
Tiga bulan sudah sejak kenaikan jabatan yang diterima oleh Tari, dengan gajinya sekarang alhamdulilah kehidupannya sudah lebih membaik dari sebelumnya, hanya saja Tari tak menambah uang jatah bulanan untuk ibunya, Tari tetap memberikan dengan jumlah yang biasanya di berikan sebelum kenaikan jabatan.
Tari meraih tas yang ada di atas meja kamarnya, senyumnya merekah tak kala melihat buku tabungan yang ada di tas tersebut.
“Alhamdulilah, sedikit lagi dengan uang ini aku bisa untuk mengambil perumahan di sekitar sini, atau setidaknya aku bisa membeli tanah dan membangunnya suatu saat nanti”. Ucap Tari lirih dengan memeluk buku tabungan tersebut.
Namun ada sedikit masalah yang mengusik ketenangan hatinya beberapa waktu ini.
Usianya.
Ya usia Tari yang sudah menuju tiga puluh tahun di tahun ini, membuatnya sedikit tak percaya diri jika berjumpa dengan banyak orang, sebagian besar dari teman-teman seangkatannya sudah menikah bahkan memiliki anak lebih dari dua, sedang Tari masih sibuk dengan memikirkan keluarganya.
Tari merebahkan diri di atas kasurnya.
Hatinya berdoa memohon dengan sepenuh hati untuk lekas di pertemukan dengan pasangan hidupnya. Namun untuk kali ini Tari tak lagi memaksakan kehendaknya untuk lekas mendapat jodoh, Tari lebih memasrahkan semuanya pada yang Kuasa.
Tari tetap membuka hati dan diri untuk semua laki-laki yang ingin mengenalnya, hanya saja ada beberapa kriteria standar yang ahrus dipenuhi.
Karena Tari menyadari perkara jodoh merupakan mutlak atas ketetapannya, sedang seorang hamba hanya bisa untuk memaksimalkan usahanya.
Satu janji Allah yang slalu Tari pegang teguh untuk penguat hatinya dikala gundah melanda prihal jodoh. Lelaki baik untuk perempuan baik, sebaliknya lelaki buruk untuk perempuan buruk pula.
***
Pagi itu setelah sholat subuh, ibu tak lagi bersiap untuk memasak seperti biasanya. Beberapa hari kebelakang ini kondisi mbah semakin memburuk, mbak sudah tidak mau makan sama sekali, bahkan bubur cair yang di beli di rumah sakit sudah tak mampu untuk di makannya.
Mbah juga sudah tak mampu lagi untuk berbicara, belakangan ini matanya sudah tertutup hanya saja denyut nadi dan pernafasannya masih ada. Ibu begitu setia menjaga mbah. Namun untuk kondisi yang sekarang ibu tak lagi membawa Mbah ke rumah sakit. Ibu cukup merawat dan menemani saja di rumah.
Ibu merawat mbah seorang diri, dari mulai memandikan, memberi makan dan membersihkan kotorannya. Tak ada anak mbah lain yang membantu bahkan sekedar untuk melihat keadaanya saja tidak ada.
Seperti biasa, pagi itu keluarga bude Murni sudah datang beserta rombongan untuk meminta sarapan di rumahku.
Mata bude terbelalak tak kala membuka tudung saji yang ada di meja makan masih kosong tak ada makanan sama sekali, bahkan mejikkom saja masih mati tidak ada nasi. Dengan sigap bude lekas berteriak memanggil-manggil ibu.
__ADS_1
“Mar tumben belum masak?”. Suara bude begitu keras melengking hingga terdengar sampai di kamar mbah yang kebetulan berada di paling belakang rumah kami.
Mendengar ada yang memanggil namanya dengan begitu kerasnya, ibu lekas tergopoh-gopoh menuju sumber suara yang ada.
“Ada apa mbak masih pagi sudah teriak-teriak?”.
“Ada apa bagaimana?, kam tidak masak Mar? Anak-anakku harus lekas sarapan, sebentar lagi mau berangkat ke sekolah”.
