Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Suara Hati Risma


__ADS_3

“Nek, sebenarnya Ayah kemana?”


Satu kalimat itu kembali mengudara begitu saja, keluar dari mulu gadis polos delapan tahun. Bu Marni masih gelagapan, ia bingung harus menjelaskan seperti apa pada cucunya.


“Nek, seandainya saja ada Ayah, bunda kan tidak harus capek-capek kerja. Bunda bisa di rumah menemani Risma, mengajari Risma untuk belajar dan bermain bersama seperti dulu lagi. Kenapa semuanya berubah tak seperti dulu lagi nek?”


Diam, Bu Murni masih mencoba untuk merangkai kata menjelaskan hal yang mudah pada cucunya.


“Nek, jangan diam saja. Katakan sesuatu. Apa benar yang di katakan teman-teman, jika aku tak mempunyai Ayah. Ayahku tak lagi sayang sama Risma?. Bukankah dulu Ayah Randi pernah janji waktu di panti untuk menjadi Ayahku selamanya?” gadis kecil itu mendongak menatap mata Bu Marni, masih menunggu sebuah penjelasan yang keluar dari mulut sang nenek.


“Risma sayang sini nak” Bu Marni memilih untuk merengkuh cucunya dalam pelukan. Ia menyandarkan kepala Risma pada pundaknya dan satu tangannya mengelus rambut panjang yang tak bersisir itu.


“Dengar Nenek bai-baik ya nak. Risma punya Ayah, Ayah Risma namanya Randi. Untuk saat ini Ayah sedang bekerja jauh dari sini. Dia bekerja di suatu tempat yang tidak bisa di jangkau dengan mudah”


“Tapi Nek, bukankah kita masih bisa untuk menghubunginya? Kita bisa telfon atau melakukan vidio call, seperti saat dengan Om Ipul” Risma menjauhkan tubuhnya dari jangkauan tangan Bu Srining, sebagai aksi protes atas pernyataan sang nenek.


“Tap nak, Ayah Risma berada di daerah yang tidak bisa di jangkau oleh signal telfon. Letaknya jauh sekali dari tempat tinggal kita. Ayah sedang mencari banyak uang untuk Risma”


“Apa gunanya uang nek? Jika kita tidak bisa menikmati dengan orang yang kita sayangi?” lagi-lagi pertanyaan Risma, membuat Bu Marni harus gelagapan dan memutar otak dengan cepat.


“Kita do’akan saja ya nak, semoga Ayah Risma lekas kembali. Semoga Ayah selalu sehat slalu” meski Bu Marni hanya berucap dalam lisannya. Jujur dalam lubuk hatinya yang terdalam ia berharap untuk tidak di pertemukan kembali dengan keluarga itu. Sudah cukup rasanya penderitaan dan segala kebohongan yang di lakukan pada anak perempuan satu-satunya.


“Risma mau belajar, biar Nenek bantu ya”


Risma mengangguk patuh. Ia berlari menuju kamarnya mengambil tas dan perlengkapan sekolah yanga ada.


“Nenek, aku dapat tugas suruh membuat gambar”


“Oh ya gambar apa nak?”


“Kata Bu Guru, kita di suruh gambar keluarga” mendadak wajahnya kembali menjadi lesu. Ia memegang kertas kosong yang hanya bertuliskan identitas dirinya.


Deg.


Lagi-lagi hati Bu Marni, harus di buat jantungan di usianya yang tak lagi muda ketika harus berhadapan dengan sang cucu.


Terdiam untuk sesaat. Bu Marni berusaha untuk menelan ludahnya yang mendadak terasa kering di tenggorokan.


“Ya sudah sini Nenek bantu” Bu Marni mulai membuka tas Risma, mengeluarkan beberapa alat tulis lengkap dengan pensil warnanya.


“Aku gambar dulu ya Nek. Nenek diam saja tidak usah bantu, cukup lihatin dan temani aku. Oke” Satu tangannya terangkat memberikan kode pada neneknya.


“Ok Tuan Putri” balas Bu Murni dengan menunjukan jempolnya. Ia menggeser sedikit dudunya agar Risma, dapat dengan leluasa untuk menggambar.


Hening.


Malam itu kembali hening, hanya terdengar goresan pena dan buku yang saling bergesek serta helaan nafas masing-masing dari keduanya. Tak jarang Bu Marni akan mengangkat sedikit lehernya demi untuk bisa melirik gambar yang telah di buat Risma.


