Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Apakah?


__ADS_3

Malam kembali menyapa bumi. Menenggelamkan segala aktivitas penghuni yang ada di sana. Sebagian manusia telah terlelap dalam indahnya mimpi. Sebagian lagi masih termenung meratapi nasibnya. Namun sebagain lagi ada yang sedang merencanakan masa


depannya. Rama, malam itu ia memilih untuk pulang ke rumahnya. Atas dasar paksaan Tari dan Juga Bu Marni. Sudah lebih dari dua hari Dokter tersebut tidak menginjakan kakinya ke rumah.


Ia mulai menyandarkan punggungnya di atas kasur yang empuk. Jemarinya saling menggeser beberapa foto yang tercipta dalam galery ponselnya. Tak dapat di pungkiri ia begitu bahagia ketika melihat deretan foto-foto itu. Ada rasa bahagia yang tiada terkira. Ada rasa ingin melanjutkan asa dalam kehidupan, namun juga ada rasa bersalah telah menghianati mendiang istrinya, ketika ia menyimpan foto wanita lain dalam ponsel miliknya.


Gelisah bercampur bahagia. Mungkin itulah yang di rasakan Rama saat ini. Berkali-kali ia membolak-balikkan tubuhnya mencoba untuk memejamkan mata. Sayangnya rasa kantuk


tak kunjung juga menyapa. Perhatiannya jauh tersita oleh ponsel yang ada di depan mata. Menggeser berkali-kali hasil bidikan tersebut.


Flashback On


Pagi itu, bahkan lebih pagi dari sinar matahari yang datang menyinari bumi. Di sebuah ruang VVIP rumah sakit. Dokter Rama sedang duduk di sisi ranjang istrinya yang baru saja melahirkan putri pertama mereka. Ia terbangun setelah bermimpi, duduk menikmati senja di salah satu sudut kota bersama istrinya. Rupanya sang istri juga sudah terbangun dari tidurnya. Ia menatap Rama yang baru saja terbangun kala itu.


“Sayang, terimakasih telah melahirkan anak yang cantik untukku. Terima kasih sudah berjuang demi bisa menghadirkan dia, di tengah-tengah keluarga kita”Ucap Rama sambil memegang


erat tangan istrinya. Dalam beberapa kesempatan ia juga mencium telapak tangan


istrinya dengan penuh cinta. Ia sadar jika tak mudah bagi istrinya untuk bisa bertahan hingga sejauh ini.


Wanita itu tersenyum, ia memandang lekat wajah Rama. Lantas cairan bening tiba-tiba hadir di antara keduanya.


“Jaga dan rawat baik-baik anak kita Mas. Sayangi dia dengan sepenuh hati” ucap wanita itu.


“Tentu saja sayang, kita akan merawat bersama anak kita. Bila perlu kita akan menambah saudara untuknya nanti” jawab Rama dengan sangat antusias.


“Tidak Mas maaf, aku tidak bisa merawat dia bersamamu. Waktuku sudah tidak lama lagi. Aku sudah tidak kuat lagi dengan semua ini”


Rama terdiam, apa yang ada dalam mimpinya kenapa harus menjadi sebuah kenyataan. Ia lekas naik ke ranjang pasien, memeluk istrinya dengan sangat erat. Mata Rama pun sudah berair.


“Tidak sayang, jagan berbicara seperti itu lagi. Aku tidak suka, bukankah kamu sudah berhasil


melahirkan dia. Sekarang tugas kita merawat dan membesarkan dia bersama-sama”


“Maafkan aku mas, aku tidak bisa. Aku hanya bisa menemani kalian sampai di sini saja. Aku mohon jaga dan rawat baik-baik dia. Ikhlaskan kepergianku setelah aku tiada dan kelak aku


yakin kau dapat menemukan pengganti yang lebih baik dariku. Yang mencintai anak


kita dengan sepenuh hatinya. Aku pamit mas”


“Berjanjilah kau akan tetap melanjutkan hidupmu setelah ini. Sepenggal bagian dalam hidupku ada pada anak kita”


Wanita itu mulai menarik nafas dengan sangat dalam. Matanya menatap ke arah Rama seakan sedang berpamitan. Sementara Rama, pria itu menangis merengkuh istrinya dengan sangat


erat. Sejurus kemudian dalam hitungan detik wanita itu sudah menutup matanya


dengan damai.


“Tidak sayang...tidak, jangan begini. Jangan tinggalkan aku seperti ini” Teriak Rama yang langsung membuka matanya. Ia baru saja memejamkan mata, namun sang istri datang


menyapa.

__ADS_1


“Sayang kau datang malam ini, apakah kamu merindukanku? Seperti aku yang slalu merindukanmu? Kalau kau merindukanku kenapa kau tak datang untuk menjemput? Atau kau sedang ingin memberitahuku tentang sesuatu?”


Rama terengah-engah ketika membuka matanya. Ia lekas menuju dapur untuk mengambil segelas air putih. Sejurus kemudian ia juga mengambil air wudhu menggelar sajadah di sepertiga malam. Ia mulai menceritakan segala keluh kesahnya pada sang maha pencipta.


Lama sekali Rama termenung mencurahkan segala isi hatinya. Ia memejamkan mata dalam beberapa saat, namun tidak tertidur. Ia masih dalam kondisi terjaga, hanya saja matanya


yang terpejam.


