Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Bab Dua Puluh Lima


__ADS_3

Sesampainya di Villa, hari sudah malam. Anna bergegas masuk ke dalam kamar. Mandi dan berganti pakaian. Dari luar terdengar suara ketukan pintu.


"Nona, makan malam anda sudah disiapkan. Nona akan makan sekarang atau nanti?" Tanya Ricky dengan hati hati.


Anna segera membuka pintu kamarnya. "Nanti saja."Jawab Anna.


"Baik!" Ricky membungkuk hormat kemudian berlalu.


Anna kembali memasuki kamar pribadinya tak lupa menutup pintu. Kamar ini terlalu besar untuknya. Ia menaiki ranjang dan tiduran di sana.


"Ranjang ini terlalu besar. Tapi sayang sekali Cuma sendirian. Ckckck! Arsya kamu sungguh tega sekali. Kamu selalu keluar buat bersenang senang. sementara aku hanya wanita pengisi rumahmu saja." Gumam Anna bermonolog sendiri.


Tepat di saat ini ponsel miliknya berdering. Dengan malas, Anna menggapai ponselnya yang ia letakkan di atas meja nakas.


"Halo." Ucap Anna malas.


"Aelah Na. Baru jam segini udah tidur."Cibir Leya dari sebrang.


Anna melihat jam tangannya baru jam 8 malam. "Suka suka akulah." Balas Anna sewot.


"Ckckck. Gitu aja marah." Sahut Leya terkekeh geli. "Hm, aku lagi bosan nich." Ucap Leya menyalurkan rasa kebosanannya.


"Ya terus?"


"Gimana kalau kita keluar?" Ide Leya.


"Kemana Leya, ingat besok masih sekolah belum akhir pekan." Ucap Anna mengingatkan.


"Ckckck. Kamu ini terlalu rajin sekali sekarang. Udah ah. Kita ketemuan aja di cafe. Lagian kamu masuk sekolah juga cuman numpang tidur." Ucap Leya di sebrang mengejeknya.


"Sialan kamu. Gak usah kenceng kenceng kali." Jawab Anna.


"Hehehe. ayo buruan. Kita ketemu di Cafe Melodi. Ada kak Erka loh."


"Eh, Erka. Ngapain kamu undang dia?"


"Udah gak usah nanya. pokoknya buruan pergi." Ucap Leya sembari menutup telepon.


Anna mendesah pelan, temen satu-nya ini selalu membuatnya repot. Tapi dari pada dirumah sendiri juga membuatnya bosan. Belum lagi di rumah itu tidak ada yang mau di ajak bicara. Hanya mama mertuanya, tetapi kan dia sudah kembali ke Eropa.


Anna memutuskan untuk pergi. Ia masuk ke dalam walk in closet dan berganti pakaian di sana. Tak lupa mengoles sedikit riasan tipis di wajahnya. Setelah siap ia segera keluar dan menuruni tangga.


Ricky melihat Anna menuruni tangga segera mendekat. Ia berdiri disisi tangga dan menunduk.


"Nona muda!" Sapa Ricky.


"Emh, aku akan pergi ke cafe bertemu teman." Ucap Anna memberi penjelasan meski Ricky tak menanyakan hal itu. Tetapi dia mempunyai tanggung jawab melayani majikannya selama 24 jam.


"Tapi makan malam anda?" Tanya Ricky dengan dahi berkerut.


"Tidak perlu, sepertinya akan makan di luar."


"Baik Nona." Jawab Ricky.


Anna melewati Ricky yang berdiri di tempatnya. Lalu bergegas menuju garasi. kebetulan Pak Jaki sedang meminum kopi di samping garasi. Melihat Anna yang masuk ke garasi. Pak Jaki segera beranjak.


"Nona muda!" Sapa pak Jaki.

__ADS_1


"Pak Jaki, malam ini aku mau pergi ke cafe, tapi ini kan waktu pak Jaki istirahat. Tak apa kalau aku menyetir sendiri saja." Ucap Anna menjelaskan kepada pak Jaki.


Terakhir kali Jaki di marahi habis habisan saat Anna kabur. Kali ini ia tak mau kecolongan lagi. Bukan cuma gaji saja yang ia pikirkan tapi juga takut dipecat.


Dikeluarga Adiyaksa memberi gaji paling tinggi di antara keluarga kaya yang lainnya. Bukan hanya itu saja. Jika sudah dipecat, mereka tak bisa lagi menemukan pekerjaan lainnya.


