
“Berapa lama lagi aku harus menunggu?”
Tari menggelengkan kepalanya dengan pelan.
“Selama apapun aku akan menunggu”
“Aku tahu kamu adalah orang baik. Kamu pernah memberikan hatimu sepenuhnya untuk pasanganmu, secara utuh dan tulus. Aku tahu kamu pernah gagal dalam sebuah hubungan, tapi jangan pernah takut untuk memulai sebuah hubungan yang baru. Karena kita tidak akan
pernah tahu, jalan apa yang tertulis dari Allah untuk kehidupan kita yang baru
setelah ini”
“Satu lagi yang harus kamu tahu Tar, aku memang pernah menikah. Aku mencintai mendiang istriku sepenuh hatiku. Hingga kini dan sampai detik ini. Namun, rasa sayang dan
cintaku padanya berbeda dengan caraku untuk mencintaimu. Kalian memiliki posisi dan porsi yang berbeda. Jangan pernah anggap bahwa ini hanya sebuah pelampiasan. Jika cintaku pada mendiang istriku adalah keabadian maka denganmu adalah sebuah kemenangan”
“Aku tidak pernah bermain-main dalam urusan perasaan, jadi akan ku tunggu jawabanmu kapanpun itu”
Untuk sesaat keduanya saling berdiam diri. Pandangan mata mereka saling mengunci. Masing-masing di antara mereka sedang mencari ketenangan dan sebuah jawaban atas keraguan yang masih membuatnya bimbang. Sejurus kemudian Tari, memberikan sedikit senyumnya
untuk memecah kecanggungan di antara mereka. Tak ada adegan romantis untuk
saling berpelukan atau berpegangan tangan. Tari masih sibuk menata hatinya yang pernah terluka menjadi berkeping-keping jumlahnya.
“Akan aku jawab jika keyakinan dalam hatiku sudah terkumpul” jawab Tari dengan tersenyum tipis pada pria di depannya.
“Akan aku tunggu itu” Rama pun membalas dengan senyuman. Lagi-lagi ia rela menunggu sebuah jawaban dari janda. Meskipun seandainya mau dia bisa mendapat wanita lain yang jauh lebih cantik di luar sana.
“Aku permisi dulu” pamitnya kemudian.
“Silahkan” jawab Tari dengan tersenyum.
Rama masih terdiam dalam posisinya, ia memandang lekat wajah Tari yang sedang tersenyum, Rasanya terlalu lama wanita ini tidak tersenyum setulus ini. Membuatnya enggan untuk beranjak ketika menikmati keindahan yang ada.
“Aku permisi dulu” pamitnya kembali.
“Iya silahkan”
“Silahkan” tangan Tari, terulur untuk menunjukan arah ke mana Rama harus meninggalkan dia.
Untuk sesaat kedua kembali harus terlibat dalam posisi salah tingkah. Rama lekas meninggalkan
__ADS_1
Tari. Ia berniat untuk melakukan tes DNA saat itu juga. Beberapa saat setelah melangkah meninggalkan Tari, ia bersorak kegirangan. Pria dewasa yang kembali lagi menjadi anak muda. Menyadari jika Tari akan memasuki kamar, Bu Marni lekas berjalan cepat menuju sofa. Ia membuka-buka majalah yang ada. Matanya sibuk
untuk melihat-lihat gambar yang ada di sana.
“Risma sudah tidur Bu?” tanya Tari, ketika baru saja memasuki kamar anaknya.
“Iya baru saja ia tertidur dengan pulas” jawab Bu Marni, ia berusaha untuk menahan senyumnya.
“Bu aku mau nitip Risma sebentar. Aku harus ke toko untuk melihat beberapa bahan dan pesanan di sana. Beberapa hari tidak ke sana pasti banyak pekerjaan yang terbengkalai. Aku harus
memastikan semuanya tetap aman seperti sedia kala”
“Pergilah nak biar ibu yang menjaga Risma di sini. Istirahat dulu di rumah nanti. Kamu pasti
kelelahan beberapa hari ini begadang menjaga anakmu”
“Trimakasih ya Bu, nanti kabari aku jika Ibu dan Risma memerlukan sesuatu. Akan aku bawakan ketika kembali ke sini”
Bu Marni mengangguk kepalanya dengan pelan. Tari lekas menuju sisi ranjang anaknya. Ia mengecup sekilas kening Risma, pelan sekali agar tak menimbulkan gesekan yang berarti.
