Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Selepas Akad


__ADS_3

Prang...


Prang...


Suara pecahan gelas dan beberapa barang yang ada di atas nakas terdengar hingga ke ruang makan.


Seorang lelaki meringkuk memeluk tubuhnya sendiri dengan tangis yang sejadi-jadinya ketika membuka ponsel. Story salah satu aplikasi hijau miliknya menampilkan sosok cantik yang begitu di cintai sedang berbalut kebaya hitam lengkap dengan segala asesorisnya.


Sakit...


Perih..


Pilu...


Begitulah yang sedang ia rasakan. Terlebih ketika melihat wanita itu tersenyum dengan begitu bahagia bersama lelaki di sampingnya. Keduanya memakai baju senada yang di bingkai dalam dekor cantik warna putih.


“Arrhhh”


Kepalanya terasa sangat berat, hatinya sakit seperti luka yang sedang menganga lantas di


lumuri jeruk nipis dan taburan garam di atasnya.


Hiks...hiks..hiks..


Randi kembali masuk dalam belenggu sakit hati kerana di tinggalkan wanitanya. Masa lalu terulang kembali, jika dulu ia ditinggalkan beberapa jam sebelum akad oleh wanitanya. Sekarang ia kembali di tinggalkan wanita yang di cintainya kerana kesalahannya sendiri.


“Kenapa kamu tega melakukan ini padaku Tar? Kau tahu hati ini hanya milikmu seorang”


Ia kembali melihat benda pipih yang ada di hadapannya. Matanya harus ternoda ketika melihat beberapa unggahan foto dari Fitri, melalui laman sosial media miliknya.


Foto Tari, Rama berikut Risma yang berada di tengah-tengah mereka dengan senyum yang


mengembang sempurna di setiap wajahnya. Tak lupa Fitri memberikan caption “keluarga ialah awal kisah di mulai dan cinta tiada akhir” lantas di akhiri dengan emot love sekebon.


Panas.


Begitulah suasana hati yang dirasakan Randi, ingin marah namun pada siapa? Ia tak tahu. Ia hanya bisa melampiaskan rasa kesalnya pada benda-benda yang ada di kamarnya. Randi  bangkit dari duduknya. Ia menyambar meja rias Tari. Meja yang sama sekali tak boleh di sentuh oleh siapapun termasuk ART yang membersihkan kamarnya.


Prang....


Hari itu, ia sedang kalut, tangannya dengan tegas menyambar apapun yang ada di sana. Membuang beberapa botol parfum berikut skincare milik mantan istrinya. Ia membuang ke segala arah sebagai aplikasi rasa kecewa dan sakit hatinya.


“Kamu jahat!” pandangan matanya terhenti pada pigura besar yang ada di atas ranjang. Pigura yang membingkai wajah cantik istrinya dengan balutan gamis putih berikut jilbab yang menjuntai panjang.


“Kamu tega!”


Prang....


Pigura itu jatuh dari tempatnya, menyisakan puing-puing pecahan kaca yang mengenai


tangannya. Ia terdiam untuk sesaat ketika mendapati tangan yang berlumuran darah sejuruh kemudian ia meraih kembali foto tersebut di tengah-tengah pecahan kaca.


“Apa kamu sakit sayang?”


“Bagian mana yang membuatmu terluka?”


Randi merengkuh foto tersebut membawanya dalam dekapan yang erat dengan linangan air


mata yang membanjiri wajahnya.


“Ran, buka pintunya!” suara teriakan menguar dari balik pintu kamarnya. Bu Srining dan Pak Nario gelisah dengan keadaan yang ada.


“Ran, kamu kenapa?”

__ADS_1


“Ran, keluar nak? Apa kamu baik-baik saja?”


Tak ada jawaban yang di berikan Randi. Ia hanya menangis dan menangis saja. Sesekali tangisan itu akan di iringi pecahan beberapa barang yang ada di sana. Tak kunjung mendapat respon dari anaknya. Pak Nario memilih untuk mendobrak pintu kamar anaknya.


Brak....


Brak...


Tiga kali ketukan pintu dapat terbuka, memperlihatkan Randi yang sedang duduk di


lantai dengan tangis yang membadai. Ia masih dalam posisi yang sama memeluk foto mantan istrinya.


“Ran, bangun nak. Tolong jangan seperti ini. Kamu jangan menghukum kami dengan keadaanmu semacam ini” Bu Srining panik, ia menggoyang-goyangkan tubuh anaknya dengan pelan. Mencoba berbicara dengan hati yang penuh perasaan.


“Ran, sadarlah di luar sana masih banyak sekali wanita yang jauh lebih baik dari pada Tari. Kamu harus bangkit. Hidup hanya sekali Ran. Jangan kamu habiskan hanya untuk patah hati saja”


Kini giliran Pak Nario yang memberikan wejangannya. Ia pun turut merasakan pilu melihat kondisi anaknya saat ini.


Randi mendongak, menatap kedua orang tuanya dengan mata yang berkaca-kaca.Lantas ia terdiam untuk sesaat, sejurus kemudian ia mengatakan dengan pelan pada orang tuanya.


“Mama, Papa...” Randi menjeda ucapannya. Ia masih menatap orang tuanya dengan sendu.


