Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Prihal Rumah


__ADS_3

Semua orang yang ada dalam ruangan tersebut hanya diam saja, begitu juga dengan Tari rasanya sudah enggan untuk menanggapi semua perkataan budenya tersebut.


Acara tahlil dimulai, semua anggota jamaah sudah bersiap di rumah ibu Tari untuk mendoakan mbah, di saat semua orang sedang khusuk untuk mendoakan mbah, bude tak turut serta dalam acara tersebut. Bude lebih memilih di dapur untuk mengemasi semua makanan yang tersisa untuk isian kotak bingkisan. Bude juga memasukan semua bahan masakan yang belum terpakai.


Bude mengemasi semua makanan yang ada bukan agar terlihat rapi, tapi bude mengemasi semuanya karena akan di bungkus dan di bawa pulang, selama proses kirim do’a berlangsung, entah sudah berapa kali bude bolak-balik dari rumahnya ke rumah ibu Tari.


***


Rumah bude.


Selepas acara tahlil di rumah Tari, bude sekeluarga lekas kembali ke rumah mereka tanpa membantu segala keriwehan yang ada di rumah Tari. Bude sdah mendapatkan semua yang di inginkan hari ini.


Bude dan pakde memilih untuk menyalakan tv di ruang tengah sekalian menunggu mas Udin pulang kerja dan menikmati jajanan yang mereka bawa dari rumah Tari tadi.


Malam itu hujan turun begitu lebatnya, untungnya acara tahlil doa bersama sudah selesai jadi tidak menganggu aktivitas yang sdah di rencanakan.


Tampak bude yang mondar-mandir dari dalam ke luar rumahnya, sesekali wajahnya mendongak menatap ujung jalan, menunggu sang anak yang tak kunjung sampai rumah.


Menjelang pukul dua belas malam, Udin belum juga menunjukan wujudnya di rumah tersebut, jika sesuai dengan jadwal yang ada, harusnya Udin sudah sampai rumah sejak satu jam yang lalu, tapi sampai saat ini belum sampai juga.


Bude semakin gusar di buatnya.


Beberapa menit kemudian, terdengar ketukan pintu dari luar, dengan sigap bude lekas menuju sumber suara dan membukakan pintunya. Benar saja dugaan bude, mas Udin pulang dengan baju yang basah kuyup.


“Aduh, kasian sekali anak ibu pulang kerja tengah malam seperti ini harus basah kuyup”. bude meraih tubuh mas Udin dan membawanya dalam pelukannya.


Mas Udin memang sudah dewasa, tapi bude slalu memperlakukannya seperti seorang anak-anak.


“Mas lihat nih anak kamu, pulang kerja tengah malam kehujanan sampai membiru tubuhnya”.


Pakde hanya menatap sang anak yang tampak kedinginan.


“Coba mas belikan mobil buat Udin, biar dia tidak kehujanan kalau pulang”.


“Mobil? Uang dari mana? Kamu mengada-ada saja, uang dari mbahmu”. pakde mengatakan dengan asal.


Sementara bude lekas merapatkan duduknya di samping pakde dan berbisik.

__ADS_1


“Mas kenapa gak jual saja rumah mbah, itu kan juga hak kamu”.


Mendengar perkataan itu membuat pakde tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


“Ide bagus”


***


Keesokan harinya, setelah acara empat puluh harinya mbah, paklek Wanto masih di rumah ibu dan akan kembali ke Surabaya besok siang, begitu juga aku yang masih di rumah kebetulan tanggal merah jadi pekerjaan libur sejenak.


Pagi sekali, bahkan saat ibu belum selesai menghidangkan makanan untuk sarapan keluarga pakde Dar sudah datang ke rumah.


“Ada hal yang mau aku sampaikan”. Pakde Dar dengan dingin mengatakan itu di dapur, tak kala melihat semua saudaranya masih berkumpul di sana.


“Ada apa mas?”, kompak ibu dan paklek Wanto menjawab secara bersamaan.


“Sekarangkan mbah sudah empat puluh harinya, aku ingin untuk harta peninggalan mbah yang masih tersisa di selesaikan sekarang juga, mumpung masih kumpul disini”.


