Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Hari Selepas Kebenaran


__ADS_3

“Keadaan Bu Srining, sedang tidak baik-baik saja. Tekanan darahnya cukup tinggi sekali. Ini di sebabkan oleh suatu tekanan dan trauma yang begitu tiba-tiba dalam pikirannya”.


“Kadar gulanya pun demikian turut naik, sehingga tubuhnya melemas tak bertenaga. Untuk sementara waktu Bu Srining, sebaiknya di rawat dulu agar bisa di pantau terus ke adanya”.


“Apakah separah itu Dokter, tekanan darah Mama saya”.


“Ada hal lain yang ingi saya sampaikan, jika jantung Bu Srining juga mengalami masalah karena tekanan yang ada dalam pikirannya”.


“Saat ini kondisinya masih dalam masa kritis, jika dalam waktu beberapa hari ke depan tak kunjung turun tekanan darahnya, di khawatirkan kondisi pasien akan mengalami struk”. Tukas Dokter, mengabarkan keadaan Bu Srining.


“Apakah kami boleh menjenguknya Dok?”.


“Silahkan, pasien sudah di pindahkan ke ruang rawat yang ada disebelah sana”. Tangan Dokter terulur mengarah pada ruang pasien yang berada di ujung lorong.


Randi dan Pak Nario, lekas berlari menyusuri koridor rumah sakit, ingin segera bertemu Bu Srining. Sepanjang perjalan mereka tak ada interaksi yang berarti. Yang ada hanya derap langkah kaki mereka yang saling beradu cepat untuk lekas sampai melihat kondisi Bu Srining.


Dokter mengatakan jika kondisi Bu Srining, mengalami syok yang cukup tinggi. Di usianya yang tak lagi muda. Hal ini membuatnya harus terbaring lemah di atas ranjang pasien.


Sesampainya di dalam kamar Bu Srining, suasana menjadi mencekam. Kehadiran Randi, di sambut suara alat-alat bantu rumah sakit yang melekat pada tubuh Bu Srining. Wajahnya sangat pucat pasi tak ada goresan senyum di sana.


Perlahan Randi, mulai mendekat untuk memeluk lembut Mamanya, ia tak kuasa menahan rasa tangis dan sesak yang mendera tubuhnya. Hati Randi pun demikian. Sama-sama sakit dengan kenyataan yang ada.


Keluarganya sudah di manfaatkan oleh Mawar. Gadis yang Bu Srining, anggap lugu dan tulus ternyata memiliki niat buruk pada keluarganya. Ia yang terobsesi dengan Randi, dan berharap menikmati seluruh kekayaan keluarga Randi.


“Ma, bangunlah jangan tidur terus seperti ini. Mama sudah seharian penuh tidur”. Ucap Randi, dengan memegang tangan Bu Srining. Matanya mengembun. Dua wanita yang begitu ia cintai sedang tak ada di sisinya saat ini.

__ADS_1


Bethari yang sudah menghilang entah kemana sekarang dan Bu Srining, yang sedang terkapar tak sadarkan diri.


Tujuh Hari Kemudian.


“Dokter bagaimana keadaan istri saya”. Tanya Pak Nario, ketika Dokter sedang visit pasien.


“Tekanan darah Bu Srining masih cukup tinggi, untuk jantungnya sudah mulai normal. Gula darahnya juga sudah cukup stabil. Ibu boleh di bawa pulang. Tapi Pak Nario, harus sabar merawatnya. Kemungkinan Bu Srining masih mengalami syok. Dalam pikirannya akan terbayang beberapa hal yang begitu ia cintai dan ia inginkan”. Terang Dokter kemudian.


“Jadi apakah hari ini, istri saya sudah di perbolehkan untuk pulang Dok?”.


Dokter menganggukkan kepalanya pelan.


Pak Nario lekas mengurus segala administrasi yang di perlukan dan lekas membawa istrinya pulang. Sejak Bu Srining di rawat di rumah sakit. Randi hanya melihatnya sekali saja, turut mengantar saat hari pertama. Selebihnya Pak Nario merawat sendiri istrinya.


Kalian tanya keadaan Randi saat ini?.


Sepulang dari rumah sakit mengantar Ibunya. Randi lekas masuk ke dalam kamar. Berhari-hari ia mengurung diri di kamar sana. Tanpa keluar sama sekali. Randi tak makan, Randi juga mematikan lampu kamarnya sepanjang hari. Bahkan saat malam datang pun lampu kamarnya tetap dalam keadaan mati.


