Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Saling Terluka


__ADS_3

“Wasalamualaikum”. Ibu lekas berdiri membukakan pintu untuk mempersilahkan tamunya masuk.


“Nak Randi”, sapa Ibu kala mengetahui menantunya yang datang.


“Silahkan masuk nak”, Randi tersenyum dan turut mengekor di belakang ibu mertuanya untuk masuk.


Tari, yang menyadari jika suaminya datang ke rumah lekas keluar dari kamar mandi dan menghampiri Randi, sebelum Randi bertanya pada Bu Marni keberadaanya.


“Mas”, sapanya lembut, dengan menyambut kehadiran suaminya. Ia memasang senyum termanis yang ia punya, seolah sedang tidak terjadi apa-apa di antara mereka berdua.


Dadanya begitu sesak kala kembali harus berhadapan dengan suaminya. Matanya enggan untuk menatap wajah Randi. Hatinya masih hancur, lupa itu masih basah.


Sementara Ibu mohon izin ke dapur sekaligus ingin memberikan ruang pada mereka berdua.


“Sayang”. Ucap Randi dengan parau, tangannya terulur untuk memegang tangan istrinya.


Tari dengan sigap menepis uluran tangan Randi, tanpa mengucapkan sepatah katapun.


“Sayang ayo kita pulang, jangan seperti ini, tolong jangan membenciku, maafkan atas segala kekeliruan yang telah terjadi”. Kini Randi duduk bersimpuh di hadapan sang istri memohon dengan lembut. Sorot matanya penuh dengan pengharapan.


Tari masih enggan untuk menatap wajah suaminya, ia berpaling membuang wajahnya ke segala arah. Tak ada kata yang terucap dari mulutnya, ia terlanjur terluka dan kecewa dengan segala keadaan yang ada.


Sementara di balik tirai ruang tengah, Ibu menatap pilu anak dan menantunya yang sedang berseteru. Ini pertama kalinya Bu Marni melihat Randi menangis dan memohon pada anaknya, pertama kali pula bagi Tari untuk memohon di perkenankan tinggal di sana selama beberapa hari ke depan.


“Sebenarnya apa yang sedang terjadi di antara kalian nak?’. Rentetan pertanyaan begitu panjang hinggap di kepalanya, sebagai orang tua hatinya ikut merasa sedih kala melihat anaknya sedang tidak baik-baik saja.


“Yang aku tahu, tentu saja masalah kalian sangat besar hingga kalian sampai seperti ini”. Desis Bu Marni dan berlalu ke dapur untuk mengambil minum untuk Risma nanti malam. Sementara Risma sudah terlelap dalam kamar. Gadis kecil itu kelelahan setalah seharian penuh turut andil merasakan drama kedua rang tuanya.


“Mas ini di rumah Ibu, aku mohon bersikaplah seolah kita baik-baik saja’. Desis Tari, kalimat pertama yang ia lontarkan setelah Randi meraung-raung memohon ampun padanya. Tari begitu takut jika Ibunya mengetahui ia dan suaminya sedang bertengkar.


Randi membuang nafasnya pelan, kemudian menganggukkan kepalanya. Randi semakin merasa bersalah pada Tari, karena sampai saat ini ternyata Tari, belum mengadu dengan Ibunya tentang masalah yangs sedang mereka hadapi.


Tari lekas meraih Tas Randi, dan membawanya masuk ke dalam kamar, Randi pun mengikuti langkah Tari untuk masuk.

__ADS_1


“Tar, buatkan minuman untuk Randi, teh angat atau kopi panas. Ambilkan makanan juga, kalian mau makan di kamar juga tidak papa, biar Risma malam ini tidur sama Ibu, Ibu kangen sekali sama dia”. Tukas Ibu yang kembali memberikan ruang untuk anak dan menantunya agar saling dapat berbicara dengan leluasa.


Tari mengikuti setiap perintah yang di berikan ibunya. Tangannya mengepal sempurna, mulutnya enggan untuk berucap kala sedang berada dalam kamar yang sama dengan Randi.


Tari kecewa.


Ia merasa jijik, dan ingin berteriak kala membayangkan Randi sedang menyentuh wanita lain. Tangisnya kembali pecah pertahanannya luntur sudah.


