Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Perintah Yang Sulit


__ADS_3

Rumah Mawar


Mawar hanya bisa meringkuk di atas ranjangnya menunggu suami yang tak pernah menganggapnya ada sebagai istri. Ya benar saja Randi hanya menyentuh Mawar sekali saja selama mereka menjalani pernikahan itupun dengan rasa bersalah yang tiada terkira pada Tari.


Mawar kembali membolak-balikkan badannya, mencari posisi ternyaman yang bisa ia dapat sayangnya meskipun mencoba beberapa kali ia tak mendapati kantuk maupun ketenangan di hatinya.


“Kapan aku bisa merasakan kasih sayang yang untuk dari suamiku?"


"Segala macam cara telah aku lakukan untuk meluluhkan hati mu Mas, adalah sedikit ruang yang tersisa untukku" ia melirik ranjang di sisinya yang slalu kosong tak berpenghuni.


"Harusnya orang menikah itu menjadi teman hidup, bukan menjadi musuh seperti ini" ia kembali meringkuk dan menangis. menangisi'i takdir yang telah ia pilih sendiri.


“Akankah kehadiran anak ini mampu untuk meluluhkan hati mas Randi, membagi perhatian juga hatinya untuk kami berdua”. Air matanya jatuh begitu saja membasahi bantal yang ada di kasurnya. Rasa rindu pada sang suami kian membuncah.


***


Rumah Randi


Kehadiran Risma di tengah-tengah keluarga Randi membawa kebahagian tersendiri bagi keluarga itu, meskipun Risma bukanlah anak kandung dan juga cucu kandung mereka tapi semua orang yang ada dalam rumah itu memperlakukan Risma dengan sangat baik tak terkecuali mama dan papanya.


Malam itu semua sedang berkumpul di ruang tengah, semua orang yang ada di sana begitu antusias kala mendengar Risma sedang menyanyikan beberapa lagu anak-anak. Benar saja kehadiran Risma laksana cahaya yang menerangi keluarga tersebut dalam gelapnya malam tanpa kehadiran anak. Suara khas anak kecil yang mendayu-dayu meramaikan ruang keluarga itu.


Ambilkan bulan bu...


Ambilkan bulan bu...


Yang slalu bersinar di langit...


Di langit bulan benderang


Cahayanya sampai ke bintang


Ambilkan bulan bu....


Untuk menerangi


Tidurku yang lelap di malam gelap


“Hore”....


Semua yang ada serentak bertepuk tangan kala Risma menyelesaikan satu lagu tersebut. Sudut mata Tari berair terharu dengan lagu itu.

__ADS_1


Tari lekas memeluk anaknya mencium dengan sayang, sedang Risma hanya tersenyum-senyum malu.


Mama pun demikian merasa sangat terhibur dengan kehadiran Risma di tengah-tengah mereka.


“Wah pinter sekali cucu ma nyanyinya”. Kini Oma memeluk Risma mencium pucuk kepala gadis kecil itu.


“Kamu hebat sekali, ayo sekarang coba Risma belajar mewarnai bagaimana?”, Tawar Papa dengan membawa seperangkat alat untuk menggambar dan mewarnai.


Randi tersenyum melihat kebahagian yang ada di depannya.


“Sebentar ya aku mau ambil minum dulu”, izin Randi pada semua yang ada di ruang keluarga itu, tenggorokannya merasa kering karena sejak tadi tertawa terus dengan tingkah lucu Risma.


“Biar aku ambilkan Mas”.


“Tidak sayang kamu di sini saja, tidak papa aku ambil sendiri”, jawab Randi dengan melangkah menuju dapur untuk mengambil minum di dapur.


Tak berselang lama, Manapun turut untuk izin sebentar ingin mengambil hadiah yang di persiapkan khusus untuk Risma, namun sebelum melangkahkan kakinya menuju kamar, Mama datang menghampiri Randi yang sedang meneguk sirup melon di depan lemari pendingin.


“Mama kamu menemani Mawar sekarang juga”, ucapnya dengan datar dan penuh penekanan.


“Uhuk..uhuk....”, Randi merasa kaget dengan kehadiran Mamanya yang begitu tiba-tiba membuatnya tersedak dan hampir memecahkan gelas yang ada di genggamannya.


Randi tak memberikan jawaban atas permintaan Mamanya.


