
Randi diam saja, ia enggan untuk menjawab pertanyaan Mawar dan memilih untuk meninggalkan Mawar, di dalam mobil dalam kondisi terkunci. Sementara Mawar, ia gelisah memikirkan segala kemungkinan buruk yang akan terjadi. Ia meremas ujung dress nya dengan satu tangannya. Bayang-bayang Randi, akan meninggalkan dan mencampakan begitu mengudara di kepalanya.
Randi berjalan begitu saja, berbaur dengan gerombolan orang yang sedang berjubel mencari makanan. Ia memilih beberapa makanan yang menurut Google baik untuk Ibu hamil.
Benar saja Randi, membeli cukup banyak makanan. Mulai dari buah-buah yang terasa masam hingga manis. Aneka olahan minuman susu dan juga beberapa makanan berat lainnya, seperti nasi bebek, nasi padang dan sate. Tak lupa Randi juga membelikan salad buah.
Setelah cukup lama ia berburu makanan, Randi kembali ke mobil dengan menenteng dua kantung plastik besar, di kedua sisi tangannya.
“Makanlah!”. ucapnya dengan dingin tanpa melihat wajah istrinya.
“Sebanyak ini Mas?”, dahi Mawar berkerut, kala menerima dua kantung plastik besar di tangannya.
“Aku ingin memberikan yang terbaik untuk anak itu. Bukankah kamu dan Mama yang menuntut tanggung jawabku sebagai Bapak, tugas kamu hanya mengandung, memastikan ia slalu sehat ketika berada di dalam perutmu sampai melahirkan nanti. Dan mari lekas kita akhiri kisah yang rumit ini!”.
Jleb.
Sakit sebenarnya perasaan Mawar, baru saja ia sedikit merasa bahagia ketika Randi, menemani periksa dan memberikan banyak makanan untuknya. Ia berfikir Randi sudah menerima kehadirannya kala melihat sang anak tadi. Ternyata ia salah.
Mawar pun terdiam, hatinya kembali terluka untuk kesekian kalinya. Ia mendongak ke atas menatap langit-langit mobil, mencoba menahan tangisnya, seperti biasa Mawar akan mencoba tegar dan menerima keadaan yang ada. Meski hatinya tercabik-cabik untuk kesekian kalinya.
Tak ingin larut dalam kesedihan hati, yang slalu tercipta lewat kata-kata dan perlakuan suaminya, membuat Mawar, memilih untuk membuka satu kantung plastik yang berisi buah-buahan. Ia mengambil satu gerombolan buah anggur di sana dan mulai menikmati rasa asam yang berkolaborasi dengan manis. Ia lebih memilih menikmati malam itu menjadi istri Randi, meskipun ia tahu Randi, tak pernah menganggap kehadirannya.
Ia memakan buah anggur dan jeruk itu dengan cukup antusias tak ingin mengecewakan suaminya. Sudah lama sekali ia tak merasakan naik mobil menikmati jalanan malam, menatap indahnya lampu kelap-kelip malam, apa lagi saat ini dengan suaminya. Sosok yang begitu ia cintai. Ia masih sama berharap suaminya akan luluh dengan seiring berjalanya waktu.
Sementara Randi, ia memilih untuk fokus menatap jalanan tanpa memberikan komentar apapun pada Mawar.
__ADS_1
****
Desa Suka Maju.
“Astaga!!! aku hampir sudah dua bulan tak mendapati tamu bulananku”. Matanya melotot ketika melihat ponselnya, ia terbiasa mencatat kapan waktu awal dan akhir mendapat tamu bulanan, hal ini Tari lakukan untuk menghitung masa suburnya. Sebagai bagian usahanya dan Randi, untuk mendapat momongan.
Ia memilih untuk mengehentikan langkanya sejenak, lalu menenangkan hatinya yang tiba-tiba berdebar. Ada harapan besar yang ia tunggu, tapi ada pula kenyataan yang berlaku.
Tari memutuskan untuk berbelok arah menuju apotik terdekat dengan rumahnya, ia ragu namun juga ingin memastikan. Meskipun Dokter sudah mengatakan jika ia tidak bisa memiliki anak, tapi apa salahnya jika ia berharap akan sebuah keajaiban.
