
Untuk mengalihkan pikirannya yang begitu berkecamuk, Tari mengalihkan dengan menuju kamar Risma untuk membangunkan putrinya. Ia berencana akan membawa Risma ke rumah Fitri untuk menjenguk baby Arsya yang dari kemarin sedang tidak enak badan.
Saat memasuki kamar Risma, ia menatap wajah teduh sang putri yang sedang terlelap. Seketika hati Tari sedikit tenang, sudut bibirnya tertarik membentuk lengkung.
“Sayang...”. Tari mengusap lembut pipi Risma yang tembem.
Ayo bangun nak, ini sudah siang”. Bujuknya dengan lembut dan kembali memainkan anak rambut Risma yang berantakan.
Risma mulai menggeliat, dan menggerak-gerakkan matanya. Perlahan mata bulat itu membuka semuanya. Gadis kecil itu merengek menolak untuk bangun, ia kembali menutup wajahnya dengan selimut.
“Sayang, bangun yuk. Kita main ke rumah Arsy”. Bujuk Tari kembali pada sang anak.
Risma pun bangun meskipun dengan mata yang masih belum terbuka sempurna.
“Aku masih ngantuk Bun”. Rengeknya kembali dengan menarik tangan Tari dan mendekapnya di bawah selimut.
“Iya nanti siang tidur lagi sayang, katanya mau main ke rumah Arsy mumpung sekarang hari sabtu. Risma libur sekolah dan Bunda libur buka toko”. Tangan Tari kembali mengelus lembut wajah sang anak.
“Aku mau sarapan di rumah Arsy Bun, kasihan kemarin dia tidak bawa bekal katanya Mamanya sedang sibuk, adik kecilnya rewel”.
“Iya Bunda, masakin buat kalian”.
“Nasi goreng istimewa, dengan telur dan juga sosis”. Ujar Risma dengan antusias.
“Baiklah sayang, Bunda masak dulu”.
Risma pun segera turun dari ranjangnya dan bergegas menuju kamar mandi, sedangkan Tari turun ke bawah untuk membuat sarapan yang Risma mau.
Satu jam kemudian Risma sudah siap, kali ini ia memakai rok pendek warna pink dengan atasan kaos gambar barbie. Tak lupa sebelum berangkat tari menyisir rambut Risma, mengepang dua dan memberikan sentuhan pita warna senada dengan baju yang ia gunakan.
“Anak Bunda cantik sekali, ayo kita berangkat. Kita pamit dulu ya pada Kakek”. Keduanya bergandengan turun ke bawah dan mencari keberadaan pak Nario yang kebetulan sedang berada di halaman belakang rumah mereka.
__ADS_1
“Loh ini kan hari libur?, kok pagi-pagi sekali cucu kakek sudah cantik”. Pak Nario menggendong Risma dan mencubit lembut pipinya.
“Aku mau main ke rumah Arsy Kek, jenguk adiknya yang sakit”. Jawabnya dengan manja.
“Ya kakek, sendirian dong di rumah”.
“Nenek sama Ayah kemana?”. Wajah Risma mendongak mencari keberadaan Bu Srining dan Randi.
“Nenek dan Ayah sedang ada keperluan sayang, yuk kita berangkat salim dulu sama kakek”. Tangan Risma terulur untuk mencium punggung tangan Pak Nario, begitu juga dengan Tari. Keduanya berangkat ke rumah Fitri sekalian membawakan sarapan untuk mereka. Jika memungkinkan Tari juga hendak berkeluh kesah dengan sahabatnya.
***
Rumah Fitri
Tak butuh waktu yang lama keduanya sudah sampai di rumah Fitri, mereka langsung di sambut hangat Arsy, yang sudah berdiri di depan pintu rumahnya. Tangan Arsy terulur menarik Risma untuk membawanya masuk ke dalam kamar.
“Ayo Ris, kita ke kamarku. Aku mau kasih lihat adik Arsy badannya panas sekali dari kemarin kasihan”. Ucapnya dengan menunjukan wajah sedih begitu khawatir dengan kondisi adiknya.
