Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Hati Yang Tak Mampu Terbagi


__ADS_3

Randi berlalu begitu saja meninggalkan Mawar yang masih di ruang tengah. Ia melangkah dengan cepat meninggalkan wanita itu dan beranjak ke kamar.


Sementara Mawar, wanita itu tersenyum ketika mendapati suaminya bergerak menuju ke kamar. Dalam benaknya sudah terbayang banyak hal Yang akan mereka lakukan setelah ini.


Ia lekas mematikan tv dan beranjak menyusul suaminya. Di dalam kamar, Randi sudah merebahkan tubuhnya di tepi kasur. Ia meringkuk memeluk guling dan memejamkan matanya.


"Mas apa kamu sudah tertidur?" tanya Mawar dengan pelan, ia mulai mengikis jarak untuk bisa mendekat pada suaminya.


"Hem" jawab Randi sekilas tanpa berniat untuk menatap lawan bicaranya. Ia lebih memilih untuk membelakangi Mawar.


"Apakah kau tak ingin bercerita denganku Mas?" tanya kembali, kali ini Mawar semakin mendekat ke arah punggung suaminya. Ia memberanikan diri untuk menyentuh punggung yang bidang tersebut.


Diam.


Alih-alih memberikan jawaban, Randi lebih memilih diam dan memutar musik dalam ponselnya. Ia mendengarkan beberapa musik favoritnya sebagai penghilang penat malam itu.


"Mas" rengek kembali Mawar dengan manja.


Diam.


Randi mematung, ia layaknya patung yang mampu bernafas hanya diam saja tak memberikan reaksi sama sekali.


"Mas apakah kau ingin bercerita sesuatu denganku?"


"Tidak!" dengan tegas Randi menjawab.


Tentu saja, jawaban dari Randi begitu menusuk hatinya.


"Hem bagiamana kalau kita makan saja dulu. Semenjak hamil aku suka lapar kalau malam seperti ini. Aku masakkan nasi goreng ya nanti kita makan sama-sama"


"Aku tidak tertarik!"


Huft


Mawar menghela nafas yang panjang, asanya untuk meraih hati Randi begitu sudah. Segala macam cara telah ia coba. Hanya saja pria itu masih dingin dan diam membisu.


"Kalau begitu aku yang bercerita saja ya mas"


"Kalau untuk mama anak kita nanti, kira-kira kamu masih nama siapa?"


"Terserah"


"Aku sudah menemukan beberapa rangkaian nama untuk anak kita nantinya. Aku juga sudah mencari beberapa toko barang keperluan bayi. Kapan-kapan kita ke sana ya Mas"

__ADS_1


Diam.


Wajah Randi semakin kusut ketika harus membahas tentang bayi. Ia kembali teringat akan tanggung jawabnya setelah ini pada anak yang di kandung Mawar. Ia mencoba untuk memejamkan mata menghilangkan segala gundah yang menerpa di dadanya.


"Mas kira-kira anak kita cowok apa cwek ya?"


"Aku tidak tahu"


"Untuk sekolah anak kita nanti sebaiknya di mana ya mas?"


Wanita itu terlalu banyak berangan tentang masa depan, tentang anaknya. Tentang pernikahan ya dengan Randi. Namun sayang pria yang bergelar suaminya hanya diam saja tak memberikan reaksi lebih. Ia memilih untuk acuh dan bersikap dingin.


"Tidurlah jangan terlalu banyak menghayal ini sudah malam"


Satu kalimat yang membuat Mawar kecewa malam itu. Ia sudah membayangkan melakukan banyak hal dengan suaminya. Namun pria itu justru menyuruhnya untuk tidur begitu saja dan membiarkan malam tenggelam tanpa kenangan yang tercipta.


"Aku ingin merasakan pelukanmu kembali Mas seperti beberapa waktu yang lalu"


"Aku tidak bisa"


"Tidurlah!" perintah Randi kembali. Ia masih enggan untuk menatap istri mudanya. Ia justru semakin meringkuk dan memberikan jarak antara ke duanya.


Satu jam berlalu, Randi tak kunjung bisa memejamkan matanya. Ia melirik sekilas wajah wanita yang ada di sampingnya memastikan jika wanita itu sudah tertidur lantas segera beranjak meninggalkan Mawar sendirian.