Ia menangis membekap wajahnya dengan bantal untuk meredam suaranya. Randi kembali bersimpuh didepannya.


“Sayang aku harus apa? Untuk membuatmu bisa memaafkan aku?”,


Tari tak dapat memberikan jawaban, lidahnya terasa sangat kelu enggan untuk berucap. Menatap wajah Randi saja sudah membuatnya muak dan jijik. Sungguh bayang-bayang Randi sedang mencumbu wanita lain begitu nyata di kepalanya.


“Tidak”.


“Jangan mendekat”.


“Tolong jangan mendekat, jangan sentuh aku”. Aku tak rela tubuhku di sentuh oleh suami orang”. Desisnya lirih.


*****


Pagi mulai menyapa kala sang surya menampakan cahayanya, rumput-rumput nan hijau masih basah oleh embun pagi hari.


“Bu, aku niti Risma dulu ya di sini, aku dan Mas Randi ingin liburan berdua”. Pamitnya pada sang Ibu tak ingin membuat khawatir.


“Pergilah nak biar Ibu yang menjaga Risma di sini, nanti jika segala urusan kalian sudah selesai datanglah kembali”.


Sesuai dengan kesepakan mereka berdua semalam, jika pagi ini mereka akan menyelesaikan semuanya. Untuk sementara waktu Risma akan di titipkan dulu di rumah Ibunya. Karena memang seperti itulah yang terbaik saat ini.


***


Keduanya mulai meninggalkan rumah ibu Tari, mereka pergi tanpa arah dan tujuan. Sepanjang perjalanan keduanya sama-sama diam enggan untuk saling membuka suara. Randi yang begitu merasa bersalah dan Tari yang begitu kecewa dengan keadaan yang ada.

__ADS_1


Mobil masih berjalan membelah jalanan yang cukup padat, desir udara di pagi hari yang begitu segar dan dingin tak lantas membuat hati keduanya terasa dingin.


Tiga puluh menit perjalanan, sampailah mereka berdua di salah satu waduk yang cukup luas, hamparan rerumputan nan hijau menyambut kedatangan mereka, keduanya duduk di di tepi waduk menatap aliran air yang tenang.


“Aku minta maaf sayang”. Lirih Randi namun Tari enggan untuk menjawab ucapan suaminya, ia lebih memilih untuk membuang wajahnya melihat pohon-pohon hijau sepanjang waduk.


“Aku ingin memberi tahumu, aku tidak bermaksud merahasiakannya”. Tukas Randi kembali.


“Tapi kamu sudah merahasiakannya, sela Tari dengan dingin dan meremas ujung gamisnya.


“Maaf sayang, aku salah, aku benar-benar minta maaf padamu. Tapi sungguh aku benar-benar terpaksa dengan semua ini”.


“Terpaksa? Sampai dia bisa hamil anak kamu? Itu yang namanya terpaksa heh!?”. Teriak Tari dengan begitu kencangnya tanpa sadar membuat Randi terkejut.


“Jadi ini mas, alasan kamu selama ini tidak pernah mempermasalahkan aku yang tak kunjung bisa memberikanmu seorang anak? Karena kamu sudah memiliki istri kedua dan dia sedang hamil anak kamu huh!. Teriak Tari kembali, kali ini air matanya sudah lolos begitu saja. Sesak dan sakit kala berkolaborasi menjadi satu membuat ia ingin mati saat itu juga.


“Aku memang bodoh terlalu percaya denganmu, aku bodoh sudah terbuai dengan semua perilaku dan kata-katamu, aku pikir akulah ratu dalam hidupmu, ternyata aku salah aku tak lebih dari seorang istri yang tak berguna”.


“Tidak sayang, jangan bicara seperti itu. Akulah yang bodoh telah salah mengambil keputusan terbesar dalam hidupku”.


“Aku sangat terpaksa Tari, mengertilah, aku harus bagaimana untuk membuatmu bisa mempercayaiku?”. Mohon Randi di titik nadirnya ia sudah frustasi dengan keadaan yang ada.


“CERAIKAN AKU!”. Ucap Tari dengan lirih namun penuh penekanan.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Mohon dukungannya kak, jangan lupa like, komen dan subscribe kasih vote juga 😊


__ADS_2