“Maaf mbak untuk hari ini Marni tidak sempat masak untuk sarapan dan makan siang”.
“Mbah mbak”. Ucap ibu dengan sendu.
“Kenapa dengan mbah?”.
“Mbah keadaannya kritis mbak, sudah dari kemarin tidak membuka mata sama sekali, bahkan semua bubur yang biasa di makan juga sudah tak mampu di telan”.
“Mbak tolong beri tahu mas Dar, suruh jenguk mbah sebentar saja”.
Setelah melihat kondisi mbah, bude lekas melenggang keluar dari rumah ibu.
“Biar aku panggil masmu dulu”.
Sedang ibu tertunduk lesu di sebelah mbah dengan memegang erat telapak tangannya.
Beberapa saat kemudian pakde Dar datang ke rumah dan lekas menuju kamar mbah, langkahnya sedikit tergopoh tak berjalan seperti biasanya.
“Ada apa Mar dengan mbah?”. Tanya pakde prihatin melihat kondisi mbah yang tak seperti dulu.
Rumah pakde dan ibu memang bersebelahan, pakde pun setiap hari sarapan di rumah ibu, hanya saja kakinya kelu untuk melangkah kebelakang melihat kondisi mbah.
Kesalahan mbah ketika masih muda yang berselingkuh dan menelatarkan keluarganya membuat semua anak-anaknya enggan untuk datang menemuinya, mereka bahkan tak peduli sama sekali dengan kondisi mbah.
Hari itu hati pakde sedikit terusik melihat orang tuanya terkapar dengan begitu memilukan. Pakde lekas menghubungi sag adik yang paling kecil untuk lekas pulang dulu menjenguk sang bapak.
__ADS_1
Begitu juga dengan ibu, yang dengan sigap lekas menghubungi Tari untuk lekas pulang sejenak menjenguk mbah.
Pakde menghubungi paklek wanto yang kebetulan juga tinggal di Surabaya. Sejak mbah di pulang dari rumah sakit beberapa waktu yang lalu, paklek Wanto sudah tak lagi menjenguk mbah, bahkan sekedar bertanya keadaanya saja sudah tidak.
Sedang Tari sejak bekerja di Surabaya dengan serangkaian pekerjaannya yang padat merayap juga jarang sekali untuk pulang. Jika bisanya Tari akan pulang dua minggu sekali, maka setelah naik jabatan ini Tari pulang sebulan sekali.
Semua keluarga terdekat sudah di hubungi prihal kondisi mbah saat ini, saat itu juga semua keluarga lekas datang ke rumah ibunya Tari.
Begitu juga dengan Tari yang lekas izin untuk mengambil cuti saat itu juga. Tak membutuhkan waktu yang lama dalam tiga jam perjalanan sema keluarga sudah berkumpul semua di rumah ibu.
Pakde Dar lengkap dengan anak-anak mereka, ibu beserta aku dan Ipul, juga paklek Wanto beserta istri dan kedua anaknya. Kali ini semua keluarga duduk di tepi ranjang mbah.
Hening.
Tak ada obrolan dalam ruangan kamar berukuran tiga kali empat tersebut. Entah apa yang sedang dalam pikiran masing-masing yang ada didalam ruangan tersebut.
Suasana benar-benar hening, semua menatap wajah mbah.
Aku memberanikan diri memulai memecah keheningan, membuka obrolan di antara kami dalam ruangan tersebut.
“Pakde, bude, paklek, bulek dan semuanya saudara yang ada di kamar ini, Tari ingin menyampaikan sesuatu pada kalian sema”.
Hening tak ada jawaban.
“Bolehkah Tari berbicara?”. Ucap Tari dengan memelankan saranya.
Semua yang ada dalam kamar tersebut saling berpandangan,
“Bicaralah nduk cepat katakan apa yang ingin kamu katakan pada kami semua”, Jawab pakde dengan dingin.
“Pakde paklek”.
Tari menjadi ucapannya sejenak, kembali memandang satu persatu orang dalam ruangan tersebut apakah mereka sdah siap dengan apa yang akan di katakan oleh Tari.
__ADS_1