
“Apa ini kau sudang mengemis padaku mas?”
Jawabnya dengan sinis.
“Aku tak peduli apapun itu Tar. Semua akan aku lakukan asalkan kau mau kembali denganku. Kita bisa kembali membina rumah tangga yang sakinah, mawadah dan warohmah. Menua bersama hingga ajal memisahkan kita nantinya”
“Sakinah Mawadah warohmah seperti apa mas yang kau harapkan dari hidup denganku?” ia
menatap sekilas wajah Randi dan kembali tersenyum kecut.
“Apa yang sudah terjadi dengan kehidupanmu bersama istri dan anakmu? Hingga membuatmu
berbicara seperti ini di hadapanku? Apa yang aku tidak tahu setelah kepergian ku? Apakah kau sedang terluka?”
“Tar” Randi menahan sesak di dadanya. Sungguh kata-kata Tari bagaikan tamparan keras yang di depan wajahnya.
“Maafkan aku Tar, beribu maaf aku ucapkan padamu. Bukan hanya aku, Mama dan Papa juga
meminta maaf atas kekeliruan yang pernah terjadi di masa lalu. Kami semuanya menyesal telah berbuat dzalim padamu”.
“Kenapa harus keliru? Bukankah itu semua yang kalian mau”
“Tar, kenyataanya tidak seperti itu. Mawar berbohong pada kami. Wanita itu sudah
menipuku berikut keluargaku. Bayi itu bukan anakku. Dia anak Mawar bersama degan
mantan suaminya dulu. Ia hanya terobsesi denganku dan menginginkan hidup bersamaku Tar”
“Sungguh aku tidak berbohong begitulah kenyataan yang ada, dan sekarang dia sedang
mempertanggung jawabkan semua kesalahannya”
“Lantas apa hubungannya denganku? Aku pun tak peduli mas”
“Aku ingin kau tahu yang sesungguhnya Tar, aku ingin tidak ada lagi kesalah pahaman di anatar kita berdua. Aku ingin kita kembali seperti sedia kala lagi”
“Setelah apa yang terjadi begitu mas. Biar bagaimana pun kau pernah menikmati untuk
hidup bersamanya, kau pernah menjadi suaminya”
“Dan aku juga pernah menjadi suamimu. Apa salahnya jika kita kembali mengulang mahligai rumah tangga kita”
“Maaf mas tapi sayangnya aku tidak berminat. Aku bukan figuran dalam kisahmu yang hanya bisa kau temui saat kau butuhkan. Aku bukan pula wanita cadangan yang bisa kau ajak kembali ketika harapanmu dan keluargamu telah musnah”
Tari memutuskan untuk bangkit dari tempat duduknya, ia hendak pergi meninggalkan Randi. Namun secepat kilat Randi meraih tangan Tari, memegangnya dengan lembut menahan wanita itu agar tidak beranjak untuk pergi.
__ADS_1
“Aku akan berjuang Tar, untuk kembali meluluhkan hatimu” matanya nanar ia tak menyangka jika Tari dapat dengan begitu tegasnya menolaknya.
Tari tak peduli, ia memilih untuk melenggang meningalkan Randi yang masih terduduk
dalam penjelasannya.
****
“Bunda dari mana saja? Kok dari tadi tidak kelihatan?”
Kalimat pertama yang mengudara ketika Tari baru saja memasuki kamar anaknya. Rupanya
Rama masih di sana, ia bahkan sedang menyisir dan merapikan rambut Risma.
“Bunda sedang ada urusan sebentar nak. Bagaimana rasanya apakah sudah sehat?” Tari
memilih untuk turut bergabung di ranjang Risma. Saat itu ketiganya berada dalam satu ranjang yang sama, dimana Risma berada di tengah-tengah mereka.
“Sudah Bun, aku sudah sehat. Bagaimana kalau kita pulang saja hari ini. Aku sudah bosan tinggal di sini, aku ingin jalan-jalan makan ice cream”
“Nanti coba Ayah tanyakan ya sayang sama Dokter kamu. Jika di lihat dari perkembangan
yang ada seharusnya kamu sudah boleh pulang”
“Tapi kalau pulang nanti Ayah gak bisa sering-sering nemenin Risma ya?”
Wajahnya mengiba menatap mata Rama mengharap sebuah pengharapan.
