Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Part 57


__ADS_3

Terdengar sebuah dering telepon masuk ke dalam ponsel Anita. Anita mengernyit ketika sebuah nama yang telah lama tidak ia temui selama berada di indonesia. Dalam hati sangat terenyuh. Kemudian mengangkat telepon dengan segera.


"Bryan." Suaranya yang alami terdengar lembut seperti seorang ibu dengan penuh kasih.


"Mama. Aku butuh dana secepatnya. Kalau tidak hidupku tidak bisa lagi di selamatkan. Dalam semalam semua proyekku dibatalkan. Dan perusahaanku di ambang kehancuran." Bryan berkata dengan tergesa. Dia sudah tidak memiliki jalan lagi dalam keadaan yang seperti ini.


Anita tertegun dengan mengerutkan alisnya. "Apa yang terjadi?"


"Belum di selidiki. Tapi itu tidak penting, segera kirimkan dana. Aku butuh 1 triliun." ucap Bryan.


"Satu triliun? Bahkan mama tidak mempunyai uang sebanyak itu. Ini...." Anita mengertakkan giginya. Siapa yang berani menyentuh putranya hingga seperti ini.


"Bryan..." Anita baru saja akan menasehati Bryan tetapi Ucapannya di sela lebih dulu oleh Bryan.


"Ma... Mama baru saja mendapatkan saham lima persen dari kakek. Bisakah mama memberikannya padaku. Aku benar benar butuh uang sekarang."


"Ini..."Anita terganggu dengan permintaan Bryan. Baru sehari ia pergi ke Amsterdam bahkan negosiasi bersama tuan Albert belum di mulai. Sepertinya rencana untuk menyingkirkan Arsya harus di tunda. Dia menggertakkan giginya.


Belum sampai sebulan ia menduduki jabatan sebagai pemegang saham. Tetapi dia juga tidak mungkin membiarkan Bryan mengalami kehancuran. Dan masalah mulai muncul.


'Bagaimana ini?' dia merasa bingung.


"Mama. Apakah masih di sana?" Suara Bryan menyentaknya untuk kembali ke akal sehatnya.


"Bryan. Bagaimana jika meminta bantuan kakek. Mama tidak mungkin memberikan saham itu kepadamu begitu saja. Ini adalah pemberian kakek." Ucap Anita mencoba bernegosiasi.


"Ma. Bukankah sama saja aku memintamu ataupun kakek. Itu juga dari kakek. Kenapa mama begitu enggan menolongku. Mama sudah melupakanku? Bagaimanapun jika aku meminta kakek sendiri belum tentu kakek akan memberikannya. dia pilih kasih terhadap aku dan Kak Arsya." Ucap Bryan mendesah pelan.


Pada saat Bryan mengatakan hal ini. Anita baru tersadar. Putranya dan putra kakaknya selalu di bedakan hanya karena Bryan yang tidak cukup pintar dalam segala hal. Dan sekarang dia juga merasa terasingkan. Pada saat ini Bryan tidak memiliki siapapun untuk di mintai tolong kecuali dirinya. Sampai pada saat memikirkan hal ini Anita hanya mampu mengertakkan giginya.


"Oke. Satu jam lagi aku akan mentransfernya. Tapi hanya sebagian." Ucap Anita.

__ADS_1


"Mana cukup ma. Perusahaanku akan di akuisisi jika tidak penuh. Dan aku tidak mungkin meminta Arsya untuk membantuku. Karena dia yang akan mengakuisisi perusahaan aku." setelah berkata demikian Bryan menutup telepon dengan marah.


Anita menggenggam ponsel di telapak tangannya dengan erat sehingga ponsel itu layarnya hingga pecah.


"Sial!" Umpat Anita kesal. Bagaimana pun ia akan kembali besok pagi.


Sementara Arsya tersenyum puas di kursi kebanggaannya. Siapa juga yang memainkan trik ini. Jadi ia hanya mengikuti permainan Anita yang mengatakan sedang petak umpet.


Dia sudah mengancam perusahaannya dengan keselamatan istrinya. Dan ia hanya membalikkan segala perbuatan Anita hanya dengan satu jari.


Tunggu besok pagi, Anita pasti akan kembali. Dan untuk sementara rencana dia untuk membawa Eli datang ke dalam negeri akan tertunda.


Awalnya, Arsya tidak mau menyentuh Bryan sesuai dengan janjinya kepada kakek. Kala itu Bryan merasa di singkirkan karena kakek terlalu menyayangi Arsya yang memang memiliki IQ dan EQ yang tinggi. Jadi ia merasa iri. Sejak saat itu Bryan selalu menghindarinya dan menganggap dirinya bukan saudaranya.


