
Semua orang yang ada dalam rumah tersebut menikmati sarapan bersama dengan menu seadanya karena memang tidak ada persiapan khusus yang dilakukan Tari untuk menyambut kedatangan Ibunya yang begitu tiba-tiba.
Sarapan sederhana menurut keluarga Randi tapi tetap saja masih ada beberapa varian menu dan juga aneka buah yang tersaji di sana. Seperti biasa Bude dan Pakde akan menikmati dan makan semua makanan yang ia mau tanpa ada rasa sungkan atau malu pada pemilik rumah. Keluarga Tari juga berencana untuk menginap di rumah Randi malam ini karena kebetulan besok hari Minggu. Tentu saja atas ide dari Bude yang ingin menikmati rasanya menjadi orang kaya tinggal di rumah yang bagus dan luas.
***
Seperti yang sudah di rencanakan jika hari mingu tiba dan tidak ada lembur maka hari itu akan menjadi hari khusus untuk menikmati waktu dengan keluarga. Biasanya Randi akan membawa Tari untuk jalan-jalan keluar rumah, namun hari minggu ini berbeda mereka akan menghabiskan waktu bersantai di rumah.
Memasak dalam jumlah yang besar kebetulan juga ada keluarga Tari yang berkunjung. Tari benar-benar tidak ingin keluar rumah atau mengajak jalan-jalan keluarganya, bukan apa-apa Tari tak ingin di buat malu dengan tingkah budenya yang begitu ajaib nanti.
Ibu, bude dan mama sedang asik jalan-jalan di taman pekarangan rumah Randi, yang di sulap dengan begitu indahnya menjadi suatu taman asri dan menenangkan. Suara gemericik air mancur di tambah dengan deretan bunga menambah kesan indah taman itu. Mereka tiga wanita satu angkatan sedang menikmati minum teh hangat dengan cemilan donat di atas meja. Entah apa yang di bicarakan tiga wanita satu angkatan itu sepertinya cukup menarik karena sesekali terdengar tawa bude yang begitu menggelegar di tengah-tengah obrolan.
Sementara pakde dan papa sedang menikmati nonton bola di ruang tengah. Pakde begitu tercengang kala melihat tv di ruang tengah yang berukuran besar sekali seperti layar tancap di Desanya. Melihat hal yang baru itu, pakde tidak mau menyia-nyiakan dan ingin menikmati, bagaimana rasanya melihat tv dalam ukuran yang cukup besar.
Sedangkan Randi dan Tari sedang berada di dalam kamar mereka, Tari sedang memilah-milah beberapa baju yang kiranya bisa di pakai oleh pakde, kebetulan pakde kesini tadi tidak membawa baju ganti jadi ingin meminjam kaos Randi. Randi dengan setia menemani istrinya rasanya enggan untuk keluar kamar meskipun di luar papa dan pakde sedang menikmati menonton bola, bagi Randi melihat wajah Tari jauh lebih nikmat dari apapun itu.
“Mas pakde mau pinjam baju untuk ganti nanti siang, kiranya mana ya mas yang muat dengan pakde”, tanya Tari dengan mengeluarkan beberapa baju Randi yang memang jarang di pakai, entah itu terlalu besar atau bahkan terlalu kecil.
Sementara Randi tak menghiraukan Tari, ia lebih asyik untuk bergelayutan manja di punggung istrinya yang sedang sibuk memilih baju.
__ADS_1
“Mas”, rengeknya dengan kesal namun tetap terlihat manja.
“Terserah sayang yang penting kamu suka, pilihkan saja yang kiranya bisa di pakai”, jawabnya dengan lembut namun masih tetap bergelayutan manja.
“Kok terserah sih mas?, jadi ini mana baju yang kiranya tidak kamu pakai dan kebesaran atau kekecilan gitu biar aku bagi sama pakde dan sekalian di bawa pulang di pakai Ipul dan mas Udin, kan sayang baju segini banyaknya yang dipakai itu-itu saja”.