“Mawar juga mempunyai hak yang sama dengan Tari, apa lagi dia sekarang sedang mengandung anak kamu. Dia pasti kesepian di sana sendiri. Biarlah Tari dan Risma di sini kami yang menemani pergilah”.


“Jangan tentang perintah Mama, bahkan kamu juga sudah tidak datang di acara sukuran anak kamu sendiri”. Mama berlalu meninggalkan Randi begitu saja di dapur.


Slalu saja seperti ini, di setiap ia sedang merasakan sedikit kebahagian, sang Mama slalu datang dengan membawa perintah yang sulit untuk di bantah juga sulit untuk di laksanakan.


Randi duduk sejenak di kursi meja makan, mencoba untuk berfikir lebih jernih menetralkan segala kegundahan yang ada di hatinya. Jujur saja posisi seperti ini membuat kepalanya pusing tiada terkira. Ia kembali memijat pelipisnya.


“Wah lihat sayang Oma bawa apa itu untuk Risma?”. Tunjuk Tari pada mertuanya kala melihat Oma membawa bingkisan mendekat ke arah mereka.


Risma yang melihatnya meloncat-loncat bahagia matanya berbinar-binar sungguh ia di perlakukan layaknya seorang putri dalam keluarga itu.


“Ini hadiah dari Oma untuk cucu tersayang”. Mama menyerahkan sebungkus kotak warna pink dan menyerahkan pada Risma.


Gadis kecil itu menerima uluran tangan Oma dan dengan cekatan membuka kado saat itu juga.


“Wah ini yang buat sholat ya Bun”, tanyanya pada Tari tak mengerti namanya.

__ADS_1


“Iya sayang itu namanya mukena buat sholat, di pakai ya sayang nanti kalau sholat. Hayo bilang apa sama Oma?”. Jawab Tari menjelaskan satu set mukena warna pink dengan motif barbie tersebut pada Risma.


“Kamu suka sayang?”.


“Suka sekali Oma, trimakasih ya”, Risma kembali memeluk Omanya.


“Hayo sekarang coba Risma belajar gerakan sholat”. Kini Papa membuka suaranya dan turut serta mengajari Risma gerakan-gerakan sholat.


Beberapa saat kemudian Randi kembali berkumpul di ruang tengah, raut wajahnya sedikit berubah menjadi murung tak bersemangat.


“Sayang aku pergi dulu ya, ada urusan yang harus aku kerjakan kemungkinan akan pulang malam. Jadi tidak usah di tunggu kamu tidur saja dulu. Pamit Randi yang begitu tiba-tiba pada istrinya dan mencium kening Tari sekilas.


Mama yang melihat pemandangan tersebut tersenyum tipis, ia tau arah kepergian Randi akan kemana.


“Hati-hati mas”, Tari bangkit dari duduknya dan mengantar suaminya hingga depan teras pintu rumah mereka.


***


Rumah Mawar


Waktu menunjukan pukul sembilan malam, Mawar yang sedari tadi sudah merebahkan diri di atas kasurnya belum juga dapat memejamkan mata. Dokter mengatakan jika ia harus bed rest total selama menjalani kehamilan mudanya ini. Jadi Mama Randi menyuruhnya untuk cuti dan istirahat total di rumah. Dokter juga menyarankan pada Mawar agar tak tidur terlalu malam.


Tok...tok...tok...


Terdengar suara ketukan pintu dari luar rumahnya.


Dengan sigap ia melihat dari balik kaca jendela siapa yang datang malam-malam begini.


“Mas Randi”. senyumnya mengembang kala melihat kehadiran suaminya tersebut, ia lekas membukakan pintu untuk Randi.


Mawar merentangkan tangannya dan lekas memeluk Randi ketika pintu sudah terbuka.


Sedang Randi yang menerima pelukan itu lekas mendorong tubuh Mawar dengan pelan untuk menjauh darinya.


“Jangan sentuh aku", ucapnya dengan dingin.


“Kenapa sih mas, aku juga istrimu.Aku bahkan sedang mengandung anakmu saat ini. Bisakah kamu sedikit saja memberikan kesempatan padaku untuk berdekatan denganmu"


Kecewa dan sakit karena di abaikan.


Mungkin itulah yang sedang di rasakan oleh Mawar setiap kali ingin menyentuh suaminya, ia lekas memeluk perut datarnya sendiri seakan sedang memeluk anaknya mencoba mencari kekuatan di sana.

__ADS_1


__ADS_2