Keluarga Adiyaksa selalu mempunyai ambisi besar. Mereka tak ingin segala berita tentang keluarganya terekspos keluar. Sebelum masuk ke dalam keluarga Adiyaksa harus melakukan beberapa tes.


"Jangan nona." Ucap Pak Jaki tidak memperbolehkan. Anna mengerutkan keningnya. Kerja Pak Jaki sudah selesai saat menjemput Anna pulang sekolah.


"Tuan Arsya akan memecat saya jika tidak mengantarkan anda. Saya ditugaskan Tuan Arsya menjaga Anda, nona." Lanjut Pak Jaki menjelaskan dari tatapan Anna yang tersirat sebuah pertanyaan.


Mendengar penjelasan pak jaki, kerutan didahinya perlahan memudar. Ia membuka tas slingbagnya lalu menarik dompet kecil yang selalu ia bawa. Lalu mengeluarkan uang berwarna merah sebanyak lima lembar.


"Segini cukup kan?" Tanya Anna seraya menyodorkan uang itu ke hadapan Pak Jaki.


"Bukan masalah uang nona." Pak Jaki melambaikan tangan. "Tetapi sebuah kepercayaan." Jelas pak Jaki.


Anna terharu dengan pemikiran pak Jaki, yang selalu menomer satukan sebuah kepercayaan. Dan bukan hanya uang semata ia bekerja. Anna menyunggingkan senyuman.


"Tidak apa apa, ambilah. Aku bukan menyogokmu karena hal ini. Tetapi kerja keras bapak ini yang membuatku salut. Untuk semalam saja Bapak bisa istirahat. Aku bawa mobil sendiri. lagi pula masih ada pengawal yang akan menjagaku." Ucap Anna meyakinkan kekhawatiran Pak Jaki.


Dengan terpaksa pak Jaki menerima uang yang diberikan Anna. Anna segera masuk ke dalam mobil Limousin. setelah menyalakan mesin mobil, ia menjalankan mobil itu dengan pelan. Saat melewati Pak Jaki masih terdiam ditempatnya, Anna menurunkan kaca mobilnya.


"Terima kasih pak Jaki." Setelah itu ia tersenyum dan menutup pintu kaca mobil.


Pak Jaki meringis, menatap uang lima lembar ditangannya. Ia ingin sekali menangis. Bagaimana jika tuan Arsya mengetahuinya bahwa ia tidak kompeten dalam bekerja.


Salah satu pengawal yang berjaga di sana, menepuk bahu pak Jaki melihat wajah pak Jaki yang murung. "Jangan menangis." Ucap pria berbadan kekar itu yang bernama Satya.


"Jangan menangis, gundulmu." Cibir pak Jaki dengan marah kemudian berlalu pergi meninggalkan pria itu.


Sesampainya di sebuah cafe, Anna memarkirkan mobilnya kemudian segera turun dari mobil setelah merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Ia menyisir poninya dengan jari tangannya.


"Leya." Sapa Anna saat menemukan tempat duduknya di dalam Cafe.


Leya segera menarik tangan Anna agar segera duduk di sampingnya. Bahkan tak menghiraukan keberadaan Erka yang sudah duduk dan meminum Cappuchino kesukaannya.


"Sini duduk. coba liat." Leya segera menyodorkan ponsel miliknya.


"Apa sih." Tanya Anna yang melihat Leya begitu terburu buru. Lalu menerima ponsel yang diberikan Leya.


"Lihat, kenapa Linda mengumumkan sebuah pertunangan dengan Arsya. Bukankah kamu masih istri sah-nya?" Tanya Leya.


Anna menerima ponsel Leya, lalu melihat dan mendengarkan sebuah wawancara yang menampilkan Linda seorang. Dari awal hingga akhir Anna dapat menangkap isi wawancara itu. Bahwa Linda akan bertunangan bulan depan.


Hari ini mereka sedang berdiskusi masalah kerjasama dua perusahaan dan sekaligus mengumumkan pertunangan.


Erka yang melihat keduanya terlalu serius menonton layar ponsel, segera merebutnya. lalu menonton secara acak.


"Ini sudah basi. Berita itu sudah seminggunan diputar." Ucap Erka lalu membalikkan ponsel di atas meja.


Erka tidak terlalu terkejut masalah itu, perusahaan Bramantyo dibangun diluar negeri yang jauh dari jangkauan keluarga Adiyaksa Jadi Herman tak terlalu memperhitungkan soal ini. Jadi sebab itulah Linda berani mengumumkan hal besar itu diluar negeri.