“Iya terserah sayang, aku percaya denganmu, kamu pandai memilih mana yang layak untukku dan tidak”.
“Eh tapi jangan baju yang ini”, ucap Randi dengan memegang satu kaos warna biru muda yang bertuliskan love baju pertama yang di belikan Tari setelah mereka menikah kala itu.
“Tapi itu sudah kekecilan lo mas, kamu juga sudah jarang pakai kalau di bawa Ibu kan bisa di pakai Ipul atau mas Udin”. ucap Tari mengingat tubuh Ipul dan Udin lebih kecil dari tubuh suaminya.
“Jangan dong sayang, ini baju hadiah pertama dari istri pertama, baju ini sangat berarti untukku”, jawab Randi dengan memeluk membawa dalam dekapannya kaos warna biru muda itu.
“Istri pertama mas? Memangnya kamu punya istri kedua?”, tanya Tari dengan menatap tajam wajah suaminya, sementara Randi membisu seketika kala menyadari apa yang ia ucapkan beberapa detik yang lalu, wajah Randi berubah menjadi panik dan bingung.
“Ya sudah kalau tidak boleh, biar aku cari baju yang lain saja”, ucap Tari tak menghiraukan suaminya yang masih diam mematung dengan memeluk kaos yang ia berikan dulu.
Kali ini jemari Tari kembali meraih pintu lemarinya, membuka baju-baju Randi yang kiranya tak di gunakan, dengan begitu cekatan Tari memisahkan antara yang layak dan tidak layak untuk di gunakan dan di berikan pada orang.
__ADS_1
“Mas nanti sing kita ke toko roti ya, Ibu dan yang lain ingin melihat tempat usaha kita”.
“Apapun sayang yang kamu minta, aku akan menuruti itu, asalkan bisa membuatmu bahagia”.
Randi lekas memeluk istrinya dari belakang dengan cukup erat, rasa bersalah kian membuncah dalam hatinya.
Semalam sebelum tidur Randi tak sengaja melihat Tari yang sedang meminum-minuman herbal yang di berikan leh ibunya, konon minuman itu bisa meningkatkan kesuburan dan mempercepat untuk mendapatkan momongan. Randi tak berani bertanya pada Tari tentang minuman itu karena sepertinya Tari merahasiakan ini.
Randi menjadi teringat dengan beberapa orang terdekatnya yang sering bertanya kapan mereka akan punya anak, apakah kalian sudah ke dokter? Apakah kalian sudah mencoba-coba dengan ramuan herbal?.
Randi tidak bisa membayangkan betapa tertekannya Tari ketika mendapat pertanyaan semacam itu, apalagi mulut bude yang bagaikan boncabe level lima belas kala membahas tentang keturunan. Padahal sampai saat ini baik Randi dan tari sama-sama saling berusaha satu sama lain, baik itu ke dokter dan memohon pada yang pencipta untuk lekas menitipkan anak pada keluarga mereka.
Sepanjang malam sayup-sayup Randi slalu mendengar doa-doa yang di lantunkan Tari dengan begitu memelas dan lirih untuk memohon sebuah keturunan bagi pelengkap kehidupan mereka, tak jarang Randi pun turut menangis kala mendengar istrinya ya yang sedang berdoa, hanya saja Randi pura-pura tertidur memejamkan mata tak ingin melihat istrinya semakin sedih.
“Aku sangat mencintaimu sayang, sangat mencintaimu”, begitulah kata-kata yang slalu di ucapkan Randis setiap harinya dengan memeluk tubuh ramping istrinya.
“Aku juga sangat mencintaimu mas”, jawabnya dengan menangkup pipi sang suami.
“Aku mencintaimu tidak peduli apapun itu”, kini Randi membenamkan wajahnya di leher istrinya menghirup lembut aroma tubuh Tari.
__ADS_1
Tok...tok....
Suara ketukan pintu membuyarkan acara kemesraan mereka berdua.