
“Rama dan Risma, kenapa mereka memiliki nama yang hampir sama?” Desis Tari yang masih bersandar di pintu kamar mandi. Sungguh dalam hati, ia ingin sekali turut berhamburan bercengkrama di sana. Namun batasan dia dan Rama tidak memungkinkan untuk itu. Tari begitu sadar diri akan dirinya sendiri, ia juga masih enggan untuk kembali merajut kasih. Bayang-bayang kegagalan masih sangat terasa sampai saat ini.
“Ayah, Bunda kemana ya? Kok dari tadi tidak kelihatan? Apa Bunda pulang?’ tanya Risma, matanya sibuk mencari keberadaan Tari saat itu.
“Bunda masih di kamar mandi sayang, bersih-bersih dulu. Risma mau mandi juga?”
“Aku mana bisa mandi Ayah? Tanganku di balut perban seperti ini, aku sangat susah untuk bergerak”
“Nanti di bantu Bunda sama Ayah, kalau kamu mau mandi”
Risma memilih untuk menggelengkan kepalanya.”Meskipun aku tidak mandi, aku tetap cantik kan? Lihatkan? Maniskan?” Risma menunjukan senyum termanis yang ia punya. Matanya menatap Rama dalam beberapa saat.
Mata itu, aku seperti mengenal mata itu. Tatapan mata itu sangat tidak asing.
Deg...
Hati Rama kembali bergejolak. Setiap kali bersama dengan Risma ada sesuatu hal yang tida bisa di jelaskan. Ada rasa yang ingin slalu menjaga anak itu. Tapi aku juga tak tahu. Ia tak mampu untuk menjabarkan dengan nalarnya.
Ceklek.
Pintu terbuka, Tari keluar dengan wajah yang jauh lebih segar dari sebelumnya. Ia menyempatkan diri untuk mandi, meski tidak berganti pakaian.
“Apa mau pulang dulu ambil baju? Biar Risma sama aku. Atau mau aku carikan baju saja sebentar?”
“Tidak Mas, tidak perlu. Sebentar lagi Ibu pasti ke sini membawa baju ganti dan keperluan lainnya. Beliau baru saja berkirim pesan”
“Mas Rama sibuk kah? Jika sedang ada kegiatan silahkan di tinggal dulu tidak papa. Biar aku yang menjaganya”
“Aku tidak mau, aku mau sama Ayah Bun!”
“Aku mau Ayah di sini” serkas Risma dengan tegas.
“Risma. Om Rama kan Dokter, beliau harus memeriksa pasiennya”
__ADS_1
“Ayah! Bukan Om” gadis kecil itu melengos tak terima.
“Tidak boleh! aku sekarang pasien Ayah. Iya kan Yah?” Risma mendongak menunggu jawaban dari Rama.
“Iya Risma pasiennya Ayah. Karena kamu adalah pasien jadi harus nurut semua yang Dokter katakan. Sekarang anak Risma, waktunya minum obat dulu ya”
“Tidak mau, aku tidak mau minum obat. Aku mau jalan-jalan”
“Oke kita jalan-jalan setelah ini tapi Risma minum obat dulu ya”
Dengan segala bujuk rayu dan drama panjang. Akhirnya Risma mau minum semua obat yang ada. Ia menegak dengan baik setiap butir demi butir obat yang di berikan Rama. Begitu juga dengan beberapa sirup antibiotik, ia dapat dengan mudah untuk meminumnya.
“Sekarang ayo kita jalan-jalan”
“Risma, Ayahkan sibuk. Mau urus pasiennya dulu” terang Tari, yang sudah merasa tidak enak. Semenjak kehadiran Rama, Risma sama sekali tidak bisa lepas dari pria itu.
“Tidak papa Tar, waktu visit pasien masih dua jam lagi. Kita jalan-jalan sekitar rumah sakit sini saja ya. Ayah mau ambil kursi roda dulu”
Rama bergegas pergi meningalkan kamar rawat Risma untuk mengambil kursi roda. Sementara Tari, ia menyisir rambut Risma, memberikan sedikit polesan beda bayi dan juga parfum pada tubuhnya agar terlihat lebih segar dan nyaman.
