
Sesuai dengan rencana yang ada, Bu Srining benar-benar memboyong Mawar untuk tinggal di rumahnya. Tak ada persiapan khusus untuk menyambutnya tinggal di sana. Namun semua itu sudah lebih dari cukup bagi Mawar, untuk bisa bertemu dan menatap pujaan hari setiap harinya.
Tiga puluh menit berlalu, setelah roda mobil beradu dengan mulusnya aspal jalanan, kini Mawar sudah menginjakkan kakinya di istana Randi. Senyum bahagia terpancar sempurna kala kaki mulus itu menginjak halaman rumah suaminya.
Matanya memindai setiap sisi rumah, mulai dari halaman depan, kolam dan taman yang ada di bagian samping rumah. Rasa kagum dan takjub melebur menjadi satu.
“Bagaimana, apa kamu suka dengan rumah ini nak?’, tanya Bu Srining, kala melihat menantunya begitu tertegun dengan keindahan yang ada. Maklum sebelumnya Mawar, tinggal di perumahan sederhana yang di belikan oleh Randi di kawasan biasa.
“Bagus Ma, ini benar-benar bagus sekali. Apa lagi penataan taman yang ada di sebelah sana, sangat bagus sekali”, serunya dengan tangan yang mengarah menunjuk taman di hiasi bunga yang ada di sebelah kanan sisi rumah Bu Srining.
“Ah taman itu, Tari yang membuatnya, dulu Mama juga ada taman di sebelah situ tapi tidak terawat, sejak ada Tari tinggal di sini, ia menyulap taman Mama menjadi taman surga yang indah sekali”. Wajah Bu Srining menghangat, ia tersenyum penuh kebahagian kala menceritakan tentang taman yang ada d rumahnya.
Mawar tak menjawab, ia memilih untuk mengalihkan pembicaraannya.
“Apa Mas Randi ada di rumah Ma?”.
“Oh iya, kamu pasti lelah, Ibu hamil memang sering merasa lelah. Mama akan antar kamu ke kamar”.
Mawar mengikuti setiap langkah Bu Srining, masuk ke dalam rumah. Bibirnya tak berhenti tersenyum. Hatinya berdebar kala membayangkan akan tinggal satu kamar dengan suaminya. Ia memegang perutnya dengan lembut.
“Nak berbahagialah, kita akan tinggal bersama Papa di sini, kamu tidak akan kekurangan kasih sayangnya lagi”. Desisnya dengan halus.
Tok..tok..tok...
Suara ketukan pintu berbunyi.
“Randi, buka pintunya nak, Mama ada kejutan untuk kamu hari ini”, Nada bicara Bu Srining, terdengar sangat membahagiakan, ia beberapa kali mengetuk pintu kamar anaknya.
“Nak bangun, lihat siapa yang datang, kamu pasti senang sekali”. Bu Srining kembali membujuk Randi untuk membuka pintu.
Perlahan Randi bangkit dari kasurnya, ia berjalan ke arah pintu hendak membukanya, ia bahagia sekali kala Mamanya mengatakan memberikan kejutan dan mengatakan bahwa ia pasti senang.
__ADS_1
Randi berharap yang datang adalah istrinya.
Ia meloncat dari kasur dengan tatanan yang amburadul, perlahan tangannya meraih gagang pintu dan membukanya.
“Surprise”, senyum Bu Srining terukir sempurna di wajahnya, ia menutupi satu perempuan tepat di belakangnya.
Beberapa detik kemudian.
.
.
.
Seorang wanita dengan menggunakan daster, berwarna biru selutut, dengan rambut yang tergerai panjang menunjukan senyum manisnya tepat di hadapan Randi, tak lupa ia membawa tas yang cukup besar di kedua tangannya.
“Masuklah nak, ini sekarang menjadi kamarmu juga”. Titah Bu Srining, yang memberikan akses untuk Mawar, masuk ke dalam kamar Randi.
