Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Penantian


__ADS_3

“Ah tidak juga Tar, Ibu dulu setahun menikah baru hamil kamu. Tenang saja masih baru juga menikah nikmati saja dulu masa-masa pacaran kalian saat ini”. Kini Ibu mulai membela Tari jika sesekali dalam obrolan mereka Bude memojokannya.


Tari tersenyum tipis mendengar ucapan Ibu, sedikit banyak hatinya terasa lega akan hal itu. Mungkin memang harus bersabar, bersabar seperti saat penantian akan jodohnya dulu. Bukankah dengan segala kesabaran yang ada kini dia memetik hasilnya mendapat suami yang begitu baik lagi sayang dengan keluarganya.


Sedangkan Bude merasa kesal karena tak dapat membuat Tari bersedih sesuai dengan yang biasa ia lakukan.


“Ya siapa tahu saja gitu, kalau mandul”. ucapnya kembali dengan mulut yang berlipat-lipat dan melirik Tari.


“Halah baru juga nikah mbak, lagian sekarang program-program kehamilan juga banyak”.


Andai saja meminta anak bisa segampang itu, tak semua orang dapat dengan mudah mendapatkannya.


Ibu kemabli menyiapkan makan untuk sarapan mereka, selain membawa beberapa kue rupanya tadi Tari juga menyempatkan diri untuk membeli lauk di jalan agar tak merepotkan Ibu untuk buru-buru memasak menjamu kehadiran mereka.


Menyadari kebiasaan keluarganya yang akan makan bersama demi rasa persaudaraan yang semakin erat, Tari membawa makanan cukup banyak pagi itu. Soto daging, pecel lengkap dengan peyeknya juga beberapa ikan asap yang sudah matang tinggal membuat sambal.


“Wah makan enak ini”. Lirik bude kala mendapati semua makanan berjejer begitu rapi di meja makan.


“Aku pulang dulu ya, mau bangunin anak-anak buat sarapan”. Pamit bude pada ibu dan Tari.


“Iya bude, lekas ke sini sarapan bersama”. Tawar Tari bosa-basi.


Bude berlalu meninggalkan rumah mereka.


“Halah tanpa di tawari juga pasti akan makan di sini Tar”, ucap Ibu dengan gemas.


Benar saja beberapa saat kemudian keluarga bude beserta rombongan datang dan makan bersama pagi itu.

__ADS_1


***


Lima Tahun Kemudian.


Kehidupan pernikahan Tari dan Randi berjalan sesuai dengan apa yang mereka impikan selama ini. Sakinah mawadah dan warohmah teras begitu nyata di sana. Tidak ada tuntutan untuk lekas memiliki momongan dari berbagai pihak. Semua keluarga secara kompak mendukung setiap usaha yang di lakukan Tari maupun Randi.


Berbagai ikhtiar mereka jalankan dari mulai yang herbal dan medis, tak ada keluhan dan kendala yang berarti pada keduanya, hanya saja memang yang maha Kuasa memang belum menitipkan anak di tengah-tengah keluarga mereka saat ini.


Sepanjang malam tak henti-hentinya kedua pasangan tersebut berdoa dan memohon pada sang Kuasa dengan sepenuh hati, agar lekas di karuniai keturunan di tengah-tengah keluarganya untuk menyempurnakan pernikahan mereka.


Hanya saja sampai saat ini memang Allah belum mengabulkan doa-doa mereka. Allah masih ingin melihat usaha yang mereka lakukan dan sedang menguji kesabaran hambanya ini.


Terkadang tak dapat di pungkiri rasa iri itu ada, tak kala Tari melihat wanita yang seusianya sudah memiliki anak lebih dari dua, mengingat dulu Tari menikah juga dalam usia yang cukup matang. Seperti sahabatnya Fitri yang kini sedang merayakan ulang tahun anaknya ke empat bersamaan dengan kelahiran anak keduanya rasanya sungguh lengkap sekali kehidupan mereka.


