Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Ketika Cinta Di Uji


__ADS_3

“Ma aku sudah melakukan semua perintah Mama dengan menikahi Mawar dan memberikan cucu pada Mama, jadi Ma tolong dengan sepenuh hati Randi, untuk kali ini saja izinkan Randi bisa mengantar Tari menjemput Risma di rumah Ibunya, ijinkan Tari juga merasakan kebahagian seperti Mama saat ini”. Mata Randi berkaca-kaca tak kuasa menahan segala rasa sesak di dada.


“Randi apa salahnya untuk saat ini saja Tari mengalah dengan pergi sendiri ke rumah Ibunya, bukankah selama ini Mama sudah baik sekali padanya, membiarkan Tari untuk mengadopsi seorang anak kemudian memodalinya untuk membuka toko kue bahkan mencukupi kebutuhan keluarganya pula”. Mama mengatakan semua itu dengan kesal dan penuh penekanan seakan selama ini ia terpaksa menjalankan dan menerima kehadiran Tari dalam keluarga itu.


“Ma tolong hentikan jangan bicara seperti itu, aku yang sudah berjanji dari awal sebelum menikah untuk membahagiakan Tari mencukupi segala kebutuhan dia dan keluarganya”.


"Aku tak akan menerangi rasa bakti Tari pada keluarganya?".


“Termasuk juga dengan membeli rumahnya, membiayai kehidupan Pakde dan Budenya?”.


“Apa bedanya Ran kamu sama sapi perah?, selama ini Mama mencoba diam saja karena Mama melihat Tari memanglah gadis yang baik tapi setelah enam tahun kalian menjalan pernikahan dan tak kunjung memiliki keturunan Mama harus apa?”.


“Mama ingin cucu dari kamu, darah daging kamu”.


"Mama juga ingin kamu menunjukan rasa bakti dan cintaku pada Mama".


“Mama melakukan semua ini juga demi kamu, untuk mu, untuk masa depanmu nanti. Mama hanya ingin melihat kamu memiliki keluarga yang lengkap dengan kehadiran anak di sisi kalian”.


“Randi tunggu, Mama belum selesai bicara.....”, teriak Mama malam itu.


Randi meninggalkan Mamanya dengan mata yang nanar, rasanya begitu sesak kala mendengar setiap untaian kata yang Mama ucapkan untuk Tari malam itu.


***


Randi tak kunjung masuk ke dalam kamarnya, ia memilih untuk singgah di taman depan rumah yang kebetulan ada gazebo nya di sana, mencoba mencari ketenangan menetralkan segala kecambuk yang ada di dalam dada,


Terkadang bagi setiap laki-laki sangatlah sulit ketika harus memilih dua wanita dalam hidupnya. Bukan antara istri pertama dengan istri kedua melainkan antara Ibu dan istrinya. Keduanya menempati ruang yang sama-sama istimewa dalam hidupnya.


Bagi Randi Mama adalah segalanya orang yang begitu berjasa dalam hidupnya. Sedangkan Tari adalah belahan jiwanya wanita yang mampu menggetarkan hatinya kala telah lama padam. Wanita dengan segala kebaikan dan cintanya yang slalu menemani kala suka maupun duka. Terkadang rasa cinta pada keduanya membuat ia tak dapat berfikir dengan bijak.


Memiliki anak dari wanita lain? Menikah lagi dengan wanita lain? Sama sekali tak ada dalam rencana dan cita-cita hidup Randi. Rasa sayang dan cintanya pada Tari melebihi apapun bahkan dengan segala kekurangan yang ada, mampu menutup mata Randi untuk tidak melihat yang lainnya.

__ADS_1


Termasuk dengan menyembunyikan keadaan Tari yang sesungguhnya, jika ia adalah wanita mandul. Rasa cinta Randi yang begitu besar membuatnya menutupi semua ini hanya karena tak ingin melihat wanita yang begitu ia cintai bersedih.


Namun, sang Mama yang juga memiliki cinta dan ruang yang sama dalam hatinya , terus mendesak Randi untuk menikah lagi karena ingin memiliki cucu darah daging Randi sendiri. Maklum Randi adalah anak tungga sang Mama begitu khawatir akan keturunannya.