Rumah Randi.


Sementara itu, Tari sedang tertidur sangat pulas di kamar Risma, ia begitu menikmati moment-moment baru menjadi seorang ibu, tangannya begitu posesif memeluk sang putri meskipun dalam kondisi tertidur.


Randi masuk dengan perlahan dan mengendap-endap dalam kamar, ia turut merebahkan dirinya di atas ranjang dengan tangan yang melingkar cukup pelan pada istrinya, takut untuk membangunkan Tari dan Risma.


Tari yang merasakan ada pergerakan di pinggangnya mulai menggerak-gerakkan mata dan membuka matanya secara perlahan.


“Mas”, ucapnya dengan lembut dan serak khas orang bangun tidur.


“Iya sayang”, jawab randi dengan begitu halusnya.


“Jam berapa ini mas?”, kini matanya melihat ke arah jam dinding yang menunjukan pukul satu dini hari.


“Maaf ya sayang menggangu tidurmu”, Randi mencium lembut kening istrinya.


“Mas baru pulang?, pasti capek sekali ya? Sudah makan?”, tanya Tari dengan begitu bertubi-tubi membuat Randi tersenyum mendengar segala perhatian istrinya.


“Aku sudah makan, sudah tidur saja”.

__ADS_1


“Pindah yuk mas’, kini satu tangan Tari meraih tangan suaminya dan membawa Randi ke kamarnya, tak lupa sebelum meninggalkan Risma sendirian mereka memberikan guling di antara dua sisi agar Risma tak terjatuh dan lebih nyaman.


Randi yang mendapat ajakan tersebut lekas tersenyum dengan senang hati mengikuti langkah istrinya menuju kamar mereka.


Sepuluh menit kemudian, keduanya sudah berada di atas ranjang dan bersiap untuk memejamkan mata dan mengarungi alam mimpi secara bersamaan.


Kruk...kruk..kruk....


Tiba-tiba terdengar suara perut Randi yang sedang berbunyi malam itu.


“Kamu lapar ya mas?”, Tari membelai lembut pipi sang suami.


Randi hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya saja di perlakukan begitu manis oleh istrinya.


“Ayo aku temani makan, aku buatkan nasi goreng atau mie goreng?”.


“Tidak sayang sudah malam, kamu pasti sangat lelah”.


“Tapi kamu lapar mas, ayo kita makan dulu”.


Tari kembali bangkit dari ranjangnya dan menuju dapur, yang kemudian di susul Randi mengekor di belakangnya dengan memeluk lembut pinggang sang istri mencium rambutnya sepanjang perjalanan menuju dapur.


Dengan cekatan Tari lekas mengolah bahan yang ada untuk membuat nasi goreng putih makanan simpel kesukaan Randi untuk sarapan harusnya, tapi karena bahan yang ada hanya bisa untuk memasak nasi goreng maka Tari membuatkan itu saja.


Tak butuh waktu yang lama nasi goreng putih dengan telur ceplok sudah tersaji di atas piring, Randi memiliki permintaan khusus malam itu ingin makan sepiring berdua dengan Tari.


Mendengar permintaan suaminya Tari menuruti dengan menjadikan dua porsi nasi goreng putih dalam satu piring. Keduanya makan malam bersama dengan Randi begitu manjanya meminta untuk di suapin istrinya.


Dengan telaten dan penuh cinta Tari menyuapi suaminya, sepanjang perjalanan makan malam Randi tak henti-hentinya memandang wajah istrinya.


Rasa cinta dan takut kehilangan begitu besar hingga membuat dia berlaku over perhatian pada Tari beberapa hari ini.


“Mas jangan di lihatin terus dong”. Tari menundukkan wajahnya merasa gugup di pandang suaminya dari tadi.


“Kenapa?”.


“Aku malu mas”, kini ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


“Kenapa harus malu kamu halal untuk ku pandang”. Randi mencubit gemas wajah pipi istrinya yang tampak memerah malam itu.


Kini keduanya kembali menikmati makan mereka berduanya, hanya mereka berdua tidak ada yang lain.


Hanya ada Randi dan Tari saja.

__ADS_1


__ADS_2