Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Rama dan Risma


__ADS_3

Hari mulai beranjak sore, meninggalkan teriknya matahari yang bersinar terang. Ia mulai tergeser, tergantikan warna jingga yang siap menggelora, menghiasi langit di bumi manusia. Roda mobil mulai berjalan, bergesekan dengan mulusnya aspal di tengah lenggangnya jalanan. Sore itu, kemacetan belum mendominasi jalanan yang ada. Jam pekerja belum waktunya untuk pulang. Sebagian orang masih sibuk dengan rutinitas masing-masih di tempat kerja mereka.


Rama memutuskan untuk pulang lebih awal. Ia sudah berjanji untuk menjemput Risma di sekolahnya. Ia tak ingin membuat gadis kecil itu menunggu terlalu lama, mengingat pagi tadi sudah berjanji untuk menjemputnya.


Benar saja sekolah Risma, setiap dua hari sekali akan pulang sore. Ada banyak kegiatan ekstrakurikuler dan pengembangan diri di sana. Tari, sengaja mengikut sertakan anaknya dalam setiap rangkain kegiatan yang ada di sekolah. Berharap sang putri dapat menemukan jati dirinya sejak kecil, hingga dapat dengan mudah untuk mengetahui fokus kemampuan anak setelah ini.


Senyum sumringah tak henti-hentinya menghiasi wajah Rama sore itu. Bahkan siapa pun yang melihatnya pasti akan menduga jika pria dewasa itu akan berkencan dengan seorang wanita. Maklum, Rama sudah lebih dari tujuh tahun menjadi duda. Tak jarang banyak dari rekan-rekan seprofesinya yang menyukainya. Bahkan dari beberapa pasien juga banyak yang mendaftarkan, entah itu anaknya, keponakannya atau cucunya. Namun sayang, hati Rama masih membeku enggan untuk terbuka pada penghuni baru.


Sayangnya semua tebakan itu salah. Senyum yang terukir di raut wajah Rama karena akan bertemu dengan Risma. Gadis kecil yang memiliki kulit putih, mata sipit dan hidung mancung. Wajah Risma, benar-benar mengingatkan pada seseorang yang pernah singgah di hatinya dalam waktu lama. Kekosongan dalam hati Rama, terasa menghangat dan penuh ketika melihat anak itu. Ia seakan menemukan arti dan makna untuk hidup kembali, setelah sekian lama merasakan hidup dalam kekosongan dan kehampaan jiwa.


Siapakah Risma?


Apa hubungan Risma, denganku?


Sejumlah rentetan pertanyaan terkadang timbul dalam benaknya, ketika sedang teringat akan anak itu. Namun saat itu juga Rama, hanya mampu menggelengkan kepala. Ia tak mampu menguntai benang merah yang ada di antara keduanya.


“Alhamdulilah sudah sampai” ucapnya dengan lirih, ketika mobil mulai berhenti di depan gerbang sekolah Risma. Ia sudah meminta izin pada Tari, untuk menjemput Risma hari ini sekaligus mengajak jalan-jalan putri kecil itu.


Semesta pun merestui. Ia tida menemukan kesulitan yang berarti ketika hendak meminta izin pada Tari, justru Tari yang berterimakasih padanya karena bersedia meluangkan waktu untuk menjemput anaknya. Maklum wanita itu sedang sibuk mengurus orderan di tokonya.


Di pandanginya seluruh penjuru sekolah, tampak deretan mobil sedang menunggu di halaman depan sekolah. Dada Rama bergemuruh, teringat akan ucapan Risma tadi pagi.


Aku suka naik mobil, tidak kepanasan dan kehujanan. Aku juga ingin di antarkan naik mobil seperti teman-teman yang lain.


“Ah, kasihan sekali kamu Ris, pasti kamu ingin seperti teman-teman kamu ya bisa di jemput Ayah dan Bundanya gantian seperti mereka”


Huft....


Rama menghela nafas panjang. Ia menyandarkan punggungnya di jok mobil, sambil matanya memindai mencari keberadaan Risma sore itu.


Tet...tet...tet....


Suara bel sekolah berbunyi, sebagai lambang telah berakhirnya masa pembelajaran di sekolah. Semua sisa-siswi saling berhamburan berebut menuju pintu gerbang sekolah. Mereka akan berlomba untuk saling mendahului, demi bisa pulang lebih awal dari sekolah.

__ADS_1


Sepuluh menit berlalu. Mata Rama masih mengedar mencari keberadaan Risma yang tak kunjung terlihat. Dalam hati mulai sedikit panik, khawatir gadis kecil itu akan pulang sendiri. Meski jika di pakai logika itu tidak mungkin, mengingat jarak sekolah dan rumah Risma, begitu jauh untuk ukuran jalan kaki. Bahkan dengan berkendara saja, masih menghabiskan hampir tiga puluh menit perjalanan.