Diam.


Masih dalam diam, lebih dari tiga puluh menit berlalu, tak ada interaksi di antara keduanya. Risma sibuk tenggelam dalam gambarnya. Ia mulai menuangkan apa yang ada dalam kepalanya kemudian mengaplikasikan dalam bentuk gambar. Sementara bu Muri, ia marasa cemas dengan gambar yang di buat sang cucu. Berkali-kali jemarinya saling meremas resah. Berharap Tari, lekas pulang untuk menjawab segala rentetan pertanyaan ajaib yang akan keluar dari mulut anaknya nanti.

__ADS_1


“Warna pink Nek” ucap Risma dengan tangan yang terulur meminta pada Bu Marni untuk mengambilkan warna pink.


“Ini” sejurus kemudian Bu Murni menyerahkan apa yang di minta cucunya.


“Ah, jangan lihat dulu dong nek, kan belum selesai” ucapnya dengan menutup gambarnya dengan tangan. Risma duduk membelakangi Bu Murni, ia tak memberikan kesempatan pada sang nenek untuk melihat gambarnya meski Bu Murni sudah mulai mengangkat-angkat kepalanya, berharap dapat melihat apa yang sedang di gambar.


“Iya, nenek tak lihat. Lanjutin dulu gih”


“Ok nek”


.


.


.


“Tara, sudah jadi” Risma tersenyum menunjukan deretan giginya yang rapi. Tangannya memegang satu lembar kertas yang telah di gambar.


“Wau, bagus sekali” puji Bu Marni kemudian. Ia menatap gambar yang telah di lukis Risma. Beberapa detik kemudian ia terdiam untuk sesaat.


“Ini adalah gambar keluargaku Nek, Ini adalah Bunda, aku dan Nenek” dengan cukup antusias Risma mulai mejelaskan gambar yang telah di buatnya.


“Lihat ini nek, Bunda memakai mahkota. Bunda itu seperti ibu peri yanga ada di buku dongeng. Bunda tidak pernah marah, Bunda itu cantik dan pekerja keras sampai jam segini belum juga pulang”


“Nek lihat ini, hayo kenapa baju kita semuanya warna pink? Hayo tebak nek?”


“Hem apa ya? Pasti karena Risma yang cantik ini suka denan warna pink. Betul begitu sayang?”


“Terus apa lo nak?”


“Ini karena Risma di penuhi kasih sayang. Kata Bu guru di kelas tadi, warna pink sebagai lambang dari kasih sayang. Sedang warna merah tanda berhenti, lampu hijau tandanya kita harus jalan terus dengan warna kuning pertanda kita harus hati-hati nek dalam berkendara” terang Risma dengan cukup antusias.


Bu Marni terdiam untuk sesaat “sejak kapan warna pink harus bersanding dengan lambang lalu lintas” desisnya dalam hati, yang enggan untuk di tanyakan pada sang cucu, demi menghindari perdebatan dan menjawab pertanyaan yang di luar nalar.


“Wah bagus sekali nak, gambarnya”


“Iya dong bagus, aku akan anak pinter. Nenek tahu tidak kenapa aku tidak menggambar Ayah di sini?”


Bu Marni menggelengkan kepalanya pelan, lagi-lagi harus melibatkan pertanyaan tentang Ayah yang membuatnya harus menghela nafas panjang untuk kesekian kalinya.


“Karena aku sudah lupa wajah Ayah nek. Lagian Ayah juga sudah tidak pernah datang. Aku juga tidak pernah lagi melihat fotonya sekarang. Jadi aku tidak tahu apa sekarang rambut Ayah panjang atau pendek. Aku juga tidak tahu apa warna kulit ayah sekarang, kuning apa cenderung hitam huft”


“Iya, iya anak cantik. Gambar ini saja sudah bagus sekali”


“Wah lihat sekarang sudah jam berapa? Risma sudah waktunya tidur dulu ya nak. Sekarang kita kemasi semuanya, Nenek bantu untuk bersih-bersih dan kita tidur” Bu Marni mengarahkan pangannya pada jam dinding yang ada di depan sisi ranjangnya.


“Tapi Bunda belum pulang?”


“Tak masalah, biar Nenek yang menunggu Bunda nanti. Ini sudah malam Risma harus lekas tidur biar besok tidak terlambat sekolah”


Dengan langkah yang gontai Risma menurut perintah Neneknya. Ia mulai mencuci kaki dan beranjak ke kamarnya di susul dengan Bu Marni yang berada di belakangnya.

