
Seluruh perhatian tamu undangan yang hadir teralih pada suara lantang tersebut. Perlahan ia berjalan mendekat, beberapa tamu undangan memberikan jalan sebagai akses, untuknya dapat masuk menemui tuan rumah penyelenggara acara.
Segenap pertanyaan muncul di atas kepala semua orang yang hadir di sana. Mendadak suasana yang khusuk berubah menjadi riuh. Para undangan saling menduga bercakap-cakap dengan sesama yang ada di sebelahnya. Rentetan bisik-bisik mulai terdengar.
Sementara Bu Srining, pak Nario dan juga Randi hanya bisa melongo mendengar ucapan pria itu. Randi menghentikan sambutannya, salah satu tangan yang memegang mick mendadak terasa kebas. “Bagaimana bisa ada orang yang berniat merusak acara bahagia keluarganya”.
“Siapa dia?”.
“Dari mana datangnya?”.
“Apakah dia saudara Randi?”.
“Apakah dia teman Randi? Atau bahkan dia mantan keluarga istri pertamanya?”. Begitulah deretan pertanyaan yang mulai terlontar dari mulut undangan yang hadir.
Kalian tanya bagaimana reaksi Mawar?
Wajah Mawar berubah seratus persen, dari yang ceria tiada tara berubah menjadi kecut. Mendadak senyumnya hilang seketika. Lebih dari itu, tubuhnya bergetar hebat. Keringat dingin tiba-tiba hadir di atas keningnya.
Takut, begitulah kira-kira yang di rasa saat ini.
.
.
.
“Kembalikan anak saya!”. Ucapnya kembali, ketika tepat berada di depan Mawar dan Randi.
“Siapa kamu? Beraninya datang dalam acara keluarga kami dan mengacaukan semuanya. Kami tak mengundangmu!”. Ucap Randi dengan lantang, tak menerima uluran tangan laki-laki tersebut.
“Kamu masih bertanya siapa saya? Setelah apa yang aku katakan tadi?”. Jawabnya yang tak kalah dingin dan keras.
“Aku tak mengenalmu dan tak ada hubungan denganmu”. Suara Randi, meninggi.
“Memang benar, kamu tak mengenalku, tapi istrimu mengenalku!”. Laki-laki itu melirik sekilas wajah Mawar. Begitu juga dengan Randi, dan Bu srining mereka secara bersamaan melihat ke arah Mawar.
“Jelaskan pada mereka semuanya Mawar!”. Tukasnya dengan menatap wajah Mawar, sementara Mawar ia sedikit menundukan kepalnya.
“Aku menunggu penjelasanmu SEKARANG!”. bentak Randi, di depan wajahnya.
“Mas aku akan jelaskan nanti”, rengek Mawar memelas.
__ADS_1
“SEKARANG”. bentaknya kembali.
Mawar masih diam enggan untuk menjawab. Sementara Bu Srining, ia muli panik. Ini semua sungguh di luar rencana. Apa salahnya dan Randi, hingga acaranya di buat kacau seperti ini.
Desas-desus suara undangan semakin kertas terdengar, satu persatu cibiran mulai datang.
“Sepertinya ada yang tidak beres”.
“Sepertinya akan ada masalah besar ini nanti”.
“Duh siapa sih laki-laki itu”. dan masih banyak lagi serangkaian kata yang terlontar dari mulut mereka.
Mawar masih diam membisu, di dalam otaknya sedang berusaha merangkai kata-kata untuk menjelaskan semuanya.
“Aku bilang jelaskan, jika kamu memang mengetahui sesuatu”. Geram Randi kemudian, baru saja ia sedikit luluh dengan Mawar, ia baru saja mencoba untuk membangun kepercayaan pada istri keduanya itu, namun lagi-lagi pondasi yang baru berupa batu sebiji harus rubuh kembali.
Mawar masih diam, enggan untuk menjelaskan.
.
.
.
“Perkenalkan semuanya, saya adalah Ridho, kebetulan saya adalah ayah dari anak bayi ini”. Satu tangannya menunjuk ke arah Fatin, yang sedang tertidur dalam dekapan Randi.
Mulut undangan yang hadir di buat menganga dengan satu kalimat tersebut. Mata mereka pun demikian, turut membulat sempurna.
Kalian tanya reaksi Bu Srining?
Jantungnya seakan berhenti untuk berdetak, tiba-tiba ia merasa sendi-sendinya lemas seperti tak bertulang.
