Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Periksa Kehamilan


__ADS_3

Kini keduanya sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit, tak ada obrolan sepanjang perjalanan. Mereka terdiam enggan untuk saling berbicara. Mawar yang tak berani untuk memulai dan Randi yang enggan untuk berbicara padanya.


Hening.


Beberapa saat kemudian tangan Mawar, memberanikan diri untuk menyalakan lagu dalam mobil Randi, untuk memecah keheningan di antara mereka, berharap akan dapat mencairkan suasana.


Ting.


Ku akui ku sangat-sangat menginginkanmu


Tapi ku sadar ku di antara kalian


Aku tak mengerti ini semua harus terjadi


Kuakui ku sangat sangat mengharapkan mu


Tapi kini ku sadar ku tak akan bisa


Aku tak mengerti ini semua harus terjadi


Ketenangan Mawar terusik kala mendengar lagu itu, kini tangannya kembali terulur untuk menggantinya. Sementara Randi, masih diam saja enggan untuk menanggapi. Ia lebih memilih untuk fokus menatap jalanan.


Aku cinta kamu


Tapi kamu tak cinta aku


Ku tak pernah tahu apa salahku


Hingga kau tak mau suka aku


Tak mau aku


Aku rela aku rela


Bila aku hanya menjadi


Selir hatimu untuk selamanya


Oh, aku rela, ku rela

__ADS_1


Tangannya kembali terulur untuk mematikan musik, ia semakin kesal. Kenapa semua lagu yang ada malam ini seperti itu. Wajahnya melengos menatap kelap-kelip lampu jalanan. Tak dapat di pungkiri hatinya begitu dongkol seakan semesta turut mendukung posisinya yang hanya sebagai figuran dalam dongeng kisah ini.


“Huft”. Helaan nafas terdengar dari mulutnya, Mawar merubah posisi tempat duduknya untuk bisa bersandar dengan leluasa mengingat perutnya sudah tak nyaman untuk banyak bergerak.


Sementara Randi, ia tersenyum miring kala melihat istrinya merasa kesal dengan semua pilihan lagu yang di putar.


Tiga puluh menit kemudian, sampailah mereka di rumah sakit Kasih Ibu, Mawar lekas menuju poli kandungan untuk melakukan pemerikasaan, ia sudah melakukan reservasi dari dua hari yang lalu.


Sepanjang menungggu kehadiran dokter kandungan di ruang tunggu, Mawar dan Randi, duduk bersebelahan untuk beberapa saat, hal ini mereka lakukan karena tak ada lagi tempat duduk yang kosong, sementara antrian sudah mengular panjang.


Tak dapat di pungkiri hati Mawar terasa menghangat, ia merasa memiliki seorang suami. Senyum indah terpancar di raut wajahnya selama menunggu pemeriksaan.


Diam.


Meskipun Randi ada di sampingnya. Namun ia hanya diam saja tanpa mengucap kata, setidaknya ia tidak beranjak dari tempat duduknya. Randi lebih memilih untuk bermain ponselnya dari pada mengajak Mawar berbicara layaknya pasangan yang lainnya.


“Nyonya Mawar Mawangi, silahkan”. Mawar berjalan memasuki ruang pemeriksaan, tanpa ia sadari Randi masih duduk di kursinya, ia enggan untuk ikut masuk.


“Sendiri saja Bu?”. perawat itu celingukan mencari seseorang, biasanya pasien ketika melakukan pemerikasaan akan di dampingi oleh suami atau anggota keluarga yang lainnya.


Hatinya kembali mencolos, kala menyadari jika ia masuk sendiri “Sus, tolong panggilakan suami saya ada di luar, pak Randi namanya”. Ucap Mawar memohon pada suster.


“Silahkan berbaring”, seorang dokter wanita berusia 40 tahunan, menghampirinya.


“Dokter tunggu sebentar, saya ingin suami saya juga tahu kondisi anaknya”.


“Baik Bu”.


Jika kamu tidak menginginkan Ibunya, setidaknya lakukan tanggung jawabmu sebagai seorang Bapak.


Suatu kalimat, yang keluar dari mulut Mamanya, Randi mencoba untuk mencerna dan memang benar adanya. Ia tidak menginginkan Mawar, tapi setidaknya anak dalam kandungan Mawar tak salah, ia tak minta hadir. Ia hadir karena kesalahan yang telah ia ambil sendiri.