__ADS_1


.


.


.


“Satu jam lagi kita tutup ya, pastikan semua kue-kue yang akan di kirim besok pagi sudah siap. Jangan lupa pastikan kemasannya aman” suara yang kalem dan ke ibuan mulai terdengar menginstruksi beberapa rekan kerjanya yang sedang lembur malam itu.


Malam memang kian larut, sejak tiga tahun berdiri toko kue Tari semakin berjaya. Banyak dari beberapa warga sekitar yang memesan kue di toko miliknya. Tari begitu ramah dan Hubble. Toko kue miliknya juga tidak memasang harga yang tinggi namun memiliki kualitas rasa yang tidak di ragukan lagi. Jadi tak jarang warga sekitar lebih memilih toko kue miliknya sebagi hidangan saat hajatan, atau sebagai buah tangan.


“Baik Bu” kompak enam pekerja yang membantunya menjawab. Semua pekerja yang ada di toko roti miliknya tidak lain adalah warga sekitar. Tari memang sejak dulu ingin berkontribusi di Desa tempatnya tinggal. Ia memberdayakan beberapa ibu-ibu dan remaja muda yang tidak memiliki pekerjaan.


Jemari Tari, saling beradu membantu memasukan satu persatu potongan kue itu pada kardusnya.


Lelah?


Jangan di tanya rasa lelah seperti apa yang mendera tubuhnya. Namun inilah hidup. Inilah yang dia cari beberapa tahun belakang ini. Benar saja Tari mencari kelelahan dan kesibukan agar ia bisa menghilangkan rasa sakit hati yang terlanjur mencederai hatinya saat itu.


“Bu, istirahatlah. Biar kami yang membereskan semua ini” ucap salah satu pekerjaannya. Ia merasa sungkan, terlebih ketika melihat Tari harus turun tangan untuk membereskan dapur, mengelap dapur tempat mereka produksi saat itu.


“Tak masalah” Tari memilih untuk menggelengkan kepalanya dengan pelan. Satu tangannya masih memegang kain lap untuk membersihkan sisa-sisa tepung yang ada.


.


.


.


Satu jam berlalu, satu persatu pekerjanya mulai pamit undur diri. Kala itu sang waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam lebih. Jalanan mulai tampak sepi, mengingat tokonya berada di Desa, di mana jam malam di sana berakhir di kisaran jam delapan dan sembilan, selebihnya mereka akan menutup pintu rumah masing-masing. Tak jarang dari penduduk Desa akan mematikan lampu halaman rumah mereka demi untuk mengirit tagihan listrik yang ada nantinya.


Tari masih terdiam sesaat. Ia duduk di meja kasir mulai menghitung pengeluaran yang masuk dan keluar minggu ini. Jemarinya mulai sibuk untuk melakukan tombol-tombol yang ada di mesin kalkulator demi menghitung laba minggu ini. Cukup lama ia duduk di sana tenggelam dalam kesibukan hingga tak menyadari jia waktu sudah mulai larut.


Deretan bintang dan rembulan mulai larut tertelan oleh pekatnya mendung malam itu. “Astaga sudah jam sepuluh lebih, aku harus lekas pulang” ia mulai berkemas, memasukan beberapa barang bawaannya yang penting ke dalam tas. Matanya mulai mengedar melihat sekeliling yang tampak sudah sepi terlebih malam itu gerimis datang menyapa.


“Ah bagaimana ini, au bahkan tidak membawa payung” rintihnya kembali setelah mematikan lampu-lampu toko.


Greek Greek Greek...


Suara pintu harmoni yang mulai tertutup. Tari menarik dengan kuat sisa-sisa pintu yang belum tertutup malam itu. Ia lekas mengunci pintu dan segara beranjak meningalkan toko.


Tari mulai membunyikan sepeda motor yang terparkir di halaman depan tokonya.


Set...setttt...setttt


Bunyi suara dobel stater mulai di gaungkan.


“Astaga, apa lagi ini. Kenapa pake acara mogok segala, mana sudah malam gerimis pula” ia bermonolog sendiri dengan mencoba kembali menstater sepedanya.


“Hah tidak bisa juga” keluhnya setelah beberapa kali mencoba namun tak kunjung menyala sepedanya.


“Hay...”

__ADS_1


__ADS_2