
"Coba cerita, kok kamu bisa ada di restoran mewah itu?" Tanya leya saat sudah berada di dalam kamar. Keduanya tidur bersisian menatap langit langit kamar.
"Oh itu karena aku ada ketemuan di sana. Dan saat pulang aku lupa gak bawa uang. hehe." Balas Anna memang seperti itu adanya.
"Oh, kirain kamu kerja di sana." Celetuk Leya spontan.
"Enak saja. kurang apa papa sama mamaku sampai aku harus kerja segala." Ucap Anna menimpuk perut leya dengan boneka doraemon yang ia peluk. Leya pun terkekeh.
"Iya deh...iya. Terus kamu kemana selama dua minggu ini?" tanya leya penasaran.
"Oh itu aku pergi ke desa gahar buat pemulihan." Ucap Anna memang tadinya tidak berniat buat pemulihan kakinya melainkan kabur dari pria yang ia anggap sebagai suaminya itu. Tapi pada akhirnya ia bisa berjalan lagi dan melakukan pemulihan.
Leya pun percaya dengan cerita Anna. sejak kembali ia sudah meninggalkan kursi rodanya. Leya tidak lagi menanyakan yang lainnya.
"Ya udah, lebih baik kita tidur aja. udah malam." Ucap Leya membenarkan selimutnya.
*
*
*
Arsya berada di dalam ruang kerjanya dengan meneliti beberapa dokumen. Terdengar dari luar ada langkah yang semakin mendekat kemudian mengetuk pintu.
"Masuk!!" Ucap Arsya dingin.
Seorang pria dengan baju serba hitam masuk. Dia berdiri tak jauh dari tempat Arsya duduk.
"Katakan!" Ucap Arsya tanpa basa basi.
"Nona muda berada di kediaman Tuan Bagaskara. Putrinya bernama Leya putri Bagaskara merupakan teman sekolah nona muda." Ujar pengawal itu memberikan informasi.
"Ya." jawab Arsya. "Kalian lanjutkan untuk mengawasi nona muda jika kalian lengah maka aku tidak segan untuk mematahkan kakimu." Ucap Arsya penuh ancaman.
"Baik tuan muda." Pengawal itu melesat pergi dan tak lupa menutup pintu dengan rapat.
Arsya menutup dokumen terakhir karena lelah. Ia memijat pangkal hidungnya setelah melepas kaca mata yang ia kenakan.
Terdengar suara ketukan di pintu dari luar. "Masuk!" Ucap Arsya datar.
Saat pintu terbuka seorang wanita memperlihatkan kaki putihnya dan berjalan masuk membawakan nampan yang terisi pil obat dan segelas air putih.
"Jangan terlalu lelah." Ucap wanita itu. --Linda.
"Linda, kapan kau datang?" Tanya Arsya.
Linda tersenyum dan meletakkan nampan di depan Arsya. "Siang tadi."
Arsya meraih pil itu lalu menelannya kemudian minum air hingga setengah gelas. Lalu meletakkan kembali gelas itu di atas nampan.
"Kamu tau penyakitku?" Linda mengangguk.
"Tadinya aku mau memberi kejutan buat kamu, dan saat mau masuk ada pelayan yang membawakan obat. Jadi sekalian aku bertanya dan membawakan untukmu." Ujar Linda.
"Oh."
"Kamu terlalu lelah. Istirahatlah!, oya, aku lihat ada tante dibawah. tante sudah lama kembali? Kenapa aku tidak tau."
"Ya. dia kembali dua pekan yang lalu. Aku terlalu sibuk jadi tidak bisa memberitaumu."
"Oh," Linda mengangguk.
"Ini sudah malam, kamu kembalilah." Ucap Arsya.
Arsya berjalan keluar dari ruang kerjanya, Linda berjalan mengikuti. Saat Arsya menuju kamarnya, Linda memanggil pelayan agar mempersiapkan kamar tamu untuknya.
__ADS_1
Arsya mengerutkan kening. kemudian berbalik menuju ruang bawah menemui Hanis dan juga Linda yang tengah bergabung bersamanya.
Saat di pagi hari Anna terbangun. Saat membuka mata ia mendapati kamar itu sangat asing baginya. Tapi di detik berikutnya ia mengingat kejadian semalam.
Ia menoleh ke samping. Leya tertidur pulas dengan air liur yang menetes. Ia tersenyum kemudian bangkit dan masuk ke kamar mandi.
Ia menghabiskan sepuluh menit untuk mandi. Saat keluar Leya sudah duduk di tepian ranjang dengan malas.
"buruan mandi!" Tegur Anna yang masih mengenakan wardrob milik Leya.
"Iya."
Seusai mandi, Leya ternganga saat penampilan Anna sudah cantik mengenakan seragam miliknya. Untungnya Leya mempunyai 3 Salinan seragam. Jadi ia tak perlu repot jika salah satu pakaiannya basah atau belum dicuci.
"Wuahh. Kamu semakin cantik aja." Puji Leya.
"Kamu juga cantik." Balas Anna tersenyum.
Leya segera mengganti pakaiannya dengan seragam putih abu seperti yang dikenakan Anna. Setelah siap, Keduanya menuruni tangga.
"Pagi, ma, pa." Sapa Leya saat memasuki ruang meja makan.
"Hai sayang." Balas Papa dan mama Leya.
"Pagi om, tante." sapa Anna di kemudian.
"Loh Anna," Mama Leya kaget saat ada kedatangan Anna sepagi ini.
"Begini ma, semalam Anna menginap disini." Ujar Leya menjelaskan.
"Oh,," Mama Leya manggut manggut dan tidak menanyakan hal lebih lainnya.
Mereka berempat pun menghabiskan sarapan mereka dengan berbagai banyak cerita. Seusai sarapan Leya dan Anna pergi ke sekolah menggunakan motor matik.