“Tolong.....’. Teriak Fitri dari dalam rumah dengan begitu kencangnya.
Tari begitu panik kala memasuki kamar Arsy, di sana Fitri sedang menangis dengan menggendong Arsya.
“Ada apa Fit?”.
“Tar tolong, Arsya”. Wajah Arsya membiru tubuhnya begitu panas, hingga membuatnya kejang.
“Ayo kita ke rumah sakit”. Tari lekas menyiapkan mobilnya dan membawa serta semua anak-anak mereka.
Tari mengendarai mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi mengingat Arsya yang tak kunjung sadar dan matanya masih melirik ke atas. Sementara Fitri begitu panik memeluk sang anak. Sedangkan Risma dan juga Arsy menangis bersamaan melihat keadaan adik mereka yang tak bergerak.
“Tante, cepetan. Aku takut adikku mati”. ucapnya dengan begitu saja kala melihat kondisi adiknya.
__ADS_1
“Tenang ya, semua tenang, Arsya pasti baik-baik saja”.
Tak butuh waktu yang lama, lima belas menit kemudian mobil Tari sudah memasuki halaman rumah sakit Kasih Ibu. Ia memarkirkan dengan asal mobilnya, dan memberikan kunci mobilnya pada petugas parkir. Fitri berlari menuju IGD, sementara Tari menggandeng dua bocah di tangannya.
Kini Arsya sudah di tangani dokter, baik Fitri maupun Tari masih tidak bisa menyembunyikan raut wajah ketakutan dan khawatir mereka, maklum ini pertama kali Arsya mengalami kejang.
Tak lama kemudian serang Dokter datang menghampiri mereka yang tampak sangat cemas menunggu di depan ruang IGD.
“Dokter bagaimana keadaan anak saya? Apakah dia baik-baik saja?”.
“Dokter adik saya masih hidup kan?”, sebuah kata keluar begitu saja dari mulut Arsy.
“Tenanglah, semua yang ada harap tenang. Baby Arsya tidak papa, untung saja dengan sigap lekas mendapat penanganan. Suhu tubuhnya panas sekali. Kami sudah memberinya obat penurun panas, semoga lekas turun dan semuanya akan baik-baik saja”.
“Apa saya boleh melihat anak saya Dok?”, Pasien akan di pindahkan di raung rawat, silahkan di tunggu di sana”. Dokter itupun berlari dan meninggalkan mereka semuanya.
Kini Tari, Fitri juga kedua anaknya berada dalam kamar rawat Arsya. Mereka menatap sendu wajah Arsya, bayi kecil yang lucu dan menggemaskan kini sedang terkapar tak berdaya.
“Adik cepat bangun ayo kita main lagi”. Ucap Lirih Risma tak berani menyentuh tubuh Arsya, yang sedang terpasang infus di salah satu lengannya.
“Dik, kamu jangan mati ya, nanti kakak tidak punya teman untuk main”. Kini Arsy berucap lirih dengan melihat adiknya.
“Tidak boleh bilang begitu, adik Arsya tidak papa hanya sedang butuh istirahat saja. Ayo sekarang kakak-kakak yang cantik ini do’a sama-sama buat kesembuhan adik”. Tari mengelus rambut kedua gadis kecil itu.
“Bunda aku lapar”.
“Kalian semua pasti lapar ya, sebentar Bunda ambilkan nasi goreng dulu”. tari berpamitan pada Fitri, hendak mengambil nasi goreng yang tertinggal di mobil. Nasi yang sudah ia siapkan untuk sarapan bersama.
Tari mulai melangkah kaki keluar dari ruangan Arsya, kening Tari berkerut saat ia melihat Randi masuk ke dalam salah satu rungan di sana.
Kakinya melangkah begitu saja mengikuti arah kaki Randi, ia bermaksud menghampirinya dan memberitahu tentang kabar anak Fitri. Dengan cukup pelan ia membuka pintu kamar itu, dan....
__ADS_1
Seketika hatinya remuk menjadi berkeping-keping kala melihat pemandangan di depannya.
Randi sedang duduk di sisi seorang wanita yang sedang berbaring, keduanya saling berpegangan tangan.