Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Pertemuan Randi dengan Risma


__ADS_3

“Ayah...” teriak Risma dari ranjang tanpa melihat siapa yang datang.


“Risma!” jawab Randi, ketika suara itu menguar mengisi ruang kamar rawat. Matanya lekas mencari sumber suara yang ada. Kepalanya menyembul agar bisa melihat dengan jelas


penghuni kamar yang ada.


Bu Marni masih diam di tempat. Ia tak bereaksi, tak mempersilahkan untuk masuk pula pada tamunya yang baru saja datang. Sementara Bu Srining, ia menatap segan pada mantan besannya.


“Risma” lagi-lagi Randi berucap, kini dia tak tahan tak mampu untuk menguasai perasaan. Ia


memilih berlari menemui Risma, meninggalkan Bu Srining dan Bu Marni yang masih mematung di tempat.


“Risma sayang” ucapnya kembali ketika melihat anaknya dalam jarak terdekat. Ia masih berdiri di sisi ranjang, menatap lekat pada pasien yang tengah duduk di ranjangnya. Sementara Risma, gadis kecil itu hanya bisa terdiam saja. Ia mengamati dengan seksama wajah pria dewasa yang ada di depan mata. Ingatannya mulai sedikit melupa, mengingat sudah lebih dari tiga tahun mereka tak jumpa. Penampilan Randi telah


berubah, pria itu terlihat lusuh, kurus dan tak terawat.


“Ini Ayah nak” ia memperjelas statusnya, matanya menatap nanar Risma yang tak mengenalinya.


Risma masih diam, ia hanya melirik dan memastikan apa yang di ucapkan Randi.


“Ini Ayah Randi sayang, kamu masih ingat bukan?” Randi lekas mendekat memeluk anaknya yang masih terdiam mengumpulkan kepingan ingatan yang ada. Ia memeluk Risma dengan balutan tangisan yang tersedu-sedu. Tak terhitung seberapa besar rasa bersalah yang di


rasanya.


“Maafkan Ayah nak, maafkan Ayah” suara itu terdengar bergetar dan memilukan. Bu Srining tak bisa berbuat banyak. Di atas kursi rodanya ia menangis.


“Silahkan masuk” ucap Bu Marni membuka kecanggungan di anatar mereka. Bu Marni lekas mendorong kursi roda mantan besannya menuju ke arah Randi dan Risma.


Malu. Begitulah yang dirasa oleh Bu Srining. Sungguh ia benar-benar malu dengan keadaan yang ada. Dengan segala kekacauan yang telah terjadi di masa lalu.


“Kamu tidak ingat Ayah nak? ini Ayah Randi. Maafkan Ayah”


“Ayah?” sekelebat masa-masa dengan Randi mulai teringat di benaknya. Ia memang pernah merasakan kasih sayang sosok Ayah, namun ia tak bisa begitu mengingat wajahnya dengan jelas.


“Saya permisi dulu, silahkan!” seru Bu Marni ketika telah mengantarkan Bu Srining di sebelah Randi dan Risma. Ia sengaja meninggalkan mereka untuk memberikan ruang kebebasan.


Bagaimanapun juga Randi juga berhak atas kasih sayang Risma.


“Risma, nenek keluar sebentar ya nak”


.


.


.


“Aaaf...aaaf..aaaf” suara Bu Srining mulai keluar, tangannya terulur untuk menyentuh tangan Risma. Matanya masih menggenang, melihat Risma. Risma gadis kecil yang sempat ia


sia-siakan dulu, mengingat ia bukan anak kandung Randi. Kehadirannya dalam


keluarga Randi tidak terlalu di terima. Hanya sebagai formalitas untuk mengalihkan perhatian Tari dan penghianatan yang di lakukan Randi.

__ADS_1


“Nenek?”


“Iya, ini neneknya Risma, waktu kita masih tinggal di Surabaya dulu. Kamu sudah ingat semuanya nak?” Randi mengguncang bahu anaknya dengan pelan.


Risma menganggukkan kepalanya sebagai respon atas jawabannya.


“Apa kamu merindukan Ayah?”


Risma terdiam untuk beberapa saat. Tatapannya masih belum siap dengan keadaan yang ada seperti ini. Ini sangat tiba-tiba untuk anak seusia dia.


“Tidak” jawabnya dengan singkat lalu terdiam.


“Maafkan Ayah nak, bukan maksud Ayah untuk menelantarkan selama ini. Kenapa Risma tidak


merindukanku”


“Kerena aku tidak ingin membuat Bunda sedih, Bunda akan menahan air matanya ketika aku bertanya tentang keberadaan Ayah. Oleh sebab itu aku memutuskan untuk tidak bertanya lagi


tentang Ayah”


Deg..


Apakah sebegitu menyakitkannya Tar, hingga kamu harus terluka seperti ini.


“Bunda bilang, Ayah sedang sibuk bekerja di tempat yang sangat jauh. Di sana tidak ada sinyal untuk bisa melakukan panggilan telfon maupun vidio”


“Apa Ayah merindukanku?” ia kembali melempar pertanyaan tersebut pada laan bicaranya.


“Jika Ayah merindukanku kenapa Ayah tak mencari ku dan Bunda?” sebuah pertanyaan yang mempu menghunus hati.


Pertemuan pertama Randi dan Risma, setelah perpisahan kedua orang tua angkatnya kembali memporak-porandakan hatinya. Bahkan lebih hebat dari sebelumnya.


“Maafkan Ayah nak, maafkan segala kesalahan dan kekeliruan yang terjadi selama ini. Ayah janji


setelah ini akan sering untuk menemui. Apakah kamu membenci Ayah?”