“Baiklah kalau begitu” jawab Tari dengan segera. Kali ini ia mengalah, mengikuti setiap permintaan Risma. Bagi mereka berdua perintah Risma adalah sabda yang harus di laksanakan demi menjaga kestabilan moodnya.
“Kita jalan-jalan ke mana?” tanya Tari, membuka kecanggungan saat mereka berjalan bertiga. Dengan Rama yang bertugas mendorong Risma, sementara ia membawa beberapa camilan di tangannya.
“Kita ke taman saja ya. Di bagian sisi kanan sana ada taman. Banyak bunga-bunga dan beberapa burung kecil. Biasanya kalau pagi seperti ini mereka suka bernyanyi”
“Baiklah” Tari, mengikuti saja semua yang di katakan Rama, toh Rama jauh lebih paham seluk beluk rumah sakit di sini.
Sepuluh menit berjalan kaki, sampailah mereka di taman yang di ceritakan Rama. Benar saja yang di katakan pria itu, di sana terdapat beberapa bunga yang memiliki warna indah saling berjejeran di bagian sisi kanan. Sementara di bagian sisi kiri di dominasi tanaman bonsai dan beberapa burung yang saling berkicau, membantuk alunan suara yang indah.
Rama, Tari duduk di kursi panjang. Sementara Risma duduk di kursi roda. Mereka bertiga sibuk bercerita dan bersenda gurau. Tak jarang dalam beberapa saat tawa Risma terdengar.
Lihatlah kebersamaan ini, dia pandai sekali membawa posisi. Dia dapat dengan mudah menghidupkan susana.
__ADS_1
“Bunda jangan diam saja. Aku mau foto Bun”
“Ya Bunda tidak bawa hp sayang”
“Sini biar Ayah foto, pakai hp Ayah saja ya” Rama mulai membidik gambar Risma dari berbagai sisi. Mulai dari gaya tersenyum, manyun dan juga ekpresi aneh semuanya tersimpan di galeri.
“Foto bertiga yuk” cetus Rama, yang keluar begitu saja dari mulutnya.
Tari terdiam tak memberikan reaksi penerimaan maupun penolakan.
“Eh maaf” ralat Rama dengan segera.
“Ayo Bun, ayo kita foto bertiga. Ada aku Ayah sama Bunda” ide Rama lekas menarik perhatian Risma, rupanya ia juga menginginkan hal yang sama.
Dengan perasaan yang canggung Tari menerima permintaan itu. Mereka sedang berpose layaknya sebuah keluarga yang berbahagia. Ada anak, Ibu dan juga Ayah. Dimana sang anak duduk di bagian tengah di apit oleh orang dewasa di sebelahnya.
“Kok gak kelihatan?” rengek Risma ketika foto hasil jepretan Rama tidak bisa menunjukan gambar yang maksimal. Maklum saat itu, tangan Rama sebelah kanan yang di gunakan untuk mengambil gambarnya. Jadi hasil foto yang di hasilkan sama sekali tida estetik. Menampilkan wajah Rama yang full maksimal, sebentar wajah Tari terlihat sangat kecil kerena berada di bagian paling ujung.
“Kalau begitu, coba Ayah taruh di tanah saja ya”
Rama memilih untuk meletakan ponselnya di tanah. Berada di bagian depan mereka. Ia menggunakan timer untuk memberikan jeda persiapan foto. Rama lekas berlari menuju kursi untuk mengejar waktu yang ada di ponselnya.
Cepret.
Cepret.
Cepret.
Terdapat beberapa hasil bidikan yang di dapat dalam pagi itu. Rama lekas berlari untuk mengambil ponselnya. Melihat hasil foto yang baru saja di dilakukan.
“Kok kelihatan kursi rodanya saja. Aku mau yang kelihatan wajah kita bertiga dengan jelas” Rengek Risma, rupanya hasil bidikan tersebut masih belum sempurna menurut versinya. Ia menginginkan gambar yang jauh lebih bagus dan jelas.
Rama terdiam untuk sesaat ia nampak sedang berfikir. Tari memilih untuk menatap ke sembarang arah, menghindari pertanyaan yang akan di ucapkan Rama.
__ADS_1
“Mas, permisi bisa minta tolong fotoin kami?”