambil terhuyung huyung bangun dari lantai. "Arsya!" Pekik Anna marah.
Dengan cepat maju ke depan, mengambil lengannya dan menggigitnya. Darah segar keluar dari lengan Arsya. Saat ini Anna merasa puas, menatap wajah Arsya yang tetap tegak dan menatap Anna dengan menaikkan alisnya. Membuat Anna bertanya tanya. Apakah tidak sakit. Batin Anna merenung.
Anna mundur ke belakang. Tiba tiba hatinya merasa takut. Anna berlari ke atas ranjang menyibakkan selimut dan menutupi wajahnya.
Bermain main dengan Anna, membuat Arsya semakin terhibur. Saat menaikkan lengannya, ia melihat darah segar keluar dari bekas gigitan gigi Anna. Arsya tercengang.
Dari balik selimut, Anna menggigil. Apa yang akan dilakukan pria itu? Seluruh bulu kuduk Anna merinding.
Arsya menaikkan alisnya, mendekat ke arah ranjang dan naik. Anna terbengong sesaat hingga kemudian ia merasakan seluruh tubuhnya terasa berat. "Ugh."
Arsya menaikkan sudut bibirnya ke atas. "Besok pagi, harus suntik rabies."
Anna menyibakkan selimut, betapa terkejutnya wajah Anna saat wajah Arsya yang berjarak hanya sejengkal. Jantung Anna berdetak tak karuan. Bahkan nafasnya hampir berhenti karena kedekatan Arsya bagaikan sengatan listrik yang tak bisa di Deskripsikan dengan kata.
Anna masih tercengang, saat wajah itu semakin mendekat...mendekat...mendekat dan cup
Sebuah rasa dingin menghinggapi bibirnya. ******* itu sangat lembut bagai bunga persik di musim dingin. Anna terjerumus di dalan kenikmatan duniawi.
Arsya semakin tersenyum dan menikmati setiap inci bibir Anna yang manis dan memabukkan. Tanpa sadar Anna membalasnya dengan proaktif.
Sebuah notifikasi berdering dan masuk ke dalam indra pendengarannya. Anna tersadar dengan suara berisik di sampingnya. Di dalam otak dan pikirannya menjadi kacau dan tak sejalan.
Di otaknya sangat menolak keras akan perbuatannya sementara di pikirannya sangat ingin dan menikmati ciuman yang sangat lembut ini. Tangannya tidak bisa bergerak sama sekali.
Kelopak matanya bergerak gerak. Arsya begitu mendominasi dan aktif dalam mencium bibirnya. Sebuah ide muncul dibenaknya. Kakinya yang terbebas segera memukulnya.
"Duk."
"Ah." Arsya merasakan sakit tak tertahan, ia terpaksa mengakhiri surga dunianya berganti neraka yang menyakitkan.
"Kamu...kenapa memukulku!" Arsya menahan selangkangannya dengan kesakitan menunjuk wajah Anna.
"Itu balasan kamu karena kamu mengambil ciuman pertamaku dan ciuman keduaku." Ucap Anna menjabarkan kekesalannya.
__ADS_1
"Baguslah, jika aku yang pertama dan yang kedua." Arsya tidak bisa menahan rasa bangganya. Meski masih kesakitan ia tidak bisa tidak tersenyum. Dalam hati merasa sangat senang.
"Bagus gundulmu." Anna merasa semakin kesal. Arsya terkekeh pelan.
Saat melirik jam sudah pukul lima pagi, ia merasa sangat mengantuk sekali, ia menguap dan ingin melanjutkan tidur.
"Eh, ngapain kamu?" Tanya Arsya menaikkan alisnya.
"Bobok lah, gara gara kamu aku tidak tidur semalaman." Ujar Anna dan kembali tidur.
Arsya sudah tidak bisa tidur lagi. Jadi ia pergi ke dalam kamar mandi dan mandi. Ia mengecek senjata keperkasaannya dengan teliti. Tidak lecet atau apapun, tapi dari tendangan Anna tadi terasa sangat sakit.
Selesai mandi Arsya buru buru menelepon Danni asistennya. "Selamat pagi presdir?" Danni dibalik telepon segera menjawab.
"Kamu aturkan dokter Angga siang ini!" Perintah Arsya.
"Apakah, anda bermimpi buruk lagi presdir?" tanya Danni dengan hati hati.
"Tidak!"
"lalu."
"Sudahlah, cepat panggilkan atau gaji kamu saya potong." Sela Arsya tak sabar.
Danni dibalik telepon membeku sejenak. Kemudian dengan segera berkata. "Baik."
Telepon tertutup, Danni meratapi nasibnya. "Bertanya apa salahnya, duh gajiku akan tinggal seperempat jika dipotong terus menerus." Danni berkata memegangi wajahnya seakan menangis.
Arsya sudah mengenakan setelan rapi, saat menuruni tangga seperti biasa Ricky akan menyambutnya. "Selamat pagi tuan muda!" sapa Ricky dengan hormat.
"Hem, bangunkan Anna setengah jam lagi. Hari ini, aturkan guru les privat untuk Anna." Perintah Arsya.
"Baik."
Arsya masuk ke dalam ruang makan, pelayan sudah menghidangkan makanan berbagai varian di atas meja. Arsya menyesap kopinya dan setelah itu memulai makan pagi.
Terdengar deringan telepon di samping lengannya, ia melirik ke sana. Ada panggilan empat tak terjawab dari Linda. Setelah beberapa suapan, Arsya menarik tisu dan mengusap sudut mulutnya.
Ia mengangkat telepon. "Halo.."
"Arsya. Semalam kamu kemana? Aku berada dihotel Royal sendirian. Bajuku robek dan aku tidak punya baju ganti." Ujar Linda dengan tergesa.
"Tunggu sepuluh menit aku kesana." Ucap Arsya datar dan mematikan sambungan telepon.
"Ya cepatlah." tepat Linda mengatakannya teleponnya sudah mati. Ia melihat layar. Apakah Arsya mendengarnya atau tidak. Linda mengumpat sangat kesal.
__ADS_1
"Sial, rencanaku semalam sudah gagal. Sekarang tidak akan gagal lagi." Linda bertekat dan mengepalkan tangannya. Tubuhnya telanjang tak memakai sehelai pakaian apapun hanya selimut yang membungkus dirinya.