Tak tanggung-tanggung beberapa kali Mama menyodorkan wanita untuk di nikahi Randi namun sayangnya dengan tegas beberapa kali pula Randi mampu menolak permintaan sang Mama.


Hari demi hari di lewati Randi dengan desakan yang tiada habisnya baik dari Mama maupun Papa, yang sama-sama mendukung untuk menikah kembali dan memberikan cucu pada mereka.


Sebuah kata balas budi slalu menjadi kata keramat yang di ucapkan orang tuanya pada Randi.


“Mama dan Papa tak menginginkan apapun darimu Ran, Mama dan Papa hanya ingin kamu memiliki keluarga yang sempurna utuh dengan kehadiran seorang anak”, begitulah suatu kalimat yang setiap hari Randi dengar dari mulut orang tuanya.


Hingga setahun terakhir Mama dan Papa semakin menjadi-jadi untuk menjodohkan Randi dengan salah satu karyawan di laundry nya.


Mawar.


Iya, dia adalah Mawar salah satu gadis yatim piatu yang bekerja di laundry orang tua Randi, menutut orang tuanya Mawar adalah gadis yang baik dan juga sholeha.


“Mama Papa sudah melakukan apapun untukmu Ran, membesarkan dengan penuh cinta, mendidik dan membiayai kehidupanmu tanpa pernah sedikitpun merasa kekurangan”.


“Jadi bisakah kamu mengabulkan permintaan Mama untuk menikah lagi dan memberikan cucu pada kami”.


Suatu kalimat yang slalu menari-nari dalam pikiran Randi.


Randi kembali menolak permintaan orang tuanya, bukan hanya satu dua kali bahkan lebih dari ratusan kali ia menolak permintaan konyol orang tuanya.


Bukankah pernikahannya dengan Tari baru berjalan enam tahun, masih banyak hal yang bisa di usahakan untuk mendapat anak tanpa harus menikah lagi.


Hanya saja orang tua Randi tak mau mengerti dan peduli akan hal itu, mereka beranggapan sudah cukup umur dan takut tak bisa melihat generasi penerusnya.


Hingga akhirnya empat bulan yang lalu, dengan segala keterpaksaan dan rasa baktinya pada orang tuanya Randi mengalah, dengan mengabulkan permintaan orang tuanya untuk menikah kembali dengan salah satu wanita pilihan orang tuanya.

__ADS_1


Mawar.


Keduanya menikah secara diam-diam tanpa sepengetahuan dari Tari hingga kini Mawar hamil.


Setelah merasa cukup tenang Randi kembali memasuki kamarnya dengan cukup pelan ia mulai masuk tak ingin membangunkan sang istri. Randi duduk berjongkok di depan sang istri yang sedang tertidur dengan pulasnya.


“Maafkan aku sayang, maafkan atas segala kekeliruan yang aku lakukan padamu, maafkan aku yang lemah tak dapat menolak permintaan Mamaku”, ucapnya dnegan begitu lirih dan hampir tak terdengar.


“Ya Allah apa salah istriku, hingga engkau memberikan cobaan yang begitu berat dalam hidupnya dari dulu hingga sekarang, aku mohon sebuah keajaiban terjadi padanya kuatkan dia”. Mata Randi berkaca-kaca.


Karena tak kuasa untuk menahan tangisnya yang hampir tumpah Randi lekas menuju kamar mandi. Kini ia kembali menangis sesenggukan mengingat segala kebodohan dan kesalahannya pada Tari.


Penyesalan, mungkin itu yang sedang di rasakan Randi.


Takut kehilangan.


Takut pula menjadi anak yang durhaka.


“Ya Allah aku harus apa?”.


“Bagaimana bisa aku bisa memilih anatar membahagiakan istriku dan juga Mamaku”.


“Mas....”.


"Kamu di dalam?"


Randi lekas menyiram wajahnya dengan guyuran air saat mendengar suara Tari memanggil namanya.


“Kamu kenapa Mas?”. Ucapnya sambil berjalan menuju kamar mandi.


“Menangis kah?”

__ADS_1


__ADS_2