“Bu pamit dulu. Assalamualaikum” Tari mengendap-endap dengan pelan. Ia mencium tangan ibunya dengan penuh takzim,
“Waalaikumsalam nak. Hati-hati”
Siang itu, di tengah teriknya sinar matahari. Tari mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan sedang. Seperti yang telah di rencanakan jika ia akan menuju tokonya langsung. Panasnya matahari yang menyengat tak menyulutkan tekadnya untuk tetap ke sana.
“Bu Tari” beberapa karyawannya lekas berhamburan memeluk anita itu ketika melihat kehadiran Tari.
“Bagaimana kondisi Risma, apa semuanya baik-baik saja?”
“Iya Risma baik-baik saja. Ia mengalami patah tulang. Saat ini masih dalam tahap pemulihan. Jadi aku akan jarang ke toko untuk beberapa waktu ke depan. Bagaimana kondisi toko? Apa semua aman-aman saja?”
“Bu kita mendapat banyak pesanan untuk beberapa hari ke depan. Saya ada beberapa bahan yang tidak bisa menemukan” salah satu karyawan menunjukan pada Tari catatan mereka yang berisi orderan dan bahan-bahan yang di perlukan.
“Baiklah saya akan belikan setelah ini”
“Biar saya belikan Bu. Bu Tari cukup memberi tahu saja di mana tempatnya” jawab salah satu pekerjanya.
“Tidak ini jauh, dan tidak di satu tempat. Jika tidak ada di tempat ini aku akan segera pergi ke
tempat yang lainnya”
__ADS_1
“Kalau begitu biar saya temani Bu. Saya bisa membantu untuk mengen darai sepeda Ibu”
“Baiklah kalau begitu
Kembali ke Rumah Sakit.
Sore itu, segala rentetan pemeriksaan Bu Srining sudah selesai di lakukan. Berikut jadwal
terapinya juga sudah selesai di lakukan. Ia tak sabar untuk lekas mengunjungi Risma. Randi membawa serta Bu srining untuk ke sana. Sebelumnya ya ia membersihkan dulu tubuh Bu Srining, menggantikan baju dan jilbabnya dengan yang baru.
“Ma, kita jenguk Risma ya. Aku ingin tahu kondisinya bagaimana dan apa yang telah menimpanya” ujar Randi ketika ia sudah bersiap untuk mendorong Bu Srining yang ada di kursi
roda.
Bu Srining, menganggukkan kepalanya untuk memberikan respon.
Randi mendorong Bu Srining dengan pelan. Ia tidak bertanya pada resepsionis perihal kamar inap Risma. Pria itu lebih memilih untuk melihat satu persatu kamar pasien yang ada. Senyumnya mengembang membayangkan asa indah yang sudah di pelupuk mata.
“Ma, aku rasa ada di sini. Tadi pagi aku melihat salah satu Dokter mendorong Risma masuk ke dalam ruangan ini”
Bu Srining diam tak memberikan reaksi. Dalam benaknya teringat akan Dokter yang membersamai Risma dan Tari kemarin.
Tok..tok...
Randi mengetuk pintu dengan pelan, l mengucapkan salam sebelum pintu itu sempat di buka.
“Assalamualaikum”
Bu Marni yang menyadari jika ada tamu lekas berdiri hendak untuk membukakan pintu. Dalam benaknya sudah berfikir jika yang datang pasti Rama mengingat hanya pria itu yang selama ini
menjenguk Risma. Sementara Risma gadis kecil itu sudah bersorak senang. Rama telah menepati janjinya untuk menjenguk dia ketika Sore.
Dengan langkah yang tergopoh Bu Marni berjalan membukakan pintu kamar itu.
Ceklek...
Deg...
Deg...
Satu wajah yang tidak di inginkan muncul dari balik pintu dengan tersenyum.
__ADS_1
“Ayah...” teriak Risma dari ranjang tanpa melihat siapa yang datang.
Hay teman-teman mohon dukungannya ya, untuk like, vote dan juga kirim hadiah Trimakasih 😊