“Hah? Ayah dari Fatin? Bagaimana bisa?”. Kini Bu Srining menuntut kejelasan pada Mawar dan pria itu.
Mawar masih diam tak bersuara, mendadak ia menjadi bisu untuk sesaat.
“Apa masih perlu syaa ulang kalimat saya? Baik, akan saya ulangi kembali. Perkenalkan semuanya, saya adalah Ridho ayah dari bayi ini. Saya adalah ayahnya sekaligus mantan suami Mawar, beberapa bulan yang lalu!”. Jawabnya dengan enteng.
“Diam kamu!”. Sanggah Mawar, ini kali pertama Mawar bersuara, setela beberapa saat ia bungkam pada semuanya.
“Kenapa? Kenapa aku harus diam? Mereka berhak tau semuanya Mawar”. Ridho menatap sinis pada Mawar, tangannya terulur untuk meraih Fatin dari dekapan Randi, namun sayang uluran tangan itu di tepis oleh Randi.
__ADS_1
“Jangan sentuh anak saya!”. Ucap Randi dengan geram.
“Hahaha itu anakku, bukan anakmu, aku lebih berhak atasnya dari pada kamu!”. Ia tersenyum hambar tepat di depan Randi yang sedang menggendong Fatin.
“Mawar, sekali lagi jelaskan semuanya!”. Randi sangat geram dengan keadaan yang ada.
“Tidak mas, tidak seperti itu. Aku sama sekali tak mengenal pria ini. Ma, tolong usir saja manusia perusak acara ini”. Rengek Mawar, dengan memegang tangan Bu Srining, wajahnya memelas.
Bu Srining mulai menatap ragu pada menantu kesayangannya, namun rasa cintanya pada Fatin, menutupi segalanya. Logika dan perasaannya sedang bertolak belakang.
“Satpam, tolong usir pria gila ini. Bawa dia keluar dari acara ini!. Perintahnya dengan berteriak, memanggil satpam rumah Randi.
“Baik, jika kamu menginginkan aku untuk pulang, aku akan pulang, tapi aku akan membawa bayiku pergi”. tuturnya dengan satu tangan mulai kembali meraih tubuh kecil Fatin.
“Jangan sentuh anakku!”. Ucap Randi, tak terima.
“Heh! Ini anakku darah dagingku. Bagaimana bisa kalian melarang untukku menemui dan membawanya pergi?”.
“Kembalikan anakku, aku tak rela anakku di asuh wanita ular sepertimu”. Satu tangannya menunjuk ke arah Mawar.
“Hentikan kata-katamu, aku bahkan bisa menuntut mu!”. Ucap Mawar tak terima.
“Hahaha, kamu mau menuntunku? Baik silahkan, aku juga akan menjelaskan pada semua yang ada tentang segala kejahatanmu selama ini. Biar kita sama-sama mendekam dalam penjara yang sama hahaha”. Ia kembali tersenyum hambar.
“Daim kamu!, dasar laki-laki gila!”. Tangan Mawar, terulur memukul pundak Ridho dengan tas yang ada di genggamannya.
“Pukul saja sepuas mu, itu tak masalah bagiku. Tak akan terasa sakit”.
“Pergi kamu dari sini!”.
“Sudah aku katakan, aku akan pergi dengan membawa Fatin, apa kamu tuli?”. Matanya mulai melotot.
Jika tadi mendadak suasana menjadi riuh, maka tidak dengan sekarang. Para undangan hanya bisa melongo melihat adegan live pertengkaran keluarga tepat di depan mata mereka.
“Mawar, cepat jelaskan semuanya ini. Apa benar dia adalah ayah Fatin?”. Fajar, menatap Mawar, dengan tatapan elang, ia sedang mencoba mencari kebenaran di sana.
“Tidak mas, tentu saja itu semua tidak benar. Kamu tahu kan aku mengandung Fatin, aku tinggal di sini, aku tak pernah kemana-mana”. bela Mawar.
“Mawar, coba jelaskan pada kami semuanya, katakan yang sebenarnya siapa Fatin dan siapa laki-laki ini?”, wajah Bu Srining mulai tegang.
Mawar masih diam untuk beberapa saat.
__ADS_1
“Cukup Mawar, sudah’i semua drama sandiwaramu. Sudah seharusnya mereka tahu yang sesungguhnya. Jika kamu tidak mau menjelaskan pada mereka, baik aku akan mengatakan semuanya”.
Vote dan hadiahnya kakak 😊