Randi melongo melihat siapa yang datang, hatinya kecewa dengan keputusan yang di ambil sang Mama, membawa Mawar untuk tinggal di sini mempersilakan ia untuk masuk ke dalam istana Tari. Tangan Randi terulur menghadang langah Mawar yang hendak masuk kedalam kamar.
Kontan senyum Mawar redup seketika, kala kehadirannya tidak di inginkan oleh suami yang begitu ia cintai.
“Randi”. Desis Mama penuh penekanan.
“Cukup Ma, aku bukan lagi anak kecil yang harus di atur setiap perilaku dan keputusanku. Aku berhak memilih siapa yang tinggal di kamar ini!”.
“Tapi mengapa tidak dengan Mawar? Dia juga istrimu”.
“Ini kamar Tari, istana Tari, hanya ada aku dan Tari yang boleh tinggal di kamar ini. Jadi silahkan kamu pergi, cari kamar yang lain jika memang masih ingin tinggal di sini. Jika tidak silahkan pergi aku tidak memaksamu untuk tinggal di sini’. Tangan Randi kembali terulur, kini ia menunjuk satu tangan ke arah pintu keluar.
Mawar hanya bisa diam dan menahan tangisnya.
__ADS_1
“Rami, Mama tidak suka dengan caramu memperlakukan Mawar”.
“Aku juga tidak suka dengan cara Mama, yang seenaknya saja!”, balasan dengan memalingkan wajah, menutup pintu kamarnya dengan begitu keras.
“Sejak kapan anak ini jadi pemberontak seperti ini”, cicit Bu srining berbicara sendiri.
Bu Srining merangkul tubuh Mawar, membawanya pergi ke kamar tamu yang ada di lantai satu.
“Sabar ya nak, Randi hanya sedang butuh waktu untuk menerima semua keadaan yang ada. Untuk sementara waktu sebaiknya kamu tinggal dulu di kamar ini”.
Mawar masih diam saja, ia enggan untuk berucap, tak dapat di pungkiri ia sakit hati dengan setiap kata yang terlontar dari mulut Randi. Tapi keyakinan Mawar begitu kuat, ia berharap suatu saat nanti Randi akan berubah dan mau menerima kehadirannya. Meskipun saat ini, ia merasa sedang memelihara duri dalam hatinya sendiri.
Bu Srining, meraih tas yang di tangan Mawar, ia meletakkan di atas meja di sisi ranjang. Kini ia beranjak untuk membuka korden yang ada di jendela. Sementara Mawar duduk di tepi ranjang dengan mengamati setiap detail dalam kamar itu.
“Kordennya bagus Ma”, suatu kalimat yang keluar dari mulut Mawar.
“Ah iya, ini Tari yang memilih. Dia senang sekali warna putih, hampir di setiap sudut dalam rumah ini, ia beri korden warna putih. Menurut Tari warna putih melambangkan kesucian dan kemurnian, selain itu warna putih juga lebih netral dengan siapapun penghuni yang akan menempati”. Bu Srining kembali menceritakan semua yang ada dalam kamar itu. Tanpa Bu Srining sadari semua yang ia ceritakan sejak memasuki rumah ini adalah semua tentang Tari.
Mawar diam saja, ia enggan untuk menanggapi cerita Bu Srining, wajahnya layu seketika.
Bu Srining terdiam, ia menutup mulutnya dengan satu tangan, kala melihat wajah Mawar yang berubah.
“Maaf nak”. ucapnya lirih dengan menghampiri Mawar.
“Istirahatlah dulu, Mama akan menyiapkan makan untukmu dan cucu Mama tersayang ini”. Kini tangannya terulur membelai perut Mawar.
Mawar hanya mengakukan kepalnya saja, ia lebih banyak diam dan sedikit berbicara di istana barunya.
.
.
__ADS_1
.
Randi masih di dalam kamar yang sama, ia kembali menangis kala melihat Mamanya membawa Mawar ke rumah ini. Harapannya membawa Tari untuk pulang semakin sedikit. Tanpa kehadiran Mawar saja ia sangat sulit meyakinkan Tari kembali, apa lagi dengan hadirnya Mawar di sini.