Dengan tangan gemetaran, ia menerima lima testpack dari penjaga apotik. Ia membeli dari berbagai merek yang berbeda, sebagai perbandingan hasilnya nanti. Tari juga bertekad untuk memeriksanya sendiri sebagai obat rasa ingin tahu yang mendera.
Dengan hati yang tak karuan rasanya, ia kembali melangkah untuk pulang. Ada harapan yang terpendam yang ingin di raih, ada pula rasa takut akan masa depan yang akan ia hadapi. Sesampainya di dalam rumah, ia di sambut hangat Risma dengan membawa sepiring nasi goreng putih, makanan kesukaannya.
“Bunda, Bunda ayo makan dulu, Bunda pasti lapar dari tadi tidak istirahat sama sekali”. Tangan kecil itu menyodorkan sepiring nasi goreng putih dengan tambahan telur mata sapi dan juga kerupuk.
“Ini aku dan nenek yang buat”. celotehnya, dengan memperagakan cara membuat nasi goreng tadi bersama Bu Marni.
“Iya ini tadi Risma yang bikin, spesial untuk Bundanya tersayang katanya”. Kini ketiga wanita tersebut sedang menikmati makan malam sederhana mereka.
.
.
.
__ADS_1
Malam harinya, Tari duduk di tepi ranjangnya, ia kembali teringat akan ucapan tetangganya, lalu tangannya meraih tas yang ada di sampingnya. Membuka beberapa testpack yang terbungkus dalam plastiknya.
Ini adalah testpack kesekian ratus yang ia beli selama menjalani pernikahan dengan Randi. Tari hafal betul merek-mereknya dari yang mulai harga termahal hingga harga termurah. Sejurus kemudian ia kembali menyimpan testpack tersebut kedalam tasnya, tak ingin ibunya melihat.
Aku memang sudah lebih dari dua bulan tidak mendapati tamu bulananku, tapi aku tak merasakan gejala apa-apa seperti orang hamil. Aku juga tak merasakan mual, pusing ataupun sensitif terhadap bau-bau tertentu. Aku hanya merasakan sakit hati dan kecewa saja.
Ya Allah, jika engkau mengizinkanku untuk bisa mengandung dan menjadi wanita seutuhnya maka aku sangat senang, kalaupun tidak maka kuatkanlah aku. Tuliskan takdir terbaikmu setelah ini Ya Rab.
Tangannya menengadah ke atas, ia kembali memohon sebuah kekuatan dari sang penciptanya, berharap akan kebaikan dan keajaiban, dari takdir yang menimpanya.
Tari melirik gadis kecil yang tertidur pulas di sisi ranjangnya. Wajah teduh yang cukup dapat mengalihkan rasa sakit hatinya beberapa waktu ini.
Bukankah aku suda memili anak, Risma adalah bagian dari titipan yang kuasa padaku. Meski ia tak lahir dari rahimku, namun kasih sayang dan ketulusanku begitu sepenuhnya mencintainya.
Kini Tari mulai meringkuk turut berusaha untuk memejamkan matanya, ia sedang mempersiapkan esok pagi. Entah kejutan apa yang akan Allah berikan untuknya.
.
.
.
Hari masih gelap, bahkan suara binatang malam masih sayup-sayup terdengar dalam telinga. Namun hari sudah berganti, hanya menunggu sang surya hadir menyinari bumi. Tari mulai membuka matanya perlahan, ia sengaja bangun lebih awal dari penghuni rumah lainnya.
Waktu masih pukul empat pagi, waktu yang akurat untuk melakukan tes kehamilan secara mandiri. Tangannya menyambar lima testpack yang telah ia beli kemarin, lalu menyembunyikan di balik saku piyamanya. Ia duduk untuk beberapa saat, mencoba menenangkan hatinya yang sedang bergejolak.
__ADS_1
Dengan langkah kaki yang bergetar,ia berjalan menuju kamar mandi, ini adalah fase terlama selama hidupnya tidak mendapati tamu bulanannya hadir. Ia mengendap-endap menuju kamar mandi yang melewati kamar ibunya.
Bismillahirrahmanirrahim, Tari memejamkan matanya kala memasukan benda pipih tersebut ke dalam tabung kecil yang ia bawa.