“Iya nak” jawab keduanya dengan kompak.


“Apa aku sudah menjadi anak yang berbakti pada kalian? Apa kalian bahagia melihatku begini? Ah aku rasa ini semua memanglah ingin kalian” Randi tersenyum getir ketika mengatakan itu semuanya.


“Allah” Rinti Bu Srining dengan segenap rasa bersalahnya pada anak satu-satunya.


****


Langit sudah merubah warnanya dari cerah menyisakan gelap. Kehebohan mulai berkurang.


Satu persatu tamu undangan dan beberapa kerabat terdekat mulai untuk beranjak


pulang meninggalkan doa-doa untuk mempelai berdua. Risma sudah lebih dulu meninggalkan hiruk pikuk keramaian acara, ia tertidur di pangkuan Ipul menjelang pukul sembilan malam.


menyalami para undangan. Keduanya tampak kompak menuruni pelaminan dengan rona


wajah yang berbahagia. Tari memilih untuk langsung menuju kamarnya. Sementara Rama,


pria itu memilih untuk bergabung dengan rekan-rekan yang masih tersisa di sana.


Seluruh keluarga besar Rama lebih dulu meninggalkan acara sejak sore tadi. Beberapa


reka sejawat juga turut hadir di sana. Memberikan ucapan selamat dan doa-doa


terbaik untuk mempelai berdua. Bude Murni masih terjaga, ia sedang menikmati soto daging di penghujung dapur. Sementara Bu Marni, beliau masih sibuk


menyalami beberapa tamunya.


Rona bahagia tak hanya tergambar dari wajah Tari dan Rama. Melainkan kedua keluarga


besar yang ada. Karena sesungguhnya pernikahan bukan hanya tentang kita, tapi


tentang penyatuan dua keluarga besar, menerima segala kondisi yang ada tanpa


terkecuali.


Tari terdiam di kamar untuk beberapa saat. Ia melihat pantulan wajahnya di depan cermin. Rasa syukur kembali ia panjatkan setelah melewati serangkaian acara ini dengan lancar tanpa kendala apapun.


“Assalamualaikum istriku” Rama berdiri di ambang pintu menyaksikan sang istri sedang melepas beberapa aksesoris yang melekat di kepalanya.


Deg..

__ADS_1


Hati Tari kembali berdesir. Jantungnya berdegup dengan sangat cepat. Ia dapat melihat wajah Rama dari pantulan cermin yang ada di depannya.


“Waalaikumsalam suamiku” jawabnya dengan malu dan wajah yang sudah memerah menahan segala gejolak yang melanda tubuhnya. Entah meskipun pernikahan ini bukan untuk yang


pertana bagi mereka, tapi rasanya semua begitu berbeda. Ada getaran rasa yang tak dapat di jelaskan.


Keduanya saling melempar senyum termanis yang mereka miliki dari pantulan cermin. Rama


berjalan dengan pelan, mengikis jarak menuju istrinya. Kini mereka sedang berada dalam jarak yang terdekat. Rama memberanikan diri untuk mengangkat dagu istrinya yang masih menunduk malu.


“Istriku...”


Degup jantung keduanya semakin hebat, bahkan masing-masing dari mereka mungkin dapat


saling mendengar saat itu.


“Iya suamiku” jawab Tari masih dengan wajahnya yang menunduk malu.


“Mungkin rasa cintaku padamu tak seindah surat cinta untuk Starla, tapi percayalah cintaku


padamu sungguh lillahi taala sayang”


Blus...


Pipi Tari semakin memerah dibuatnya.


Rama memberanikan diri untuk meraih tangan istrinya membawa telapak tangan sang istri untuk menyentuh jantung yang sedang berlomba untuk berdetak malam itu.


“Terimakasih”


“Untuk apa?” Tari memberanikan diri untuk mengangkat pelan kepalanya menatap Rama.


“Atas kerja samanya selama ini. Ketika aku meminta berpasangan dengan kamu pada sang


Khalik, kamu tak meminta berjodoh dengan pasangan yang lainnya”


“Mas...” suara lembut yang mendayu-dayu keluar dari mulut Tari malam itu.


“Satu keyakinanku sayang, antara manisnya syahadat dan dahsyatnya syafaat. sujudku


dan sujud mu selama ini pasti bertemu di aamiin yang sama”


“Aku pernah terluka dan putus asa dalam hidupku mas. Namun kalbuku ini tetap berusaha


untuk tetap teguh di jalannya. Aku percaya jika Allah sedang menuntunku pada sebuah tujuan yang baru. Yaitu kamu Mas” lirih sekali Tari mengucapkan itu semuanya di hadapan sang suami.


Rama semakin mengikis jarak pada istrinya.


“Tidak menyesal jadi istriku?”


Tari tersenyum dan menggelengkan kepalanya dengan pelan.


“Kalau begitu kita sholat dulu”


“Setelah itu...” ucap Rama dengan pelan.


“Kita jadikan cinta kita”


Ketika cinta bertasbih, nadiku berdenyut merdu


Kembang kempis dadaku merangkai butir cinta


Garis tangan tergambar tak bisa aku menentang

__ADS_1


Sujud syukur pada-Mu atas segala cinta...


(Ketika cinta bertasbih : Melly G)


__ADS_2