Deg jantung ibu.


“Harta peninggalan mbah yang mana mas yang harus dibagi lagi?”. Tanya ibu dengan terbata-bata.


“Rumah ini?”. ibu mengerutkan keningnya mendengar jawaban sang kakak.


“Iya rumah ini, di rumah ini ada hakku dan hak Wanto yang harus kamu bagi”.


Paklek Wanto masih diam saja, belum mengeluarkan pendapatnya, membaca mencerna perkataan sang kakak.a


“Dalam agama pun, sudah di jelaskan jika anak laki-laki akan mendapat bagian dua kali lipat lebih besar dari pada anak perempuan, sedangkan ini apa kamu yang anak perempuan malah menikmati semuanya sendiri”.


“Kalau urusan harta saja, bawa-bawa agama, kemarin waktu ngurus mbah kemana saja?, bukankah itu juga tanggung jawab anak laki-laki”. sanggah Tari dalam hati dengan menahan segala amarah yang ada.


“Tapi mas, rumah ini sudah aku beli dari beberapa tahun yang lalu, rumah ini aku beli dengan almarhum bapaknya Tari, kala itu mbah sedang di tagih hutang oleh dekoleptor dan tidak bisa membayar. Harta mbah sudah habis tak ada yang dapat terjual lagi selain rumah ini. Tak rela rumah ini dijual ke orang lain, aku membelinya sendiri”. Jawab ibu Tari mencoba menjelaskan secara rinci kejadian yang sebenarnya terjadi.


“Mana buktinya?”. Bude tak percaya dengan perkataan ibu.


“Mana aku coba lihat surat-suratnya?”.pakde kembali menangapi ucapan sang istri.

__ADS_1


Ibu lekas beranjak dan menuju kamar untuk mengambil suratnya dan menyerahkan pada pakde.


“Supardi”. ya sertifikat itu atas nama Supardi.


“Ini kan nama mbah Mar, jadi jelas jika rumah ini memang rumah mbah”.


“Tidak mas, rumah ini sudah aku beli, hanya saja untuk surat-suratnya aku belum sempat untuk mengurus balik namanya”.


“Alasan saja kamu Mar, sdah jelas-jelas ini masih atas nama Mbah, itu artinya rumah ini masih milik kita bersama”.


“Baiklah begini saja kalau begitu, kamu berikan saja berapa bagian ku dan Wanto sudahnya itu, rumah ini akan menjadi hakmu”.


“Hah!!! bagaimana bisa ibu harus membeli rumah ini dua kali, sedang ibu sudah membelinya beberapa tahun yang lalu”.


“Kamu anak kecil tahu apa urusan orang dewasa”.


“Aku anak kecil?”,


“Anak kecil tulang punggung kalian semua”. Tari menunjuk dirinya sendiri, terasa begitu jengah menghadapi pakdenya.


“Aku tak peduli, aku mau rumah ini di bagi tiga, jika kamu tidak mampu membeli silahkan keluar saja dari rumah ini, biar ku jual ke orang lain yang memiliki uang’.


Pakde mengatakan semua itu dengan begitu mudahnya.


“Benar juga mbak, apa yang dikatakan mas Dar, jika mbak Marni masih ingin tetap di sini, mbak Marni bisa membeli rumah ini, atau kalau tidak mbak Marni bayar bulanan ata tahunan saja, semacam kontrak gitu”.


“Aku harus membayar uang sewa rumah di rumah ku sendiri?” tunjuk Tari pada mereka.


Ajaib sekali memang saudara-saudara ibu ini.


“Silahkan pikirkan lagi bagaimana baiknya Mar, yang pasti aku mau rumah ini dibagi menjadi tiga biar adil”.


“Hay kalian semua bicara keadilan saat berebut harta warisan yang sudah terjual, kemarin kemana saja saat mbah sakit, mana ada yang mau merawat dan kasih makan”. Teriak Tari di dapur dengan begitu kesalnya.


“Sudah-sudah Tar, malu kalau kedengaran tetangga”.


Ibu memutus perdebatan itu.

__ADS_1


"Bu ini tidak bisa di diamkan, mereka seenaknya saja pada keluarga kita".


__ADS_2