
Di balik pintu ruang rawat Risma, seorang laki-laki mondar-mandir melangkah. Ia ingin sekali bisa kembali masuk ke sana. Membersamai anak dan mantan istrinya. Duduk bersebelahan dan berbincang dengan damai.
Apakah masih pantas berharap demikian?
Tari mengambil satu cap kopi yang tersimpan di atas meja. Entah mengapa malam itu ia
ingin menikmati bulan dan bintang yang saling bersebelahan. Mungkin karena tidak hujan, jadi ia ingin keluar melihat pesona cakrawala di malam hari. Beberapa hari menemani Risma di sini hanya di temani hujan ketika malam.
Ia duduk di salah satu kursi yang ada di koridor rumah sakit. Jemarinya memegang segelas cup kopi. Sesekali ia menyesap dengan pelan menikmati rasa pahit dan manis yang saling berkolaborasi menjadi satu.
“Hay, boleh duduk di sini?”
Randi memutuskan untuk duduk, meski Tari belum menjawab pertanyaannya. Setelah tiga
tahun lebih tak berkabar akhirnya sekarang mereka bisa duduk kembali dalam satu kursi. Saling bersebelahan, tapi rasanya sungguh berbeda. Kecanggungan mendominasi keadaan.
“Silahkan” jawab Tari dengan terlambat. Pria itu sudah duduk di sampingnya dalam jarak.
Tari memilih untuk membuang pandangannya ke sembarang arah. Ia enggan untuk menatap
mata yang pernah ia percaya seutuhnya. Hal yang sama juga di lakukan Randi, ia ingin sekali menatap wajah lawan bicaranya namun keadaan terasa sangat asing.
Hening, keduanya duduk salin bersebelahan
menatap langit yang sama namun keduanya tak ada yang bersuara. Terlalu banyak yang ingin Randi katakan membuatnya bingung harus memulai dari mana.
Tari masih memegang cup kopi di tangannya. Ia kembali mengangkat gelas tersebut dan
__ADS_1
mengarahkan pada mulutnya.
“Tumben minum kopi?” satu kalimat terucap dari mulut Randi, ia menatap heran pada wanita yang tak biasanya menikmati kopi.
“Lagi pengen saja”
“Sekarang suka kopi ya?” ia mencoba untuk mencairkan suasana.
“Iya, karena dari kopi aku belajar tentang rasa. Tak selamanya rasa pahit itu menyakitkan”
Randi kembali terdiam ketika mendengar jawab dari Tari. Ia tertunduk lesu. Jemarinya sibuk meremas ujung kemeja yang ia gunakan. Jantungnya bekerja lebih keras dari
biasanya. Sangat mendebarkan, selayaknya sepasang kekasih yang lama terpisahkan. Namun sayang, kenyataan yang ada, mereka hanyalah sepasang mantan suami istri.
“Apa kabar?” tanya Tari dengan tenang. Wanita itu terlihat lebih bisa menguasai hti dan pikirannya.
Ingin sekali rasanya Randi menjawab, jika dia tak baik-baik saja setelah perpisahan mereka beberapa tahun yang lalu.
“Seperti
yang kau lihat, aku baik” Tari tersenyum dengan teduh, untuk pertama kali ia
kembali menatap wajah pria di sampingnya.
Sungguh bukan itu jawaban yang di inginkan Randi. Jawaban yang baru saja keluar dari
mulut Tari, membuatnya terasa sakit. Ingi rasanya ia mendengar jika Tari tak baik-baik saja selepas perpisahannya dengannya. Randi memang slalu mendoakan kebahagiannya, namun tidak dapat di pungkiri ia hanya menginginkan wanita itu
__ADS_1
bahagia bersamanya.
“Oh ya apa yang terjadi pada Mama? Kenapa Mama bisa sampai seperti saat ini?”
“Kamu masih mempedulikan Mama Tar? Setelah apa yang di lakukan padamu dulu?”
Tari tersenyum, matanya kembali mengedar menatap jutaan binatang di angkasa yang
sedang menunjukan pesonanya.
“Bukankah kita sebagai manusia tidak boleh saling membenci?’ ia menjawab setiap pertanyaan
Randi dengan tenang, tanpa rasa gugup.
“Kamu terlalu baik menjadi manusia”
“Lantas aku harus menjawab apa?”
“Kau boleh mengatakan jika keluarga kami adalah manusia yang paling kejam di dunia
ini” terang Randi yang semakin bersalah.
“Untuk apa? Rasanya tidak perlu”
“Maafkan aku Tar, atas semua yang terjadi di antara kita di masa lalu”
“Aku sudah memaafkan mu mas lupakan saja” Tari enggan untuk membahas masa lalu mereka
__ADS_1
baginya semua sudah berakhir.
Apa selama ini kamu merindukanku Tar?