"Lets gooo!" Balas Anna yang duduk di boncengan belakang.
Saat diperjalanan, Leya merasa ada yang mengikutinya dari belakang. Ia mengernyitkan kening, perasaannya menjadi takut.
"Anna, pegangan yang erat!" Ucap Leya sembari berteriak kencang.
"Jangan kebut kebutan, ingat pesan om dan tante." Ucap Anna mengingatkan.
"Tapi ini urgent. di belakang ada mobil mengikuti kita." Balas Leya memberitau.
Anna menoleh ke belakang dan benar saja ada dua mobil yang mengikuti dari belakang. Akhirnya Anna pun berpikir sama dengan Leya, Anna mengerti sekarang. Ia pun segera mengeratkan pegangannya.
"Ayo gas yang bener Leya." Ujar Anna.
Leya menarik nafas panjang sebelum akhirnya ia menarik gas motornya lebih kencang. Aksi kebut kebutan di jalan mulai beraksi. Leya adalah pembalap yang handal di arena. Tetapi di jalan umum dia menjalankan motornya dengan kecepatan biasa.
Tetapi pengecualian untuk hari ini, Ia harus mengeluarkan bakatnya di tempat umum seperti ini.
"Untung aku adalah pembalap nasional. Jadi mereka tak akan sanggup mengejar." ucap Leya bangga.
"Ah, sial kita kehilangan jejak!" Ujar salah satu pengawal yang ditugaskan Arsya untuk mengawasi Anna.
Motor matik leya pun sudah memasuki parkiran bawah tanah. Anna gemetar sampai mengeluarkan keringat dingin di dahinya. bahkan kakinya hampir tidak mampu bergerak.
"Na, kamu masih hidupkan?" Anna yang sedari tadi gemetaran langsung menatap tajam ke arah Leya.
Leya bergidik. Sepertinya Anna sangat marah kepadanya. "Masih berani bertanya?" Ucap anna ingin sekali memukul kepala temannya itu.
Leya mengeluarkan jurusnya, Ia meringis dengan memperlihatkan gigi depannya dibarengi dua jari berbentuk V.
"Sorry!" Ucapnya meminta maaf.
__ADS_1
"Hampir saja jantungku mau copot. Tapi enggak jadi. kamu ngebutnya selip sana selip sini. kamu ini memang pembalap tapi itu jalanan umum. bahaya tau." Ucap Anna memarahi leya.
"Iya--iya, lain kali bawa mobil." ucap Leya spontan.
Anna saking gemasnya langsung menepuk bahu Leya keras.
"Aw!" pekik Leya.
"Gak kapok ya kamu." Ucap Anna.
"Iy--iya ampun bos." Ucap Leya.
Keduanya pun naik ke atas menggunakan lift menuju lantai empat.
Tepat jam 12 siang Bel istirahat berdenting.
"Huah! akhirnya selesai juga." Ucap Leya merenggangkan otot di tubuhnya yang terasa kaku karena duduk terlalu lama.
"Yuk kantin, aku laper!" Ajak Anna.
"Yuk, Aku juga laper."
Keduanya pun keluar dari kelas dan menuju kantin yang berada di lantai bawah.
"Kamu pesen apa? Biar aku pesenin." Ucap Leya bersiap menuju kounter kantin yang antri panjang.
"Bakso dengan sambel yang puedes. Minumnya es jeruk yang manis.." Ucap Anna.
"Oke. tunggu aku kembali nona cantik." Balas Leya tersenyum.
"Siap bu presiden, sekalian kamu yang bayarin ya." Balas Anna.
Leya pun mengangguk. Anna mencari duduk yang masih kosong. Dan yang kosong hanya berada di pojokan. Anna menapakkan kakinya kesana.
Tepat dia duduk, seorang lelaki juga duduk di sana. "Eh, kita makan bareng disini boleh kan?" Tanya pria itu.
"Oh, iya ga pa-pa kok lagian bangkunya masih ada yang kosong. kita cuma berdua doang." Jawab Anna.
"Terima kasih. Ngomong-ngomong Aku Daren. Dua belas Ipa A 2. Kamu?" Ucap pria itu seraya menjulurkan tangan kanannya.
"Anna Anggitasari. Dua belas Ipa A1." Balas Anna membalas jabatan Lelaki itu yang bernama Daren.
"Wah, tangan kamu halus sekali." Ucap Daren saat merasakan kulit halus Anna dan memujinya.
Anna segera menarik tangannya, dan kebetulan Leya datang membawa nampan yang berisi dua mangkok bakso dan es jeruk dua.
"Hello, makanan datang!" Pekik Leya seraya meletakkan nampan di atas meja. Anna segera meraih mangkok bakso dan es jeruk dihadapannya.
"Makasih ayang." Ucap Anna.
"Ya ayang." Jawab Leya.
Leya pun duduk di samping Anna, seketika ia melihat Daren yang duduk dihadapannya ia terkejut. "Daren!" pekik Leya.
Daren melambaikan tangan dengan tersenyum. "Astaga, kamu kapan kembali?" Tanya Leya dengan antusias.
"Jadi kalian udah kenal toh?" Tanya Anna dengan ekspresi terkejut. Darena hanya mengangguk membenarkan ucapan Leya.
"Dia teman sekelasku waktu di Sd. gak nyangka kita bakal ketemu lagi. " Ucap Leya menjelaskan sekaligus terharu.
"Ya, dan saat lulus aku pindah keluar kota dan sekarang papa-ku ditugaskan disini lagi." Ucap Daren melanjutkan cerita Leya.
"Ya, seperti itu." Leya membenarkan dengan mengangguk anggukan kepala.
"Oh." Jawab Anna.
__ADS_1