
Tiga hari berlalu sejak kepergian bude beserta keluarga untuk liburan. Pagi itu bude menghubungi ibu lewat saluran telpon bahwa kiranya nanti jam sembilan pagi sudah sampai rumah, maka bude berpesan pada ibu untuk memasak seperti biasa karena keluarganya akan lekas sampai.
Mendapat pesan seperti itu ibu lekas bersiap memasak lebih banyak seperti sedia kala saat keluarga bude ikut sarapan dengan keluargaku, kali ini ibu memasak sayur lodeh dengan lauk pindang kecap. Ibu sengaja masak sayur lodeh agar dapat di nikmati sampai sore hari, karena jika masak sayur bening tidak enak ketika di makan saat sore menjeng.
“Ibu masak banyak lagi?”. Ipul yang baru saja bersiap untuk berangkat sekolah datang ke dapur untung mengambil sarapan.
“Iya nak hari ini pakde dan bude sudah pulang, sekarang masih dalam perjalanan”.
Ipul menghela nafas panjang, rasanya malas sekali dengan keluarga saudara dari ibunya tersebut.
“Ah harusnya tidak usah pulang saja bu”. Ucap Ipul dengan lirih, sayangnya masih terdengar oleh telinga sang ibu.
“Hus gak boleh begitu, bagaimanapun juga dia pakdemu, kakak ibu sadara ibu nak. Bagaimana jika suatu saat nanti ada orang yang menjelek-jelekan mbak Tari atau tidak suka dengan mbak Tari, apa kamu diam saja?, kamu juga pasti akan bersikap seperti ibu nak”.
“Ah belum tentu juga sih bu, tergantung bagaimana dulu perbuatan saudara kita, kalau hanya merepotkan saja sih sebaiknya hempaskan saja gak usah punya saudara juga gak papa”.
“Anak kecil tau apa kamu urusan orang dewasa, kelak saat kamu sudah dewasa kamu akan paham sendiri”.
“Dengan terus di manfaatkan dan mengalah terus seperti ini bu?”.
“Siapa yang memanfaatkan nak? Ibu tak merasa di manfaatkan oleh pakde, kala ibu merasakan kenyang ibu berharap pakde jga merasakan apa yang ibu rasakan. Kami sudah menderita dari kecil Pul biarlah sekarang kami menikmati masa-masa tua yang membahagiakan”.
“Dengan cara memeras mbak Tari begitu buk?”.
Ipul meninggalkan sang ibu yang masih berada di dapur, niat untuk sarapan pagi itu ia urungkan, selera makannya menghilang begitu saja.
***
Satu jam kemudian rombongan keluarga bude Murni sekeluarga sudah datang, mobil mereka mulai memasuki pekarangan rumah. Tak lupa mas Udin membunyikan klakson berkali-kali dengan sangat kencang, padahal di depan rumah kami tidak ada pagar yang harus di buka.
Mungkin sengaja biar tetangga pada keluar dan melihat kedatangan keluarga bude yang membawa barang bawaan banyak sekali.
Benar saja bude beserta rombongan trun dari mobil dengan membawa banyak sekali barang dan oleh-oleh. Terlihat dalam kresek merah besar ada apel merah dan hijau khas Batu, satu kresek lagi brownis khas Malang dan strudel beraneka rasa. Tak lupa ada juga beberapa buah yang lainnya seperti strawberry, alpukat dan minuman sari buah.
Sesuai dengan harapan bude, ketika mulai turun dari mobil beberapa tetangga lekas kelar dari dalam rumahnya dan memperhatikan mereka. Bude dengan cukup percaya diri melambaikan tangannya pada para tetangga sekitar rumah kami.
“Baru liburan bu, di ajakin Udin jalan-jalan ke Malang”. Sapanya pada ibu-ibu yang memperhatikannya.
__ADS_1
‘Wah enak dong mbak Murni bisa jalan-jalan, sampai beberapa hari pula”.
“Iya bu, enak sekali nginep nya di hotel golden risop bagus bu tempatnya mewah, biasanya di pake orang-orang kaya kalau liburan”. Ucap bude yang terbelit-belit lidahnya ketika menyebut nama hotel tempat mereka menginap.
“Bu Murni banyak uang ya”.