“Di mana anak ini?” desis Rama, tubuhnya condong ke kanan dan ke kiri, mengamati setiap anak yang keluar dari pintu gerbang.


Tak kunjung menemukan keberadaan Risma, membuat Rama turun dari mobilnya. Ia berencana hendak menyusul ke dalam kelas saja.


“Eh itu dia”


“Risma” Panggil Rama, pria itu melambai-lambaikan tangannya pada gadis kecil yang sedang kebingungan di depan gerbang. Benar saja, Risma menenteng tas besarnya dengan raut wajah yang lesu. Bajunya sudah tak beraturan, terlihat kusut seperti habis di gunakan untuk bermain. Kerudungnya pun demikian, sudah tak berbentuk bergeser ke kanan dan ke kiri. Bahkan beberapa helaian rambutnya mulai terlihat meskipun gadis kecil itu menggunakan kerudung instan. Tapi tetap saja, wajah Risma masih terlihat sangat lucu dan mengemaskan.


“Om Rama” teriaknya dengan keras, seketika wajahnya berubah menjadi cerah. Bibirnya membentuk lengkung senyum ke atas. Ia merentangkan tangan hendak menuju Rama.


Kalian tanya ekpresi Rama?


Ia mematung di tempat. Terdiam untuk beberapa saat ketika melihat gadis kecil itu merentangkan tangannya dengan lebar. Sejurus kemudian kesadarannya kembali. Ia membalas dengan merentangkan tangan, menerima pelukan yang di berikan Risma.


“Om Rama. Om ngapain ke sini?” tanyanya ketika sudah berada dalam dekapan Risma. Risma sendiri tak menyadari tindakannya. Ia hanya reflek bersikap seperti itu. Lagi-lagi, mungkin ia merindukan sosok figur laki-laki (ayah) dalam hidupnya.


“Mau jemput Risma dong” jawab Rama dengan tersenyum. Ia merapikan kerudung Risma, membenarkan beberapa helaian anak rambut yang keluar dari sana.


“Ciyus” jawab Rama, dengan sedikit merubah nada bicaranya menjadi seperti anak-anak.


Risma tertawa geli mendnegarnya.


“Tapi Risma belum izin Bunda Om, kasihan Bunda nanti kalau jemput aku kesini tapi aku tidak ada”


“Tenang, om sudah izin sama Bunda Risma. Bunda juga sedang repot hari ini lagi banyak orderan kue. Sepeda Bunda juga masih di bengkel” terang Rama menjelaskan.


“Sungguh”


“Yes”


“Ok tuan putri sekarang kita berangkat. Lets go” Rama mengandeng Risma, membimbingnya untuk masuk ke dalam mobil. Rama juga membukakan pintu untuk gadis kecil itu, memastikan ia telah duduk dengan aman dan nayaman.

__ADS_1


“Hah, enak sekali Om kalau di jemput naik mobil” ucap Risma, gadis kecil itu mulai mengubah posisi dengan sedikit merebahkan tubuhnya.


“Oh ya? Kenapa?” Rama mulai memutar arah mobilnya dengan pelan, bergantian dengan penjemput lainnya yang sedang ada di depan mereka.


“Karena mobilnya dingin, tempatnya luas. Aku bisa rebahan” Ucap Risma dengan membenarkan tubuhnya, ia sedang mencari posisi ternyaman saat itu.


Rama menggelengkan kepalanya dengan senyum.


“Jadi seneng gak di jemput Om hari ini?”


“Seneng dong Om”


“Risma haus? Ini Om beli minum dan beberapa jajan untuk kamu”


Mobil mulai melaju dengan pelan sesuai permintaan Risma. Sepanjang perjalanan mereka asyik bernyanyi bersama. Rama, sengaja memutarkan beberapa lagu anak di sana untuk mencairkan suasana. Meskipun sebenarnya tanpa lagu pun mereka begitu akran dan tak pernah kehabisan bahan obrolan.


Harta yang paling berharga adalah keluarga.


Istana yang paling indah adalah keluarga.


Puisi yang paling bermakna adalah keluarga.


Mutiara tiada tara adalah keluarga.


Rama dan Risma kompak bernyanyi bersama, bahkan keduanya juga memperagakan tangan mereka dengan sangat menjiwai. Mimik mukanya pun demikian.


“Oh ya, Om keluarga itu seperti apa?”


Tanya Risma ketika lagu tersebut telah habis di putar. Matanya menatap polos ke wajah Rama.


“Ya seperti lagu ini, ada emak atau bunda, abah atau ayah dan anak dan saudara yang lain” terang Rama dengan asal, sesuai dengan anggota yang terdiri dalam lagu itu.


“Oh berarti aku gak punya keluarga dong. Aku gak punya Ayah dan saudara. Aku hanya punya Bunda dan Nenek saja. Om Rama mau tidak jadi keluargaku?”

__ADS_1


Deg....


__ADS_2