Dengan langkah yang ragu Randi, memasuki ruang pemeriksaan, di sana ia melihat Mawar yang sudah terlentang di atas kasur. Dokter mulai menyikap baju atasan yang Mawar kenakan. Perut sedikit membuncit terpampang nyata di sana.


Deg.


Jantung Randi bedegup kencang ketika melihat perut Mawar yang sudah membuncit di hadapannya.


“Rileks ya Bu, saya oleskan gelnya dulu. Bapak bisa mendekat untuk melihat perkembangan calon anaknya”.

__ADS_1


Ekspresi wajah Randi, sulit untuk di artikan antara senang dan juga sedih. Ia senang ketika melihat suatu keajaiban dan kebesaran Tuhan, yang terpampang nyata ada didepan mata, namun ia juga sedih karena wanita yang mengandung anaknya bukanlah Tari, istri yang sangat ia cintai.


“Pak usia kandungan Ibu, saat ini sudah memasuki 24 minggu. Ini adalah trimester kedua dalam kehamilan, biasanya dalam trimester kedua ini, Ibu sudah tak banyak keluhan. Ibu akan lebih mudah untuk makan apa saja. Apa Bu Mawar masih merasakan mual?”.


Mawar hanya menggelengkan kepalanya saja, matanya fokus menatap layar monitor yang ada di depannya.


“Pak, ini adalah kepala janin, ini adalah tangannya dan yang ini adalah kakinya. Jemarinya lengkap ya Pak ada sepuluh”. Dokter menggeser kursornya untuk menghitung jemari tangan janin itu.


Bayi dalam kandungan itu menggerakkan tangan dan kakinya, ia menutup wajahnya dengan satu telapak tangan.


“Wah sepertinya, baby malu-malu di kunjungi orang tuanya”, celetuk dokter tersebut.


Randi terdiam melihat keajaiban yang ada didepannya. Tak dapat di pungkiri ada rasa bersalah yang bersarang d hatinya, kala menelantarkan mahkluk kecil tak berdosa tersebut. Sudut matanya sedikit berembun, namun dengan sigap ia usap hingga tak terlihat sama sekali jejaknya.


Sementara Mawar ia tak henti-hentinya tersenyum kala menatap layar monitor. “Dokter anak saya laki-laki atau perempuan?”, tanyanya memotong penjelasan dokter.


“Sebentar ya Bu, mari kita lihat dulu”. Dokter kembali menggeser kursornya.


“Bagaimana dok?”, ucap Randi, yang turut bertanya, ini adalah pertama kalinya Randi peduli dengan kehadiran anaknya.


“Anak Ibu Babak Laki-laki, ini ya Pak sudah terlihat dengan jelas”.


Randi semakin tertegun kagum melihat monitor yang ada di depannya, tangan mungil itu bergerak-gerak melambai seakan sedang menyapa orang tua mereka.


“Keadaan Bu Mawar baik-baik saja tidak ada keluhan dan kendala yang berarti. Hanya saja untuk berat badan bayi di usia 24 minggu ini termasuk sedikit kurang ya Bu. Sebaiknya Bu Mawar perbanyak makan-makanan bergizi, minum air putih dan susu. Satu lagi ya Bu yang paling penting, kurangi stres dan tekanan, jangan banyak pikiran”.


“Ada pertanyaan?”,


Kompak pasangan suami istri tersebut menggelengkan kepalanya secara bersamaan.


“Baik, jika tidak ada yang di tanyakan saya aka meresepkan vitamin untuk Bu Mawar”. Tukasnya mengakhiri sesi pemerikasaan kali ini.


Keduanya keluar dari tempat pemeriksaan dengan Mawar, yang berjalan di depannya. Sementara Randi mengekor di belakang istrinya.


Lagi-lagi tak ada obrolan yang berarti sepanjang perjalanan pulang mereka. Mawar yang sedang sibuk memperhatikan hasil print out usg anaknya dan Randi yang sibuk memandang padatnya jalanan.


Randi teringat akan ucapan dokter, jika tubuh janin dalam kandungan Mawar berat badanya kurang. Ia menghentikan mobilnya sejenak saat melintasi area street food yang ada di pusat kota.


“Mas mau kemana?”.

__ADS_1


__ADS_2