“Tidak bu, ini semua ide Udin. Maklum Udin kan anak Sholeh yang suka membahagiakan orang tuanya”. Jawab bude dengan sekilas melirik pada ibu.
“Permisi ya bu-ibu saya mau menaruh barang dulu berat sekali”. Bude berlalu meninggalkan tetangga yang masih di depan rumah.
Setengah jam berlalu setelah kepulangan bude dari liburan, seperti biasa bude akan datang ke rumahku dengan membawa pasukannya.
“Masak apa Mar hari ini?”. Tanya bude dengan mulai membuka tudung saji yang ada di meja.
“Masak lodeh mbak sama pindang kecap”.
“Yah masak gak enak lagi". Suara dari dua anak bude yang menggerutu tak selera dengan masakan ibu.
“Maaf ya mbak adanya cuma itu saja”.
“Ya sudah gak papa, lagian aku juga masih bosan makan enak. Beberapa hari ini Udin benar-benar memanjakan kami dengan makan-makanan yang enak”. cap bude dengan meraih piring yang ada di rak bersiap untuk sarapan.
Seperti biasa setelah sarapan, bude akan membungkus makanan dan nasi untuk makan siang nanti di rumah mereka, karena jika siang hari mereka biasa makan di rumahnya hanya saja untuk makanan yang di makan masih ibu yang memasak.
Sepeninggalan bude dari rumah yang membawa kresek hitam berisi makanan, ibu tampak kelimpungan mencari oleh-oleh dari bude. Ibu pikir tadi bde membawakan oleh-oleh untuknya.
“Di taruh di mana oleh-olehnya ini?”. Ibu membuka tudung saji, lemari penyimpanan makanan dan juga mencari di meja rang tamu tak ada sama sekali oleh-olehnya.
“Ah mungkin belum sempat di bagi”. Batin ibu dalam hati lantas bergegas membersihkan kamar mbah dan memandikannya.
Sementara itu kondisi mbah semakin hari tidak menunjukan perubahan sama sekali, mbak masih hidup hanya saja sudah tak dapat melakukan apa-apa. Mbah hanya mampu berbaring di atas kasur dengan mata yang terbuka tapi tubuh tak mampu tergerak. Badannya kurus sekali, terkadang ibu suka menangis kala merawat mbah.
Bukan menangis karena lelah merawat, tapi ibu menangisi keadaan mbah yang seperti mayat hidup.
Dosa apa pak yang dulu sudah bapak lakukan sampai bapak seperti ini?.
Begitulah kira-kira ucapan yang slalu ada di pikiran ibu ketika sedang membersihkan tubuh mbah.
__ADS_1
***
Di rumah bude.
Di rumah bude, pagi menuju siang ini di sibukkan dengan membongkar berbagai macam oleh-oleh yang mereka bawa dari Malang. Bude membuka bungkusan kresek merah berisi beraneka buah tersebut dan meletakan di dalam lemari pendingin. Tak lupa bude juga membuka beberapa kue yang tadi dia beli.
Saat sore menjelang bude beserta keluarga sedang duduk santai di depan rumah mereka. Di teras tersebut terdapat kue Strudel oleh-oleh khas Malang, bude beserta keluarga sedang menikmati makanan tersebut dengan memangku kontak kue tersebut.
Ya benar saja bude memangku kotak yang bertuliskan Strudel Malang rasa keju.
“Habis dari Malang kah mbak Murni?”. Sapa salah satu tetangga yang kebetulan sedang lewat di depan rumah bude.
“Iya mbak habis dari Malang, ini Udin membelikan oleh-oleh untuk di bawa pulang Strudel”. Bude mengangkat kotak kue tersebut dan menunjukan pada tetangga yang lewat.
“Wah pantesan kok saya asing dengan bungkus makanan itu, di sini belum ada sepertinya, saya tidak pernah lihat”.
“Ya jelas tidak ada mbak ini oleh-oleh khas Malang rasa keju”. Bude kembali mencomot satu potong kue tersebut dan memakannya dengan begitu menggiurkan.
Sementara tetangga yang lewat hanya menelan ludah tanpa di tawari bude.
.
.
.
.
.
Apakah ada orang seperti ini pemirsa?
.
.
.
__ADS_1
Ada.?