Namanya Arsy dan Arsya sepasang buah hati yang lucu-lucu dan mengemaskan. Arsy begitu cantik, pintar, lucu dan juga mengemaskan sekali kini sedang merayakan ulang tahun. Tari memberinya boneka berukuran cukup besar untuknya, sedangkan Arsya adiknya yang baru lahir tak kalah mengemaskan juga.


“Enak ya mas jadi Fitri, ia sungguh wanita yang beruntung sudah memiliki keturunan. Tidak sepertimu yang sudah lima tahun menikah tapi tak kunjung di berikan anak. Fitri bahkan anaknya sudah dua mas. Mereka tampak lucu dan menggemaskan" Ucapnya dengan sendu tak berani melihat sang suami.


“Aku kapan ya mas bisa merasakan kebahagian seperti Fitri dan suaminya?, kapan ya Allah mengabulkan doa-doaku?”, kini matanya mulai berkaca-kaca menahan butiran bening yang sudah hampir jatuh begtu saja.


“Segera sayang bersabarlah”. Jawab Randi dengan mengangkat dagu istrinya kemudian memberikan pelukan.


Keduanya kembali menitipkan air mata yang sama-sama di sembunyikan di balik pelukan, tak ingin menyakiti satu sama lain, saling mencoba untuk menguatkan meskipun sebenarnya keduanya rapuh dan begitu menginginkan kehadiran seorang anak. Namun mau bagaimana lagi?, ikhtiar terbaik telah mereka lakukan, kini mereka hanya bisa memasrahkan pada sang Pencipta.


“Mas bolehkah aku bermain sebentar dengan Arsy sebelum kita pulang?”. Tanyanya penuh harap pada suami, mengingat waktu yang sudah cukup malam untuk berkunjung karena acara sudah selsai sejak tiga jam yang lalu, hanya saja keduanya masih enggan untuk beranjak dari rumah Fitri.


Randi melihat jam yang melingkar dalam pergelangan tangannya.

__ADS_1


“Boleh sayang”. Jawabnya dengan memberikan senyuman hangat pada sang istri.


Tari lekas kembali ke kamar Arsi bocah berusia empat tahun yang kini sedang tidur dengan memeluk boneka yang ia berikan tadi. Cukup dengan memandang wajah tidur Arsy yang tenang sudah cukup membuat hati Tari menghangat. Tanpa Tari sadai Fitri sahabatnya dari tadi memperhatikan prilakunya.


Fitri datang dengan membawa baby Arsya yang masih dalam bedongan kemudian memberikan pada Tari.


“Gendonglah, siapa tahu setelah ini akan ketularan”.


Matanya berbinar kala mendapat uluran tangan sahabatnya yang mengizinkan untuk menggendong bayinya.


Dengan sigap Tari meraih babay Arsya dan membawanya dalam pelukan, Tari menggendong dengan berjalan-jalan kecil di sekeliling kamar, tak lupa dengan menyanyikan lagu khas anak-anak.


“Sayang apa kita bisa pulang?”, tanyanya dengan lembut pada Tari yang masih asik menggendong baby Arsya.


Tari melirik jam dinding di rumah itu.


“Astaghfirullah”. waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam.


“Iya mas ayo kita pulang, aku pamitan dulu ya sama Fitri’, ujar Tari sambil membawa baby Arsya menuju ibunya.


“Fit maafkan kami ya bertamu cukup lama sekali, kami rasa kami harus pulang sekarang”. Pamitnya dengan menyerahkan baby Arsya pada ibunya.


Fitri hanya tersenyum saja menganggukkan kepalnya.


Fitri memberikan Arsya untuk di gendong Tari, dan meninggalkan mereka di kamar Arsy sengaja memang untuk memberikan ruang pada Tari agar turut merasakan menjadi seorang Ibu.


“Ngak papa Tari, trimakasih ya sudah hadir di ulangtahun Arsy, trimakasih juga untuk hadiahnya. Arsy suka sekali tuh lihat saja bonekanya langsung di peluk sampai tidur.

__ADS_1


“Alhamdulilah kalau dia suka, baiklah kami pulang dulu ya Assalamualaikum”, pamit Randi dan Tari.


__ADS_2