Sebuah bisikan dan keyakinan hadir tanpa di duga dalam hatinya. Ia tersentak dan lekas membuka mata saat itu juga.


Ya Rab, apakah ini bagian dari petunjuk atas keresahan yamg sedang ku rasa saat ini.


Ia kembali bertasbih mengangungan dan memuja sang pencipta dengan sangat khusuk. Ia melakukan semua itu hingga fajar datang menyapa.


****


Pagi itu Rama berangkat ke rumah sakit lebih pagi dari biasanya. Ia membawa bungkusan nasi untuk Tari berikut dengan Risma. Ia juga menyempatkan diri untuk membeli bunga yang ada di sebrang jalan arah ke rumah sakit. Ia ingin menghidupkan suasana kamar Risma. Bukankah Tari dan juga Risma begitu menyukai bunga.


“Assalamualaikum” sapanya ketika membuka pintu rungan raat inap Risma.


“Waalaikumsalam”


“Bunga lili putih yang antik, untuk princes yang cantik. Dan bunga Gerbera warna pink yang anggun untuk Bunda yang hebat” ucap Rama ketika menyerahkan dua bunga tersebut, pada


dua wanita yang ada di kamar.


Keduanya menyambut hadiah tersebut dengan suka cita. Kompak keduanya lekas mencium bungan itu, menghirup setiap aroma yang ada dalam damai.


“Saya harus visit pasien dulu ya. Nanti kalau sudah selesai saya ke sini lagi” Pamit Rama


kemudian. Ia memilih untuk meningalkan ruangan tersebut untuk sesaat. Hatinya


tak kuat menahan rasa bahagia yang bercampur haru. Sungguh ia ingin melompat-lompat di tempat saat itu juga.


.


.


“Dokter Rama, ada salah satu pasien yang berasal dari Surabaya. Beberapa waktu yang lalu saya sudah menyuruh perawat untuk menyerahkan rekam medisnya” ucap Dokter Wira, salah satu rekan sejawat Dokter Rama di rumah sakit.


“Iya Dok, trimakasih saya sudah mempelajarinya”


“Eh, ngomong-ngomong wajah Dokter Rama terlihat bahagia sekali hari ini. Ada apakah gerangan? Atau adakah salah satu pasien berikut penunggunya yang mampu untuk menyentuh hati Dokter Rama yang telah lama membeku ini” ledeknya kemudian.


“Apa sih?”


“Iya. Ngapain coba tadi senyum-senyum sambil lompat begitu?”


Dokter Rama tertangkap basah sedang bahagia. Ia memang tidak bisa menyembunyikan kebahagian itu.


“Sudahlah, ayo kita visit ke pasien itu” kedua Dokter tersebut lekas menuju ruang Bu srining, yang berada dalam satu koridor yang sama dengan ruangan Risma. Ia lekas meminta izin

__ADS_1


pada pihak keluarga untuk masuk dan memeriksa beliau.


Bu srining terdiam untuk sesaat ketika melihat kehadiran Rama dalam ruangannya. Hatinya sibuk bergumam menafsirkan serangkaian kejadian yang mungkin terjadi antara Tari dan


juga Risma.


“Saya periksa dulu ya Bu”


Bu Srining tidak merespon, ia sibuk mengamati Dokter Rama yang sedang memeriksanya.


“Apa yang di rasakan Bu?” tanyanya kemudian.


“Ri..ri..ri...” jawab Bu Srining dengan terbata-bata. Ia menanyakan keberadaan Tari di mana.


Dokter Rama terdiam untuk sesaat. Ia masih mencoba untuk menafsirkan apa yang di katakan pasiennya.


“Maaf Dokter, istri saya sudah terbiasa berbicara tentang itu. Itu adalah nama mantan menantu di


keluarga kami. Dia begitu merindukan kehadiran menantu kami hingga setiap bertemu dengan orang asing, dia akan menanyakan keberadaan menantu kami.


Rama mengangguk-angguk mengerti. Ia kembali tersenyum dan melakukan pemeriksaan.


“Ri..ri..ri..”lagi-lagi Bu srining berucap hal yang sama.


“Iya bu” jawab kembali Dokter Rama.


“Nama mantan menantu kami Tari Dok” terang pak Nario.


“Oh iya pak” jawab Dokter Rama dengan kembali tersenyum. Dalam hati ia berfikir apakah Tari yang di maksud dalam keluarga ini adalah Tari yang ia kenal?


“Saya permisi dulu ya pak, kami akan lekas menjadwalkan untuk terapinya”


“Baik Dok”


Rama berlalu meningalkan ruangan. Ia ingin kembali ke kamar Risma memastikan jika gadis


kecil itu sudah sarapan atau belum dan akan lekas memberikan obatnya nanti.


.


.


“Lo kok di luar Risma bagaimana?” tanya Rama ketika melihat Tari yang sedang berjalan di koridor rumah sakit.


“Risma sama Ibu mas di dalam, lagi makan” jawabnya dengan ramah. Kini keduanya sedang berjalan beriringan pagi itu.


“Hem...” Rama menjeda ucapannya untuk sesaat.


“Tar, ada hal yang ingin aku tanyakan” ucapnya dengan gugup.


“Apa mas?” wajah Tari, lekas menatap lawan bicaranya. Ia menghentikan sesat laju kakinya.

__ADS_1


__ADS_2