Risma menggelengkan kepalanya dengan pelan. Pertemuannya dengan Randi tidak memuatnya sebahagia yang di bayangkan selama ini. Justru cenderung biasah saja. Mungkin karena ia sudah merasakan kasih sayang dari Rama yang beberapa waktu ini mengisi hatinya.


“Bunda bilang aku tidak boleh membenci Ayah. Bunda bilang, aku harus slalu mendoakan Ayah.  Kata Bunda, aku akan mengerti segalanya ketika telah dewasa. Menurut Ayah aku kapan dewasanya?”Risma bertanya sesuai apa yang ada di kepalanya.


Alih-alih memberi jawaban Randi memilih untuk kembali memeluk anaknya delam isak tangis. Ia masih tak menyangka jika Tari sebaik itu. Ia bahkan mengajarkan pada Risma untuk tetap mendoakan dan memaafkan dia, setelah apa yang telah terjadi pada hubungan mereka. Dadanya terasa sangat sesak mendengar setiap penuturan yang di ucapkan anaknya.


Hal yang sama juga di rasakan Bu Srining, ia baru menyadari betapa bodohnya telah membuang menantu yang berhati malaikat demi wanita yang menjanjikan sebuah kebahagian namun semu. Justru wanita itu yang membawa kehancuran dalam keluarga mereka.


“Terimakasih ya nak, sudah mau mendoakan Ayah”


“Tentu saja, tanpa Ayah meminta aku slalu mengirim doa untukmu” ia berucap dengan polos.


“Risma sudah makan? Ayah suapi ya?” tangan Randi gemetaran ketika memegang sendok dan piring di tangannya. Moment yang telah lama tidak terjadi kini kembali terulang. Bu Srining, menatap nanar setiap interaksi yang terjadi di depannya.


.

__ADS_1


.


.


Di lorong koridor, sedikit menepi dari ruang rawat Risma, Bu Marni meremas jemarinya dengan resah. Jujur ia sangat ketakutan, jika Tari harus bertemu kembali dengan keluarga benalu itu. Ia takut merusak kebahagian anaknya yang baru saja di mulai. Dalam benaknya sungguh tak berharap Tari bertemu bahkan berjumpa dengan mantan suaminya. Sudah cukup semua rasa sakit yang telah di dapat anaknya.


Ia membolak-balikkan benda pipih di tangannya, antara ragu dan ingin memberi tahukan pada Tari, jika Randi dan Ibunya sedang berada di sini. Berkali-kali ia menekan nama anaknya di


ponsel tersebut, namun berkali-kali pula ia urungkan niatnya. Ia sibuk menata


strategi yang tepat agar sang anak tidak kembali terluka.


Cukup lama Bu Marni, menimbang-nimbang segala kemungkinan yang terjadi. Berkali-kali pula ia harus menghela nafas dengan panjang, untuk mencoba menyakinkan hatinya sendiri. Ia


memilih kembali ke kamar Risma, melihat dari balik kaca kecil yang ada di pintu ruang rawat. Pemandangan yang membuat hati terkoyak, antara senang dan sedih. Randi sedang menyuapi Risma. Bu Marni memilih untuk mengambil gambar mereka dari kejauhan tanpa berniat untuk masuk ke sana. Ia bingung memposisikan diri ketika berhadapan dengan mereka. Pernah ingin marah dan protes namun rasanya percuma, buang-buang tenaga saja. Ingin beramah-tamah dengan mereka, rasanya


tak mungkin. Nuraninya menolak.


Toko Tari


Sementara di toko roti miliknya, Tari sedang sibuk mempersiapkan bahan yang baru saja ia beli. Ia


lekas membawanya masuk dan menyimpan di tempat yang telah di tentukan.  Tari merasa gelisah, ketika pekerjaan tak kunjung selesai di lakukan. Raganya memang sedang ada di sana. Namun tidak dengan hatinya. Pikirannya melayang berjalan ke rumah sakit, membayangkan keadaan anaknya saat ini. Pasti Risma sedang kesepian, tidak seharusnya aku meningalkan dia terlalu lama seperti ini. Bukankah ini juga waktunya dia untuk makan dan


minum obat.


Tari memutuskan untuk istirahat sejenak, menepi dari beberapa karyawannya untuk menghubungi Ibun. Ia tidak akan tenang sebelum mengetahui kabar Risma saat ini.


“Assalamualaikum Bu”


“waalaikumsalam” jawab Bu Marni dengan suara yang bergetar tak seperti biasah.


“Ada apa Bu?” tanya Tari ketika mendapati suara sang Ibu terasa berbeda dari sebelumnya.


“Tidak ada apa-apa nak. Anakmu baik-baik saja, jangan buru-buru kemari. Selesaikan dulu pekerjaanmu. Ibu akan mengirimkan foto anakmu saat ini” Bu Marni memilih untuk mematikan sambungan telfonnya.


Tari mengernyit bingung, tak biasanya Ibunya bersikap seperti ini.


Tari masih memegang ponselnya dengan resah. Beberapa menit kemudian ponselnya kembali bergetar. Ada beberapa kiriman foto dari Bu Marni, dengan perasaan yang was-was Tari


mulai membuka pesan hijau tersebut.


Hah!


Ponselnya tergeletak di lantai, Tari sangat terkejut dengan apa yang di lihatnya baru saja.


Semoga aku salah melihat foto-foto itu.


Tari kembali meraih ponselnya dengan tangan yang gemetaran dan dada bergemuruh. Ia memandang lekat pria dan wanita yang kini ada di sisi Risma.


“Mas Randi dan Mama” ia menutup mulutnya yang menganga, apa yang di lihat benar adanya. Air matanya kembali berlinang melihat itu.

__ADS_1


Bagaimana bisa Mas Randi dan Mama ada di sana?


__ADS_2