Arsya juga tidak mengambil hati. Dia tetap bersikap acuh dan menjalani kehidupannya sesuai pengaturan kakek. Tetapi karena Anita sudah melakukan perbuatannya terlampau jauh. Mau tak mau dia menyentuhnya. Dia juga akan mengakusisi perusahaannya. dengan seperti itu Anita pasti tidak tega melihat putranya hancur. Apalagi perusahaannya akan di bawah tangannya.


Bisa di pastikan Anita akan menangis darah melihat putranya yang hancur.


"Halo sayang."


"Arsya! Apa kau gila. Kau mengirim lima helai gaun pengantin." terdengar teriakan Anna yang menggema di telinganya sehingga Arsya menutup telinga kirinya dengan satu tangan sambil meringis.


"Sabar sayang. Jangan teriak teriak. Kupingku akan tuli jika kau berkata keras. Bagaimana menurutmu dengan gaun itu?" Arsya tertawa renyah.


"Gaunnya terlalu berat. Dan aku tidak suka memakainya. Lagian ini kebanyakan. Apa kau juga akan memakainya."


"Jika tidak suka. Kembalikan saja."


"Ugh." Anna tertegun. "Bagaimana mungkin dikembalikan dari tokonya sangat sulit membawanya. Jika mengembalikan juga akan sulit." Ucap Anna dengan kening mengerut.


"Kalau begitu kau pilih satu. Dan yang lainnya biar Danni yang mengaturnya." Ucap Arsya. Setelah itu telepon di matikan.

__ADS_1


Pesan sebelumnya yang dikirim Arsya ketika akan masuk ke dalam mobil adalah mengatur sebuah gaun mewah yang mana yang telah dipilih oleh Arsya. Dia tidak ingin pernikahannya yang kedua tidak berkesan sama sekali. Jadi dia mengatur segalanya termasuk dalam gaun dan pesta serta prasmanan juga tempat yang akan dijadikan pelaminan.


Anna di sebrang telepon hanya mampu mendesah pelan. "Dasar orang kaya. Meskipun banyak uang seharusnya tanya dulu apa mauku. Kalau begini kasihan pihak tokonya." dengus Anna.


Di dalam ruang tengah ada lima gaun mewah yang berjajar di sana. Semuanya sangat bagus. Tetapi dia memiliki tubuh yang kecil dan ramping. Jika mengenakan gaun ini bisa di pastikan ia akan terlihat pendek dan terkesan seperti anak tk yang mengenakan baju yang kebesaran. Akan terlihat sebagai badut dan itu tidak lucu.


Anna berpaling dari semua gaun itu dan pergi ke lantai atas. Saat melewati tubuh Dewi. Dewi ingin menegurnya tetapi wajah Anna ditekuk begitu dalam hingga kening Dewi mengernyit.


Tetapi saat langkahnya memasuki ruangan tengah, dia ternganga ketika dia menemukan lima buah gaun pengantin yang berjajar di dalam sana.


"Ini...."


"Mamaaaaa....dimana kunci mobilku?" teriak Anna dari lantai atas.


Dewi mendongak melihat kamar Anna yang berada di lantai atas. Tetapi sebelum pergi, ia melihat gaun gaun itu dan tersenyum.


"Haha, mungkin karena hal ini Anna menjadi marah." Ujarnya pelan diikuti tawa renyah dari mulut Dewi lalu setelah itu ia pergi ke lantai atas dan mengambilkan kunci mobil yang biasa digunakan Anna.



Anita kembali ke indonesia setelah mendapat telepon dari Bryan. Setelah 13 setengah jam berada di atas awan. Ia pun telah sampai di bandara internasional.


Ia mengenakan kaca mata hitam untuk menutupi sebagian wajahnya. Dia keluar dari bandara di kawal oleh beberapa pengawal yang mengelilinginya.


Sedangkan di luar, seorang sopir telah menunggunya.


Di bagian tempat parkiran, ada Rendi yang tengah mengawasi kedatangan Anita. Dan benar saja Anita telah keluar dan memasuki sebuah mobil mewah.


Rendi menelepon Arsya dan memberikan laporan kepada Arsya secara detail. Arsya tersenyum miring sambil menggoyangkan gelas yang berisi anggur.


"Cih, Sepandai pandainya tupai melompat pasti tergelincir juga."

__ADS_1


__ADS_2