Leya terkejut, karena berita itu dia mencemaskan sahabatnya. jadi membawanya untuk bertemu sementara Anna tak terkejut sama sekali, wajahnya tetap tenang dan datar. Karena dia tau hubungan antara Linda dan Arsya.


"Kok, kamu tau?" Tanya Leya penasaran.

__ADS_1


"Ya," Erka mengangguk.


"Sejak dulu Linda selalu menyukai Arsya, tapi sayang. Dibelakang Arsya ada tuan Herman yang lebih berkuasa. Sejak kecil Arsya selalu dibebani dengan pelatihan khusus, agar tidak mengganggunya. Perusahaan Adiyaksa menekan perusahaan Bramantyo. Jadi keluarga Bramantyo pergi keluar negeri." Lanjut Erka menceritakan beberapa hal yang ia ketahui.


"Oh pantas saja saat di mall waktu itu, mereka berjalan berdua." Ucap Leya mengingat saat dulu berada di dalam mall.


Kini Leya menoleh ke arah Anna yang berada di sampingnya. Anna menyesap jus di dalam gelas. Ia terlihat santai meski Arsya dan Linda akan bertunangan.


"Hei...Anna...kamu gak apa apakan?" Tanya Leya dengan hati hati.


"Sudahlah jangan bahas ini, itu hak dia mau melakukan apa. Aku tidak ada hak melarang mereka bersama." Ucap Anna dengan suara yang tenang.


"Tapi kamu istrinya Arsya, tidakkah kamu merasa diselingkuhi" Ujar Leya.


"Tidak. Biarkan saja." Balas Anna seraya menggeleng.


Memang sudah semingguan Arsya tidak pulang, dan Linda mengumumkan hal besar ini melalui media. Mungkin ini baru permulaan. Tetapi Anna tak merasa sedih akan hal itu. Melihat hubungan mereka yang enam bulan lagi akan kandas.


Meski, di dalam hatinya ada sedikit rasa yang tak bisa ia jabarkan. Setiap bersama Arsya, ia selalu mendapatkan perlakuan baik meskipun setiap saat dia selalu bermulut tajam.


Anna bersumpah dalam hati tidak akan mencintai dan menyukai pria itu. Tetapi pikirannya selalu menolak saat ia diperlakukan dengan baik olehnya.


Di Amerika


Linda tersenyum bangga, membayangkan dirinya akan bertunangan dengan Arsya. Pria yang ia sukai sejak dulu. Sekarang sudah tak lagi ada yang menekan perusahaan papa-nya, Apalagi dia sudah memiliki saham 10 persen.


Keputusannya dapat membantu perusahaannya meningkat lebih cepat. Apalagi ia mendapatkan kelemahan Arsya. Dengan begini lelaki itu akan mudah ditaklukkan.


Arsya menginap di Hotel, sudah seminggu ia terlalu sibuk dalam urusan bisnis sampai lupa untuk menelepon Ricky menanyakan kabar Anna.


Di sana sudah siang hari mungkin sekarang ditempat Anna sudah malam. Tetapi ia tetap menghubungi Ricky.


"Halo Rick." Terdengar suara bas milik Arsya dari sebrang sana.


"Tuan, ya...ada apa?" Ucap Ricky saat sambungan telepon tersambung.


"Dimana Anna? Aku terlalu sibuk sampai lupa memberimu kabar." Ucap Arsya.


"Pergi keluar tuan." Ucap Ricky memberitaukan keberadaan Anna.


"Kemana? Dengan siapa?" Tanya Arsya beruntun.


"Nona muda bilang pergi ke cafe bersama temannya."


"Teman? Teman yang mana laki atau perempuan?"


"Soal itu, saya belum tau tuan. Nona tidak bilang apa apa sama saya."


"Cepat pergi selidiki? Aku akan segera pulang."


"Baik tuan."


Setelah mengatakannya langsung menutup telepon. Arsya merasa gelisah jika temannya itu adalah lelaki yang selalu menatap Anna dengan tatapan lapar. Lelaki itu sungguh tidak baik dijadikan teman.


Bagaimana Arsya menjelaskan kepada wanita itu agar menjauh darinya. Wanita itu sungguh keras kepala. Ia hanya takut di saat pengawalnya lengah Anna akan di buru secara brutal.


"Itu tidak boleh terjadi dua kali. kamu harus baik baik saja Anna." Monolog Arsya.

__ADS_1


Sampai sebuah suara menyadarkan lamunannya. "Selamat siang mister Arsya." Sapa salah satu kliennya. Mereka berjanji temu di salah satu restoran dan akan membahas tentang kerja sama sekaligus melakukan makan siang.


__ADS_2