“Tentu saja Ayah akan sering mengunjungi princes. Bahkan jika princes mau boleh tinggal di rumah Ayah”
“Sungguh?”
“Iya sayang, mulai sekarang dan seterusnya Ayah adalah Ayah kamu. Kita tidak akan terpisahkan lagi, apapun yang terjadi Ayah akan memperjuangkan untuk terus bisa
bersamamu”
“Bersama dengan Bunda juga ya?” Mata Risma menengok menatap dua orang dewasa yang ada di sebelahnya.
Risma masih terlalu kecil untuk mengetahui apa yang terjadi pada orang tuanya di masa lalu. Ia bahkan belum mengerti apa itu arti orang tua kandung. Saat ini yang ia rasakan hanya satu memiliki keluarga yang sempurna terdapat Ayah dan Ibu.
“Permisi, bagaimana kabarnya cantik. Dokter periksa dulu ya?” beberapa menit kemudian saat
mereka sedang asyik bercanda Dokter datang untuk memeriksa.
“Loh Dokter Rama di sini rupanya?”
__ADS_1
“Iya” Jawabnya dengan tersenyum dan membelai lembut rambut Risma.
“Kenalkan ini putriku, namanya Risma” dengan bangga Rama memperkenalkan Risma pada
rekan-rekan medis di sana.
“Putriku?”
Sontak pernyataan Rama membuat Dokter dan perawat yang sedang berkunjung untuk memeriksa Risma terlonjak kaget. Bagaimana bisa Rama memiliki seorang putri sebesar ini,
yang mereka tahu selama ini Rama adalah Dokter duda yang telah lama di tinggal mati istrinya.
“Iya ini putriku” masih dengan senyum kebanggaannya ia memperkenalkan sang anak pada kal layak.
“Oh iya, pantesan cantik sekali ya kamu sayang. Mirip sama mamanya” Dokter tersebut
melirik ke arah Tari, ia mengira jika Risma adalah anak Tari, dan Rama sedang menjalin kasih dengannya. Anak Tari tentu saja menjadi anak Rama jika mereka menikah. Begitulah bayangan yang ada di kepala mereka. Sementara Rama, pria itu engan untuk menjelaskan kisahnya, ia hanya ingin semua orang mengerti jika Risma putrinya.
“Oh ya apa anakku sudah boleh pulang? Dia sudah bosan di sini?” tanya Rama memastikan, meskipun dia juga seorang Dokter, tapi ia tak berhak untuk mengambil keputusan ini mengingat bukan ia yang menangani Risma sejak awal.
“Tentu saja boleh. Kondisinya Risma jauh lebih membaik dari sebelumnya. Tapi ia harus
rajin terapi dan kontrol untuk memantau kondisi perkembangan. Ah aku rasa tak maslaah untuk itu, aku hampir lupa jika Ayahnya juga seorang Dokter” seloroh rekan Rama kemudian.
“Gila ya kamu, gak bilang-bilang kalau punya gebetan. Pantes saja selama ini cuek banget sama Ratna. Mana cantik banget calonnya” bisiknya dengan sangat pelan pada Rama, takut terdengar Tari.
“Aku tunggu undangannya”
“Doakanlah bro, sedang berjuang untuk meluluhkan hatinya” jawab Rama dengan tersenyum ketika ia mengantarkan rekannya di depan pintu keluar.
Mendapat izin untuk pulang membuat senyum Risma melebar. Ia bahkan sudah menata
beberapa boneka yang di bawanya, sementara Tari, wanita itu sibuk untuk berkemas merapikan beberapa baju dan barang bawaan anaknya.
“Aku urus administrasinya dulu ya”
“Iya mas”
Jawaban sederhana yang namun mampu membuat Rama ingin tebang melayang. Entah mengapa ia begitu senang sekali ketika Tari memanggilnya “ Mas”
Tak butuh waktu yang lama, mereka sudah bersiap untuk pulang. Tari mendorong anaknya yang sedang berada di kursi roda dan Rama yang sedang membawa barang bawaan mereka.
“Tar, jika kamu mengizinkan aku ingin mempertemukan Risma pada Ibuku. Bagaimanapun juga kabar ini adalah kabar yang membahagiakan untuk keluarga kami, setalah
sekian tahun kami mencarinya. Apakah kamu mengizinkan untuk itu?”
__ADS_1