Asisten rumah akan mengantar makan dan minum meletakkannya di depan kamar Randi, tanpa berani untuk mengusik penghuni kamar tersebut. Beberapa kali terdengar teriakan marah dan kekesalan yang mendalam dari kamar tersebut. Bahkan tak jarang suara pecahan benda-benda juga terdengar dalam kamar itu.


Benar saja, Randi akan melempar semua barang yang di depannya ketika teringat akan kejadian di aqiqah Fatin beberapa hari yang lalu. Setelah puas membanting barang yang ada di kamarnya.


Randi membuka pintu kamarnya, menutup dengan cukup keras hingga membuat beberapa ruang di sekitarnya turut bergetar. Ia berlari menuju kamar Fatin, sorot matanya penuh amarah dan kecewa. Asisten rumah tangga yang melihat itu sangat ketakutan. Ia lebih memilih untuk bersembunyi di dalam kamarnya dan lekas mengabari Pak Nario.


Pak Nario pun demikian, ia harus di hadapkan dua kenyataan jika kondisi istri dan anaknya sedang tidak baik-baik saja. Bu Srining yang kondisi kesehatannya menurun sementara Randi yang kondisi kesadaran dan mentalnya ikut menurun.

__ADS_1


Ia membuka paksa kamar Fatin, mengobarkan abrik segala isi yang ada di kamar tersebut. Ranjang kecil tempat Fatin tidur, menjadi sasaran pertama amukannya. Ia menendang-nendang ranjang tersebut. Menginjak-injak hingga patah menjadi beberapa bagian. Menari kelambu yang menutupi rajang tersebut. Tangannya terulur merobek dengan sangat keras.


Kini perhatiannya tertuju pada pigura besar yang ada di atas meja kecil. Pigura yang membingkai fotonya ketika sedang menggendong Fatin untuk yang pertama kalinya. Kini tangannya terulur meraih pigura tersebut dan membantingnya dengan cukup keras.


Pyar...


Pecahan kaca itu berserakan di atas lantai kamar Fatin.


Randi, masih belum puas melampiaskan kemarahannya. Ia mengeluarkan semua baju-baju Fatin. Baju yang di belinya sendiri khusus untuk Fatin. Bahkan tak tanggung-tanggung saking bahagianya ketika mengira Fatin, adalah darah dagingnya. Randi membelikan baju dari size bayi nol bulan sampai satu tahun lebih.


Baju-baju tersebut ia robek paksa menggunakan tangan. Boneka-boneka yang berbaris rapi di sisi kamar pun demikian tak luput dari amukan Randi. Ia mencekik beberapa boneka tersebut, seakan ingin membunuhnya. Lalu Randi melempar asal bonek-boneka tersebut ke segala arah yang ia mau.


Telapak kakinya sudah berdarah, terkena serpihan pigura besar yang telah ia jatuhkan tadi. Randi tak merasakan sakit, ia lebih sakit akan penghianatan yang di lakukan Mawar padanya. Bukan sakit karena harus berpisah dengan Mawar, tapi karena kesalahan Mawar hidupnya sudah hancur berantakan.


Kini pandangannya beralih menuju wallpaper dinding yang ada di kamar tersebut. Kamar itu di hias sedemikian rupa untuk menjadi kamar bayi. Mawar menempel beberapa gambar lucu di sana. Tak butuh waktu yang lama semuanya sudah robek dan hancur. Randi memilih duduk di atas serpihan pigura, hingga membuat bajunya banyak terkena darah.


“Kenapa cucuku ada di sini!”. Bu Srining, meraih satu boneka yang di lempar Randi, dari lantai dua. Ia mengambil boneka tersebut dan menggendongnya.


“Cup..cup...jangan nangis ada nenek di sini”. Tangannya membelai lembut kepala boneka tersebut.


Sementara Pak Nario, kembali harus menatap pilu anak dan istrinya. Air mata tak kuasa jatuh begitu saja melihat semua yang terjadi di keluarganya saat ini. Sangat menyakitkan.


Tangan Bu Srining, meraih selendang yang di pakainya sepulang dari rumah sakit, lantas ia menjadikan selendang tersebut sebagai media untuk menggendong boneka dalam dekapannya. Ia juga mengayun-ayun lembut boneka tersebut.


Kalian tanya Mawar kemana?

__ADS_1


__ADS_2